Dul

Dul
073. Awal Baru Lagi



Usai memindahkan Banyu ke ranjang, Dul bertukar pandang dengan Robin, keduanya lalu tertawa tertahan.


Acara ulang tahun Dijah hari itu tak hanya menjadi hiburan dan penyela di tengah rutinitasnya sebagai seorang ibu, tapi juga kado buat mereka sekeluarga. Dul yang akhir-akhir ini jarang bertemu dengan Robin, bisa bertukar cerita selama berjam-jam di sela memomong dua balita. Hasil percakapan mereka hari itu membawa kesepakatan penting di sepanjang usia persahabatan mereka. Untuk kali pertama Dul dan Robin ingin berada di sekolah yang sama.


Suara keriuhan dari ruang keluarga masih terdengar sampai ke kamar Dul. Ia duduk di depan meja belajar seraya mendengarkan cerita Robin soal sekolahnya. Sesekali Dul tertawa atau mengangguk menyetujui hal-hal yang dilontarkan Robin padanya.


Jika ditanya dari mana ia mendapat bakat begitu rupa untuk menjadi pendengar yang baik, jawabannya tentu saja karena sang ibu. Ia pernah duduk berjam-jam di sebelah ibunya dan tak mengatakan sepotong kata pun. Hanya mendengar ragam nasehat yang disampaikan di sela-sela keluhan tersamar ibunya.


Terkadang demi melengkapi pembicaraan bersama ibunya, ia perlu menunjukkan beberapa reaksi yang menenangkan hati. Entah itu anggukan atau senyuman.


Kenangan-kenangan lampau itu tidak hilang. Namun, sekarang bisa diingat dengan perasaan lebih baik dibanding beberapa waktu yang lalu. Di antara kesemuanya, hanya satu hal yang tak bisa dibicarakan Dul secara terang-terangan. Yaitu, soal bapaknya. Ia sungguh-sungguh berada di tahap sedang ingin melupakan. Tapi belum bisa.


Campuran berbagai perasaan yang berjejal di hatinya itu, masih datang dalam wujud rasa mual di perut.


Di sela pembicaraan bersama Robin, Dul melihat Mbok Jum melintas di depan kamarnya. Ia bangkit dan melongokkan kepala keluar.


"Kenapa, Mbok?" Dul penasaran karena Mbok Jum tergopoh-gopoh.


"Interkom Ibra ketinggalan di dapur. Dia udah bangun. Suara merengeknya denger," Mbok Jum menunjukkan sebuah interkom wireless yang tadi dipegang Bara. "Mungkin Ayah kelupaan," kata Mbok Jum lagi.


Dul keluar kamar menghampiri Mbok Jum. Tangannya meraih interkom dari wanita tua itu. "Ya, udah. Biar aku aja yang ngomong ke Ayah."


Dari tempatnya berdiri, obrolan dari ruang keluarga masih riuh. Ingin memberikan sedikit waktu lebih pada ibunya, Dul ke kamar menjenguk Ibrahim.


"Halo ... udah bangun?" sapa Dul sebegitu masuk ke kamar. Ibrahim yang tadi merengek, langsung berguling dan menelungkup memandang Dul dari sela box kayu.


"Mau main sama Mas?" tanya Dul, merentangkan tangannya kepada Ibrahim. Bayi itu kembali merengek tak sabar. Tangan-tangan mungilnya mencengkeram tepi box bayi dan berusaha duduk.


Dul mengangkat Ibrahim dan membawanya ke ranjang. Ternyata keinginannya membuat Ibrahim tenang sejenak tidak terkabul. Bayi itu merengek dengan air mata menggantung di pelupuk. Wajahnya terlihat sangat sedih.


"Oh, maafin Mas. Udah haus banget, ya? Ayo kita keluar cari Ibu." Dul mendekap Ibrahim dalam gendongan dan membawanya keluar kamar.


Di ruang keluarga, Dijah baru saja berdiri dari sebelah Bara. Wajahnya sedikit terperanjat melihat kedatangan Dul yang mendekap Ibrahim. Begitu pula Bara yang segera menyadari kalau ia kelupaan interkom putranya.


"Kok, air matanya udah banyak? Udah lama bangun, ya?" Dijah mengusap pipi Ibrahim dan mencium pipi bayi itu dengan raut bersalah. "Ayahnya bilang bakal diawasi," ucap Dijah, memandang Bara.


"Interkomnya sama aku, Bu. Gantian karena Ayah ikut ngobrol di sini. Belum lama bangun, kok. Ibra enggak nangis. Mungkin haus karena tadi aku ajak main enggak mau. Tetep mewek sambil liat pintu kamar."


"Kangen Ibu, ya? Kangen Ibu?" Dijah menciumi Ibrahim yang kembali tenang sebegitu tiba di gendongan ibunya.


"Ditinggal sebentar pasti kangen, ya, Jah. Tapi jaga seharian rasa-rasa mau ngasi CTM aja."


"Begitulah perasaanku ke kamu, Tin," sahut Dijah terkekeh.


"Asem." Tini menoleh pada Dul. "Banyu dan Bumi ngapain, Dul?" tanya Tini.


