
"Kadonya besar banget, Tin. Isinya apa?" Boy menggeser duduknya ke depan dan mengetuk kado yang dibawa suami Tini.
"Sabar, Boy. Biar kadonya sampai ke tangan yang berhak dulu." Tini menyodorkan kado tersebut pada Dijah. "Jah, meski yang ulang tahun kamu, aku kasi kado buat anak-anakmu aja, ya. Ini buat Dul, Mima dan Ibra dari Pakdhe Wibi dan Budhe Tini. Anakmu dipanggil aja, Jah. Dua anakku juga udah bisa dibebaskan dari kamar Dul. Udah ada yang bantu jaga." Tini melirik Wibi penuh maksud.
"Oh, buat anak-anak," gumam Boy.
"Kalau mau dapet kado juga, harus punya anak." Tini mengeluarkan satu kado kecil dan menyodorkannya pada Asti. "Buat Caca," kata Tini.
Mata Asti membulat, "Makasi, Budhe Tini. Caca dapet juga."
"Iya, sama-sama," jawab Tini. "Banyu dan Bumi main di kamar Dul dari tadi. Biar dipanggil sama Dijah." Tini menepuk-nepuk paha Wibi yang duduk di sebelahnya.
Wibi tertawa kecil. "Baru mau ditanya dua jagoannya mana. Rindu seharian enggak ketemu," kata Wibi.
"Nah, denger, Boy? Jiwa murni laki-laki itu harusnya selalu begitu. Enggak untuk ke anak aja, tapi ke pasangannya. Jiwa-jiwa yang selalu merindukan sesuatu saat bekerja seharian di luar. Pulang kerja selalu semangat karena ada yang mau diliat," jelas Tini, seraya bangkit dari duduknya.
"Setiap pulang tutup toko aku juga semangat, Tin. Enggak sabar buat masuk kamar dan ngitung pendapatan harian."
"Ya udahlah. Tuhan tau usahaku sudah sampai di mana," kata Tini. "Aku ke belakang dulu, Jah. Ngambil makan buat Mas-ku. Untung lauknya udah aku pisahin tadi. Soalnya ada yang makan nambah-nambah sambil denger dongeng dari kandang ayam." Tini menyindir Heru yang sedang berbincang dengan Wibi. Meski begitu telinga Heru menangkap apa yang dikatakannya barusan.
"Mmmm...Mbak Tini berani karena Mas-nya udah nyampe ke sini," sahut Heru. "Aku korban bullying, Bi. Dari tadi aku duduk diem tapi jadi bulan-bulanan warga kandang ayam." Heru mengadu pada Wibi yang seketika ikut tertawa.
"Halah, memang suka dijadiin bulan-bulanan aja," sahut Bara mencibir.
Walau ditemani oleh Robin sejak tadi, menemani dua orang balita yang usianya tak jauh beda ternyata cukup merepotkan bagi Dul. Satu jam pertama, Dul dan Robin menghabiskan waktu mereka dengan menjawab pertanyaan Banyu yang hampir tak ada habis-habisnya. Mematut lemari kaca tinggi di sudut kamar yang berisi hasil rakitan balok-balok kecil dan miniatur berbagai transportasi udara yang dibelikan Bara secara berkala untuk dijadikan koleksi Dul.
Lemari kaca itu merupakan harta Dul paling berharga di kamar itu. Banyu putra sulung Tini berdiri berkacak pinggang dan mendongak memandangnya dengan raut selera. Sedangkan Bumi, berbaring di ranjang menonton Robin bermain game di ponselnya.
"Mas...Mas, ini apa?" Banyu menunjuk isi rak yang sejajar dengan pandangannya. Balita yang berusia tiga tahun itu terlihat ingin memegang miniatur pesawat Garuda Indonesia yang ditunjuknya.
"Itu pesawat Garuda ukuran mini," jawab Dul.
"Boleh pegang?" tanya Banyu lagi.
Dul membuka kunci lemari dan menunjukkan miniatur pesawat ke hadapan Banyu dengan hati-hati. "Ini pesawat dari maskapai nasional. Warnanya putih dan tulisannya biru. Biasanya...."
"Yang itu?" tanya Banyu, menunjuk miniatur pesawat Saudia yang masih berada di dalam lemari kaca.
Dul kembali membuka lemari kaca. Meletakkan miniatur pesawat Garuda dan mengeluarkan miniatur pesawat Saudia.
"Nah, kalau yang ini maskapai dari Kerajaan Arab Saudi. Dari seluruh dunia, maskapai ini ada di peringkat ke 29." Dul mengawasi Banyu yang meraih miniatur itu dan memandanginya sejenak.
"Kalau itu?" Banyu kembali menunjuk miniatur lainnya.
"Ya jangan. Bukannya aku pelit. Tapi miniatur ini tidak dianjurkan untuk balita. Ayahku wanti-wanti banget. Mima juga enggak dikasi buat pegang terlalu lama."
