
Akhirnya sekeluarga mereka bertumpuk di dekat papan pengumuman. Walau Dijah sudah mengatakan bahwa nama Abdullah tertera di papan itu, Bara ingin memastikannya langsung.
“Gak sia-sia, kan, belajarnya? Anak ayah keren pokoknya. Minggu depan baru daftar ulang. Sekarang kita makan siang di luar. Ayo...ayo, panas banget," ujar Bara, menutupi kepala Mima dan Dijah dengan telapak tangan. Langkahnya terburu-buru kembali ke mobil.
"Info keperluan yang harus dilengkapi bakal dikirim ke email calon peserta didik. Kalau nunggu email itu tanpa ngeliat langsung ke sini, bakal penasaran satu malam lagi." Suara Dijah terdengar di sela-sela kebisingan sekitar.
"Email Dul ada di Mas juga. Nanti Mas sama Dul yang lengkapi berkasnya sama-sama."
Sejak awal menikah dengan Bara, Dijah memutuskan untuk melupakan semua hal yang terjadinya padanya, pada Dul. Ia ingin hidup yang benar-benar baru. Meninggalkan semua ingatan yang akan ia simpan dan tak akan ia kenang.
Walau terkadang telinga Dijah mendengar bisik-bisik Heru dan Bara, tapi hatinya sama sekali tak ingin tahu hal itu soal apa. Ia hanya ingin berbahagia dengan keluarga yang baru dimilikinya.
Dul melambatkan langkah. Cahaya matahari siang itu tak hanya menyilaukan, tapi juga memperjelas pemandangan di hadapan Dul. Melihat punggung lebar Bara berdiri di tengah dua wanita yang amat dijaganya. Menangkupkan telapak tangan di kepala Dijah dan Mima seakan hal itu bisa menghalangi sengatan matahari pada kepala dua wanita itu. Dul tersenyum.
Siang itu Bara membawa mereka makan ke restoran yang belum pernah mereka datangi. Walau tujuan mereka berkendara untuk makan, kesibukan di mobil pun tak jauh dari kata makan.
"Jangan dimakan semua jajanannya. Kan kita mau makan ke restoran." Bara mengerling Mima dari spion tengah.
"Iya, Ayah bener. Mima simpen dulu jajanannya." Dijah memutar tubuh memandang Mima yang kembali menyipitkan mata memandang sebungkus besar snack yang berada di tangannya. "Jangan liat jajanan Ibu. Perut Ibu banyak ruangannya. Yang makan dua orang. Nanti di restoran Ibu bisa makan lagi. Beda sama Mima. Ayo, disimpan jajannya. Sebentar lagi nyampe," kata Dijah.
"Mima sebentar lagi punya adik, lho. Manjanya sama Ayah harus dikurangi. Nanti Ayah harus sering-sering gendong adik bayi. Mima udah gede, enggak boleh digendong lagi. Badannya udah berat." Bara mengatupkan mulutnya menggoda Mima. Dari spion tengah Bara melihat wajah Mima yang langsung menekuk.
"Aku, kan, enggak minta adik." Mima mencibir.
"Kalau gitu adiknya dikasi ke Uti aja. Uti pasti seneng," ucap Dijah sambil mengunyah snack kentang di tangannya.
"Ke Uti juga enggak boleh," jawab Mima lagi. "Aku paling sayang sama Uti," sambung Mima.
"Ya iya, kan baru dibeliin gaun princess. Pasti sayang Uti," timpal Dul. "Besok sayangnya berubah lagi."
"Sayangnya sesuai suasana," sambung Bara.
Walau usia Dul bisa dikatakan memasuki masa remaja, kesenangannya masih sama seperti anak-anak umumnya. Menunggu hari kelahiran adik mereka dengan sama tak sabarnya seperti Mima. Meski dengan berbeda versi.
Malam sebelum ke rumah sakit, mereka semua menginap di rumah Pak Wirya. Karena masih dalam minggu-minggu libur sekolah, banyaknya bawaan Mima bahkan mengalahkan semua orang.
"Apa mau pindah sekalian ke tempat Akung?" sindir Bara pada Mima saat di mobil.
"Nanti enggak ada yang injek-injek punggung Ayah. Gimana? Ayah bilang kalau Ibu yang nginjek udah berat," kata Mima.
Bara langsung terdiam. Sedangkan Dijah sudah menjalarkan tangannya ke pinggang Bara untuk meninggalkan sebuah cubitan kecil.
