
“Abdullah mau cerita apa?” Annisa mencondongkan tubuhnya ke depan dan meletakkan dua tangannya ke meja kecil. Café gelato sore itu tak ramai. Hanya terisi satu meja lain yang berada di dekat pintu. Beberapa remaja hanya singgah membeli gelato dengan mangkuk dan berlalu pergi. Annisa mengamati itu semua dari kursinya sementara menunggu Dul yang membelakangi pintu masuk mau bercerita.
“Aku enggak ada maksud menggurui, atau mengajari Annisa harus bersikap kaya gimana. Karena Annisa yang jalani selama ini, Annisa yang ngerasain, Annisa yang udah banyak berusaha sampai di titik sekarang. Aku cuma enggak mau kalau Annisa sampai membenci. Jangan sampai benci dengan papa Nisa. Kata Akung, kebencian pada seseorang itu sebenarnya menyakiti diri kita sendiri. Kita yang menawan diri kita dengan rasa benci, sampai-sampai kita enggak bisa melangkah keluar dari perasaan itu. Mmmm … maaf.”
“Enggak apa-apa. Senang kalau Abdullah ngomong kaya gitu.”
Dul diam sejenak. Mempertimbangkan apa ia perlu mengatakan sedikit cerita soal dirinya pada Annisa. Satu bagian dirinya mengatakan tidak apa-apa kalau ia bercerita. Kalau Annisa menjauh karena potongan masa lalunya, ia merasa mungkin itu yang terbaik bagi mereka berdua. Sedang bagian dirinya yang lain mengatakan jangan. Kalau Annisa menjauh, perasaannya yang tengah membludak untuk gadis itu akan berakhir sia-sia dalam sekejab.
“Abdullah?” panggil Annisa.
Dul terhenyak dan kembali meluruskan tatapannya pada Annisa. “Kamu tahu kalau ayahku bukan ayah kandungku, kan?”
“Tau. Kemarin malam kamu udah ngomong.”
“Kamu enggak bertanya-tanya kenapa ibuku berpisah dengan bapakku?”
Annisa menggeleng. “Bukannya pisah itu memang akan selalu ada? Papa dan Mama juga akhirnya berpisah.”
“Sebabnya beda, Nisa.”
“Lalu apa bedanya? Kita semua, kan, sedang menjalani skenario yang dibuat Tuhan untuk kita. Enggak ada yang bisa milih. Bahkan, kalau aku bisa milih, aku lebih milih Papa dan Mama bercerai ketimbang Mama meninggal. Setidaknya aku masih bisa ketemu keduanya meski di tempat terpisah.”
“Bapakku narapidana, Nisa. Narapidana dengan hukuman terburuk. Ibuku mengalami gangguan kejiwaan dan dulu aku selalu dibohongi soal keadaan Ibu. Aku ini anak kandung narapidana. Darah bapakku mengalir dalam tubuhku. Gimana pun aku pungkiri dan pura-pura semua masa lalu itu cuma mimpi, itu tetap jadi bagian diriku. Enggak bisa lepas.”
“Lantas apa?” Suara Annisa tertahan. “Maksud kamu ngomong gitu apa? Cukup aku tahu, kan? Ya, udah. Sekarang aku udah tau. Atau kamu mau tau reaksiku?Mau aku kaget? Terus aku diam di sepanjang sisa hari ini. Terus nanti aku ngomong di depan pintu pagar kosku, ‘Jangan hubungi aku lagi.’ Gitu?”
Annisa memegang ujung jari Dul yang tak jauh dari tangannya. “Aku enggak punya teman, Abdullah. Kenapa kamu enggak tanya soal aku yang enggak nyari kamu sama sekali? Aku minder. Aku malu. Lantas kalau kamu yang datang, aku pergi lagi hanya karena masa lalu yang enggak bisa kita ubah?”
“Kamu yakin enggak mau dengar semuanya?” Dul kembali bertanya.
