Dul

Dul
148. Finding Annisa



"Kita langsung ke kampus Nisa, ya." Bara memberi informasi sebelum semua penumpangnya bertanya.


"Jelaskan dulu selengkapnya samaku. Jangan sampai aku gak tau isi skrip drama kita hari ini." Robin menepuk kaki Yoseph dan Putra.


"Enggak ada yang lagi main drama di sini. Kita semua sedang serius," kata Putra. "Kamu juga harus mulai serius, Bin." Putra meluruskan pandangannya ke depan tanpa memandang Robin.


"Alamak ... dari dulu-dulu aku udah mencoba untuk selalu serius, Put. Tapi hidup selalu bercanda denganku. Sama kayak hubunganku sama Duma. Bercanda aja terus. Udahlah, selo aja kau. Kita harus buat perjanjian kalau hari ini gak ada yang berceramah selain Ayah Bara. Terutama kau, Seph." Robin membuat Yoseph yang sedang melamun melihat keluar jendela seketika berjengit.


"Bener, kan, Yah? Berat menjaga kerahasiaan misi ini kalau anggotanya ...." Mima menoleh ke belakang, "kalau anggotanya begini."


Bara tergelak sesaat. "Robin sekarang makin ganteng, ya." Bara melirik spion untuk melihat ke belakang.


Robin seketika merapikan rambut keritingnya. "Ah, yang betullah Ayah Bara. Apa iya aku ganteng? Pori-poriku aja sebesar harapan mamakku. Tengoklah ini." Robin berkaca melalui spion tengah dan akhirnya beradu pandang dengan Putra yang mencibir. "Mata kau, Put. Gak senang bilang aja," cetus Robin, menyikut pelan lengan Putra. Temannya hanya mencibir.


"Kalau dipuji tinggal bilang makasih," celetuk Mima.


"Ah, siap, Mima. Kalo udah Mima yang bertitah, pantang Bang Robin menjawab 'Ah'. Makasih, Ayah Bara." Robin melontarkan senyum pada Bara melalui kaca spion.


"Di Universitas Indonesia nanti Ayah nunggu di parkiran Fakultas Kedokteran, ya. Yang masuk ke dalam nyari Nisa, Mima duluan bareng Robin, Putra atau Yoseph. Kalau udah ketemu Annisa, bilang kalau Ayah mau ngobrol. Atau … langsung kabari lewat pesan biar Ayah yang ajak Annisa buat ngobrol di luar. Semoga info yang Ayah terima benar kalau Nisa masih kuliah di sana." Bara terus memberi wejangan sepanjang perjalanannya menuju lokasi kampus Annisa.


Di samping kesiapannya bertemu dan mengajak Annisa bicara, Bara juga mempersiapkan diri untuk menerima penolakan gadis itu kepada mereka. Bagaimana juga ini adalah usaha pertama mereka setelah hampir dua tahun tak bertemu dengan gadis itu. Keluarga mereka menyimpan rasa penasaran yang sama. Apa yang terjadi hingga hubungan sepasang kekasih yang tidak pernah berdebat apalagi bertengkar itu tiba-tiba menjadi begitu asing.


“Ayah parkir di sini, jangan lupa pesan-pesan yang tadi.” Bara menekan tombol hand brake dan menoleh pada Mima.


“Oke. Kita semua turun sekarang,” kata Mima, merapikan tasnya.


“Tunggu… tunggu.” Bara menahan lengan Mima. “Belum mau ngomong ke Ayah soal teman nonton Mima kemarin? Siapa, sih?”


Mima menggeleng. “Mima enggak mau bohong. Nanti kalau udah waktunya Mima bakal cerita. Yang penting Mima bakal selalu jaga kepercayaan dari Ayah.”


Bara terlihat berpikir-pikir sejenak. “Oke kalau gitu. Sana turun.” Bara menunjuk keluar dengan dagunya.


Seorang remaja perempuan dan tiga orang laki-laki muda turun dari mobil menuju lorong Fakultas Kedokteran. Keempatnya terlihat sangat percaya diri. Membuat Bara yang sejak tadi tak melepaskan pandangan dari punggung-punggung muda itu mengembuskan napas lega dan mengeluarkan ponsel dari saku.


Bara mengetikkan pesan. ‘Kami semua udah di kampus Nisa. Mima dan teman-teman Dul sedang masuk ke dalam. Kamu santai aja tunggu kabar, ya. Temani Ibra makan ayam goreng kesukaannya. Jangan sampai Ibra makan sendirian.’


