Dul

Dul
134. Adhi Makayasa untuk Ayah



“Pembacaan keputusan. Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara. Nomor keputusan 104.IV/20XX. Tentang penentuan taruna terbaik lulusan Akademi Angkatan Udara, dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Kepala Staf Angkatan Udara, menimbang, mengingat, memperhatikan dan seterusnya, memutuskan, menetapkan, satu, Sermatutar Abdullah Putra Satyadarma S.Tr (Han), nomor akademi 174XX Program Elektronika Pertahanan, sebagai taruna terbaik dari taruna tingkat IV dan memberikan kepadanya anugerah lencana Adhi Makayasa atas prestasinya . Dua, keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan ….”


Suara dari dalam gedung jelas terdengar. Annisa bertukar pandang dengan Mima yang mengatakan ‘What?’ tanpa suara, lalu menoleh wajah Bara yang menaikkan alis, kemudian Dijah yang membekap mulut dan terakhir memandang wajah Ibra yang mengangkat telunjuknya ke arah gedung.


“Nama Mas Dul disebut,” kata Ibra.


“Iya, nama Mas Dul,” jawab Annisa tercekat. Tangannya seketika merangkul bahu Ibra. Apa ini kejutan yang dimaksud Dul saat di telepon kemarin?


Annisa mengembalikan pandangannya pada sepasang orang tua yang berdiri bersisian dan sedang larut dalam haru kebahagiaan.


Dua tangan Dijah sedang berada dalam genggaman Bara.


Keluarga yang begitu hangat, batin Annisa.


Selama kurang lebih dua tahun hubungan mereka berjalan, Dul sudah bercerita banyak soal keluarganya. Termasuk cerita masa lalu penuh kesedihan bersama sang ibu, juga usaha seorang pria muda gagah mengembalikan kepercayaan diri wanita yang melahirkan kekasihnya, bahwa ia layak dicintai dan berbahagia.


Di bawah cahaya matahari, Annisa memperhatikan Dijah dan Bara dengan lebih seksama. Rambut Dijah yang biasa dilihat Annisa tergerai dan terjepit di belakang kepalanya hari itu digulung rapi membentuk sanggul kecil. Make-upnya sederhana, tapi sangat anggun. Dijah yang setiap hari dilihat Annisa berjalan hilir mudik di dapur dengan daster, di hari itu memang sangat berbeda.


Dijah yang manis, tampak semakin manis. Annisa tersenyum. Raut wajah manis itu mengingatkannya pada pria peka, namun canggung yang sedang berada di dalam gedung. Rasanya, Annisa ingin berterima kasih pada Dijah karena telah melahirkan pria yang sudah berani melamarnya di usia dua puluh tahun.


***


Dijah memandang pintu yang masih tertutup di kejauhan dengan raut tak percaya. Bukan raut tak percaya bahwa putranya berprestasi. Sejak kecil Dul memang anak penurut dan tak pernah banyak tingkah. Meski dulu sering sekali ia melihat sorot mata keinginan terhadap benda-benda yang dimiliki temannya, permintaan itu segera berganti dengan raut mengasihani dirinya yang datang dengan wajah lelah.


Benar apa yang dikatakan Bara, Dul adalah anak spesial. Lahir ke dunia tanpa tangisan dan hidup bertahan dengan susu formula murah bantuan dari yayasan. Dul yang kecil, kurus dan sakit-sakitan. Yang bahkan untuk menangis pun seakan tidak memiliki kekuatan kini menjelma menjadi seorang pemuda gagah bertubuh tinggi dan tegap. Anak kecil lima tahun yang selalu menangis sesegukan saat membersihkan luka-lukanya dulu kini sudah dewasa. Dijah menyeka air matanya pelan-pelan.


“Dul jadi lulusan terbaik, Mas,” ucap Dijah tercekat. Air mata yang susah payah dihalaunya jatuh juga.


“Iya, Mas dengar. Dul memang hebat. Selama ini enggak pernah ngomong apa-apa,” sahut Bara, ikut melemparkan pandangannya ke arah gedung.


“Kayanya sebentar lagi keluar. Itu lagi penutupan. Ayo, kita siap-siap. Ibra rambutnya dirapikan dulu,” kata Dijah, meraih lengan Ibra agar bocah laki-laki itu mendekat padanya.


“Mima udah rapi? Nisa juga udah, kan?” Dijah yang gugup meraba dan merapikan pakaian dua anak perempuan yang berdiri di dekatnya. Kedua gadis hanya memandang penuh pengertian padanya.


