
“Berumah tangga itu enggak cukup dengan hanya modal ‘mau kerja keras’. Karena semuanya tetap harus seimbang. Soal pola pikir, gaya hidup, pendidikan, prinsip dan semua hal yang bakal dilalui sepanjang masa kebersamaan. Rumah tangga, ya tentang itu.”
“Makasih, Kung. Sekarang aku lebih percaya diri. Aku merasa beruntung menjadi salah satu dari Satyadarma.”
“Dan Akung juga bangga punya seorang penerbang pesawat tempur dari salah seorang Satyadarma. Soalnya hampir semua Satyadarma itu wartawan.”
Dul dan Pak Wirya bertukar pandang dan tertawa setelahnya. Dul juga sempat meringis ketika membantu Pak Wirya berdiri. Pria tua berkata, “Umur bukan penghalang, tapi pinggang enggak bisa bohong.”
Semua nasehat Pak Wirya merasuk sampai ke relung hatinya. Terngiang-ngiang sampai ketika ia berlari di selasar bandara usa mengantarkan pria bijaksana yang menemaninya sepanjang siang. Dul mengambil penerbangan malam yang tersisa satu kursi lagi. Hatinya sudah mantap akan melakukan hal yang disarankan Pak Wirya padanya.
Ketika Pak Wirya mengemukakan sarannya, Dul sempat terdiam. Pria tua itu menaikkan satu alisnya dengan jenaka. “Kenapa? Ragu? Kamu enggak perlu berpikir terlalu jauh. Hanya ada dua kemungkinan. Kalau mencoba, kamu memiliki dua kemungkinan. Yaitu berhasil dan tidak berhasil. Sedangkan kalau tidak mencoba, kamu cuma punya satu kemungkinan. Hanya tidak berhasil. Dan Akung rasa ini memang pantas untuk dicoba.”
Minggu itu waktunya tidak banyak untuk mempersiapkan suatu kejutan berisiko buat Annisa dan hubungan mereka. Kalau sebelumnya Annisa mengatakan ia terlalu lembek dan lambat, Dul merasa kali ini Annisa harus kelabakan dengan aksinya.
“Lihat dan tunggu aja,” ucap Dul suatu malam seraya menatap benda kecil yang baru saja ia beli.
Mendekati hari wisuda Annisa, ternyata kehebohan dan kegugupan itu tak hanya milik Dul seorang. Gadis berusia dua puluh satu tahun dengan rambut cokelat ikal alami sebatas bahu terlihat lebih gugup dari kakak laki-lakinya.
“Mas udah di bandara, kan? Jangan sampai ketinggalan pesawat. Padahal aku udah bilang Mas harusnya sampai di sini tuh kemarin. Ngeselin,” omel Mima.
Dan untuk tiap setengah jam yang digunakannya untuk menelepon Dul, Mima selalu mendapat peringatan, “Mima … apa enggak bisa Mas-nya dibiarkan tenang dalam perjalanan? Kaya enggak ketemu di rumah aja. Yang diminta Mas Dul udah dikerjain apa belum?”
“Udah selesai dari tadi,” seru Mima sebagai jawaban. Sudah beberapa jam terakhir ia mondar-mandir di kamar Dul demi melakukan beberapa hal. Setelah puas memandangi hasil kerja keterampilan tangannya, Mima menutup dan mengunci kamar itu.
“Kenapa dikunci? Aku mau liat,” kata Ibra yang muncul di belakang Mima.
Mima menggeleng tegas. “Mbak udah capek dari pagi ngerjain itu. Lihatnya besok aja. Kan, besok sama-sama pergi. Liatnya live langsung dari TKP. Jangan sedih,” ucap Mima, mencubit dua pipi Ibra sampai tangan adiknya menepis dan bermaksud membalas. Mima berlari ke ruang keluarga dan bersembunyi di sebelah Bara sambil memegangi pipinya. “Yah, tolongin. Ibra mau nyubit pipi.”
“Mbaknya mau nyubit tapi enggak mau dicubit,” ujar Bara santai. “Malam ini jangan tidur terlalu larut. Besok kita enggak boleh terlambat.”
Mima kemudian melepaskan pipinya dan duduk di sebelah Bara. “Kalau papanya Mbak Nisa menolak Mas Dul gimana, Yah? Aku enggak bisa tidur mikirin itu. Kasian Mas Dul dan Mbak Nisa.”
Dijah datang dengan nampan berisi tahu goreng dan secangkir teh buat Bara. “Ini tehnya, Yah,” kata Dijah, menyodorkan cangkir teh pada Bara kemudian ikut duduk di sebelah suaminya. “Pasti ngomongin Mas Dul.” Dijah menjawil pipi Mima.