Bara tersenyum setelah menekan tombol kirim di ponsel. Sebelum pergi tadi ia sudah mengatakan pada Ibra agar merusuhi Dijah soal menemani makan siang agar wanita itu tak sempat memberondongnya dengan pertanyaan soal misi hari itu.


Sementara itu di lorong fakultas, Robin sedang sibuk memuji semua gadis yang melintas.


“Robin seperti sedang berada di toko roti. Semua-semua dibilang manis. Sebaiknya kita fokus dulu dengan apa yang diminta sama ayahnya Dul.” Yoseph menggeleng-geleng.


“Sibuk kali kau, Seph .... Udah kayak panitia. Selo ajalah. Kita serius tapi santai. Begitu kita nampak si Nisa melintas, langsung aja kita rraaappp, kita seret dan bawa ke parkiran. Kau berdoa dari sekarang. Jangan pas jumpa si Nisa baru ingat berdoa. Bisa keburu lari dia.” Robin meletakkan tangan di pundak Putra dan Yoseph di kanan-kirinya.


“Ayo, buruan. Khawatir kalau siang nanti Mbak Nisa malah keburu pulang.” Mima mempercepat langkahnya dengan kepala terus menoleh ke kanan-kiri.


“Sebentar aku tanya dulu ke orang.” Putra berhenti di depan dua orang mahasiswi yang baru saja keluar dari ruangan administrasi.


“Selamat pagi, kakak-kakak. Bisa tau di mana ruangan belajar mahasiswa program spesialis di tahun kedua?” Putra tersenyum ramah pada dua gadis di depannya. Melihat dua gadis itu sedikit bingung, Putra menambahkan, “Nama saya Putra. Saya sedang mencari teman saya. Namanya Annisa.”


Dua gadis di depan Putra tersenyum. “Nama lengkapnya siapa, Kak Putra? Annisa apa gitu,” sahut salah seorang gadis.


“Annisa apa, Bin?” tanya Putra ke Robin.


“Mana kutahu. Annisa apa, Mima?” Robin ganti bertanya Mima.


Mima ikut mengernyit dan baru menyadari kalau ia tidak mengetahui nama lengkap Annisa. “Setauku namanya Annisa aja. Aku enggak pernah nanya-nanya. Serba salah, sih. Mau nanya ke Mas Dul, tapi Mas Dul pasti nanya ada apa. Nama lengkapnya siapa?” Mima balik bertanya sambil memandang Yoseph.


Yoseph menggeleng. “Yoseph tidak tau. Ya, Tuhan … siapa nama lengkap Annisa?” Yoseph menengadah ke langit-langit.


“Annisa Inayah Abbas. Itu nama lengkap aku. Kalian ngapain ke sini? Rame-rame begini ….” Annisa berdiri di dekat Yoseph dan memandang empat orang yang mencarinya satu persatu.


“Terima kasih atas waktunya, kakak-kakak. Ternyata doa Yoseph mantap kali. Annisa muncul memberi jawabannya langsung.” Robin menyugar rambutnya pada dua mahasiswi yang terkikik-kikik menjauhi mereka.


“Aku baru tau kalau nama Mbak Nisa sepanjang itu. Maaf kalau selama ini enggak tau,” kata Mima dengan wajah penuh penyesalan.


“Enggak masalah. Enggak usah mempermasalahkan hal-hal kecil begitu. Kamu ngapain ke sini? Kalian ngapain? Ayah-Ibu sehat, kan? Atau … atau Mas Dul?” Annisa menggeleng-geleng. “Enggak boleh berpikiran macam-macam. Tapi … Abdullah enggak kenapa-napa, kan? Di Jogja…sebagai pilot tempur…. Abdullah enggak….”


“Mas Dul sehat. Kami mau ngundang Mbak Nisa ke acara penyematan wing Mas Dul minggu depan. Ayah-Ibu mau ngajak Mbak Jisa ke Jogja. Mbak Nisa mau, kan?” Mima mengira mengajak Annisa pasti tak ‘kan sulit. Nyatanya ….


“Maaf, Mima. Kayanya Mbak Nisa enggak bisa. Mbak Nisa tunggu di sini aja.” Annisa tersenyum sambil membelai rambut panjang Mima.


Wajah Mima langsung berubah. “Mbak … Ibu kangen.”


“Mbak Nisa juga kangen Ibu. Tapi Mbak dan Mas Dul udah enggak seperti dulu lagi. Semuanya udah beda.”


To be continued