
Sudah berapa lama ia tidak menangis? Setahun? Dua tahun? Atau selama ia mengenal seorang Bara? Atau … selama ia menjadi bagian keluarga besar Satyadarma? Harusnya ia sudah lupa bagaimana rasanya menangisi seseorang. Terakhir kali yang ditangisinya adalah Mbah Wedok.
Dul mengguyur kepalanya dengan air dingin dari pancuran. Berpikir kalau air itu akan ikut menghanyutkan air matanya. Tapi setelah diguyur, ingatannya semakin menajam soal sosok kakek paling bijaksana yang ia kenal sepanjang usianya. Air matanya menang. Siang itu ia tidak punya alasan membendungnya.
‘Dul, cemana? Jadi kita pigi?’
Usai mandi Dul mendapati pesan Robin. Ia lupa mengabari sahabatnya itu bahwa acara mereka batal. Dul langsung menelepon Robin. Bersamaan dengan itu suara klakson mobil di depan membuat tangannya dengan sigap meraih ransel dan pergi ke luar.
“Bin? Bisa sampaikan ke Putra kalau hari ini aku tunda dulu. Maaf. Akungku...Akungku masuk rumah sakit. Enggak sadar, Bin.” Dul sudah mengeringkan air matanya sejak tadi. Ia tak mau Bara melihatnya menangis. Bara pasti merasa lebih sedih. Ia tidak mau menangisi Pak Wirya seolah pria tua itu pergi meninggalkan dunia ini.
“Ya, udah. Amanlah itu. Kau tengok aja dulu Akungmu. Nanti kabari kami di rumah sakit mana.”
Dul menutup telepon setelah mengiyakan pada Robin. Ia berlari kecil keluar pagar dan menguncinya cepat-cepat.
“Lampu udah dinyalain? Keran air enggak ada yang—“
“Udah, Yah. Semua udah beres. Kita bisa berangkat sekarang,” ujar Dul, mengangguk pada Bara.
Bara ikut mengangguk. Sorot matanya kosong dan terlihat bingung. “Kita berangkat sekarang,” kata Bara, memasukkan persneling dan meninggalkan rumah. “Pakdhe mungkin sebentar lagi nyusul ke rumah sakit. Pakdhe jemput Budhe Fifi,” jelas Bara.
Dul tak mau bertanya apa-apa. Sudah jelas kalau Bara juga belum bertemu dengan Pak Wirya. Di telepon tadi, Bara mengatakan pada Dul kalau Pak Wirya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Bisa jadi yang membawanya adalah Bu Yanti, atau juga Sukma dan suaminya yang sedang berada di sana. Mereka berdua sedang sama bingungnya.
Di rumah sakit, orang yang pertama melihat kedatangan Dul dan Bara di lorong adalah Bu Yanti. Wanita itu sedang duduk dan langsung berdiri menghambur ke pelukan Bara.
“Ibu sudah bilang, kan, Mas .... Ngomong ke Ayah biar Ayah mau ke rumah sakit. Kalau Ibu enggak didengar lagi, harusnya Ayah masih dengar apa kata Mas. Ayah bandel. Padahal berkali-kali Ibu ajak berobat ke dokter. Ayah selalu anggap sepele sama semua hal. Tenang...tenang. Selalu apa-apa Ibu disuruh tenang aja. Kalau sudah kaya gini....” Bu Yanti menyambung perkataannya dengan tangisan yang teredam di dada Bara.
Dul mendekati Dijah. Mengangkat Ibra yang menempati seruas bangku kosong dan memangku adik laki-lakinya itu. “Bu, jadi Akung belum bangun? Enggak sadarnya gimana? Siapa yang di dalam?” Dul melihat tirai di ruang gawat darurat yang masih tertutup.
“Akung belum bangun. Yang di dalam Paklik Rico dan Bulik Sukma. Akung jatuh di kamar,” bisik Dijah. “Bulik Sukma baru ... aja sampai di rumah. Belum sepuluh menit. Tiba-tiba Uti menjerit dari kamar.” Dijah menjelaskan hal itu dengan raut wajah yang menyiratkan kecemasan. Dijah sudah semakin baik dalam mengekspresikan emosinya
“Padahal aku mau kasih kejutan buat Akung,” gumam Dul.
“Kejutan apa?” tanya Dijah lagi dalam bisikan. Sejenak ia lupa kalau hari itu adalah pengumuman pantukhir daerah seleksi masuk AAU yang sedang diikuti Dul.
