Dul

Dul
088. Kisah Lama Jangan Usai



Mungkin hanya beberapa detik saja sorot mata Annisa terlihat mengenali Dul. Selanjutnya gadis itu bertingkah seperti biasa. Tidak peduli. Dul melambatkan langkah untuk melihat ke mana seorang guru membawa Annisa. Ternyata guru melewati ia dan Lova untuk berjalan ke arah deretan kelas. Annisa mengikuti langkah guru, juga melewatinya. Gadis itu tak menoleh sedikit pun.


Annisa murid baru di sini? Masuk kelas mana?


"Kok, berenti? Ayo jalan," ajak Lova, menggamit lengan Dul.


Rasa penasaran yang besar itu, harus disimpan Dul sampai rapat di sekretariat Paskibra selesai. Berbagai dugaan muncul di pikirannya saat melihat Annisa tadi. Gadis itu masih sama. Rambut lurus sebahu yang tak pernah diikat, jalannya yang selalu cepat, tidak terlalu peduli dengan sekelilingnya, juga tak pernah memandang orang lain terlalu lama. Seakan Annisa aman dan nyaman dengan dunianya sendiri.


Rapat itu selesai tepat ketika bel masuk berbunyi. Dul dengan sigap berdiri dari kursinya. Karena tak sabar sejak tadi, ia duduk gelisah sepanjang rapat. Seakan bokongnya mendadak ditumbuhi banyak duri.


Dul melangkah cepat masuk ke kelasnya. Lalu, langkahnya melambat. Annisa duduk di meja paling belakang sebelah kanannya. Sendirian. Dul semakin mendekat, tapi Annisa sibuk mencatat sesuatu di buku tulisnya. Dul semakin mendekat dan melongoknya.


Oh, daftar mata pelajaran ....


Hari itu, tanpa Dul sadari ia sudah menghabiskan sisa hari tanpa menoleh Lova ke jendela di sebelah kirinya. Dengan sedikit kentara, ia lebih sering mengajak teman di belakangnya mengobrol agar bisa melirik Annisa.


Dan seperti dugaan Dul sebelumnya, usai jam pelajaran berakhir Annisa kembali menghilang secepat kilat. Baru saja melihat kibasan rambut dan warna ransel gadis itu, tapi dengan cepat Dul kehilangan jejak. Padahal ia ingin menyapa gadis itu dan bertanya kabarnya. Sedangkan untuk mengajak ngobrol di kelas, Dul punya sedikit kekhawatiran.


"Kau ajaklah dia cakap duluan," kata Robin tiga hari kemudian. Dul lagi-lagi kehilangan jejak Annisa di pintu pagar.


Hari itu tak ada jadwal baris-berbaris. Lova pulang dengan jemputannya sesuai jadwal. Dul bersama Robin dan Putra berjalan ke warung ketoprak.


"Udah. Jawabannya pendek-pendek. Aku jadi cepat kehabisan bahan omongan," sahut Dul dengan raut muram. "Padahal aku cuma kepengin ngobrol kaya biasa. Mau tau waktu itu dia pindah ke kota apa. Mau tau juga sekarang dia pindah dari mana. Cuma itu," jawab Dul menerawang.


"Berarti ini salah satu kekurangan kamu enggak sekelas dengan kami. Kalau ada salah satu dari kami, kamu pasti bisa mudah menyambung percakapan," timpal Putra.


Mereka bertiga duduk terdiam beberapa saat. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai seorang pelanggan datang membeli ketoprak. Ketiganya mengamati ibu Putra membuatkan pesanan pembeli. Setelah pembeli pergi dan ibu Putra kembali masuk ke rumah, ketiganya kembali melanjutkan bahan percakapan.


"Datang ke rumahnya. Cemana?" Robin mencetuskan idenya tiba-tiba.


"Malu, ah. Sungkan. Mau apa?" Dul balik bertanya.


"Ya mau bertamulah, Dul. Kalo mau jualan keripik, kau ajak si Yoseph. Pura-pura kelen dagang keripik ke rumahnya. Biar kau gak malu. Besar kali keemaluan kau kayaknya." Robin mendengkus.


"Cuma mau ngobrol biasa aja. Kira-kira ngomongin apa, ya?" Dul menggaruk-garuk dagunya dengan dahi mengernyit.


"Kau lempar kepala dia pake tipek. Abis itu kau minta maaf. Akhirnya kelen bisa cakap. Kau juga bisa dapat bonus ngelus-ngelus kepala dia," terang Robin bangga.


"Atau bisa juga bonus satu tempeleng di kepala Dul," sambut Putra. "Nyari alasan, kok, ya ada-ada aja." Putra bangkit untuk mengambil ceret plastik di sebelah steling kaca.


“Kau pulang sama siapa, Dul?” tanya Robin. “Dah kenyang makan ketoprak sekarang mataku ngantuk,” tambahnya.


“Dijemput ayahku. Hari ini katanya enggak masuk kantor. Cuma rapat di kantor lain sama Pakdhe,” jelas Dul. “Kita barengan aja. Sebentar lagi mungkin datang.”


Pukul dua siang lebih sedikit, ternyata yang terlihat mendekat ke warung ketoprak adalah mobil Heru.