Dul ingin tertawa, tapi kasihan melihat wajah Bara. Keceriwisan Mima memang menjadi warna di rumah mereka. Dengan gelar sebagai cucu perempuan satu-satunya, kekuasaan dan pengaruh Mima di keluarga Satyadarma semakin menjadi-jadi. Gadis kecil itu dengan mudah mengatakan kepada siapa sayangnya sedang berlabuh. Seperti kata Bara tadi, tergantung suasana dan tergantung kesenangan apa yang sedang diperolehnya.
Kalau diperhatikan, Dul sangat menyetujui kalau ibunya mengatakan bahwa Mima semakin lama semakin mirip Bu Yanti. Mungkin karena Bara sangat mirip ibunya, sedangkan Mima mirip Bara, kemiripan mereka sulit dipungkiri. Rambut sama ikalnya, warna kulit yang sama, bola mata, juga bentuk hidung yang kecil dan tinggi.
"Ayah sama Ibu, kan, sudah berangkat duluan. Jadi sampai di rumah sakit kita cuma nunggu adik bayinya lahir. Ayah udah bekalin jajanan yang banyak. Pokoknya Mima tinggal duduk santai dan tenang."
Begitulah, mereka menyusul ke rumah sakit dan langsung menuju ke depan pintu ruang operasi. Dul duduk memangku plastik jajanan Mima. Dan sejak tadi, Mima sibuk bertanya macam-macam. Soal kenapa ada lampu di atas ruang operasi, juga soal kenapa ia tidak diajak masuk ke dalam. Bu Yanti dengan sabar menjawab semua pertanyaan Mima satu persatu sampai semuanya tuntas. Syukurnya Bu Yanti memang dosen yang biasa menjelaskan. Bedanya saat itu mahasiswinya baru saja menyelesaikan TK dan suasana hatinya mudah sekali berubah.
Wajah bahagia Bara yang muncul saat pintu ruang operasi terbuka melegakan semuanya. Termasuk juga Dul. Adik laki-lakinya telah lahir dengan sehat.
"Kapan bisa dibawa pulang?" tanya Dul spontan.
Bara tertawa kecil. "Mbaknya masih cemberut karena enggak dikasi ngikut ke dalem. Masnya malah enggak sabar pengen bawa adiknya cepat pulang. Ibu istirahat empat hari di rumah sakit. Setelah itu kita pulang. Mas bawa Mima tunggu di ruang rawat Ibu, ya. Ayah dan Ibu sebentar lagi nyusul. Nanti adik bayinya juga ikut dibawa ke kamar."
Dul langsung berdiri dan menghampiri Mima. "Ayo, kita tunggu Ayah di ruang rawat. Kung, di mana ruang rawatnya?" Dul sudah menggandeng tangan Mima.
"Ayo, sama-sama kita tanya ke perawat di meja sana. Ayo, Bu." Pak Wirya bangkit dan ikut menggandeng Bu Yanti.
Dul mengikuti langkah Pak Wirya dengan antusias. Membayangkan memiliki seorang teman bermain dan bayi kecil yang bisa digendong-gendongnya nanti, turut membuat semangat baru bagi Dul. Cerita-cerita kesedihan yang mereka rasakan dalam beberapa waktu terakhir seakan menguap saat kelahiran adik laki-lakinya.
Itu akan menjadi pengalaman yang ia ingat. Bagaimana mereka semua berkumpul mengelilingi seorang bayi mungil di box kecil beroda yang baru saja diantarkan seorang perawat. Dijah berbaring dan memandang punggung Bara yang membelakanginya.
"Benar-benar mirip ibunya," ucap Pak Wirya.
"Iya. Mirip Dijah, Yah," kata Bara, menyetujui.
"Kalau gitu nantinya bakal mirip Dul," ujar Bu Yanti, menimpali. Kemudian ia menoleh pada Dul yang berdiri di sebelahnya.
"Adik bayinya bakal cengeng enggak?" tanya Mima.
"Belum ada yang ngalahin Mima dalam hal apa pun," tukas Bu Yanti, tertawa kecil.
"Namanya siapa, Yah?" tanya Dul, memandang Bara.
"Ibrahim Putra Satyadarma," jawab Bara.
"Ibrahim...Putra Satyadarma," ulang Dul. "Putra Satyadarma," ulang Dul sekali lagi. Nama yang sangat indah di telinga Dul. Putra Satyadarma.
"Bagus enggak?" tanya Bara.
"Bagus banget, Yah. Namanya gagah," jawab Dul.
Memang nama yang bagus sekali, pikir Dul. Disisipkan Satyadarma seperti nama Pak Wirya, Bara, juga nama Heru. Nama keluarga yang dipakai turun-temurun oleh para anak cucu Eyang Buyut Satyadarma. "Satyadarma," gumam Dul, mengusap pipi Ibrahim dengan punggung telunjuknya.
To Be Continued