“Aku lulus seleksi daerah, Bu. Sebentar lagi aku berangkat buat seleksi ke pusat. Aku mau Akung tau.”
Dijah membelalakkan mata, lalu menutup mulut. “Kamu lulus?” Dijah menangkup wajah Dul. Ia lalu memandang Mima dan Ibra yang duduk di dekatnya bergantian. Tangannya kemudian menangkup wajah Mima, kemudian wajah Ibra. “Mima, Ibra, Mas lulus. Enggak lama lagi Mas bakal jadi Tentara,” cetus Dijah dengan mata membulat.
“Mas pasti makin ganteng,” kata Mima.
“Punya senjata,” timpal Ibra.
Lalu, suara Bara terdengar memanggil Dul. Tangannya melambai meminta Dul segera mendekatinya dan Bu Yanti. “Dul, sini,” panggil Bara.
Dul bangkit dan kembali meletakkan Ibrahim di tempatnya semula. Berjalan mendekati Bara dan mengambil posisi setengah berjongkok di depan Bu Yanti dan Bara. “Ya, Yah? Uti baik-baik aja?” tanya Dul.
Dengan pertanyaan sesederhana itu, Dul tak menyangka Bu Yanti akan langsung menangis. Wanita itu menepuk-nepuk bahu Dul. “Bangunkan Akung, Dul .... Bilang ke Akung kamu lulus. Bilang juga Akung enggak boleh lama-lama kaya gitu karena kamu mau berangkat ke Solo.” Bu Yanti menutup wajahnya dan kembali menangis.
Dul bergeser ke depan Bu Yanti dan meraih tubuh ringkih yang belakangan dilihatnya semakin terlihat layu. Ia memeluk Bu Yanti yang langsung menjatuhkan dagu di bahunya. Wanita itu tersedu-sedu. “Bangunkan Akung, Dul .... Akung, kan, sering bilang kalau kamu cucu paling tua Satyadarma. Harusnya kamu bisa bangunin Akung. Kasian Uti. Bilang juga ke Akung, kasian Uti kalau sendirian. Uti belum mau,” ucap Bu Yanti terbata-bata.
Dul ikut menangis. Dijah yang melihat hal itu pun ikut menangis. Bara mengusap punggung ibunya dengan air mata menggenang.
Kemudian terdengar suara tirai disibak. “Mas ... sini,” pinta Sukma, memanggil Bara.
Dul mengusap air matanya dan ikut menoleh. “Ti, aku mau ikut dengar apa kata Bulik Sukma. Uti di sini sebentar, ya.” Dul memegangi kedua lengan Bu Yanti agar bersandar di kursi. Wanita itu mengangguk. Dul mengusap air mata di pipi Bu Yanti sebelum bangkit menuju Bara yang berdiri di luar tirai. Rico, suami Sukma ikut bergabung dalam pembicaraan itu. Sedangkan Dijah, meremaas tangan Mima dan Ibra dengan raut cemas menantikan kabar.
“Akung?” tanya Dul pada Bara. Ia menunjuk ke dalam.
Bara mengangguk. “Belum bangun, tapi katanya sudah stabil. Kamu duluan aja,” kata Bara.
Dul langsung menyibak tirai dan melangkah ke dalam. Ia melihat pria tua yang dalam ingatannya selalu gagah itu kini berbaring lemah dan menutup mata. Dari balik masker oksigennya, napas Pak Wirya terlihat pendek-pendek. Dul menunduk dan meraih tangan kanan Pak Wirya untuk diletakkannya di dahi. “Kung ... ini Mas Dul. Aku lulus, Kung .... Akung bangun, ya. Gimana aku pergi seleksi pusat kalau ninggalin Akung kaya gini.”
Tanpa keberadaan orang di dekatnya, Dul menumpahkan seluruh air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan. “Akung jangan kenapa-napa. Aku mau Akung bisa lihat aku pakai seragam. Aku janji .... Kalau Akung kaya gini, Ayah kasian. Kasian Ayah,” isak Dul. Ia menggenggam erat tangan Pak Wirya yang dingin. Sampai tangan itu dirasanya sedikit bereaksi. Dul menegakkan tubuh memandang wajah Pak Wirya.
“Kung?” panggil Dul.
“Lu—lus?” tanya Pak Wirya dengan suara tak jelas.
Dul mengangguk berkali-kali. “Lulus...lulus! Aku lulus. Yah! Bulik! Akung bangun!” seru Dul.
To Be Continued