Dul

Dul
082. Percakapan Pertama



Lova terdiam beberapa detik saat mendengar jawaban Dul. Tak menyangka kalau Dul yang ditemuinya beberapa hari yang lalu terlihat sedikit berbeda. Pagi itu Dul lebih ramah dan tidak terlalu kaku.


"Pulang sekolah nanti mau ikut ngeliat latihan Paskibra enggak?" Lova bersandar santai di tiang dan tangannya menaut.


"Upacara hari Senin aja kau menggerutu, Dul. Nonton orang baris-baris pulak. Yang ada tertidur kau nanti." Usai berbisik, Robin menutup mulutnya dan tertawa tertahan.


Dul bingung harus mengatakan apa. Lagi-lagi ia terjebak di bawah tatapan Robin dan Putra yang pasti menyimak tiap bicaranya. Namun, sepertinya tak ada waktu lain selain saat itu. Lova sudah keluar kelas untuk menemuinya. Ia juga sudah melalui rawa-rawa bersama teman-temannya. Setidaknya harus ada hasil, pikir Dul.


"Boleh...boleh. Sampai ketemu pulang sekolah nanti," ujar Dul.


"Langsung pulang sekolah? Kalau istirahat makan bareng di kantin enggak boleh?" tanya Lova, mengulum senyumnya.


"Jangan sok-sokan kau makan sama cewek di kantin. Nanti haha-hihi-haha-hihi, dah tiga mangkok aja yang harus kau bayar. Cewek itu makhluk yang gak mau gemuk tapi makannya banyak." Lagi-lagi Robin tertawa sambil membekap mulutnya sendiri.


"Istirahat nanti aku ke sini," jawab Dul. Sebenarnya ia pun tak tahu apa benar-benar ke kantin atau tidak. Apalagi ia sudah meninggalkan dua jam mata pelajaran fisika yang terkenal sulit. Ia harus meminjam catatan seorang temannya yang terkenal rajin di kelas.


Lova mengangguk senang dan kembali ke kelas diiringi tatapan tiga orang murid laki-laki yang melihatnya sampai menghilang ke balik pintu.


"Memang manis Kak Lova itu. Heran. Kok, bisa-bisanya dia suka sama Dul," ucap Putra, menerawang.


Dul berjengit dan langsung menoleh ke arah Putra. Perkataan Putra terasa menusuk sekaligus menggelikan baginya.


"Bah, kalo Kak Lova tadi suka sama aku atau sama kau, baru kau heran, Put. Untunglah memang rumah kau dekat sini, ya. Terselamatkan sikit masa depan kau," Dul menggeleng-geleng menatap Putra.


Dul duduk membuka buku paket Fisika untuk melihat topik pelajaran hari itu. Putra duduk santai di kantin dan baru saja menghabiskan pentol porsi keduanya ditemani segelas Nurmasari dingin. Sedangkan Robin hilir mudik mengintip ke arah kelas karena berharap guru Fisika keluar kelas lebih awal.


"Kamu bisa duduk, lho, Bin. Jam pergantian pelajaran pasti belnya dibunyikan. Enggak mungkin dibisikin. Sekarang aku yang curiga kenapa kamu segelisah itu," Putra menyeruput minumannya dengan tatapan tajam ke arah Robin.


"Aku rindu kali sama kursiku, rindu sama mejaku. Kenapa rupanya?" Robin melangkah mendekati Putra.


"Pasti kangen Nina," ucap Putra, semakin menyipitkan matanya memandang Robin.


"Gosah ngada-ngada," balas Robin.


Walau itu hanya candaan dari Putra, tapi Dul melirik raut wajah Robin. Sejurus kemudian Dul kembali menunduk membalik-balik bukunya dengan senyum tipis.


Putra enggak salah ....


Kesibukan yang terjadi di jam istirahat pertama membuat Dul lupa akan janjinya pada Lova. Ia sibuk mengerjakan tugas Fisika yang akan segera dikumpul paling lama jam istirahat berakhir.


Tangan Dul sibuk mencoret-coret kertas buram dengan mulut komat-kamit menghitung rumus. Kepalanya sesekali menengadah untuk berpikir dan kembali menunduk menuliskan sesuatu. Putra menarik kursi ke depan Dul dan memindahkan semua yang dikerjakan Dul ke dalam bukunya dengan tenang. Nyaris tanpa suara seperti mesin fotokopi baru. Sedangkan Robin sibuk berjingkat, duduk, lalu berjingkat lagi untuk mencontek apa yang dikerjakan Dul dari balik bahu temannya dengan gerutu dan omelan. Seperti mesin fotokopi tua. Sangat berisik.


"Kepala kaulah, Dul. Aku ke kanan, kau ke kanan. Aku ke kiri kau ke kiri. Macam penari daerah kita," gerutu Robin.


"Kau dapat posisi enak makanya kau selo." Tiba-tiba Robin yang berdiri langsung mencondongkan tubuh dan berbisik pada Dul. "Eh...eh, Dul. Kak Lova datang...datang dia. Jangan kau tengok. Pura-pura cool aja. Biarkan dia nunggu sebentar...."


