Dul

Dul
098. Duel Abdullah



Seruan dan suara mesin motor yang mendekat bersamaan membuat Dul dan Robin menoleh seketika. Seorang pria dengan seragam SMA mendekat diikuti oleh tiga orang temannya.


“Oh, bener nih. Namanya Abdullah. Ternyata memang bener belum pulang. Masih nyampe di sini,” kata pemuda itu seraya menunjuk Dul.


“Ada apa, ya?” Pertanyaan Dul meluncur dengan gerak matanya mengamati siswa yang mendatanginya.


Seragam yang dikenakan berbeda dengan miliknya dan Robin. Warna celana panjang empat pemuda yang mendekat, lebih condong ke abu-abu yang lebih gelap. Ditambah dengan logo sekolah berwarna kuning mencolok di lengan kiri, Dul memastikan keempat orang di depannya bukan murid SMA mereka. Lagipula, ia adalah Ketua Osis yang dikenali hampir seluruh siswa sekolahnya. Tak ada alasan orang bertanya dulu sebelum menghampirinya. Perasaan Dul mulai tak enak.


“Mentiko kali mukanya. Macam mau ngajak begadoh,” bisik Robin.


(Mentiko : Sombong)


Dul diam saja. Robin mengatakan hal yang benar. Wajah siswa yang mendatangi mereka dipenuhi dengan aura keributan. Masam, tak bersahabat.


“Lo siapanya Lova? Pacarnya, kan? Udah bikin apa lo hari ini? Bisa-bisanya Lova mau sama anak ingusan begini,” kata pemuda itu, terbahak pada temannya seraya menunjuk wajah Dul.


Dul menepis tangan pemuda itu. “Aku enggak kenal kamu. Kalau ada keperluan, ngomong yang bener aja.”


“Iya. Betol kata kawanku. Bagusnya kelen kenalan dulu. Biar enak cakap-cakapnya. Kalo kawanku pacaran sama si Lova, apa pula urusannya sama kau? Kalo gak pacaran pun, urusannya apa? Kau Abang si Lova?” tanya Robin santai.


Tiga pemuda lainnya duduk di tembok batu yang membingkai jajaran tanaman hias di trotoar. Jalanan cukup sepi karena daerah itu memang tidak dilalui angkutan kota. Di seberang jalan hanya tembok bagian samping sebuah rumah sakit swasta yang jelas tidak ada orang berlalu-lalang.


“Gue enggak ada urusan sama lo! Cabut lo!” hardik pemuda itu menunjuk wajah Robin.


“Apa yang mau kucabut? Nyawa kau? Aku bukan malaikat! Kalo mau aku pigi, kau suruh kawan kau pigi juga. Berdua aja kau selesaikan sama si Dul. Bengak!” maki Robin yang mulai tersulut emosinya.


(Bengak : Bego)


Pemuda yang baru saja dimaki Robin, terlihat mengeraskan rahangnya. Namun, pria itu kembali fokus menanyai Dul.


“Lo apain Lova? Waktu gue telfon, dia lagi nangis-nangis,” kata pemuda itu.


“Rif! Hajar aja langsung,” seru seorang pemuda yang duduk seraya terkekeh-kekeh.


“Diam,” pinta Dul pada pemuda yang sedang duduk. Meski satu kata, pemuda itu langsung terdiam dengan wajah kesal. Lova menangis? Memangnya ada apa? Sampai di situ, Dul masih belum mengerti. “Lova nangis? Memangnya kenapa?”


“Iya!” seru pemuda di depan Dul. Kakinya telah maju selangkah dan memperpendek jarak mereka.


Robin mengangkat tangannya ke arah pemuda yang berada di depan Dul. “Eh, tunggu! Si Lova nangis atau menjahit, apa hubungannya sama kau? Kutanya sekali lagi, kau siapanya si Lova? Kok, mengkek kali pake acara ngirim-ngirim orang? Cakap sendirilah dia. Gak usah bacol kali. Dia yang maen cewek sama si Dul. Kelen pula ikut-ikutan melabrak macam mamak-mamak,” omel Robin lagi.


(Mengkek : Manja, Bacol : Penakut)


“Gue udah lama suka sama Lova dan gue maklum-maklum aja kalo dia milih jalan sama cowo kampung kaya lo. Gue kira dia milih lo karena emang lo baik! Nyatanya dia nangis karena ngeliat lo nyipook cewe lain di kelas. Lo nggak ngotak!” teriak pemuda itu dengan wajah memerah.


“Eh, Dul?” Robin menoleh pada Dul di sebelahnya. “Kayaknya ada yang kelewatan. Iyakah? Maen kaaaali kawan aku ini, bah! Nanti ceritalah ….” Robin memukul pelan lengan Dul.


“Bin, ini serius,” sahut Dul dalam bisikan.


“Terus kalian maunya apa? Udah sore,” kata Dul, menengadah melihat langit. “Nanti aku ngobrol dengan Lova. Kebetulan besok aku ada janji ke rumahnya. Kami berdua pasti ngobrol banyak,” jelas Dul dengan nada datar.


“Rifky …! Lambat banget lo!” seru seorang pemuda lainnya.


Perkataan itu cukup memprovokasi pemuda yang bernama Rifky. Tiba-tiba, pemuda itu mendorong bahu Dul sampai terjajar dua langkah ke belakang. Ujung tumit Dul menyentuh tembok pagar dan ranselnya menyeret pagar besi.


