
Satu bulan lebih tanpa kabar dan kepastian yang jelas dari seorang Abdullah Putra Satyadarma, membuat Robin dan Putra cukup uring-uringan. Terlebih karena mereka sudah mematangkan rencana dengan Lova. Bukan acara yang resmi. Hanya berupa makan siang dan obrolan santai. Berbeda dengan Yoseph yang menanggapi hal itu dengan santai.
“Entah ke mana si Dul ini. Kuchat gak dibalasnya. Dibaca pun enggak. Mau kutelepon ... segan pula aku. Mengganggu pula pikirnya. Pening pula aku soal janjian sama Lova.”
“Kenapa harus pusing?” tanya Putra.
“Takut dikira penipu sama Si Lova. Udah kujanjikan bakal jumpa si Dul. Gak usah jadian-jadian sama si Lova pun gak pa-pa. Jumpa aja.”
“Ya, kamu harus tanggung sendiri, Bin. Dul memang enggak ada menjanjikan apa-apa ke kita. Kamu sendiri yang yakin kalau minggu ini Dul pasti bisa. Kamu yang bilang Dul bukan tipe orang yang suka membatalkan janji di menit terakhir. Kamu—”
“Iya, Putra. Iya. Aku semua yang bilang. Bukan kau. Muncung kau pun udah macam mamak aku jaman dulu. Tiap minta uang lima ribu aja, semua salahku dari lahir diungkit. Kayak muncung kau sekaranglah.”
“Apa kita tidak bisa duduk tenang menikmati teh dan cemilan ini sejenak? Ini sudah waktunya kita memasrahkan diri menunggu Dul datang atau tidak. Yang paling penting, kita sudah memberi tahu Dul soal hari, tempat, dan waktunya. Lova juga belum tentu datang. Terbukti sampai detik ini Lova belum menampakkan batang hidungnya. Jadi, kalian tidak perlu ribut sekarang. Bagaimana?” Yoseph akhirnya ikut bersuara setelah mendengar keributan kecil di dekatnya.
“Kami enggak ribut, lho, Seph. Percakapan ini cuma rutinitas ketidaksabaran seorang Robin. Aku kira sesudah punya pacar Robin bisa bersabar. Ternyata, ya, enggak juga. Laki-laki itu harus belajar sabar, Bin.” Putra melengos dengan sudut matanya melirik Robin.
“Jangan ajari aku sabar, Put. Aku pernah nunggu mamakku di pajak (pasar), tapi mamakku pulang naik ojek. Mamakku lupa pigi samaku. Menurut kau ... kurang sabar apalagi aku?” Robin membalas lirikan tajam Putra.
“Bagaimana kalau kita pesan makanan lebih dulu? Jarang-jarang kita makan bersama di restoran mewah seperti ini. Taplak meja restoran ini warnanya putih dengan renda. Biasanya kita makan di restoran yang taplaknya bergambar Teh Pucuk Harum. Kita harusnya merayakan peningkatan ini. Bukannya malah berdebat.” Yoseph melambaikan tangan pada pelayan restoran yang berdiri mendekap menu.
“Saya pesan menu cemilan yang ini dan minum yang ini.” Yoseph menunjuk semangkuk tahu cabai garam dan es americano di menu. “Kalian pesan apa?” Yoseph memandang Putra dan Robin yang perhatiannya mulai teralihkan dengan buku menu.
“Aku pesan teh manis dingin. Jangan manis-manis kali yang penting setia,” kata Robin, tersenyum-senyum pada pelayan perempuan yang langsung mencatatkan pesanannya.
“Saya pesan es cappucino dan air mineral,” tambah Putra sembari menutup menu dan kembali menyerahkannya pada pelayan wanita. “Untuk sementara itu dulu, Mbak. Nanti kalau ada tambahan kita panggil lagi.”
Perdebatan beberapa saat yang lalu terlupakan. Ketiganya diam dan sibuk mengecek ponselnya.
“Duma gimana, Bin? Masih ngambek?” tanya Putra tiba-tiba. Teringat kalau pegawainya itu masih uring-uringan karena hubungannya dengan Robin tak terlalu lancar karena kesibukan sahabatnya itu akhir-akhir ini.
“Masih merajuk. Kudiamkan aja dulu. Sebenarnya gak ada masalah apa-apa. Aku memang lagi sibuk. Banyak kali ngantar pesanan ke sana kemari. Kurasa si Duma cuma lagi rindu aja sama aku. Taulah kau, Put. Perempuan kalo udah rindu semua jadi serba salah dibuatnya. Yang merajuklah, hapus foto profil Watsap, hapus foto sama-sama di wallpaper, kalau bisa foto di KTP dihapus, pasti ikut dihapus sama dia. Gitulah … gak punya cewe pening. Pas udah ada yang mau ternyata pening juga.”