"Mas ... itu?" ulang Banyu lagi. Kali ini balita itu mengetuk lemari kaca dengan kukunya. Mirip seorang pelanggan rewel yang ingin melihat semua koleksi toko.
"Sebentar," sahut Dul. Ia kembali membuka lemari untuk meletakkan miniatur pesawat Saudia dan mengambil miniatur pesawat tempur yang ditunjuk oleh Banyu.
"Minta," kata Banyu dengan maksud ingin memegang miniatur itu.
"Mas bantu pegangin, ya. Kalau Mas yang pegang, Mas sekalian cerita soal pesawat ini," Dul membelai miniatur pesawat tempur Indonesian Air Force 11th Squadron 2016 SU-30MK Flanker-C Sukhoi berskala 1/75 itu penuh dengan rasa sayang. "Ini berat. Kalau jatuh bisa bahaya buat kita berdua. Kaki kamu bisa luka, dan Mas pasti enggak bisa tidur kalau miniatur ini lecet. Ayah Mas Dul bilang, miniatur yang ini harganya paling mahal. Jadi, Mas bakal jaga. Kamu main yang di kotak sana aja." Dul menunjuk kotak mainan yang ditumpuk di sebelah lemari pakaian.
"Hajab kau, kan," celoteh Robin lagi dari ranjang. (Hajab : kapok, ampun)
Banyu mengangguk. Sepertinya balita itu menurut bukan karena benar-benar mengerti dengan apa yang diucapkan Dul. Melainkan mengerti dengan raut wajah Dul yang memelas saat bicara padanya.
"Nurut, kok, Bin. Mungkin dia kasian liat mukaku. Sekarang malah anteng main berdua," kata Dul terkekeh-kekeh melihat Banyu dan Bumi duduk berdampingan mengeluarkan semua mainan dari kontainer plastik.
"Ah, sebentar aja keknya. Sebentar lagi pasti udah ngomong lagi dia. Banyu ini mirip kali sama Bu Tini. Dulu Bu Tini cuma diam pas dia tidur aja. Selebihnya jangan kau tanya. Percis kali kayak si Banyu ini." Robin bangkit dari posisinya. "Aku haus. Yoklah keluar sebentar. Anak-anak ini, kan masih sor main-main."
Dul dan Robin keluar kamar untuk menjenguk meja makan. Duduk berhadapan sambil mengunyah kue dan membicarakan janji mereka untuk bersekolah di tempat yang sama saat SMA nanti.
"Nanti berkabarlah kita sebelum mendaftar. Bilang sama ayahmu jangan sekolah swasta yang mahal. Di negeri favorit aja kayak SMP kau sekarang. Biar terjangkau," jelas Robin, memasukkan potongan kedua brownies ke dalam mulutnya.
"Kalau gitu harus rajin belajar buat masuk lewat jalur prestasi, Bin. Kamu harus ikut Bimbingan Belajar juga. Atau mau barengan juga?" Dul ikut mengambil sepotong brownies di depannya.
"Bolehlah. Pokoknya kau kabari aja. Biar kukondisikan sama mamakku."
Dul mengangguk-angguk. Lalu, teringat akan Banyu dan Bumi yang sudah cukup lama mereka tinggalkan di kamar, Dul terlompat dari kursinya. "Anak-anak itu, Bin. Nanti main yang bahaya kita enggak tau." Dul memasukkan semua brownies ke mulutnya sambil buru-buru masuk ke kamar.
"Cemana? Ngapain orang itu?" Robin menyusul di belakang Dul.
"Cuma satu, Bin. Bumi tidur. Banyu ke mana?" Dul memandang bumi yang tidur di antara mainan yang tadi dibongkarnya. "Aku naikin ke tempat tidur dulu. Kamu cari Banyu. Apa mungkin keluar?" Dul mengangkat Bumi dari lantai dan membaringkannya di ranjang.
"Gak ada yang keluar dari kamarmu dari tadi. Aku kan duduk menghadap ke pintu kamarmu. Ke mana pula dia?" Robin berlutut dan melongok ke bawah kolong ranjang. "Nah, ini dia. Tidur di bawah kolong. Memang paten kalilah anak Bu Tini yang satu ini." Robin masih menunduk berdecak-decak.
"Jangan diliatin aja. Ayo, kita keluarkan dari kolong. Pindahin ke sebelah adiknya. Nanti dikira Budhe anaknya kita macem-macemin," Dul menjulurkan kepalanya ke bawah kolong untuk meraih tubuh Banyu.
Robin ikut merunduk ke kolong untuk membantu menggeser tubuh Banyu. "Gak sampe setengah jam ditinggalkan, udah tidur di kolong. Ditinggalkan sejam bisa tidur di atas lemari dia."
To Be Continued