“Bukan ayahmu, Dul. Yang jemput Pakdhe-mu.” Robin menyenggol lengan Du ldi sebelahnya dan menunjuk mobil Heru yang baru berhenti.


“Enggak mungkin cuma Pakdhe-ku aja. Ayahku pasti ikut jemput. Ayahku biasanya selalu nepatin janji,” ujar Dul, bangkit dari duduknya.


Dan benarlah apa yang baru saja ia katakan. Kaca jendela mobil tak lama diturunkan dan wajah Bara muncul disertai lambaian tangannya.


“Ayo, Bin. Sekalian aja,” ajak Bara.


“Iya, Om. Pasti,” jawab Robin.


“Memangnya kenapa?”


“Karena walaupun gak ditawarkan ayahmu, aku pasti tetap nebeng.” Robin masuk mobil dengan senyum lebar. “Apa kabar Ayah Bara dan Pakdhe? Dua-duanya makin ganteng aja kutengok. Janganlah lama kali gantengnya. Cemana nasib kami nanti? Berat berjuang mencari cewe-cewe kalo harus bersaing dengan para senior.” Robin mulai melancarkan upahnya menumpang di mobil Heru dengan hujan pujian.


“Makin lihai aja ya, Robin,” sahut Heru tersenyum memandang spion tengah.


“Biasa Pakdhe … tuntutan kebutuhan,” jawab Robin.


“Udah pada makan?” tanya Bara, menoleh ke belakang untuk memandang Robin dan Dul.


“Udah, Yah. Makan ketoprak ibunya Putra. Udah lama enggak makan itu,” jawab Dul.


“Jadi, pemilihan Ketua Osis-nya kapan?” Bara menurunkan volume radio mobil untuk mendengar jawaban Dul dengan lebih jelas.


“Lusa. Aku sebenarnya enggak terlalu minat, sih. Setelah dipikir-pikir kayanya capek banget jadi Ketua Osis. Banyak ke sana kemari.”


“Ih, cemananya …. Udah tinggi kali harapan kami sama kau, Dul. Janganlah kau bilang gitu. Kalo gak mau kau jadi Ketua Osis … gak kawanlah kita.” Wajah Robin cemberut.


Heru tertawa mendengar ucapan Robin. “Dijalani aja, Dul. Aktif di organisasi itu banyak gunanya. Salah satunya biar public speaking kamu bagus. Kalau udah biasa ngomong di depan banyak orang, ngomong sama cewe juga pasti lancar,” terang Heru, melirik Dul dari spion tengah.


“Cewe melulu nih ngajarinnya,” sungut Bara, mengerling Heru di belakang kemudi.


“Itu hanya contoh kecil. Tapi memang udah terbukti,” balas Heru.


“Itu Nisa!” pekik Dul tiba-tiba. “Rumahnya past idi sekitar situ. Masih pakai baju sekolah tapi udah enggak bawa tas. Mau ke mana dia?” Detik itu Dul melupakan tentang dua orang dewasa yang berada di jok depan. Ia sampai memutar tubuhnya untuk melihat ke mana Annisa pergi.


“Nisa siapa? Pacar Dul?” Heru ikut melihat spion kiri untuk melihat sosok yang dimaksud Dul.


“Bukan pacar, Pakdhe. Statusnya cuma kepingin cakap-cakap tapi gak bisa-bisa. Nah, cemanalah itu statusnya. Aku pun bingung,” jelas Robin.


“Enggak harus dijelaskan juga,” ucap Dul pelan, menepuk pelan lengan Robin.


"Biar kubantu menjelaskannya kalo payah kali kau menjelaskan," jawab Robin dalam bisikan.


“Muter aja, Mas.” Bara tiba-tiba bicara.


“Oke,” sambut Heru langsung mengerti.


Giliran Dul yang panik. “Muter ke mana, Yah?”


“Kita liat ke mana Nisa pergi. Biar enggak penasaran,” jawab Heru, menyalakan lampu sein kanan dan mencari putaran. “Mumpung belum jauh,” tambahnya lagi.


“Teman Dul tadi masuk ke apotek. Aku liat,” kata Bara.


“Oh, iya. Aku tadi liat ada apotek di sebelah toko roti,” ujar Heru bersemangat. “Kamu bisa ke apotek itu Dul. Mau ngobrol, kan?”


Bara lalu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan dua lembar pecahan seratus ribu. Ia lalu menoleh ke belakang dan menyodorkan uang itu pada Dul. “Beli susu Ibra yang biasa satu kaleng. Terus tanya-tanya soal minyak telon,” pinta Bara.


Dul sedikit syok dengan perubahan ayah dan Pakdhe-nya. Sedangkan Robin bertepuk tangan.


“Aih, Dul …. Paten kali, ah. Beda memang kalo laki-laki pengalaman ini. Rap-rap-rap, sigap kali," seru Robin menepuk-nepuk pahanya karena terbawa suasana. Lalu, ia menepuk pundak Dul. "Kalo gak berhasil juga, gosah nengok-nengok cewe lagi kau sampe tamat SMA. Kumpulkan keberanian aja sampe kuliah nanti.” Robin terkekeh-kekeh.


To Be Continued