“Kalau begitu yang bisa lakukan hanyalah bersyukur, Bin.” Yoseph menatap Robin dengan raut serius. Ia lalu mengawasi pelayan wanita mengatur minuman mereka di meja dan kembali meninggalkan mereka setelah meletakkan sedotan minuman.
“Put, liat hape kau lagi. Siapa tau si Dul ada ngasi kabar. Enggak jumpa si Lova pun enggak apa-apa. Aku rindu sama si Dul. Udah lama juga kita gak jumpa dia.” Robin menyenggol ujung sepatu Putra di bawah meja. Sahabatnya itu segera melakukan hal yang diminta. Namun, lagi-lagi jawaban Putra hanya gelengan.
“Ya, sudah. Mungkin Dul memang lagi sibuk. Karena kita sudah duduk di restoran mewah ini, tidak ada salahnya kita mulai menikmati suasana. Mari kita minum.” Yoseph mengibaskan tangan di atas menu yang mereka pesan.
“Doorr!” Dul tiba-tiba muncul mencengkeram bahu Putra.
Senyum Robin merekah memandang Dul, seiring tangannya yang kelimpungan menggeser layar ponsel karena telepon masuk dari Lova. “ Ha-halo? Ha? Di mana? Ha? Iya—iya. Oke—” Ucapannya terpotong karena Lova mengakhiri pembicaraan di seberang. “Ih, kok, bisa bersamaan kayak gini ...,” lirih Robin, menatap ponselnya dengan raut tak percaya.
“Kaget, enggak?” Dul memutari meja dan mengambil tempat di sebelah Putra yang kosong.
“Benar-benar kaget, Dul. Kamu sebulan lebih ini enggak ada kabar. Ke mana aja?” Putra menepuk lengan Dul yang masih terkekeh-kekeh.
“Nunggu selesai pelantikan di Istana Negara. Kalau belum pelantikan rasanya enggak enak mau ke mana-mana.” Dul menyambut tonjokan pelan Robin di sisi kirinya.
“Mantap kali Bang Letda ini, bah. Makin jantan aja kutengok,” seloroh Robin.
“Bisa aja. Ada cerita apa?” Dul memandang berkeliling.
“Robin ada pacar, Putra juga ada pacar. Kalau pacarku kamu pasti sudah tau, Dul.” Yoseph menyeruput minumannya dengan santai.
Dul menaikkan kedua alisnya menatap Robin. “Serius, Bin? Udah punya pacar? Putra juga?” Dul menegakkan tubuh dan memandang kedua sahabatnya bergantian. Selama ini berita itulah yang ia tunggu-tunggu dari kedua sahabatnya. Kesetiakawanannya tidak perlu dipertanyakan. Tak mungkin ia memperkenalkan Annisa pada dua orang temannya yang sejak SMA masih betah dengan status jomlo.
Putra dan Robin bertukar pandang dengan senyum terkulum. Lalu keduanya serentak mengangguk. “Sebelumnya kami minta maaf, Dul. Kami mau ngenalin—”
“Ngenalin siapa? Pacar kalian? Kalau gitu aku juga mau ngenalin….” Dul merogoh ponselnya di kantung celana dan mengetikkan sesuatu di aplikasi pesan. Ponselnya lalu berbunyi dan Dul menjawabnya. “Iya … udah ketemu sama Robin dan Putra. Enggak apa-apa. Nanti selesai dari sana bisa nyusul ke sini. Aku tunggu, ya.”
Selama Dul menerima telepon, semua tatapan terarah padanya. Robin beringsut gelisah. Perasaannya mulai tak enak. Putra bertukar pandang dengan Yoseph. Sepertinya perkiraan mereka kali ini meleset.
“Siapa yang kau telepon?” tanya Robin. Segera ingin memastikan kekhawatirannya.
“Ada, deh …,” sahut Dul, mengatupkan mulut menahan senyum.
Kemudian, pintu kaca di seberang kursi mereka mengayun terbuka. Seorang wanita dengan rambut terpotong di bawah telinga masuk ke restoran dan mengedarkan pandangannya.
Suara heels mengetuk lantai yang semakin mendekat ke meja mereka membuat tatapan empat pasang pria itu beralih ke sumber suara.
“Hai … Letda Abdullah Putra Satyadarma? Apa kabar?” Lova berdiri dengan jeans biru ketat dan atasan selembar kaus dan blazer oversized abu-abu. “Kok, pada bengong? Udah lupa sama aku, ya?”
To Be Continued