
"Ini cincin Ibu.” Annisa melepas cincin yang berada di tangan kanannya dan memakaikannya kembali pada Dijah. “Makasih karena udah minjemin cincin ini buat aku. Mas Dul pasti tau kalau cincin ini sangat berharga buat ibunya." Annisa memandangi cincin yang baru disematkannya ke tangan Dijah beberapa saat.
Dijah ikut memandang cincin dengan mata berlian kecil yang penuh sejarah buatnya itu. “Cincin ini memang berharga buat Ibu. Tiap lihat cincin ini Ibu selalu bisa membayangkan gantengnya Ayah di waktu muda.”
“Sampai sekarang masih ganteng, kan?” Bara muncul bersama Ibra.
“Masih. Masih ganteng banget. Ayah siapa dulu, dong. Ayah Fatimah Putri Satyadarma.” Mima muncul dan langsung menggandeng lengan Bara.
Mereka semua sedang berada di sebuah ruangan di belakang pelaminan. Dul dan Annisa baru saja bersiap untuk ke acara berikutnya. Perayaan pernikahan seorang perwira dengan upacara pedang pora.
Saat dua orang wanita sibuk mengecek penampilan Dul dan Annisa sebelum keluar, Mima ikut menegakkan Dijah dan memutar-mutar ibunya itu sebentar. “Udah cakep. Cantik luar biasa. Ayo, kita keluar duluan.” Mima menggandeng Dijah.
“Pacarnya Mima yang mana? Enggak diundang?” Annisa memandang Mima dari pantulan kaca.
Mima mengibaskan tangan. “Enggak perlu diundang,” sahutnya disertai tawa kecil.
“Ayo, Yah, Ibra ….” Dijah ikut menggandeng anak bungsunya meninggalkan Dul dan Annisa yang sesaat lagi akan memasuki gedung dari bagian depan. “Siapa aja yang sudah datang? Mima ada lihat Pakde Supri?”
Mima berjalan cepat dari balik himpitan kainnya. Sesekali menoleh ke belakang memastikan ayah dan ibunya masih mengikuti. “Udah, Bu. Aku udah liat Pakdhe Supri dari tadi.”
“Mereka dateng duluan? Pertama kali?” Dijah semakin bersemangat karena mendengar kedatangan keluarga besarnya.
Mima menghentikan langkahnya di dekat pelaminan dan berbalik untuk kembali merapikan kebaya ibunya. “Yang pertama kali datang keluarga besarnya Budhe Tini dan Pakdhe Wibi. Mereka udah mengisi tempat di sudut kanan. Nanti Ibu bisa lihat kalau udah ikut duduk di panggung pelaminan.”
Wibi dan Tini terlihat sudah duduk rapi di barisan paling depan, mengambil tempat di sayap sebelah kanan. Ayah-ibu Wibi yang datang dari Surabaya sejak dua hari yang lalu tampak ikut hadir dengan seragam berwarna hijau daun pisang muda yang dipanggang. Bersama dengan Pak Joko yang asyik bercerita dengan Banyu dan Bumi sambil menunjuk-nunjuk ke arah segerombol anggota TNI yang akan melakukan upacara pedang pora.
“Ternyata Tini udah di sini. Semua udah komplit. Tapi … Dayat mana? Enggak keliatan.” Dijah mempertajam penglihatan ke jajaran kursi yang ditempati Tini dan keluarganya.
“Ibu enggak usah mikirin itu. Sekarang berdiri yang rapi dan menunggu aba-aba dari kakak-kakak wedding organizer. Ayah Ibu harus memesona semua orang. Jangan mau kalah sama pengantinnya.” Mima meraih tangan Dijah dan Bara serta merta membawanya ke depan pelaminan. Ketika mereka melintas, Mima bisa melihat Papa Annisa yang berdiri di sisi lain tersenyum dan mengangguk pada Bara. Sudah beres, pikir Mima. Tak ada lagi orang tua yang bersedih karena masalah anak-anaknya.
Dari tempatnya berdiri, Mima bisa melihat jelas siapa-siapa saja yang sudah hadir di ruangan itu. Selesai merapikan selendang di bahu Dijah, Mima kembali berbisik pada ibunya. “Yang duduk di dekat keluarganya Budhe Tini siapa, Bu? Aku enggak gitu kenal. Kaya enggak pernah lihat,” ujar Mima.
