
Siapa pun di dunia ini pasti memiliki seseorang yang hanya singgah dalam hidup atau yang datang untuk menetap. Mungkin ada banyak, atau mungkin hanya beberapa. Seperti Dul yang memiliki sahabat hanya dua orang dari masa SD sampai SMA.
Dul yang sulit dekat dengan orang lain, selalu merawat dan menjaga semua hal yang membuat ia merasa nyaman. Keluarganya, koleksi miniatur pesawatnya, taman kecil di depan rumah, juga termasuk yang paling mempengaruhi pertumbuhan pikirannya. Yaitu para sahabat.
Meski sahabat Dul tak banyak, Robin dan Putra mengiringi masa-masa pertumbuhannya sebagai remaja beranjak dewasa. Dua orang teman yang paling mendominasi hari-harinya. Dul yang memang tak pernah banyak bicara atau tak pernah mudah mengeluarkan unek-uneknya, merasa nyaman karena hanya perlu sesekali berkomentar atau tertawa menanggapi lelucon Robin dan Putra. Juga, hanya kepada Robin atau Putra, Dul bisa sesekali mengeluarkan isi pikirannya. Hanya sesekali, tidak sering.
Peristiwa bolos massal seminggu yang lalu membuat kelas Dul semakin kompak. Entah kenapa kejahatan bisa membuat mereka mengenal satu sama lain lebih baik. Pendapat-pendapat baru dilontarkan satu sama lain menilai temannya. Seperti misalnya ....
"Ternyata Putra jago mancing. Paklikku bilang ikan hasil pancingan Putra itu enggak mati. Pinter ngambil kailnya dari mulut ikan," ujar Rayon di suatu Senin pagi.
"Aku kira selama ini si Yani pandenya cuma merepet aja. Baru tau kalo dia enggak pernah menulis semua angka kejahatan gak hadir dalam catatan kelas. Baek kali dia," ujar Robin pula.
"Udah pindah haluan ternyata," ucap Dul santai.
"Mana yang duluan aja," sahut Robin dalam bisikan.
"Aku malah baru tau kalau Dul ternyata mau ikutan bolos juga. Ya kan, Yon?" Yani balik bertanya pada Rayon.
"Iya, bener. Kirain Dul bakal ngelarang atau enggak ikutan." Rayon tertawa kecil.
Dul hanya tertawa kecil menanggapi perkataan teman-temannya. Yang menjawab candaan itu malah Robin.
"Jangan kelen kira diam-diam gini dia enggak bisa bergerak. Dul menebar jaring dalam diamnya," kata Robin.
"Malah bagus. Ikannya masuk jaring semua. Kalau berisik seperti kamu, ikannya malah kabur. Mana jaringmu lubangnya gede-gede. Lolos semuanya," timpal Putra.
"Iyalah si paling jago mancing ...." Robin sudah kembali membuat kepal tinju berpura-pura hendak memukul Putra.
"Selamat pagi semuanya ...."
Suara sapaan dari pintu yang terdengar akrab namun terasa ganjil di pagi hari membuat semua kepala menoleh.
"Yoseph?!" Yani memekik dan membekap mulutnya.
"Yoseph datang sebelum bel berbunyi. Kode alam ini, bah!" seru Robin.
"Apa ada masalah di rumah?" Rayon sampai berdiri dari kursi menghampiri Yoseph dan bantu membawa bungkusannya.
Dul menunduk dan tertawa terbahak-bahak. Pertanyaan Rayon dinilainya sangat lucu. Murid lain mungkin akan ditanya ada masalah apa di rumah kalau datang terlambat. Lain hal dengan Yoseph. Bagi putra Flores itu malah berlaku kebalikannya. Yoseph mungkin sedang ada masalah saat datang ke sekolah lebih cepat.
Setelah bungkusan keripik di letakkan di kursi Yoseph, semua telinga menunggu jawaban.
"Tidak ada masalah, Ketua. Saya datang cepat hari ini untuk mengantisipasi kalau-kalau ada pelatihan guru lagi. Siapa tahu semua teman-teman mau jalan-jalan lagi." Yoseph tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya.
Dul masih terkekeh seraya mengibaskan buku tulis di depan wajahnya.
"Hari ini enggak ada pelatihan. Niat ke sekolah, kok, mau jalan-jalan," kata Putra.
