
Dalam perjalanan kembali ke rumah, Dul duduk bersama Bara di jok tengah. Setelah mengantarkan Pak Wirya tiba di rumahnya, Bara berpindah ke kursi di sebelah Heru. Selama dalam perjalanan itu pula, Bara terlihat terus mengetikkan pesan di ponselnya. Tak ada tebakan lain kepada siapa Bara bertukar pesan selain pada ibunya.
Mobil Heru mungkin masih semenit berada di depan pagar rumah, tapi pintu depan langsung dibuka. Dijah muncul bersama Mima. Pemandangan yang sebenarnya sudah biasa dilihat Dul setiap hari. Tapi hari itu terlihat berbeda.
Ketidaksabaran Dijah bukan hanya pada bungkusan yang memang selalu ditunggunya. Tapi juga penggalan cerita yang akan disampaikan oleh dua orang laki-laki dengan versi yang berbeda.
Seakan ingin menegaskan kebenaran yang ia sampaikan pada bapaknya, Dul berlama-lama berdiri di pagar menunggu ibunya menyambut Bara. Dul sudah tahu bahwa kedua orang tuanya amat sangat saling mencintai. Namun, ia ingin memperhatikannya sedikit lebih teliti.
Dul menutup pagar seraya menoleh ke ambang pintu. Melihat wajah senang ibunya yang melihat sang suami hari itu tidak ke kantor dan pulang lebih awal. Bergelayut dengan satu tangan dan tangan lainnya meraih bungkusan. Tatapan ibunya langsung tertuju pada tulisan di kemasan yang menunjukkan di mana suaminya mampir. Memukul pelan lengan suaminya karena ternyata itu tempat baru dan ia belum pernah diajak. Dul tersenyum tipis. Ibunya memang sudah bahagia.
Perjalanan hari akan selalu terasa sangat panjang jika disertai sumpalan perasaan. Begitulah yang dirasakan Dul hari itu. Masih ada sumbatan yang belum terlepaskan. Ia tak sabar menunggu malam.
“Mima …,” panggil Bara, melongok ke sofa. “Matanya udah merah. Ayo, tidur. Ayah usap-usap punggungnya,” ajak Bara, merentangkan tangannya pada Mima yang berbaring.
Mima berdiri di sofa. Terhuyung seraya menyambut tangan Bara. Dengan satu gerakan, gadis kecil itu telah menyebrangi sandaran sofa dan tiba digendongan ayahnya. “Bobok di kamar, ya.” Bara mencium pipi Mima sangat keras. Seketika ciuman itu membuat Mima kehilangan tenaganya. Gadis kecil itu langsung memeluk leher dan menjatuhkan kepala di bahu Bara.
“Usap punggung sampai tidur,” ucap Mima.
“Iya …,” sahut Bara, berjalan menuju kamar Mima yang terletak di sebelah kamar Dul. Dua kamar itu terletak dekat ruang makan.
Dul sudah sejak tadi berada di kamar. Berbaring di ranjang menghadap dinding dan memunggungi pintu. Isi pikirannya sedang melakukan tanya-jawab. Memilah-milah hal yang tak ia sukai dan menempatkannya ke pojok ingatan.
Dijah melihat punggung Bara menghilang ke dalam kamar Mima. Di sebelahnya pintu kamar Dul tertutup, tapi tidak rapat. Masih ada segaris celah yang memperlihatkan cahaya lampu kamar sudah disetel ke lampu tidur. Dijah membuka pintu dan melangkah masuk.
Sama seperti kehamilan sebelumnya, seragam favorit Dijah tetaplah selembar daster dan sebuah sarung yang terikat sampai ke dadanya. Menurutnya itu adalah pakaian paling nyaman selama menikah.
“Belum tidur rupanya,” Dijah mendekati ranjang dan berbaring di belakang Dul.
