Dul

Dul
113. Pelukan Untuk Ayah



Keinginan Dul saat itu hanyalah ingin cepat kembali berkumpul bersama keluarganya. Ia ingin memastikan keadaan Bara dengan mata kepalanya sendiri. Ingin berbagi cerita kepada pria itu tentang hari-hari yang telah ia lewati bersama teman seperjuangannya di Solo. Ia ingin mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa ia telah berhasil melewati semua seleksi itu dan akan segera menjalani pendidikan menjadi seorang perwira Angkatan Udara. Di waktu bersamaan, hatinya bergemuruh karena kebahagiaan dan kesedihan.


Selama ini Solo hanyalah merupakan kota kecil sebagai persinggahan saat Bara mengajak keluarganya berjalan-jalan. Mereka semua beberapa kali mampir untuk makan ayam goreng dan Dijah biasa membeli beberapa botol sambal untuk dibawa pulang. Hanya melintas. Tidak pernah menghabiskan malam di kota kecil itu.


Sekarang, Solo telah meninggalkan sebuah cerita baru yang akan di ingat Dul seumur hidup. Sebuah kota yang ketika ia pergi dan pulang telah menjadi sosok yang berbeda. Solo akan selalu menempati sudut khusus di hatinya.


Sebelumnya, Dul sudah berencana akan membeli oleh-oleh untuk keluarganya. Mendengar cerita-cerita dari temannya yang akan berbelanja sebelum pulang, Dul ikut bersemangat. Ia berniat membelikan beberapa macam oleh-oleh khas daerah Solo untuk dibawa pulang dan dibagi-bagikan. Ia sudah memasukkan Pak Wirya, Bu Yanti, keluarga Sukma, keluarga Heru dan terutama buat orang tua juga adik-adiknya.


Dul tadinya sangat bersemangat karena itu adalah perjalanan pertamanya sendirian ke suatu daerah yang selama ini tidak terlalu mendapat perhatiannya.


Namun, semangatnya itu ikut luruh ketika mendengar soal kecelakaan Bara. Pria itu sampai harus dioperasi. Uang yang cukup banyak dan tersimpan rapi di dompetnya saat itu adalah buah pencaharian Bara. Ayahnya yang bekerja keras siang malam agar mereka semua tercukupi. Hatinya malah tak tega membelanjakan uang itu. Terbayang bagaimana Bara yang keluar rumah jam berapa pun saat terjadi sesuatu dengan salah satu kru pencari berita. Kadang Bara juga harus menggantikan seorang wartawan yang berhalangan untuk meliput. Dul merasa hatinya perih.


Dan dengan alasan tidak mau merepotkan keluarga, ia memang sengaja tidak minta dijemput di bandara. Kalau hanya dari bandara ke rumah sakit, ia bisa dengan mudah menumpangi taksi.


Tapi ternyata ketika kakinya baru tiba di conveyor belt untuk menunggu kopernya, Heru tiba-tiba menelepon.


“Dul, Pakdhe udah lihat kamu. Nanti keluar langsung ke kiri, ya,” kata Heru di telepon.


Dul menoleh ke pintu keluar terdekat. Ia langsung mengenali pria gagah bercambang yang sedang melambai padanya. “Iya, Pakdhe. Nanti aku langsung keluar.”


Walau merasa tidak masalah kalau tidak dijemput, tapi tetap saja Dul senang dengan kehadiran Heru di sana. Ia merasa kepulangannya dinantikan. Dan yang paling penting … ia tidak merasa sendirian. Dul menyeret kopernya keluar pintu dan langsung berbelok ke kiri. Heru menghampiri dan memeluknya sangat erat. Pandangan mata Dul kembali mengabur karena air mata.


Mungkin Heru ingin menggantikan posisi Bara saat itu. Heru yang lebih sering bercanda dengannya, hari itu terlihat sangat serius. Berkali-kali menepuk punggungnya sambil berkata, “Bagus, Dul. Bagus. Selamat. Ayahmu pasti bangga.”


“Ayo, kita ke rumah sakit. Jenguk Ayah kamu. Pakdhe enggak ngomong kalau jemput kamu ke sini. Ayah kamu juga mungkin lupa kamu pesawat jam berapa,” kata Heru.


“Masa Ayah lupa?” tanya Dul sedikit bingung. Mustahil sekali Bara melupakan hal-hal seperti itu.


“Ayah kamu baru selesai operasi di kepala dan sedang dalam masa pemulihan. Enggak boleh diajakin ngomong yang berat-berat. Nanti dia jadi mikir. Pokoknya Ayah kamu udah baik-baik aja. Tinggal proses penyembuhan,” jelas Heru.


Dul mengangguk. Ia tidak melihat kepanikan atau kekhawatiran di raut Heru. Nada suaranya pun terdengar biasa saja. Dul merasa sudah bisa sedikit tenang. Ia sudah tiba di Jakarta dan mereka sedang menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Bara.


Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam. Dul menyusun pembicaraan apa yang akan menjadi topiknya bersama Bara nanti. Heru mengatakan kalau Bara tidak boleh diajak mengobrol dengan topik terlalu berat. Di antara pikirannya yang sedang berjalan, Dul teringat akan sesuatu.


“Keadaan Akung gimana, Pakdhe?”


