
"Memang aku lagi enggak denger. Tapi enggak pake ngomong aku budek juga, Bin. Enggak pake budek berapa?" ketus Putra, menonjok lengan Robin dengan raut seperti petinju memukul lawannya.
"Enggak pake budek 5000 aja," balas Robin.
Dul dan Nina tertawa terbahak-bahak melihat rekan duduk satu meja di kelas yang sebenarnya jarang sekali akur. Dul baru saja selesai membereskan tasnya. Usai mengobrol bersama Lova tadi, ia teringat kalau Heru bisa menjemputnya sewaktu-waktu.
"Ngobrolin apa, sih?" tanya Putra. "Kakak tadi keliatan salah tingkah banget. Mmmm, kamu juga salah tingkah, sih."
"Memang cantik kakak itu. Macam agak bule-bule gitu," sambut Robin.
"Ngajakin kamu Paskibra? Atau ... cuma ngobrol enggak penting? Aku, sih, nebaknya ngajakin Paskibra itu cuma basa-basi aja. Pasti ada yang spesial. Soalnya pakai modal beli dua bungkus ketoprak. Apa di organisasi ekstrakurikuler ada budget untuk merekrut anggota? Rasanya enggak ada. Malah murid mati-matian mau masuk organsiasi tapi sulit. Meski tubuh Dul lebih dari pantas masuk organsiasi itu, rasanya tetap mustahil. Pendaftaran udah tutup lama." Putra sepertinya berusaha keras mengorek keterangan dari Dul demi menuntaskan rasa penasarannya. Tangannya berada di dagu dengan kepala sedikit mendongak dan jemarinya yang lain mengetuk-ngetuk meja dengan suara mengganggu.
Nina diam saja mendengarkan obrolan yang tak mengenakkan hatinya saat itu. Diam-diam ia ikut membereskan perlengkapannya dari atas meja dan memasukkannya ke tas. Dalam waktu singkat, gairahnya berbicara hilang.
"Isss ... mau ngasi tau apa enggak? Cakap apa kelen tadi?" Giliran Robin yang tak sabar.
Dul baru saja membuka mulutnya mau menjawab, 'tidak ada hal penting', tapi kata-kata itu tidak sempat keluar. Sebuah Hummer merapat ke dekat steling dagangan ibu Putra.
"Dul," panggil Robin, menunjuk mobil Heru yang baru tiba.
"Iya, tau." Dul menyampirkan tasnya ke bahu. "Kamu naik apa?" tanya Dul pada Robin.
"Ayo, naik siapa aja yang mau pulang!" seru Heru dari balik kaca jendela mobil yang baru diturunkan.
Dul berjalan mendekati mobil. "Pakdhe ngomong semua? Itu ada temenku, Robin."
"Iya, tau. Pakdhe kenal Robin. Itu satunya? Cewe itu mau ditinggal? Memangnya dia pulang sama siapa? Ajak aja. Kita sekalian muter-muter nganterin mereka. Mumpung belum jamnya orang pulang kerja," ajak Heru.
"Oh, aku ajak kalau gitu." Dul seketika sumringah. Kebingungannya tadi terjawab dalam waktu singkat. Sebenarnya ia juga merasa tak enak pulang dijemput sementara dua temannya yang lain bakal menumpangi angkot. Biasanya mereka masih bisa mengobrol di dalam angkutan sampai seorang demi seorang turun di tujuan masing-masing. Biasanya Robin adalah orang yang paling terakhir berada di angkutan.
"Hati-hati di jalan, Pakdhe," seru Putra melambai saat semua temannya masuk ke mobil Heru.
"Pakdhe udah makan?" tanya Dul, langsung menyambut uluran tangan Heru untuk memberikan salam pada pria itu.
"Pakdhe udah makan. Tadi ketemu rekan kerja sambil makan siang. Restonya enggak jauh dari sini," jawab Heru.
"Aku juga udah makan. Ketoprak dagangannya ibu Putra," jawab Dul.
"Mmm ... cewe-cewe tadi enggak diajakin makan ketoprak sekalian? Cuma ngobrol sambil berdiri aja?" Heru mengerling Dul sekilas seraya menahannya senyum.
Dul melebarkan matanya sedetik. Tak berani menunjukkan keterkejutan itu secara terang-terangan pada Heru. Ia menahan keinginannya untuk bertanya sejak kapan Heru tiba di tempat itu. Apa Heru melihat saat ia salah tingkah mengobrol dengan Lova
"Harusnya kalau cewe ngajak ngobrol, dari tempatnya yang lebih teduh. Kalau bisa diajakin duduk, dong. Penting enggak penting yang diobrolin, situasi itu penting untuk membangun suasana. Gimana? Ngerti?" Heru mengangkat satu alisnya dan tersenyum penuh arti.