“Bin … udah. Nanti bakal jadi panjang.” Dul mengingatkan. Ia mengingatkan sahabatnya, sekalian kembali mengingat segala pesan Bara padanya.


“Jangan ikut pertandingan sepak bola. Apalagi yang lawan antar sekolahan. Jangan berantem dengan teman, terutama berantem dengan anak sekolah lain. Jangan tawuran. Hindari keributan. Ingat pesan ayah. Ayah bakal marah kalau kamu melanggar yang ini.”


“Udah didorongnya kau, Dul. Siapa kali rupanya si bodat ini?!” Suara Robin meninggi. Tangannya merogoh saku celana mencari ponsel. Ia bermaksud menelepon Putra yang rumahnya tak jauh dari sana.


“Kok, diem lo? Tunjukan sekalian cewe yang lo sosor di kelas. Gue yakin itu cewe enggak lebih cantik dari Lova. Kebetulan tipe cewe mau-an aja sama lo—”


BUG!


Rasanya Dul semakin tak suka kalau orang-orang menyalahkan Annisa atas segala sesuatu yang ia lakukan. Tendangan barusan ke tubuh pemuda yang belum selesai mencercanya, membuat sosok yang bernama Rifky itu terjengkang dari trotoar.


“Kalau memang enggak suka denganku, kalian boleh ngomong apa pun. Tapi jangan bawa-bawa orang lain.” Dul membetulkan tali ransel yang disangkutkannya di satu bahu.


Robin sudah berhasil menelepon Putra. Sahabat mereka satunya itu berkata akan segera datang. Robin merasa keputusannya memanggil Putra sudah tepat. Karena tiga orang teman Rifky seketika berdiri saat Dul menendang temannya.


Dan perkelahian itu pun tak dapat dihindari. Dua orang pelajar SMU yang entah di mana, menerjang Dul. Dul sempat terpojok dengan punggung kembali menghantam pagar besi. Kakinya yang panjang menendangi dua orang yang berusaha mencengkeram kerah kemejanya. Dul mengibaskan ransel untuk menjangkau wajah salah seorangnya.


Di tempat lain, Robin bergumul dengan seorang lainnya sambil memaki-maki. Seragam putihnya sudah ikut menyapu trotoar.


BUG!


Sekali lagi Dul berhasil menendang seorang pelajar dan membuat posisinya sedikit berimbang karena berhadapan dengan seorang saja. Dul mencampakkan ranselnya ke jajaran tanaman. Saling cengkeram leher seragam pun tak dapat terelakkan. Keduanya mengarahkan pukulan yang targetnya sama. Wajah lawannya. Ketika Dul mengerling Rifky, pemuda itu sudah bangkit dan pergi membuka bagasi motornya. Perasaan Dul semakin tak karuan. Pemuda itu pasti mencari senjata, pikirnya.


Dul menabrakkan dirinya ke pemuda yang berusaha menjangkau lehernya. Tangan pemuda itu terayun dan satu pukulannya berhasil menghantam dagu Dul. Karena pukulan itu juga, Dul menabrakkan punggung pelajar itu ke pohon di dekat mereka.


Beberapa langkah di dekat mereka, Rifky melangkah dengan sebuah kunci sock T di tangannya. Terayun-ayun seakan ingin memberi rasa takut pada Dul yang kembali didekati seorang lainnya.


“Ayo, pegangin dia! Pegangin!” seru Rifky.


Dua orang pelajar melompat mendekati Dul. Membuat konsentrasi Dul terpecah antara mengawasi Rifky dengan senjata di tangannya, juga menendang dan mencoba memukul tangan yang berusaha memeganginya.


“Lo marah gue sebut-sebut cewe tipe mau-an itu? Iya? Marah lo?”


Robin berhasil mencampakkan seorang pelajar dari atas tubuhnya. Sekuat tenaganya berlari menghantam seorang yang sedang berusaha memegangi Dul. Robin kembali jatuh bergulingan dengan pelajar lainnya.


Hal itu tak disia-siakan Dul begitu saja. Ia mencengkeram kemeja seorang pelajar di sisi kirinya dan mencampakkannya ke depan Rifky. Keduanya bertubrukan dan Rifky terhuyung.


Sekali lagi Dul menendang pemuda yang lebih pendek, namun bertubuh lebih berisi darinya itu. Rifky terjajar ke sebuah pohon. Dul merangsek dan merebut kunci sock T dari tangan Rifky. Satu tangannya yang lain mencengkeram kemeja pemuda itu dan menyeretnya sampai tersungkur ke trotoar.


Dul berlutut dan menekan satu tangannya ke leher Rifky. Ia lalu mengangkat kunci sock T tinggi-tinggi di atas kepala pemuda itu. Rifky sudah memejamkan mata dan refleks mengangkat tangannya untuk menangkis.


“Abdullah! Abdullah Putra Satyadarma!” Teriakan Putra membuat Dul tersentak. Murid-murid yang sudah selesai menonton sepak bola mulai keluar dari sekolah dan melewati jalan itu menuju ke arah mereka.


Tangan Dul gemetar karena emosi. Kunci itu masih berada di tangan kanannya. Dan tangan kirinya masih mencengkeram kemeja Rifky sekuat tenaga sampai wajah pria itu memerah. Semua murid mengerubungi dan penjaga sekolah tiba-tiba sudah berada di sana.


“Abdullah ... ini aku ambil sekarang,” kata Putra, meraih kunci T sock dari tangan Dul. “Maaf, Dul. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku telfon ayahmu sebelum ke sini tadi.”


To Be Continued