Dul

Dul
145. Semacam Patah Hati



“Lik! Ayo, dibilangin. Banyu dan Bumi enggak boleh main di jalan. Kalau kasian sama keponakan berarti harus segera disuruh minggir. Sebelum Budhe Tini keluar rumah bawa alat bantu.” Mima berteriak dari mobil.


Dayat memandang dua keponakannya yang hampir menyerupai anak kembar karena berjarak usia hanya setahun. “Nyu, Mi! Masuk sekarang. Udah pada mandi belum?” Dayat merasa tak perlu bertanya soal alat bantu apa yang dimaksudkan oleh Mima. Karena kedisplinan Tini mendidik anak-anaknya bukan merupakan mitos belaka. “Pasti Ibu kalian lagi enggak ada makanya berani jam segini belum mandi.”


“Ibu pergi sama Bapak. Enggak jauh. Mungkin sebentar lagi pulang.” Banyu menyipitkan mata ke arah pintu masuk komplek. “Itu mobil Bapak! Ayo, Mi. Masuk. Kita harus mandi sekarang.” Banyu menyeret adiknya masuk ke rumah.


Dan dugaan dua bocah lelaki itu tak salah. Tini turun dari mobil dengan tatapan penuh kecurigaan. “Yang barusan masuk itu anakku, kan?”


Dayat mengangguk.


“Kamu ngapain di sini? Ayo, cepat masuk. Abaikan anak perempuan di dalam mobil pakdhenya dan yang disetirin masnya. Aku bakal pura-pura enggak lihat. Masuk sana,” usir Tini pada Dayat.


“Aku bukan anak kecil lagi, Mbak.”


“Memang bukan anak kecil lagi. Tapi kalau dibiarkan kamu bisa menyebabkan kerusuhan. Aku enggak mau memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, Yat. Jangan aneh-aneh pokoknya.”


Sementara Tini terus mencecar Dayat, Mima sejak tadi berteriak-teriak memanggilnya. “Halo…halo….Budhe!”


“Mima itu anaknya kritis. Banyak tanya. Jangan dipancing-pancing.”


“Budhe…Budhe Tini!” seru Mima lagi.


“Tuh, kan! Dengar sendiri kamu. Dia pasti sibuk mau tanya-tanya."


“Mending Mbak Tini diem dulu dan putar ke belakang,” kata Dayat.


Tini berputar dan bertukar pandang dengan Mima yang sedang menunjuk mobil Wibi.


“Buka pagar, Budhe. Biar Pakdhe Wibi masukin mobil ke garasi. Kita mau lewat,” kata Mima, tersenyum lebar.


“Oh,” kata Tini “Aku kira kamu godain Mima lagi.” Tini menggerutu pelan sambil bersama-sama Dayat mendorong pintu pagar dan menyingkir sejenak saat Wibi memasukkan mobil.


“Makasih, Budhe …. Lihat Mas Dul, nih. Udah jago nyetir. Karena cukup umur.” Mima sengaja melakukan penekanan pada kata cukup umur saat beradu pandang dengan Dayat.


“Hai, Budhe Tini …,” sapa Heru. “Apa kabar?” Heru melambai pada Tini yang menyambut sapaan itu dengan mendekat.


“Kayanya kalau ngomong sama Pakdhe Mima aku harus lebih mendekat, Yat. Takut salah denger,” bisik Tini.


Dayat mendengkus. “Ngobrolnya pakai pesan teks aja kalau gitu.” Tini mendengar tapi mengabaikannya.


“Kalau pakai pesan teks aku enggak bisa lihat uban Pakdhe Mima. Aku mau bandingin dengan uban bapaknya BaBu.”


“Alasan,” lirih Dayat. Meski kembali mencibir, Dayat tetap berdiri di dekat pagar.


“Aku kabarnya baik-baik aja. Pakdhenya Mima apa kabar?” Tini sudah berdiri di dekat Dul yang masih berada di balik kemudi.


