
“Tunggu sebentar, Pak. Saya jemput kakek ke dalam.” Dul keluar taksi dan mendorong pagar dengan tenaga yang tak diperkirakannya. Harusnya cukup sedikit saja agar tubuhnya bisa melenggang masuk. Nyatanya pagar itu terbuka selebar-lebarnya. “Akung …. Akung ….”
“Bukannya masuk malah teriak di luar. Ngapain ke sini lagi? Bukannya pesawat siang? Taksinya mau masuk ke dalam?” Bu Yanti berdiri di ambang pintu dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya dan kacamata baca bertengger di hidung.
Awalnya Dul tidak mengerti maksud Bu Yanti soal taksi yang masuk ke dalam, namun ketika menoleh ke belakang ia baru sadar pagar terbuka memang seperti mempersilakan taksi itu masuk. Dul terbahak. “Maaf…maaf.” Dul kembali menggeser pagar. “Aku mau jemput Akung buat ngeteh sore. Maaf kali ini Uti harus di rumah. Aku dan Akung pergi berdua aja.”
“Sombongnya …. Memangnya urusan apa?” Bu Yanti sedikit geli dengan tingkah Pak Wirya yang menjadi sangat bersemangat hanya dengan ajakan ke café.
“Urusan laki-laki. Perempuan bakal sulit memahaminya.” Pak Wirya muncul dan menjawab pertanyaan istrinya sambil terkekeh-kekeh.
Bu Yanti mencibir. “Mau nongkrong di mana pun ingat kalau Ayah enggak boleh makan sembarangan. Jangan lupa ya, Dul. Jangan keasyikan ngobrol sampai Akung-nya bisa pesan sesuka hati.”
“Aman. Uti percaya sama aku.” Dul segera menggandeng Pak Wirya menuju keluar pagar.
“Kalau Heru enggak ikut, memang bisa dipercaya.” Bu Yanti bergumam dua punggung yang sedang meninggalkannya. Tangannya lalu membalas lambaian tangan Dul sebelum masuk ke taksi.
“Jadi … ini urusan Annisa?” Pak Wirya melebarkan matanya yang cemerlang pada Dul.
Dul melirik supir taksi di balik kemudi. Sambil meringis ia berkata, “Bisa nanti aja ngobrolnya? Aku malu, Kung.” Suaranya hampir berupa bisikan.
Pak Wirya tergelak lalu menepuk-nepuk lutut Dul. “Masih anak yang enggak enakan. Masih selalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain. Semoga cafenya enggak jauh. Akung khawatir kalau kejauhan selera ngobrol kamu malah berkurang.”
“Enggak bakal berkurang dan cafenya enggak jauh.”
“Harusnya sudah pulang, kan? Pesawat siang?”
“Cutinya udah habis tapi aku bisa beli tiket pesawat lagi. Gampang. Ngobrol dengan Eyang yang enggak bisa nanti-nanti. Maaf kalau belakangan ini aku terlalu sibuk. Jarang banget ngajak Akung dan Uti jalan-jalan.”
“Cuti juga enggak bisa lama, kan? Setahun cuma dua belas hari. Benar begitu?”
Dul mengangguk. “Memang segitu. Tapi tetap aja harusnya aku punya banyak waktu buat keluarga. Padahal aku rindu Akung dan Uti.” Dul memijat bahu Pak Wirya dengan sayang.
Pak Wirta tersenyum teduh memandang Dul. Tangan keriputnya gantian menepuk bahu cucu sulungnya itu. “Belajar demi mengisi masa muda kamu sebaik-baiknya. Nikmati petualangan-petualangan terbaik dalam pikiran kamu. Rayakan hal-hal yang patut kamu rayakan selagi muda. Agar nanti … jika sampai di usia tua, kamu enggak gampang membodoh-bodohkan orang muda. Biar kamu puas dan tidak terlambat tampil di panggungmu. Bagaimana? Akung masih keren, enggak?”
Taksi berhenti di depan café yang dari depan terlihat seperti rumah mewah bergaya Eropa.
