Dul

Dul
165. Untaian Restu



“Ngetawain apa, sih? Suara Mbak Tini nembus sampai ke dalem.” Dayat tiba-tiba sudah berada di ambang pintu mendatangi keriuhan yang berasal dari pagar. Tatapannya langsung bertubrukan dengan Mima yang seketika itu juga mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Kamu dibalap sama Dul. Dua minggu lagi resepsi sekaligus nikahan Dul. Kamu kapan, Yat? Udah tiga puluh … tiga puluh berapa kamu? Jangan sampai empat puluh baru nikah. Jangan keburu sakit pinggang baru punya anak.” Ekspresi Tini mendadak berubah serius.


“Gampang. Aku secepatnya nyusul.” Dayat mengangkat satu alisnya dan Mima sempat melirik. Gadis itu mencibir sebelum mengembalikan perhatiannya pada Tini.


“Semua kartu undangannya udah nyampe ya, Budhe. Jangan lupa seragamnya warna hijau daun pisang muda yang dipanggang. Pokoknya baca pesan di grup chat Kandang Ayam. Jangan sampai ada yang terlewat. Aku pulang sekarang.” Mima menepuk pagar besi sebelum berbalik.


“Warna ijo daun pisang muda yang dipanggang bagaimana? Apa enggak ada yang lebih sulit lagi warnanya?” Tini berteriak pada Mima yang mulai menjauh dan mengangkat tangannya. “Aku harus cari daun pisang muda, terus aku panggang. Aku mau tau warna ijo kaya gimana yang dimaksud Dijah. Atau aku harus baca chat grup lebih dulu?” Tini terus bergumam sembari menutup pagar dan melewati Dayat di ambang pintu.


Kemeriahan yang dijanjikan Bara pada resepsi Lettu Pnb Abdullah Putra Satyadarma S.Tr (Han) dan dr. Annisa Inayah Abbas, Sp.PD dua minggu berikutnya ternyata bukan main-main. Bara berhasil mendapatkan tempat resepsi yang pas di tanggal yang mereka inginkan. Puri Ardhya Garini akan menjadi saksi perhelatan Abdullah dan Annisa melepas masa lajang.


Ketika langit masih tertutup awan dan sejuk pagi membuat wajah tiap orang berseri-seri, sepasang pengantin masuk ke balai dipandu dua orang wanita memakai kebaya. Sepasang pengantin itu mendatangi orang tua yang duduk menunggu mereka dengan tangan berada di pangkuan.


Dari kejauhan Dul sudah beradu pandang dengan ibunya. Wanita yang melahirkannya itu tak lepas memandangnya sejak tadi. Mulai dari perias pengantin memakaikan beskap, sampai mereka akhirnya diberitahukan untuk keluar. Seakan ibunya itu ingin berpuas-puas memandang sebelum ia mengikrarkan janji sebagai suami seseorang.


Ketika Dul mendekat, Dijah melambai kecil dan menunjuk Bara di dekatnya. Dul mengulas senyum. Ibunya yang terkadang bisa sangat polos itu sering membuatnya geli. Sering dalam obrolan sehari-hari mereka, ia terkekeh-kekeh seraya memeluk atau mengguncang tubuh ibunya karena komentar atau celetukan lucu dari wanita yang melahirkannya itu. Ibu yang dulu sangat kaku dan serius, sudah berubah menjadi sosok hangat.


Ketika Annisa bersimpuh di pangkuan papanya untuk meminta restu, Dul juga sedang menunduk di atas pangkuan Bara. Sebelum Dul mengucapkan apa pun pada Bara, keduanya sempat bertukar pandang. Bara tersenyum dan menepuk bahu putra sulungnya itu dengan mantap. “Mas Dul … akhirnya Ayah bisa mengantarkan Mas Dul sampai di sini.” Bara lalu menunduk. Ternyata semakin usianya bertambah ia semakin sentimentil dan sulit menahan air mata. Ia menelan ludah dan berdeham pelan. Lalu melanjutkan, “Ayah berikan restu terbaik untuk Mas Dul. Ke mana pun Mas Dul terbang, jangan lupakan kami yang selalu menunggu Mas Dul untuk pulang ke rumah. Mas Dul tau, kan, kalau Ayah paling sayang sama Mas Dul?”