“Kabar baik juga. Ngomong-ngomong … jalan-jalan sorenya udah muter-muter naik mobil. Kayanya enggak mabuk kendaraan lagi, ya?” Heru menahan senyum. Seakan pria itu sudah bersiap-siap akan tertawa mendengar jawaban Tini.


“Aku enggak mabuk kendaraan lagi,” jawab Tini bangga.


“Wah, rahasianya apa Mbak Tini?” Heru semakin kentara menahan senyum. Mima ikut menanti dengan dua tangan tersilang di dadanya. Sedangkan Dul, pikirannya sedang tak berada di tempat itu.


“Rahasianya cuma mindset. Sebelum naik mobil aku selalu menanamkan pikiran-pikiran positif di diriku. Aku ucapkan dalam hati, ‘Mabuk itu haram-mabuk itu haram’. Aku ucapkan berkali-kali. Dan sekarang aku enggak mabuk kendaraan lagi.”


Heru tertawa terbahak-bahak. “Keren, Mbak Tini.”


“Tuh, kan …. Budhe Tini memang keren. Tapi Pakdhe enggak boleh ketawa terlalu keras gitu. Apalagi kalau sampai Budhe Fifi liat. Wanita enggak akan suka kalau pasangannya tertawa karena orang lain.”


“Memang kalian ini tetangga yang saling melengkapi,” kata Heru.


“Mbak Tin, aku laper.” Dayat berseru menuntut perhatian.


“Memangnya kenapa?” teriak Mima.


“Pokoknya jangan ke rumah Budhe dulu. Situasi sedang tidak kondusif. Budhe gentar sama ibumu.” Tini terkekeh kemudian menjauhi mobil Heru.


“Apa, sih …. Enggak ngerti,” gerutu Mima. “Jadi, gimana? Mas Dul udah lancar nyetir , kan? Kalau udah lancar aku mau gantian.” Mima mencoba peruntungannya.


“Kayanya Pakdhe setuju sama adiknya Budhe Tini. Belajar apa pun itu harus cukup umur. Nanti kalau kenapa-napa, Pakdhe bisa habis sama ayah kamu. Nanti belajar nyetir dua tahun lagi, ya.” Heru mengedipkan mata pada Mima. “Ayo, Mas Dul …. Kita ke jalan raya. Chatnya udah dibales, kan?” Heru menunjuk ponsel yang sejak tadi digenggam Dul.


“Udah. Udah dibales,” sahut Dul.


******


“Mas mau bawa lauk apa lagi? Diingat-ingat dari sekarang. Dua hari lagi berangkat ke Jogja. Biar ibu masakin.” Dijah berdiri di ambang pintu kamar Dul.


“Kayanya itu aja, Bu. Enggak usah banyak-banyak. Di sana enggak ada microwave.” Dul berhenti merapikan koper dan memandang Dijah. “Bekal lauk berbagai macam sambel dari Putra dan Yoseph juga pasti banyak. Jadi cukup yang kemarin aja. Ikan dan udang. Itu aja,” kata Dul, mengulas senyum.


“Kalau ikan dan udang balado udah selesai dimasak. Itu Ibu sekalian masak buat Annisa. Sebelum berangkat ke Jogja, Mas Dul ada ketemu sama Annisa, kan? Atau Annisa bakal ikut ke bandara buat nganter? Kalau ikut biar lusa kita jemput sekalian.” Dijah berdiri dengan pakaian kebangsaannya; selembar daster selutut dan rambut yang terjepit tinggi di kepalanya.


Dul mengangguk. “Kemungkinan besar ikut. Nanti aku kabarin lagi ke Ibu.”


Sebenarnya ia belum ada menanyakan apa pun pada Annisa. Ia belum ada bertukar kabar dengan Annisa beberapa hari terakhir. Chatnya pun hanya dibalas sangat singkat sekali. Ia sedang menimbang-nimbang. Kalau menelepon langsung berkemungkinan besar tidak dijawab, ia bisa mempermalukan dirinya sendiri kalau lusa langsung menjemput Annisa untuk ke bandara. Dul menghela napas panjang seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Bu … lauk pauknya udah selesai dimasak, kan? Aku boleh pinjam mobil Ayah buat anter ke kos-kosan Nisa?”