Dijah ikut melongok. “Itu keluarga pihak almarhumah ibunya Mbak Nisa. Katanya datang dari jauh. Ternyata orang Sumatera. Ada yang dari Padang, Lampung, juga dari Jambi.”
“Menantu perempuan Ibu orang Sumatera,” ulang Mima dalam bisikan.
“Bagus begitu, kan? Biar rumah rame,” sahut Dijah.
“Mima udah selesai, kan? Itu upacara pedang poranya sebentar lagi dimulai. Ayah minta keluarganya Akung dibantu. Itu yang sebelah sana. Sepertinya masih bingung.” Bara menunjuk ke bagian tamu yang masih celingak-celinguk meski sudah dipandu oleh seorang petugas wedding organizer.
“Jalannya pelan-pelan …!” Dijah tetap berseru pada punggung Mima. “Padahal pakai kain panjang, tapi jalannya enggak mau pelan-pelan.”
“Udah…udah. Mima udah gede. Udah 21 tahun, Jah.” Bara memandang sosok Mima yang bertubuh tinggi dan berkulit pucat. Sangat berbeda dengan Dijah.
“Iya, Mas. Enggak terasa Mima juga udah dewasa, ya. Sebentar lagi kita juga bakal melepas Mima.” Dijah bicara sambil setengah tertegun.
“Sebentar lagi? Enggak, Jah. Belum. Masih 21 tahun masih lama buat melepas Mima. Mas barusan bilang Mima udah gede, bukan dewasa. Lagian Mima masih kuliah dan kayanya enggak punya pacar.” Bara tidak terima kalau ia harus melepas Mima menikah secepat itu. “Nanti-nanti aja,” tambahnya lagi.
“Enggak punya pacar? Mas percaya Mima enggak punya pacar?” Dijah melemparkan pandangannya pada Mima yang sedang menunjukkan kursi-kursi yang diperuntukkan bagi keluarga besar Satyadarma.
“Kalau punya pacar pasti udah dikenalin ke kita.”
“Belum tentu, Mas. Bisa jadi Mima punya pacar tapi memang belum mau memperkenalkannya ke kita.”
“Nanti kita cari tahu. Kalau Mas tanya pendapat Mas Heru, pasti dia mau buntutin ke mana Mima pergi.” Bara sedang mempertimbangkan cara mengetahui pacar Mima.
Dijah menyipitkan mata dan memandang sengit pada Bara. “Jangan ada yang berani-berani membuntuti anak-anakku tanpa sepengetahuanku. Harus dengan izinku, Mas,” tegas Dijah.
Bara meringis dan menepuk-nepuk punggung tangan Dijah demi suasana kondusif di hari bahagia putra mereka.
Di bagian lain, Heru tengah melambai pada serombongan orang yang sibuk mengatur tempat duduk.
“Selamat datang keluarga besar The Term. Asti dan Bayu harusnya enggak perlu dipersilakan seformil ini, kan? Ayo… ayo, dibantu rekannya yang lain. Yang pesta ini keponakannya CEO The Term, lho.” Heru tersenyum sumringah ketika karyawan The Term tiba dengan seragam hijau yang sudah disepakati mereka sebelumnya.
“Pak, warna hijau seragam saya cuma ada yang begini. Soalnya dadakan banget infonya.” Maradona menghampiri Heru dengan batik berwarna hijau pucuk pisang terang.
“Enggak apa-apa. Ini udah keren. Kamu keliatan dari sudut mana pun. Ayo, dibawa temannya yang lain buat duduk rapi. Sebentar lagi dimulai. Saya mau semuanya ikut menyaksikan upacara ini dengan tenang.” Heru terus melambai dan menyambut semua karyawannya yang hampir semuanya hadir.
Dul dan Annisa sudah bersiap di ujung lorong. Tangan Annisa sudah melingkar di lengannya dan wanita itu memel Yuk buket bunga segar yang cukup besar. Meski terlihat santai, Dul tahu kalau ia dan Annisa sama gugupnya. Beberapa saat lagi akan terdengar komando dari pimpinan upacara pertanda akan melangkah masuk melewati lorong pedang-pedang yang diangkat ke atas membentuk gapura.
“Udah siap?” bisik Dul di telinga Annisa.
Annisa mengangguk. “Siap,” jawabnya.
Detik berikutnya, suara teriakan pemimpin upacara pedang pora terdengar memenuhi Puri Ardhya Garini yang hari itu dipenuhi orang-orang berseragam hijau.
To be continued