Dul

Dul
043. Cari Kawan



“Mas … perutku kaku. Mules …. Dul mana? Dul mana? Dul pergi dari rumah, Mas. Dul pergi dari rumah karena aku.” Dijah meraung-raung di pelukan Bara.


“Ibu … Ibu sakit. Mas Dul pergi …. Ayah …. Mas Dul pergi ….” Kini Mima ikut menangis menggelayuti lengan Bara.


“Enggak ada. Enggak ada perdarahan. Tapi kamu mules … kontraksi? Ini belum cukup minggunya.” Semua perkataan Bara lebih kepada dirinya sendiri. “Mbok … Mbok Jum,” panggil Bara.


Bara memastikan suaranya sampai ke dapur dan membuat Mbok Jum segera datang. Ia yang selama hidupnya bisa dihitung mengeluarkan teriakan, sore itu sudah berteriak lebih dari dua kali di rumahnya.


“Nak Bara manggil Mbok?” Mbok Jum muncul dengan sutil kayu di tangannya.


“Iya—iya, tolong bawa Mima ke kamarnya. Aku mau bawa Dijah ke rumah sakit.” Bara memegang tanganMima dan menyodorkan gadis kecil itu pada Mbok Jum. “Bisa berdiri? Mau Mas gendong?” Bara memegangi bahu Dijah yang wajahnya sudah pucat pasi.


“Aku enggak boleh kontraksi, kan? Belum cukup minggunya. Nanti anakku enggak sehat. Aku tahan, Mas … ini enggak sakit, enggak apa-apa. Sedikit aja, kok. Cari Dul aja, Mas …. Ini udah malem. Dul bisa ke mana,” isak Dijah.


“Tolong dengerin Mas kali ini. Kamu duduk yang tenang di sini. Tunggu Mas siapin mobil,” ujar Bara, bergegas keluar untuk kembali membuka pagar lebar-lebar. Setelah menyalakan mobil, Bara ke pintu penumpang dan membuka pintunya.


Langit semakin gelap dan kekhawatirannya juga semakin berlipat. Dijah kontraksi dan Dul pergi entah ke mana. Ia kembali berlari ke dalam menemui Mbok Jum yang sudah meletakkan sutilnya dan duduk di lantai memangku Mima. “Mbok, aku pergi ke rumah sakit. Jangan lupa tutup pagarnya, tapi jangan dikunci. Siapa tau Dul enggak lama,” pesan Bara.


Malam baru saja datang dan ia baru saja tiba di rumah. Kini ia berkendara menuju ke rumah sakit membawa Dijah yang meringis sepanjang perjalanan. Dengan pandangan yang semakin ia awaskan. Menyapu sepanjang tepi jalan mencari-cari sosok Dul yang belum lama meninggalkan rumah. Ia bisa mengecek ponselnya untuk mengetahui di mana bocah laki-laki itu berada. Dul membawa ponsel. Hatinya sedikit tenang karena hal itu. Setibanya di rumah sakit, ia akan melihat di mana Dul berada.


“Karena aku, Mas …. Dul pergi karena aku,” lirih Dijah, mengusap perutnya.


Bara diam saja, mengerling ke arah Dijah dan ikut mengusap perut istrinya. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Memilah apa yang harus dikerjakannya lebih dulu, dan siapa yang bisa membantunya dalam situasi itu.


Menangis dan meringis adalah hal yang dilakukan Dijah sepanjang perjalanan itu. Tiba di rumah sakit, seorang dokter instalasi gawat darurat langsung melakukan USG. Bayi mereka baik-baik saja dan kontraksi yang dialami Dijah bisa jadi disebabkan karena stress dan beban pikiran.


“Malam ini dirawat dulu, ya, Jah. Mas enggak tenang kalau cuma dikasi obat terus pulang gitu aja. Nanti kalau sakit lagi gimana?” Bara berdiri di sisi ranjang dengan satu tangannya berada di atas kepala Dijah.


“Dul, Mas …,” rengek Dijah. “Aku enggak apa-apa. Mas cari Dul aja. Mima juga sendirian. Mending aku pulang aja.” Dijah menarik kemeja Bara dengan wajah merana.


“Ibu udah di rumah nemenin Mima. Kamu enggak usah mikir enggak-enggak dulu. Sebentar lagi kamu dibawa ke ruang rawat. Mas tinggal sebentar boleh, ya? Mas mau nelfon Ayah.” Tangannya tak henti mengusap kepala Dijah. Berharap Dijah akan mengendurkan sedikit cengkeraman di bagian depan kemejanya.


“Cari Dul, Mas ….”


Bara mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi MAPS. Dua detik saja baginya menemukan fitur BERBAGI LOKASI dan melihat di mana keberadaan ponsel Dul.


“Lihat ini … ini Dul. Ponselnya masih nyala. Dul ada di outlet ayam goreng SPBU deket Polsek. Mungkin dia lagi nunggu orang yang dikenalnya buat ditanyai. Pokoknya kamu sehat-sehat, Jah …. Kalau kamu sakit Mas enggak bisa mikir.” Bara menunduk untuk mengecup dahi Dijah cukup lama. Perlahan, cengkeraman Dijah di bagian depan kemejanya mengendur. “Istirahat, ya. Mas nelf—nah, ini Ayah nelfon. Mas jawab dulu.”


