Dul

Dul
100. Isi Hati



“Saya ayah Abdullah, Pak,” ujar Bara di depan pintu.


Dul nyaris tak berani mengangkat wajahnya. Bukan takut, ia malu.


“Selagi menunggu orang tua yang lain menjemput anaknya, Bapak bisa ngobrol dulu dengan Abdullah.” Guru BK mengangguk pada Bara.


Dul melangkah menuju pintu. Diikuti oleh Robin yang sebenarnya tidak diajak. Ternyata Robin hanya berdiri di ambang pintu menatap Dul yang berjalan ke tengah halaman. Duduk di tembok batu setinggi lutut yang biasa dijadikan podium Pembina Upacara.


Robin cukup lama berdiri dekat jendela sampai Guru Olahraga menepuk bahunya. “Kalau kamu mau ngobrol dengan orang tua kamu juga bisa,” kata guru laki-laki itu.


Robin berbalik memandang guru itu. “Mamak saya belum datang, Pak,” keluh Robin.


“Lha, itu. Yang di sebelahmu dari tadi. Masa enggak nyadar,” tukas Guru Olahraga itu.


Robin menoleh ke sebelahnya. “Aduh, makjang!” Robin memegang dadanya. “Ini Mamak?” tanya Robin, memandang sosok terbungkus rapat dengan jaket hitam, masker hitam, kacamata hitam dan helm hitam.


Mak Robin mengangguk dan membuat gerakan jari agar Robin mengikutinya.


“Ih, kok, kek gini Mamak?” tanya Robin saat beriringan dengan ibunya menuju ke sudut halaman.


“Diam muncung kau. Malu aku, Bin. Kau pikir ngapain aku di sini? Jemput Pahlawan Nasional?” Mak Robin menghentikan langkahnya dan membuka kacamatanya.


"Jemput anak Mamak yang ganteng inilah. Siapa lagi?" Robin nyengir.


Mak Robin berhenti dan menoleh anaknya. “Cemana? Menang kelen tadi?” tanya Mak Robin dengan wajah serius.


“Menanglah … kalo itu jangan ragu. Gak sia-sia bajuku kotor kayak gini.” Robin mengibaskan tangan menunjukkan kemejanya yang tak lagi putih.


Mak Robin memandang anaknya dari atas ke bawah. “Baguslah,” kata Mak Robin. “Seragam itu kubelikan memang untuk kau bergulat. Bukan untuk sekolah," sambungnya.


“Udahlah … ayo kita datangi si Putra yang gecor ini. Kalo gak karena dia, gak akan ke sini Mamak buat jemput Pahlawan Nasional.” Robin merangkul pundak Mak Robin dan membawa ibunya itu mendekati Putra.


Dul dan Bara duduk berdampingan berdua saja. Heru berdiri di depan majalah dinding dan membaca semua hal yang tertempel di sana. Dul masih menunduk. Mengusapkan sepatunya di rumput gajah yang sejak tadi ia pandangi. Saat ia mengangkat kepala memandang ruang BK, ia melihat Yani baru saja masuk. Gadis itu kembali keluar bersama Guru Olahraga dan berbicara dengan posisi yang sangat rapat. Guru pria itu mengangguk-angguk. Entah apa yang dikatakan Yani pada Guru Olahraga, tapi tak lama Guru BK berdiri setelah bicara dengan Guru Olahraga.


“Ayo, semua orang tua sudah datang dan kita memberi waktu pada semua murid untuk bicara dengan orang tuanya lebih dulu. Setelah berbicara, kita akan menampung saran atau hal yang ingin disampaikan pada satu sama lain. Dalam hal ini kita tidak perlu mencari alasan, karena dunia remaja memang sebegitu berwarnanya. Mari—mari, para orang tua murid diberikan waktu tiga puluh menit. Kami akan menunggu di ruangan.” Guru BK berdiri di ambang pintu dengan gerakan tangan mempersilakan semua orang untuk keluar.


Dul mengatupkan mulutnya menahan senyum. Pasti Yani yang mengatakan pada guru mereka kalau penyebab pertengkaran itu bermula dari siswi sekolah mereka.


“Kamu udah tau, kan, apa yang paling sering ayah wanti-wanti?” Bara membuka percakapan dengan lurus memandang Dul.


Dul mengangguk tanpa memandang Bara. “Maaf, Yah. Aku enggak mau kasar ke orang. Tapi kata-kata yang aku dengar terlalu kasar. Nisa enggak salah. Kenapa semua orang menyalahkan dia. Yang salah itu aku. Aku enggak suka orang ngomong hal jelek soal dia. Maaf kalau aku enggak bisa mengendalikan emosi. Murid itu memang layak ditendang,” kata Dul.