“Nisa rapikan bedak Ibu sebentar, boleh?” Annisa maju seraya merogoh tas kecil yang dikenakannya. Ia mendekati Dijah dan menyentuh dagu wanita itu dengan sebuah spons di tangan. “Bedak di bagian ini agak hilang karena air mata barusan. Sini aku tambahin lagi … terus nanti lipstiknya aku tambah sedikit. Biar Ibu makin segar,” kata Annisa.


“Oh, iya. Bikin Ibu keliatan cantik, Sa. Pokoknya Ibu harus cantik dari biasanya. Mas Dul sebentar lagi keluar.” Dijah berdeham pelan meluruskan selendang yang tersampir di bahunya. “Gimana, Mas? Aku udah cantik?” tanya Dijah, menggamit tangan Bara dan menautnya dalam genggaman.


“Udah. Cantik banget,” jawab Bara dengan wajah serius.


***


“Jalan ke lurusan pintu gedung. Tetap di sana biar Mas yang datang. Ibu…jangan jauh-jauh dari Ibu. Ibra udah digandeng Ayah, kan? Halo…halo? Mima? Mbak Nisa … pegang Mbak Nisa,” seru Dul di telepon.


“Iya. Semua udah aku iket. Mas cepat,” balas Mima dari seberang.


Dul menerobos lautan orang tua yang mencari anaknya. Melewati para ibu yang terisak bahagia dengan sepasang tangan menangkup wajah sang anak. Melihat para bapak yang memeluk dengan tangan menepuk-nepuk pundak penerus yang membanggakannya. Juga pelukan-pelukan haru dari saudara yang turut hadir merayakan kebanggaan mereka.


Karena tekad ingin membuktikan diri disertai dengan asal usul ia dan ibunya, Dul memberi sesuatu yang ia anggap sebagai kado untuk ayahnya yang sabar mendampingi mereka semua, juga sosok ibunya yang kuat dan tabah.


Kondisi hidupnya yang dulu jauh dari cukup, membuat Dul tumbuh jadi pribadi yang kuat. Keinginannya untuk berpestasi dan semangatnya dalam belajar sangat tinggi. Semua prestasinya emas sejak tingkat sersan, sermadatar, dan sermatutar. Suatu hal yang tidak ia gembor-gemborkan di keluarganya.


Sebagai taruna AAU, ia pernah menjabat sebagai anggota Lemustar Tingkat II, anggota Lemustar Tingkat III, dan Komandan Wingkorps Taruna 20XX-20XX. Segudang prestasi juga diraihnya dari sejumlah perlombaan di AAU. Dan semua memberikannya medali perak dan emas. Terakhir kali, Dulmenjadi juara 1 dalam Military Penthatlon PIKTAR 20XX.


Rencananya, bulan depan Presiden akan melantik para perwira remaja Akademi TNI-Polri dalam upacara Prasetya Perwira di Istana Negara. Di sana, ia akan memimpin yel-yel Praspa bersama teman-teman seangkatannya.


Langkah terburu-buru Dul tadi mendadak lambat. Perhatiannya tertuju pada sosok di kejauhan yang tak asing lagi. Kali itu, pemandangannya sangat berbeda. Ia harus menunggu cukup lama untuk datangnya hari itu.


Dijah, ibunya yang ia cintai, sedang berdiri dengan satu tangan berada dalam genggaman ayahnya. Orang tua yang sepanjang pengetahuannya sebagai seorang anak, tak pernah sekali pun berdebat atau bertengkar di depan anak-anaknya. Yang semakin ia dewasa, ia semakin memahami kalau hal itu mustahil. Tak mungkin orang tuanya tak pernah berselisih paham. Namun, idealisme Bara sebagai kepala keluarga membawa mereka ke dalam atmosfer rumah yang selalu bersahabat.


Sementara, Dijah sedang memejamkan mata karena Annisa tengah memulaskan lipstik ke bibir ibunya. Pemandangannya yang sangat indah. Dua wanita yang sama cantik baginya sedang berdiri berhadapan.


“Mas! Kenapa berhenti? Sini!” teriak Mima.


“Oh.” Dul kembali melanjutkan langkahnya.


Annisa menghentikan tangannya dan Dijah langsung membuka mata. “Ibu udah cantik,” bisik Annisa.


“Makasih,” sahut Dijah, lalu merapikan selendangnya.


Pada kesempatan itu, Dijah merasa tangan yang menggenggamnya perlahan melepaskan. Bara membiarkan ia dan Dul bertemu lebih dulu. Lalu, lima langkah berikutnya terasa bagai mimpi buat Dul. Dijah menubruk tubuh Dul saat bertemu.


“Akhirnya kita sampai di sini …,” isak Dijah. "Kita berhasil, Dul," sambungnya.


To Be Continued