Dul

Dul
138. Kenangan Muda



Dul tidak akan melupakan bagaimana reaksi Robin hari itu. Seorang teman yang ia kenal sejak kanak-kanak dan merupakan sosok yang sangat ceria, blak-blakan juga tak pernah kehabisan kata-kata, nyatanya hari itu hanya bisa membuka setengah mulutnya saat Annisa datang dan duduk di antara mereka.


Sementara Robin terperangah, Annisa malah bersikap biasa saja. Gadis itu sangat santai seolah di sana tidak ada Lova yang sedang mencuri pandang sesekali ke arah mereka. Jelas sekali kalau Lova juga berusaha bersikap sesantai mungkin.


Itu adalah kali pertama Dul berada dalam situasi canggung yang disebabkan kehadiran makhluk bernama perempuan. Untungnya keluwesan Annisa membuat ia menjadi lebih santai. Malah Robin dan Putra sangat kentara berusaha keras mencairkan suasana.


“Ngeri kau, ya …. Diam-diam pergerakan kau udah kayak anggota Densus. Sia-sia aku merasa bersalah karena main cewek sama si Duma.” Robin bicara di antara giginya sambil mencoba menendang bagian belakang sepatu Dul.


Sementara Dul yang mendengar bisikan-bisikan Robin dari belakang malah asyik menyambut Annisa dengan membuka buku menu untuk gadis itu.


“Udah makan? Aku yang pesan, ya.” Dul melambaikan tangan memanggil pelayan. Saat pelayan mendekat, Dul menyebutkan menu yang biasa dipesan Annisa di mana pun ketika mereka baru tiba di satu tempat. Kentang goreng dan es teh leci.


“Padahal nanya ke aku, tapi dipesan sendiri.” Annisa menatap punggung pelayan yang pergi dengan buku menu yang sudah dikembalikan.


Dul tertawa seraya meletakkan tangannya di sandaran kursi Annisa. Robin melihat gerakan Dul itu dengan mata setengah terbelalak. Ia agak terkejut melihat Dul yang kalem ternyata tak semalem dugaannya. Ia juga mengerling canggung pada Lova. Merasa tak enak pada gadis itu seakan sengaja memanggilnya ke tempat itu hanya untuk menunjukkan tingkah Dul dan Annisa.


“Enak kali kau. Tau gitu kubawa aja si Duma. Lain kali … kalo mau bawa cewek, bilanglah. Atau aku telepon aja si Duma minta ke sini?” Robin sibuk berbisik sambil menggulir ponsel. Mencari fitur pesan untuk mencari tahu di mana kekasihnya berada siang itu.


Dul sebenarnya mendengar perkataan Robin, tapi ia memilih untuk tidak menanggapi. Urusannya bisa panjang.


“Kenapa jadi diam semua? Grogi kelen, kan?” Robin cengengesan mengedarkan pandang ke semua orang di meja.


Semuanya menoleh pada Robin dan serentak menggeleng. Termasuk Dul. “Enggak, tuh. Biasa aja,” jawab Dul dengan wajah datar.


“Begitu datang ceweknya. Langsung sok kali kutengok si Dul.” Robin menyempatkan diri menggerutu ke arah Putra.


“Jangan sirik. Sirik tanda tak menarik,” sahut Putra yang sepertinya tidak terpengaruh dengan perubahan suasana di sekitarnya.


“By the way … kamu udah pelantikan, ya?” Lova memandang Dul.


“Nanya sama Dul?” tanya Putra pada Lova.


“Ya, iyalah sama si Dul. Siapa lagi yang ada acara pelantikan di sini? Kau? Dilantik jadi apa? Gapura komplek?” Robin meninju pelan lengan Putra yang seketika membalas meninju Robin.


“Aku ngomong gitu karena enggak keliatan siapa yang mau merespon pertanyaan Lova. Harusnya kamu di sini bertindak sebagai moderator biar pertemuan ini enggak kaku, Bin.” Putra cemberut.


Dul mengingat perkataan ayahnya, bahwa kecemburuan wanita tak memandang di usia berapa.


Pertemuan paling aneh itu tadinya akan disangka memiliki akhir yang mengecewakan banyak orang. Atau paling tidak, Lova pasti kecewa dan merajuk pada Robin yang bak salesman menawarkan datang ke tempat itu untuk bertemu Dul dengan begitu bersemangatnya. Ternyata, Lova dan Annisa terlibat pembicaraan serius soal kenalan mereka.


“Jadi, Kak Andre itu jauh di atas kamu? Sekarang katanya sedang ambil spesialis, ya? Spesialis apa? Pernah ketemu enggak?” Lova menjadi semakin tertarik dengan obrolannya bersama Annisa. Ketika seorang pelayan mendekat dan menyusun gelas minuman di depannya pun, Lova hanya menggeser tangannya sedikit. Konsentrasinya tetap terpusat pada Annisa.


“Iya. Kak Lova kenal Kak Andre di mana? Kata temanku, Kak Andre sekarang ambil spesialis bedah.” Annisa yang sepertinya juga ikut tertarik dengan isi pembicaraannya dengan Lova, kini melupakan soal tangan Dul yang menggenggamnya di bawah meja. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mulai mengaduk minuman.


Tiga pasang mata pria muda mengamati dua wanita muda cantik yang sedang bertukar informasi. Tiga pasang telinga pria muda itu juga tak luput mencerna hal yang dibicarakan Lova dan Annisa. Yaitu, seorang pria muda lainnya.


“Oh ... spesialis bedah.” Lova tertawa kecil seraya menutup mulutnya dengan sangat manis. “Berarti Kak Andre enggak bohong ke aku. Aku kenalan waktu nonton konser dua minggu lalu. Kirain dianya bohong. Tapi ... ini Andre yang sama, kan? Enggak salah orang?” Lagi-lagi Lova tertawa renyah. Dan setiap Lova tertawa, Robin ikut berjengit seakan terkejut mendengar tawa gadis itu.


“Kayanya enggak salah orang, deh. Kak Andre seniorku di kedokteran itu tinggi, rambutnya lurus, kulitnya kuning langsat begitu, kan?” Annisa mencondongkan tubuhnya ke arah Lova.


Lova mengangguk bersemangat. “Jarang banget ngomong. Suaranya dalam banget. Iya, kan?”


Robin melirik Dul.


Annisa ikut mengangguk. “Biasanya Kak Andre suka pakai kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung sampai siku.”


Lova kembali mengangguk bersemangat. “Iya...iya. Itu Kak Andre. Ada pacarnya enggak? Ngaku ke aku, sih, katanya masih jomlo.”


Robin memandang Dul dengan matanya yang dibulatkan.


“Kayanya enggak punya pacar. Selalu sendirian, kok, ke mana-mana.” Annisa ikut tertawa pada Lova.


Robin sekarang terbatuk-batuk sambil memegangi tepian meja. “Udah...udah. Kelen kira kami semua di sini apa? Tatakan gelas? Sor kali kelen membicarakan si Andre itu. Enggak kenal kami. Jangan dibicarakan di meja ini. Bukan Kak Andre yang bayar tagihan makan siang ini, tapi Kak Abdullah. Ya, kan, Kak?” Robin mendorong Dul dengan sikunya. Dua gadis di meja itu bertukar pandang, lalu mencibir.


“Bukannya Kak Robin yang traktir siang ini? Saya, kan, cuma tamu ....” Dul ikut menyambut gurauan Robin sambil terkekeh-kekeh. Tapi tawanya langsung lenyap saat tangan Annisa kembali mencari tangannya di bawah meja untuk diremaas.


To be continued