“Belum. Ibu, kok, belum tidur?” tanya Dul, menoleh sedikit ke belakang. Lalu kembali menatap dinding saat tahu Dijah berada di belakangnya.
“Ibu kepengin ngobrol-ngobrol. Kita udah lama enggak ngobrol lama,” jawab Dijah, memijat lembut bahu Dul dari belakang.
“Bu …,” panggil Dul, menatap tembok berwarna biru langit yang menjadi kekuningan karena cahaya lampu.
“Bapak keliatan lebih gemuk dari yang terakhir aku ingat,” ucap Dul.
Dijah hanya diam. Tangannya menepuk-nepuk lembut bahu Dul.
“Bapak…Bapak juga nanyain Ibu. Ada titip pesan. Katanya… sekarang Bapak enggak akan ganggu Ibu lagi.” Dul memeluk erat gulingnya di dada. Sengaja tak berbalik. Tetap menatap tembok agar sorotnya tak beradu dengan ibunya.
“Makasih udah disampein,” jawab Dijah. Tangannya masih terus menepuk lembut bahu Dul.
“Aku sempat tanya Bapak ke mana. Kata Bapak…,” Dul tercekat. “Kata Bapak cuma jalan-jalan. Bosen di ruangan.” Dul merasa dadanya sesak saat mengatakan itu.
Bagi Dul selama ini, menerima kenyataan cukup dalam diam dan diresapinya sendirian. Ia tidak mau terlalu gaduh. Kesepian baginya adalah teman. Dan diam adalah perayaan. Namun, malam itu ia luruhkan. Cengkeramannya di guling kian erat dan hidungnya mulai tersumbat.
“Dia memang pergi jalan-jalan,” jawab Dijah datar. Ia dan Dul sedang menumpuk satu ingatan dan mengasingkannya ke sudut gelap. Menutupnya rapat-rapat berharap tak akan kembali mencuat.
Mereka berdua sama-sama tahu dan punya gambaran. Tapi, keduanya sama-sama tak ingin menegaskan gambaran itu dengan ucapan yang akan lebih menoreh.
“Nanti-nanti pasti ada yang tanya Bapak pergi ke mana. Aku bakal bilang Bapak jalan-jalan,” ulang Dul lagi. Perkataan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
“Dari dulu, dia memang selalu jalan-jalan. Kita enggak perlu khawatir,” tegas Dijah. “Yang penting dia udah tau kabar kamu,” sambung Dijah lagi.
“Aku enggak suka, tapi aku kasian juga.” Tangis Dul pecah dan teredam sebuah guling. Bahunya berguncang dengan napas pendek yang semakin menyulitkannya menyembunyikan tangis itu. Ia mengkhawatirkan perasaan Bara jika ia bersedih untuk bapaknya.
Dijah menepuk-nepuk punggung Dul. “Cukup tau aja kalau bapakmu pergi jauh. Jalan-jalan. Udah selesai, Dul. Udah selesai. Ada hal-hal yang enggak semuanya harus kita tau. Malam ini, nangis kalau mau nangis. Ayah enggak akan marah atau kecewa. Ingat apa kata Akung, kita ini semua sama. Hati kita penuh dengan berbagai perasaan. Nangis aja, enggak apa-apa, Nak. Selanjutnya kita tinggalkan semua kabar ini.” Dijah memeluk lengan Dul dan meletakkan kepala di punggung putra sulungnya itu.
Isak Dul terdengar sampai keluar kamar. Cukup jelas ditangkap oleh telinga Bara yang bersandar di tembok luar. Ia menarik napas menoleh handle pintu. Perlahan, ia merapatkan pintu itu.
“Tidur yang nyenyak, ya Dul ….” Bara melangkah menjauhi pintu. Sebentar lagi ia akan membangunkan Dijah yang pastinya akan ikut tertidur di sebelah Dul. Ranjang Dul tak akan cukup untuk Dijah yang sering bertukar posisi tidur.
To Be Continued