Dijah mengangguk dan Bara berjalan keluar instalasi gawat darurat.


“Halo? Ayah? Gimana? Udah jalan ke sini? Barusan aku kirim lokasi Dul ke Mas Heru. Dari rumah sakit sini lumayan jauh. Iya—maksudnya Mas Heru bantu mengawasi sampai aku nyampe di sana. Khawatir hapenya Dul keburu habis baterai. Nanti malah enggak tau dia di mana. Iya, Ayah … ya, udah. Aku tunggu. Maaf kalau aku selalu ngerepotin Ayah.”


Bara menarik dan menghela napasnya cukup panjang. Sementara Bara bisa sedikit lebih tenang karena mengetahui Heru yang tadi sedang dalam perjalanan kembali ke rumah, menyanggupi untuk menemukan lokasi Dul berada dan mengawasi Dul sampai ia tiba di sana.


Seruan perawat instalasi gawat darurat membuat Bara berbalik.


Beberapa saat sebelumnya.


Dul merasakan air matanya terus berjejalan. Sepanjang ia berlari meninggalkan rumah, ia terus menunduk menyembunyikan air matanya. Hanya sesekali melihat jalan untuk tahu ke mana kakinya harus berbelok.


Memandangi susunan paving blok jalanan komplek, lalu berganti dengan tanah putih keras berdebu, lalu berganti lagi dengan tepian aspal. Ia menegakkan kepala. Beberapa saat yang lalu ia merasa tahu akan tujuannya. Mencari pria bernama Fredy yang disebut sebagai bapaknya, walau pria itu pernah menamparinya habis-habisan di usia yang terlalu cepat untuk merasakan sakit.


“Temannya pasti banyak di sekitar sana,” gumam Dul. Berpikir kalau rumah almarhum mbahnya mungkin bisa menjadi jawaban. Pria itu sering berada di sekitar sana. Mungkin teman-temannya juga banyak di sana. Ia bisa bertanya.


Dul merogoh saku celananya. “Masih cukup,” ucapnya. Menghitung lembaran uang pecahan lima ribu dan sepuluh ribu yang berada di kantongnya sejak kembali dari warung pagi tadi.


Dul menumpangi angkot yang sering dinaiki ibunya beberapa tahun lalu. Warna angkot itu khas dan ia hapal betul ke mana tujuannya. Walau angkutan itu sudah tak sebanyak dulu, tapi beberapa masih beroperasi.


Ia memilih letak duduk paling belakang. Langsung menopangkan siku di tepian kaca belakang dan memandangi jalanan di belakangnya. Langit perlahan gelap dan kendaraan sudah menyalakan lampu depannya. Pikiran Dul terus mengulang-ulang perdebatan dengan ibunya. Hatinya seketika disisipi rasa bersalah. Namun, ia juga marah.


Kenapa semua orang bersikeras mengatakan kalau bapaknya si narapidana itu? Matanya kembali memanas. Ia memutuskan turun di SPBU. Outlet ayam goreng tempatnya dulu duduk menunggu Bara setiap malam, masih ada.


Langkahnya gontai menuju outlet ayam goreng itu. Perutnya lapar, tapi ia merasa mual. Hatinya terasa kosong sekali. Tak bertujuan, kosong, dan merasa tak dimiliki seorang pun.


Ibu benar. Anak Ayah itu, ya Mima. Cuma Mima. Aku bukan anak Ayah. Kalau Ibu melahirkan satu adik lagi, itu juga anak Ayah. Aku tetap beda.


“Sepi banget. Enggak ada orang.” Dul duduk di kursi teras outlet ayam goreng yang lengang. Hanya terlihat beberapa orang duduk di dalam. Bagian depan kasirnya pun kosong. Anak-anak jalanan yang biasa duduk di tepian taman kecil SPBU juga tak terlihat seorang pun.


Ke mana mereka semua?


Ia lalu mengeluarkan ponselnya. Menggulir ponsel dan memandangi sedikit nomor telepon yang disimpan Bara untuknya.


Urutan paling atas tersimpan nama ‘AKUNG’ lalu, ‘AYAH’. Sesuai urutan abjad. Ia menggulir layar terus ke bawah dan menemui satu nama yang malam itu mungkin bisa menemaninya. Dul memutuskan menghubungi nomor telepon itu. Tak lebih dari tiga kali nada tunggu, suara di seberang terdengar menyahuti.


“Halo? Apa Dul?”


“Halo? Robin?”


“Iyalah, aku si Robin. Kan, nomor telepon aku yang kau telepon. Cemananya kau ….”


“Kamu di rumah? Rumahmu di mana? Aku boleh nginep di rumahmu malem ini, enggak?”


“Ha? Mau ke rumahku? Nginap? Seriuslah kau, Dul …. Jin aja tak sudi ada di sini kalo ada pilihan tempat lain buat berkembang biak. Kenapa pula kau mau kemari? Pasti begadoh kau sama mamakmu, kan? Apa cerita?”


To Be Continued