"Tadi memang ngobrol biasa aja. Soal ajakan masuk ke ekskul Paskibra. Aku jawab, sih, males. Bayangin baris-berbaris di terik matahari. Terus kadang pakai acara dimarah-marahi sama senior. Aku enggak minat. Mending tiduran di rumah." Dul menekankan kata mending tiduran di rumah seraya menyerongkan tubuhnya sedikit untuk melirik reaksi Robin dari sudut matanya. Tak ada yang boleh menyadari soal pertimbangan kecil yang dipikirkannya usai berbicara pada Lova.
"Mmm, males, ya." Heru mengerucutkan bibirnya.
Dul mengangguk samar seraya kembali melirik Robin dengan ekor matanya. Dan hal yang dikhawatirkannya pun terjadi.
Dul seketika beringsut dan menepis tangan Robin. "Jangan ngaco. Memangnya liat apa?" Dul memutar tubuhnya sebentar untuk memandang Robin.
"Bah, yang nanya aku. Kau liat apa? Kok, malah nanya balik sama aku. Macam phone a friend pulak kita," balas Robin.
Tampaknya kali itu Dul harus kembali menarik napas tenang. Mereka sedang berada di mobil Heru. Menumpangi dan mengantarkan ia beserta teman-temannya ke rumah masing-masing bagai seorang supir. Setidaknya mereka semua harus menghargai Heru.
Sepuluh menit saling menangkis pertanyaan dari satu lainnya, mobil Heru menepi di depan toko minuman boba. Ada sebuah gang di sebelah toko itu.
"Ini, kan, gang rumahnya?" Heru menggeser layar touchscreen yang menampilkan peta navigasi. Mengecek apa mereka sudah benar tiba di titik alamat yang Nina sebutkan tadi.
Nina tidak mengatakan apa pun, tapi ia buru-buru memakai tasnya. "Aku udah nyampe, tinggal sedikit jalan. Sampai sini aja udah makasih banget, Pakdhe." Nina bergegas membuka pintu.
"Makasih sama-sama," balas Heru santai.
Selanjutnya, perjalanan sore itu menuju rumah Robin. Untuk yang ini, Heru tak perlu banyak bertanya soal arah. Di benaknya bahkan sudah menari-nari bakso enak yang pernah ia makan bersama Bara dan Pak Wirya.
"Nah, sudah nyampe," Heru menepikan mobil tepat di mulut jalan.
"Ya udahlah, aku duluan. Pesanku...." Robin berhenti di depan kaca jendela mobil Dul yang terbuka, "Kalo kau memang sor sama Kak Lova tadi, saranku ... kau gaskan aja." Robin menepuk pundak Dul dengan raut serius.
Perjalanan mengantar itu sangat lancar. Tersisa Dul yang terdiam canggung menantikan reaksi Heru atas percakapan mereka tadi.
Rasanya, Dul ingin sekali mengajak Robin berjibaku saat itu. Untungnya Robin cepat-cepat turun dan menutup pintu. Dan untungnya wajah Heru santai-santai saja. Seperti memahami apa yang Dul pikirkan, Heru bersenandung ringan dengan jarinya mengetuk kemudi.
Dul juga sedikit rileks karena Heru tak menimpali perkataan Robin yang pasti membuatnya merona. Namun, bukan Heru namanya kalau hanya diam berpangku tangan.
"Nama cewe tadi siapa?" tanya Heru.
"Lova," jawab Dul.
"Oh, memang Lova. Pakdhe khawatir salah denger."
"Enggak, kok. Telinga Pakdhe masih bagus," tukas Dul. Ia terkekeh pelan karena mengingat insiden beberapa saat yang lalu soal 'lupa'.
"Mmmm ... Lova itu cantik, Dul. Kalau Nina yang barusan turun akan manis pada waktunya nanti," ujar Heru.
"Pakdhe, kok, bawa-bawa Nina?"
"Karena Nina juga naksir kamu. Jadi, kamu harus memasukkannya ke dalam pilihan," tegas Heru. "Apa yang Pakdhe bilang? Masih inget? Kamu pasti gampang dapetin cewe-cewe cantik." Heru berdecak-decak.
"Belum mikir yang gitu-gitu," sahut Dul.
Heru mengabaikan perkataan Dul. "Mau Pakdhe ajarin ilmu limited edition? Yang tau hanya kita berdua aja. Kali ini benar-benar kita berdua." Heru menekankan kalimat terakhirnya dengan sangat jelas.
Dul menarik napas panjang dan menghelanya. "Memangnya mau ngajarin apa?" tanya Dul.
To Be Continued