Ternyata kali itu Dul tidak mendengarkan saran Robin. Ia menoleh ke pintu dan melambaikan tangannya dengan santai memanggil Lova. "Va, masuk aja duduk di sini," Dul menunjuk kursi kosong yang ditinggalkan pemiliknya saat jam istirahat. "Aku ada tugas Fisika." Dul menunjuk buku di depannya.


Robin berdiri terperangah sambil mendekap buku lembaran tugas di dadanya. Matanya tak berkedip melihat Lova masuk ke kelas dan Dul berdiri sejenak meluruskan kursi di depannya untuk kakak kelas mereka.


"Duduk sini, aku ngerjain ini sedikit lagi," ucap Dul, menepuk sandaran kursi.


Lova mengangguk dan duduk menyamping menghadap ke arah Putra. Matanya bertumbuk dengan Putra cukup lama dan gadis itu tersenyum. Putra tidak membalas senyumannya. Siswa bertubuh subur itu hanya mengerjap dengan gerakan lambat.


"Udah? Enggak lanjut nulis lagi?" tanya Dul menoleh pada dua temannya. Menyadarkan dua remaja laki-laki yang terkesima karena melihat Lova dari dekat.


"Ih, lanjutlah. Kalo gak dari kau jawabannya, apa yang kuisi di sini? Entah hapa yang dibilang soalnya pun aku tak tau." Robin berbisik seraya mengerling pada Lova yang duduk santai menopang dagunya memandang Dul yang sedang menulis.


Lima menit kemudian Dul selesai menulis dan meletakkan penanya. Lima menit kemudian Putra dan Robin juga menutup buku lembaran tugasnya dengan wajah sumringah.


"Ini biar aku dan Robin yang nganter ke ruang guru." Putra meraih buku lembaran tugas Dul dan berdiri dari kursi. "Kamu ikut aku, Bin. Aku enggak mau nganterin punya kamu. Posisi kita di sini sama," ujar Putra, mengembalikan kursi yang dipakainya ke tempat semula dan berjalan santai meninggalkan teman-temannya.


Robin mendengkus memandang punggung Putra yang menjauh. Ia lalu kembali melirik Lova yang sedang merapikan rambutnya, lalu menunduk di telinga Dul. "Kutinggalkan kelen berdua, buat upah udah ngasi contek." Robin menepuk bahu Dul dan ikut keluar dari kelas.


Beberapa teman mereka yang tertinggal di kelas terlihat penasaran dengan Lova yang masuk ke kelas mereka dan menunggui Dul si siswa pendiam. Termasuk sepasang mata yang sejak tadi sedikit terlupakan oleh mereka. Nina yang sedang duduk di sudut kelas lainnya bersama dua orang murid perempuan. Pandangan Nina tak lepas memperhatikan Dul.


"Maaf, ya. Aku enggak jadi ke kantin. Ternyata guru Fisika ngasi tugas. Untungnya masih ada waktu buat ngerjain," ujar Dul, berpindah dari kursi yang ditempatinya dan menempati kursi Nina yang kosong dekat dinding. Berharap kalau ia tidak terlalu gugup karena harus berbicara dengan Lova dengan jarak yang begitu dekat. Nyatanya, Lova malah berdiri dan pindah ke kursinya. Jarak mereka semakin dekat dan Dul seketika meluruskan posisi duduknya menghadap depan. Jantungnya terasa berdebar tak nyaman.


Padahal udah tiap hari duduk di sebelah ini. Duh ....


"Enggak apa-apa. Pulang sekolah nanti masih bisa ikut gabung dengan anak Paskibra," ujar Nina.


Dul mengangguk-angguk saja karena tak tahu harus menjawab apa. Dul sekaligus berpikir-pikir kalau sepulang sekolah nanti ikut bergabung bersama-sama teman Lova, itu artinya untuk pertama kalinya ia tidak pulang bersama teman-temannya.


"Aku liatin tadi kamu lancar banget ngitung rumus. Aku enggak pernah suka fisika," ucap Lova, mengangkat bahunya.


"Enggak sesulit itu, kok." Dul menoleh pada Lova. Sedetik pandangan mereka bertemu dan sepertinya mereka sama gugupnya. Lova langsung mengambil buku paket Fisika dan membukanya secara asal.


"Kaya begini, nih. Satu soal begini bisa lima belas menit sendiri ngerjainnya," kata Lova, mengetuk satu soal yang dilihatnya memang sulit.


Dul meraih selembar kertas yang tadi digunakannya untuk mencoret-coret. "Yang mana? Sini aku kasi tau. Ini masih gampang karena pelajaran semester awal."


Entah kenapa percakapan soal pelajaran itu membuat Dul sedikit santai. Ia bisa duduk bersisian dengan Lova begitu dekat. Saat pertama lengan mereka bersentuhan, Dul menaikkan alisnya. Ia merasa kuduknya merinding.


To Be Continued