“Akung baik-baik aja. Kesehatannya belakangan mengalami kemajuan pesat. Tapi Akung enggak tahu kalau ayah kamu kecelakaan. Pakdhe cuma bilang kalo ayah kamu pergi ke luar kota.” Heru menarik napas. “Maafin Pakdhe, ya, Dul …. Kayanya kamu baru sebentar pergi, tapi semuanya jadi kacau. Bikin kamu nggak tenang selama di sana. Harusnya kamu enggak perlu tau hal-hal begini. Dan harusnya Pakdhe mengurangi pekerjaan ayah kamu,” tutur Heru dengan raut muram.


Dul hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Bukankah memang pekerjaan itu sudah menjadi resiko ayahnya yang mencari nafkah di tempat itu? Atau memang itu wujud kepedulian Heru pada saudaranya? Atau juga … Bara bekerja lebih keras karena merasa bertanggung jawab untuk perusahaan warisan eyang mereka?


“Ayo, kopernya enggak perlu diturunkan. Nanti dari sini kamu, kan, pulang ke rumah. Nanti Pakdhe antar,” kata Heru saat mereka tiba di pelataran parkir rumah sakit.


“Ya, udah. Enggak apa-apa. Benar juga. Ibu kamu pasti sudah lama enggak pulang ke rumah. Bisa gantian,” ucap Heru.


Dul diminta Heru untuk melenggang saja tanpa menyibukkan diri menyeret koper. “Kamu udah capek fisik dan psikis selama di sana. Pulang ke dekat keluarga enggak apa-apa kalau sedikit manja.” Heru mengedipkan sebelah matanya. “Itu kamar ayah kamu.” Pandangan Heru tertuju pada sebuah kamar yang terletak di pojok kanan.


“Halo ….” Heru mendorong pintu kamar mendahului Dul. “Ibra … Mima … Pakdhe bawa tamu spesial. Calon perwira TNI.”


Ibra yang sedang duduk di sofa bersama Mbok Jum, langsung melompat. Mima mencampakkan remote televisi dan menghambur ke pintu.


Bara menoleh ke pintu. Air matanya sudah mengambang hanya dengan mendengar perkataan Heru. Matanya terpaku menunggu dengan tidak sabar. Rasanya detik-detik itu berjalan sangat lama. Yang dirasanya, tangan Dijah menggenggamnya dengan sangat erat. Lalu, Dul muncul di pintu dengan mata memerah.


“Calon perwira TNI Angkatan Udara,” ucap Bara dengan nada lemah. Air matanya jatuh ke pipi.


Dul meletakkan ransel dan menghampiri ranjang. Luka lecet di dagu Bara membuat hatinya semakin iba. Ia tak sempat meraih tangan Bara untuk diletakkan ke dahi.


Belum apa-apa tangis Dul sudah pecah saat memeluk ayahnya. “Ayah, aku lulus,” isak Dul.


Bara mengangguk dan menepuk-nepuk lengan Dul di atas tubuhnya. “Ayah bangga,” sahut Bara.


“Makasih. Makasih karena dari dulu selalu ada buat aku dan Ibu. Buat aku dan adik-adik juga. Ayah capek karena kami,” tutur Dul terbata-bata. Napasnya sedikit tersengal saat bicara.


“Semua buat keluarga Ayah. Anak-anak Ayah. Sekarang anak Ayah calon perwira. Ayah senang, Dul. Makasih juga udah jadi anak baiknya Ayah dan Ibu.”


Satu tangan Bara yang terbebas mencari tangan Dijah untuk digenggam. Dijah langsung menangkap tangan Bara dan menggenggamnya. Sejak Bara kecelakaan, tak terhitung lagi air mata yang sudah ia keluarkan. Rasanya tak habis-habis. Andai saja Dul tahu bahwa Bara cukup sulit melewati masa kritisnya. Dijah kembali menangis. Apalagi mengingat Bu Yanti yang harus menahan air mata di depan suaminya untuk menyembunyikan keadaan Bara. Benar-benar hari yang sangat berat buat mereka semua.


Dul menegakkan tubuhnya untuk memandang Dijah. Lama keduanya saling bertatapan tanpa berbicara. Mereka adalah sepasang ibu dan anak yang memiliki ikatan lebih kuat dari siapa pun. Mereka pernah kelaparan berdua, menangis berdua, dan tertawa berdua saja. Air mata Dijah semakin tak terbendung. Dan Dul cepat-cepat menyeka air matanya. Dengan dua tangan direntangkan, ia meraih ibunya ke dalam pelukan. Wanita yang dulu dilihatnya begitu kuat dan selalu tegar, kini berubah menjadi wanita paling keibuan dan mudah menangis. Tubuh ibunya yang dulu sering digunakannya sebagai pelindung terhadap hujan dan sengatan matahari kini terlihat semakin mungil dan ringkih.


Dul bisa melihat guratan lelah dan kesedihan mendalam di wajah ibunya. Ia bisa membayangkan ketakutan ibunya kehilangan seorang kepala keluarga seperti Bara.


Dul dan Dijah berpelukan sangat erat.


“Ibu …,” isak Dul.


“Anak Ibu calon perwira," sahut Dijah juga dalam isakan.


To Be Continued


"Nangis terus sepanjang nulis part DUL akhir-akhir ini. Btw, selamat Mas Dul. Senang sekali bisa menulis kisahmu." -juskelapa-