Bara menarik napas dan menghelanya. “Artinya selama ini kamu enggak ngerti kenapa Ayah larang kamu main sepak bola, berantem, atau kegiatan fisik yang ayah perkirakan bisa membahayakan kamu. Tau enggak kenapa?”


“Dengar Ayah,” Bara menyerongkan duduknya dan menyentuh lutut Dul. “Kamu mau jadi pilot, kan? Ayah dulu punya teman yang bercita-cita masuk angkatan tapi gagal sebelum mencoba. Tau hal yang menimpanya? Kakinya patah karena perkelahian antar sekolah. Mimpi-mimpinya pupus, Dul. Ayah enggak mau kamu berhenti karena sesuatu yang harusnya bisa kita coba hindari.”


Dul semakin menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf,” ucap Dul. “Ibu juga pasti kecewa dan marah. Iya, kan, Yah? Ibu pasti marah, kan?” tanya Dul. Mulai bergetar mengingat murka yang akan diterimanya dari sang ibu.


Bara lalu tertawa kecil. “Takut sama Ibu? Baru mikir sekarang?”


Dul semakin cemberut. “Annisa hari ini pamit pindah sekolah lagi,” ucap Dul akhirnya. “Aku baru nganter dia ke gerbang, lalu ada murid sekolah lain yang bawa-bawa nama Annisa karena…karena Lova juga. Aku malu mau ngomong sama Ayah. Tapi Lova marah waktu lihat aku dan Annisa…waktu Annisa pamitan. Tapi aku enggak tau kalau Lova lihat. Terus, ya … murid sekolah lain itu dateng. Langsung marah-marah karena katanya Lova nangis di telepon. Aku enggak tau…padahal besok Lova minta aku dateng ke rumahnya.”


Bara diam mencermati penuturan Dul padanya. Melengkapi bagian-bagian kalimat yang hilang sampai isi kepalanya bisa menarik kesimpulan. Sekarang, ia menunduk mengulum senyumnya. Mungkinkah benar apa yang ia duga? Lova melihat Dul sedang mencium Annisa?


Bara memandang Dul dengan senyum tertahan. “Jadi … gimana sekarang perasaan kamu? Udah lega?” tanya Bara.


“Lega karena udah ngasi pelajaran sama murid laki-laki yang ngomong sembarangan itu,” jawab Dul.


“Besok jadi ke rumah Lova?” tanya Bara.


Dul menatap ke pagar sekolah. Lova yang sejak tadi memandanginya dari kejauhan baru saja dijemput. Ponselnya tak ada bergetar sejak tadi, artinya gadis itu pun sudah mengetahui penyebab keributan hingga merasa tidak perlu bertanya apa pun padanya.


Dul menggeleng. “Kayanya enggak jadi, Yah. Aku lagi malas ke mana-mana.”


“Annisa kapan berangkat? Pindah ke mana kali ini?”


“Pindah ke Balikpapan. Katanya berangkat besok,” jawab Dul lesu.


“Mmmm…besok malas ke mana-mana, tapi kalau besok ikut nganter Nisa ke bandara … males juga?”


Dul membelalak menatap Bara. “Ayah serius? Boleh?” Dua tangannya mencengkeram lengan Bara.


Bara tertawa kecil lalu mengangguk-angguk. “Boleh. Besok kita iringi Nisa dari rumahnya ke bandara. Kalau janji di bandara malah khawatir enggak bisa ketemu. Kita ikuti dia dari rumah. Kamu tanya aja berangkat jam berapa.”


Bara tak membenarkan perkelahian Dul hari itu. Tapi ia mengenal sejak remaja itu masih kanak-kanak. Dul adalah anak yang penuh pertimbangan. Selalu berusaha menenangkan dirinya sendiri lebih dulu, ketimbang mengikuti perkataan orang. Sangat mirip dengan wanita yang ia cintai. Dan sebenarnya ia tidak perlu bertanya siapa yang memenangkan duel itu. Bara sudah tahu jawabannya.


“Ehem! Excuse me … udah selesai ngobrolnya? Aku baru dari kantor BK, Ra. Semua murid sudah dibawa pulang oleh orang tua masing-masing. Semua anak enggak ada yang mau minta maaf. Jadi aku sarankan Guru BK membuat surat perjanjian yang ditandatangani semua orang tua murid. Aku udah tanda tangani surat Dul. Sekarang tersisa masalah pulang dari sini. Gimana?” Heru memandang Bara dengan senyum penuh arti.


“Aku dan Dul naik taksi. Mas bawa pulang motorku, gimana?” tanya Bara.


“Jangan, Ra. Aku sama Dul naik taksi. Kamu bawa motormu itu. Jangan aku,” kata Heru bergidik.


To Be Continued