“Itu tandanya aku sayang Mas Dul. Aku takut Mas Dul ditolak.” Mima memeluk lengan Bara dan menenggelamkan wajahnya di sana. “Pokoknya Mas Dul harus secepatnya nikah sama Mbak Nisa.”
“Karena mereka udah kelamaan pacaran, Bu. Kasian Mbak Nisa. Selaku perempuan aku ikut merasakan apa yang dirasakannya. Bisa-bisa Mbak Nisa bosen dengan Mas Dul. Putus-sambung-berantem-baikan, bikin kesel.”
“Enggak ada orang yang selalu satu frekuensi sepanjang waktu. Selalu ada masa-masa berlawanan arah dan bertengkar. Yang paling penting kedua orang itu selalu bisa menemukan alasan untuk kembali menyatukan irama.” Bara menyahuti usai meneguk teh hangatnya.
“Kenapa, sih, orang-orang suka berbeda pendapat? Bukannya lebih mudah setuju aja gitu? Pasti bakal adem kalau enggak ada yang berbeda pendapat.” Mima bicara dengan kepala yang masih bersandar di lengan Bara.
Dijah yang duduk di sebelah Bara terlihat semakin condong bersandar ke bahu suaminya. Tampak Ibra di sudut lain ikut bersandar ke bahu Dijah.
“Pilihan kita memang enggak akan selalu diterima orang lain. Kalau satu jalan yang kita tempuh enggak membuat orang menyetujui pilihan kita, kita harus cari jalan lain. Yang penting kalau udah memilih, kita harus bertanggung jawab dengan pilihan kita itu.” Bara menoleh ke kanan-kiri tempat di mana anak istrinya bergelayut.
“Aku enggak sabar nunggu besok,” kata Ibra. “Ngomong-ngomong … kenapa kita mesti berangkat semua? Mas Dul takut kalau sendirian?”
“Kalau kata Akung, sih, biar terkesan adil. Mbak Nisa ada di sana dengan orang tuanya. Mas Dul juga harus didampingi dengan orang tua agar kegiatannya dianggap legal. Kalau dipikir-pikir lucu banget ya. Kisah cinta Mas Dul menghebohkan," celetuk Mima.
“Semoga kisah cinta kamu enggak menghebohkan. Setiap hari Ibu berdoa untuk itu.” Tangan Dijah kembali melangkahi tubuh Bara untuk menggapai pipi Mima dan mencubitnya.
Perkataan Dijah membuat Mima terdiam sejenak. Ia teringat dengan hubungannya bersama kekasih yang sebenarnya senasib dengan Dul. Putus sambung tidak jelas bagai signal di pedalaman. Mima mengerucutkan bibir dan kembali memeluk lengan sang ayah.
Dul tiba di rumah lewat tengah malam di saat dua adiknya sedang tidur. Setelah selesai menceritakan sedikit rencananya esok hari, Dul pamit mandi dan berisitirahat. Dan seperti akan menghadapi sidang pantuhir, Dul gelisah tak bisa tidur. Hal sama dengan yang terjadi pada Annisa di lain tempat. Sama-sama tidak bisa tidur. Walau sudah sejak tadi mereka selesai berbalas pesan, nyatanya mereka berdua tidak langsung jatuh tertidur. Dul terus bertanya apakah besok akan berjalan sesuai rencana? Sedangkan Annisa terus bertanya bagaimana cara Dul meluluhkan hati papanya?
Pagi yang dinanti itu pun akhirnya datang. Dul berdiri di depan kaca tinggi berbingkai cokelat warisan dari ayahnya yang konon katanya sudah ada sejak zaman buyut. Ayahnya bilang, “Sebelum pergi menikahi ibu kamu, Ayah mematut diri di depan kaca itu cukup lama. Dan ijab kabul lancar jaya.” Dul ingin mendapat energi positif dari cerita kenang-kenangan itu.
Dengan seragam lengkap pakaian dinas harian Angkatan Udara, Dul tersenyum menatap pantulan dirinya. “Semua pasti lancar,” ucapnya, memandangi tiap sudut seragamnya. Pakaian biru dengan bahu yang tersemat dua garis emas dan dua wing tersemat di dada kiri sudah pasti menambah kepercayaan dirinya. “Aku pasti bisa membawa pulang Annisa,” tambahnya. Ia lalu menyambar topinya dan pergi menuju mobil di mana semua keluarganya sudah menunggu.
Ternyata pagi itu tidak hanya keluarga kecil mereka. Tapi ….
“Dul! Pakdhe bawa jalan di depan, ya.” Heru melajukan mobilnya lebih dulu setelah mendapat anggukan dari Dul. Di mobil Heru ada Fifi, Pak Wirya, Bu Yanti dan Sukma adik ayahnya.
“Semoga papanya Annisa enggak merasa diintimidasi,” bisik Dul, meringis.
**To be continued **