"Karena Yoseph tidak pernah jalan-jalan, Putra. Mama Yoseph pergi kerja ke rumah tetangga setelah bungkus keripik selesai. Papa Yoseph jaga parkir toko roti. Minggu lalu jalan-jalan pertama Yoseph sama teman-teman," jelas Yoseph, seraya mengatur letak bungkusannya.
Dul berdiri dari kursi dan menghampiri Yoseph. "Enggak ada jalan-jalan hari ini. Tapi kita semua bisa sama-sama baris upacara bendera dan menikmati waktu sama-sama dengan teman sekelas." Dul merangkul pundak Yoseph yang takjub dengan perkataannya.
Mata Yoseph berbinar. "Bangga bisa jalan sama Abdullah. Idolanya para murid perempuan dan calon Ketua Osis tahun depan. Yoseph pasti memilih Abdullah."
Dul tertawa kecil dan berjalan keluar kelas bersama Yoseph. Mungkin orang lain akan sulit mengerti apa yang Yoseph rasakan. Tapi Dul yang pernah menganggap jalan-jalan sederhana merupakan kemewahan, benar-benar mengerti perasaan temannya itu.
Dan sekali lagi, di penghujung tahun ajaran kelas satu SMA, Dul dan teman-temannya menorehkan pengalaman konyol dan menggelikan.
Hari Senin itu mereka melakukan upacara bendera. Seperti upacara di mana pun, murid berbaris sesuai kelasnya masing-masing. Barisan itu terdiri dari dua jenis murid. Setengah yang terdepan diisi oleh murid tertib. Dan setengah ke belakangnya biasa diisi murid yang doyan bertukar cerita soal apa yang mereka lewati selama libur akhir minggu.
Hari itu, Dul dan Yoseph berbaris bersisian. Mereka dengan mudah berbicara hanya dengan melihat ke sebelah. Robin dan Putra juga berdiri bersisian. Keduanya mengobrol tak henti-henti dalam bisikan. Tak ada seorang pun di antara setengah barisan itu sadar bahwa Pembina Upacara sedang mengomel.
"Yang di belakang sana! Dengung suara kalian ke depan ini terdengar jelas. Sudah mirip tawon. Saya yakin tidak ada yang mendengarkan pidato saya hari ini." Kepala sekolah berdiri di atas podium batu dengan kedua tangan terkepal di belakang tubuh.
"Ayo, Pimpinan Upacara, silakan diistirahatkan sekali lagi." Kepala Sekolah meminta Pemimpin Upacara untuk memberi aba-aba istirahat kembali.
"Seluruhnya, istirahat di tempat .... Gerak!"
Bagian belakang tak ada yang mendengar. "Robin ... Robin, saya tidak dengar. Istirahat atau hormat?" Yoseph mencolek Robin yang berdiri di depannya.
Robin menjawab tanpa melihat sekeliling, "Hormat katanya. Kan, udah siap Kepala Sekolah ngasi ceramah." Robin mengangkat tangannya dengan gerakan hormat.
Begitulah awal bagaimana Kepala Sekolah mereka langsung melihat tajam ke sekumpulan murid yang melakukan gerakan berbeda. Dimulai dari Robin dan seluruh siswa di belakangnya, mengikuti aba-aba hormat yang tidak diperintahkan. Kepala Sekolah turun dari podiumnya dan langsung berjalan menuju ke barisan mereka.
"Mulai dari sini ke sini, mundur ke belakang. Kalian akan mengulang upacara setelah upacara selesai. Semuanya yang saya tunjuk mundur ke belakang." Kepala Sekolah menunjuk Robin dan semua orang yang berada di belakangnya untuk memisahkan diri dari barisan.
Robin menoleh ke sekelilingnya. "Bah, sikap istirahat rupanya. Bukan hormat," bisik Robin ke belakang.
"Udah terlambat. Semua yang ikut kamu bakal ngulang upacara," jawab Dul.
"Ya Tuhan .... Apa hari ini Yoseph akan bersenang-senang lagi bersama teman?" Yoseph terlihat lebih riang dari Robin yang memucat.
"Gara-gara aku semuanya," ucap Robin saat menyadari ada lebih dari empat puluh anak yang ikut menjadi korban salah gerakan itu.
"Sudah...sudah, jangan ngobrol lagi. Nanti kalian upacara sendiri. Kamu," Kepala Sekolah menunjuk Robin, "Kamu gantiin saya jadi Pembina. Berdiri di depan podium dan kasi wejangan buat teman-teman kamu."
To Be Continued