"Oh, di kolong," sahut Tini biasa saja.


"Kok, gitu nada cakap kau? Apa biasanya memang tidur di kolong?" Mak Robin ikut menimpali karena heran.


"Ya di mana-mana. Di tempat dia ngantuk, dia langsung tidur. Mungkin ini hasil perawatan babysitter Desa Cokro. Pernah tidur di bawah tudung saji, kolong meja makan, di dalam keranjang cucian. Tapi itu cuma Banyu. Bumi enggak gitu," jelas Tini.


Semua orang mengangguk-angguk tanda mengerti kecondongan sifat yang dimiliki kedua putra Wibi dan Tini mengarah ke mana.


Setelah Asti muncul menggandeng Caca dan Mima, kado besar yang diberikan Tini pada Dijah tadi akhirnya dibuka sembari menunggu Banyu dan Bumi menghilangkan kantuknya sejenak di kamar Dul.


Mima yang mempelopori pembukaan kado itu terus berceloteh menebak-nebak apa isi di dalam kotak. Semua mata ikut menyimak ketika tangan mungilnya menyobek kertas warna-warni pembungkus.


Dul duduk bersandar ke dinding dengan Robin yang sudah bergabung ke ruangan itu. Memperhatikan gerak serta ucapan yang dilontarkan setiap orang. Melihat Dijah yang duduk menyusui Ibrahim di sudut ruangan dengan selembar kain jarik yang disampirkan Bara menutupi bagian depan tubuhnya. Dul tahu ibunya ikut mengawasi Mima. Ada sedikit percik ketidaksabaran di mata ibunya.


"Yeii....mainan untuk aku .... Yah! Ini manik-manik buat bikin gelang sendiri. Aku belom punya ini!" Mima memekik pada Bara. Tangannya mengangkat sekotak butiran warna-warni yang bisa dironce menjadi gelang ataupun kalung mainan. Lalu perhatian Mima kembali ke mainan lain yang dari kemasannya ia pikir pasti ditujukan buatnya. "Eh, Ayah! Aku dapet ini juga. Ini buatku juga, kan, Budhe? Pasti buatku. Mas enggak mungkin mainan makeup." Mima menyatukan dua kota mainan dan mendekapnya di dada.


"Iya. Buat Mima juga. Anak perempuan paling ceriwis. Yang penting ayahnya enggak ngomel-ngomel kalau anaknya pake makeup di rumah." Tini tertawa melihat Bara yang mulai membolak-balik kotak yang dipegang Mima.


Dul ikut tersenyum. Pandangannya kembali memperhatikan raut ibunya yang seakan tak sabar ingin ikut melihat apa saja yang diberikan Tini. Dan sepertinya semenit kemudian, wajah Ibrahim yang memerah dan kenyang muncul dari balik jarik. Bibirnya mengecap-ngecap dan matanya ke sana kemari melihat setiap orang yang duduk di ruang keluarga.


"Eh, udah kenyang? Sini," kata Bara, mengulurkan tangannya. Dijah bangkit dan langsung menyodorkan Ibrahim pada Bara.


"Mana? Ibu mau liat." Dijah menggeser kotak ke dekatnya dan mengeluarkan isi kado lain. Satu bungkusan berisi tujuh piyama bayi yang bagian depannya bertuliskan nama-nama hari dalam bahasa Inggris. "Wah, ini buat dipakai tiap hari selama seminggu. Ibra dikasi Budhe ini, Nak." Dijah mengangkat menunjukkan bungkusan itu pada Ibra. Balita setengah menganga menatap bingung pada ibunya.


"Ada satu lagi, Jah. Buat yang udah mas-mas," kata Tini.


"Oh, ya." Dijah mengeluarkan kotak kecil terakhir. Memutar-mutarnya sebentar, kemudian menyodorkannya pada Dul. "Buat kamu dari Budhe," ucap Dijah.


Dul meraih kotak itu dan membuka isinya. Dan ternyata bukan hanya Dul yang melebarkan matanya. Bara ikut maju untuk melihat lebih dekat. "Wah! Yah!" Dul memandang Bara, Dijah, Tini dan Wibi bergantian. Sebuah miniatur pesawat yang di bagian ekornya bertuliskan R80.


"Wah, R80 ** Habibie ... Dul belum punya. Dapet di mana, Mas?" Bara memandang Wibi yang ikut tersenyum puas karena melihat ayah dan anak terkagum-kagum karena pemberiannya.


"Tini pernah cerita kalau Dul koleksi miniatur pesawat. Untuk yang jenis R80 ini aku optimis kalau Dul belum punya. Aku minta bantu ke temenku yang juga suka koleksi." Wibi tersenyum bangga.


"Pokok'e Mas-ku sing paling manteb," bisik Tini pada Boy di sebelahnya.


"Si jambang gimana? Tadi kamu sibuk nyari si jambang," sahut Boy.


"Biarkan si jambang sibuk dengan nasi kuning dan perintilannya," jawab Tini, melirik toples emping yang sekarang berpindah ke pangkuan Heru.


To Be Continued