Dijah yang sudah meninggalkan ambang pintu kembali lagi memutar langkah. “Udah selesai dimasak. Tinggal dibawa aja. Tapi kenapa Mas Dul harus pinjem mobil Ayah? Kenapa enggak naik tak—”


“Boleh, Mas. Pakai aja. Kuncinya di tempat bisa.” Bara melintas di depan kamar Dul dan mengangkat bahu ketika Dijah merapatkan rahangnya. “Enggak apa-apa, Bu. Ketimbang Mas Dul bawa motor, Ayah lebih merasa nyaman kalau Mas Dul bawa mobil. Lebih aman.”


Sebelum perdebatan orang tuanya menjadi lebih panjang, Dul mengancingkan koper dan pergi keluar kamar. “Bu, mana yang buat Annisa? Aku mau bawa sekarang.” seru Dul dari dapur.


Sesuai dugaan Dul, Dijah dan Bara langsung menyusulnya ke ruang makan. Dijah sudah lupa dengan omelannya barusan. Wanita itu sibuk memasukkan wadah-wadah lauk ke dalam tas kanvas.


“Ini, Mas. Hati-hati nyetirnya, ya. Jangan pulang kemaleman,” pesan Dijah.


“Muter-muyer sebentar juga enggak apa-apa. Maklum, Bu. Anaknya masih muda. Enggak apa-apalah sekali-kali. Apalagi anak laki-lakinya Bu Dijah bukan anak laki-laki biasa. Udah Letda, lho.”


Mendapat rayuan dari Bara, Dijah lupa cemberut. Ia malah ikut mengantarkan Dul ke teras.


Selepas magrib itu perjalanan Dul ke tempat tinggal Annisa dipenuhi segala kemungkinan yang tidak mengenakkan. Kemungkinan terburuk yang dipikirkannya adalah papa Annisa yang tidak menyetujui hubungan mereka. Dul merasa perutnya seperti diaduk saat memikirkan hal itu.


Ketika mobil sudah masuk ke jalan utama tempat di mana rumah berpagar tinggi dengan pohon mangga di halamannya berada, Dul sudah memutuskan akan langsung mencari Annisa ke dalam. Izin dengan ibu kos pun tak masalah, pikirnya. Namun, pikiran itu buyar ketika melihat Annisa dan papanya berdiri di depan pagar. Dari kejauhan terlihat seperti sedang berdebat.


Tanpa maksud apa pun dalam pikirannya, Dul mematikan lampu mobil dan mendekat perlahan sampai akhirnya ia berhenti dengan jarak kurang lebih sepuluh meter.


Sumpah. Dul tak bermaksud mencuri dengar percakapan ayah-anak itu. Namun, tangannya menekan tombol membuka kaca jendela hingga setengah. Membuat suara Annisa dan papanya terbawa angin dan sampai dengan jelas ke telinganya.


“Siapa yang Papa maksud manipulatif? Dul? Keluarga Dul? Terlambat kalau sekarang Papa enggak suka aku pacaran sama Dul. Kemarin-kemarin Papa ke mana aja?”


“Nanti ambil spesialisnya jangan di kota ini! Mereka semua baik karena kamu calon dokter hebat. Coba kalau kamu enggak kuliah, apa mereka mau? Itu sebabnya sekeluarga baik sama kamu.”


Annisa menggeleng. “Aku enggak nyangka Papa bisa ngomong kaya gini. Kenapa Papa jadi jago berdebat dengan aku? Siapa yang ajarin? Perempuan yang Papa minta aku panggil dengan sebutan Mama? Najis!”


“Annisa!!" Tangan Papa Annisa terangkat ke udara.


“Om!” Dul tak sadar apa yang dilakukannya. Ia sudah keluar dari mobil dan berteriak pada pria yang sudah sering ia bayangkan bakal jadi ayah mertuanya.


To be continued