Dul tertawa kecil dengan air mata menggenang. Itu adalah perkataan pamungkas Bara kepada semua anak-anaknya agar mereka semua merasa istimewa dan paling disayang. “Aku tau Ayah paling sayang sama aku,” jawab Dul.


“Senang bisa menjadi Ayah dari seorang Abdullah, sang pilot dari satuan tempur TNI Angkatan Udara. Bukan cuma jadi anak yang membanggakan, Ayah harap kamu bisa jadi suami dan orang tua yang membanggakan.” Bara memegangi sepasang bahu lebar Dul seraya memandang lekat-lekat putra sulungnya itu.


Selama proses percakapan Dul dan Bara, Dijah tak melepaskan kedua pria itu dari pandangannya. Ia sudah tidak memikirkan pesan dari wanita yang mendandaninya tadi. Atau juga pesan Mima yang berkali-kali mengatakan untuk menotolkan tisu ke wajahnya dengan gerakan lembut agar tak merusak makeup. Nyatanya ia tak sempat memikirkan hal itu. Dialog Bara dan Dul membuat air matanya keluar bagai diperas. Ia menunduk dan sesegukan sampai Bara memindahkan satu tangan untuk menggenggam tangannya.


Tiba saat Dul bersimpuh di kaki ibunya untuk memohon restu. Ia menunduk menggenggam tangan Dijah yang dingin dan meletakkan ujung hidung ke punggung tangan itu.


“Bu … hari ini aku izin menikah. Terima kasih karena udah menjadi wanita terbaik, terhebat, terkuat dan tercantik yang pernah aku miliki. Terima kasih udah melahirkan, merawat, membesarkan dan memperjuangkan kehidupanku dengan seluruh tenaga yang ibu miliki. Terima kasih karena udah menjadi ibu yang kuat buat aku. Ibu ….” Dul diam beberapa detik karena tercekat. Ia tak kuasa menahan laju air matanya. Sedangkan ibunya sejak tadi sudah tak sanggup berkata-kata. “Selamanya Ibu akan jadi wanita pertama yang aku jaga hatinya.” Dul melanjutkan ucapannya.


Dijah menelan ludah dan menarik napas sebelum bicara. “Ibu memberikan restu yang paripurna buat Abdullah anak ibu yang baik hati. Anak yang enggak pernah meminta apa pun selain dekat dengan Ibu. Terima kasih karena sudah tumbuh dewasa dengan sangat baik. Ibu sangat bangga punya anak sulung yang bisa menjadi panutan buat adik-adiknya. Ibu percaya Mas Dul bisa menjadi pemimpin yang baik dalam rumah tangga.”


Ucapan terbata-bata dari Dijah itu berakhir dengan kecupan Dul beberapa kali ke punggung tangan ibunya. Dijah menunduk dan mengecupi kepala Dul dengan air mata yang sulit dihalau.


Pagi pukul delapan semua keluarga berkumpul untuk menyaksikan Dul menjabat tangan Papa Annisa untuk memenuhi janjinya. Dengan sebentuk cincin berlian mungil Dul mengembalikan cincin Dijah yang dipinjamnya sebagai jaminan.


Seruan kata ‘Sah’ membuat semua orang nyaris serentak mengucap syukur. Bara memeluk Dijah yang kembali menangis karena haru. “Anak Bu Dijah udah dewasa. Kita harus siap-siap punya cucu.” Bara mengusap-usap bahu Dijah sembari sesekali menepuknya.


“Mas Dul, selamat ya. Sering-sering pulang ke sini. Aku dan Ibra enggak sabar kepengin gendong ponakan.” Mima berbisik di telinga Dul sesaat setelah ijab kabul selesai.


Perjuangan saling menunggu selama lebih dari sepuluh tahun akhirnya usai. Dul mengembuskan napas lega. Ia dan Annisa akhirnya bersatu dalam ikatan sebagai suami dan istri. Dadanya penuh sesak dengan kebahagiaan dan kelegaan. Di sela-sela tangan mereka sedang menengadah memanjatkan doa, Dul melirik Annisa yang tengah khusyuk mengamini kebaikan mereka. Annisa sangat cantik, pikirnya.


To be continued