“Ini cafenya? Tempat nongkrong sekarang keren-keren ya.” Pak Wirya terlihat serius dengan perkataannya. Kepalanya sampai mendongak memandang deretan jendela kecil yang terdapat balkon yang merupakan aksen bangunan.
“Ini café dengan makanan khas Italia. Hidangan pencuci mulutnya enggak terlalu enak. Jadi, Akung enggak usah ngerasa rugi kalau enggak mencicipinya. Dan … karena ini hari kerja, harusnya café ini enggak terlalu ramai.” Dul menggandeng Pak Wirya melewati pintu tinggi diiringi dengan suara lonceng yang berdenting.
“Biasanya duduk di mana? Kalau wanita biasanya suka duduk di depan jendela. Mereka suka cuci mata sambil mengomentari semua orang lewat.” Pak Wirya mengedarkan pandangannya ke tiap sudut café di lantai satu.
“Duduk di depan jendela yang sebelah sana.” Dul menatap Pak Wirya dengan sorot penuh kasih sayang. Senjanya memang sudah tiba dan tak ada siang yang bisa diputar untuknya. Walau begitu, belum ada yang luput dari ketajaman pikirannya. “Aku rasa aku udah mengikuti nasehat soal menikmati masa muda. Aku ngerasa happy, kok. Kita duduk di sini ya. Aku enggak bakal bohong kalau memang biasa duduk di sini bareng Annisa. Dan kaya yang Akung bilang barusan. Annisa suka mengomentari setiap orang yang lewat.” Dul menyunggingkan senyum yang selalu amat mahal di mata para wanita. Ia memang bukan sosok pria yang mudah tertawa lebar dan menyunggingkan senyum ke mana-mana.
“Karena ini restoran Italia, Akung mau coba pastanya. Semoga rasanya semewah tempat ini. Untuk minumannya Akung minta air mineral aja. Biasanya Akung boleh makan hidangan pencuci mulut kalau minumannya enggak manis-manis.”
Pelayan baru tiba menyodorkan menu, tapi Pak Wirya sudah selesai menyebutkan pesanannya. Dul senang sekaligus iba pada pria tua itu. “Siap,” sahut Dul. “Aku pesan pasta Aglio Olio creamy mushroom yang paling enak buat Akung. Minumnya tetap air mineral dan pencuci mulutnya aku perbolehkan sepotong tiramisu. Laporan diterima?” tanya Dul.
“Laksanakan,” sambut Pak Wirya, terlihat senang dengan semua usul Dul.
“Saya pesan secangkir espresso dan air mineral.” Dul kembali menyodorkan menu pada pelayan pria yang menghafal pesanan mereka dengan sangat ringkas.
Pak Wirya masih memandang punggung pelayan yang pergi ketika mengatakan, “Akung senang melihat kamu terlihat menikmati hidup. Sebagai anak muda yang gagah, sibuk menggapai mimpinya, dan melakukan banyak hal berguna. Kamu beruntung, Dul. Kamu beruntung karena kamu menggapai impian kamu sendiri. Bukan impian orang tua yang tidak tercapai dan meminta anaknya untuk meneruskan mimpinya. Ayah kamu juga beruntung,” ucap Pak Wirya setengah menerawang.
“Ayah beruntung punya ayah seperti Akung. Dan aku yang paling beruntung punya ayah seperti Ayah. Punya kakek seperti Akung. Orang-orang bijaksana yang membiarkanku mengejar mimpi tanpa embel-embel harus seperti ini dan itu.”
Pak Wirya sontak memandang Dul. Tak menyangka kalau sosok anak kecil yang datang ke rumahnya dua puluh tahun lalu dalam keadaan serba rikuh kini mampu berkata-kata secerdas itu. “Kamu memang sudah jadi laki-laki dewasa,” ucapnya.
“Makasih, Kung. Benar apa yang Akung pernah bilang. Untuk membuat masa depan seseorang lebih baik kita enggak perlu tahu bagaimana seseorang itu dilahirkan tapi bagaimana seseorang itu dididik dan dibesarkan.”
“Dan kamu berhasil membuktikannya dengan sangat sempurna," ucap Pak Wirya dengan mata berkaca-kaca. Usia tua membuatnya jadi gampang terharu.
To be continued