Annisa menggeleng. “Aku tahu hal itu pasti menyakitkan buat kamu. Dan kalau kamu ceritakan sekarang, kurasa enggak akan membawa pengaruh apa-apa buat aku. Jadi, apa bisa kita melewatkan soal itu? Buat aku ... Abdullah yang kukenal adalah anak dari Ayah dan ibunya yang baik dan ramah ke aku. Kakak laki-laki dari Ibra yang lucu dan Mima yang ceriwis. Cukup itu aja. Boleh, kan?" Annisa melepaskan jari Dul dan berpindah mengusap punggung tangannya.
“Makasih,” jawab Annisa. “Bisa antar aku pulang sekarang? Udah malem. Abdullah harus cepat pulang. Tadi dengar dari Mima kalau besok mau ke rumah Akung dan Uti. Besok hari minggu, aku di rumah aja. Ada tugas kampus yang harus aku selesaikan.”
“Malam ini enggak bantu-bantu di warung nasi goreng?” Dul menjajari langkah Annisa menuju kasir.
“Kemarin aku memang udah izin buat dua malam enggak masuk. Minggu lalu aku full di sana karena kasir yang sebenarnya sakit. Minggu ini aku dapat kelonggaran.”
“Harus kerja di sana, ya?” tanya Dul seraya menyimpan dompetnya. Mereka telah berjalan di trotoar menuju jalan di sisi kiri tempat di mana tempat tinggal Annisa.
“Sebisanya aja. Aku enggak maksain diri, kok. Lagian udah tingkat tiga. Jadwal praktik makin padat. Awalnya aku kerja karena kesepian aja.” Annisa meringis.
“Itu kos-kosan kamu. Pintu pagarnya terbuka. Tumben. Apa di sana bebas keluar masuk?” tanya Dul.
Annisa tertawa. “Ya, iya. Bebas keluar masuk. Kalau enggak bebas, siapa yang mau buka-tutup pintu? Kita ada ibu kosnya, kok. Itu garasinya terbuka lebar, artinya mereka lagi keluar. Yang punya rumah ini suami-istri yang anak-anaknya udah berkeluarga. Istrinya suka menanam bunga. Lihat itu, halamannya penuh bunga. Ada ayunan besi juga. Mau duduk di ayunan sebentar?” Annisa menggeser tubuhnya agar Dul ikut melongok ayunan taman yang ditunjukkannya. Ayunan besi berwarna putih itu terletak dibawah rimbunnya pohon mangga.
Dul yang merasa hari itu tidak cukup puas menghabiskan waktu bersama Annisa langsung mengangguk. Ayunan itu bisa duduk berdua bersisian. Dia akan mengatakan sesuatu pada Annisa, tidak akan lama. Dan tempat itu sempurna. Dul langsung mengangguk.
“Oke, ayo masuk.” Annisa menarik ujung lengan seragam Dul dan menyeretnya ke dalam. “Kamarku di lantai dua. Aku taruh tas dan bekal lauk ini. Enggak akan lama. Abdullah duduk aja.” Ia lalu berlari kecil masuk melalui garasi dan tak lama langkah kakinya terdengar menaiki tangga besi yang berada di bagian belakang garasi.
Dul duduk di ayunan dan mulai berdeham-deham kecil. Sambil merapikan seragam dan meletakkan topinya di lutut kirinya, Dul mengingat kata pembuka yang sejak kemarin sudah ia susun.
“Hei, gimana? Berasa di taman, kan?” tanya Annisa yang muncul dari belakang ayunan. “Aku duduk di sini, ya.” Annisa duduk di sisi kanan Dul yang kosong. Berdua mereka menghadapi pagar tembok tinggi yang bagian dindingnya penuh susunan anggrek.
“Sering duduk di sini?” tanya Dul.
“Enggak. Serem. Pintu depan rumah jarang dibuka. Bapak-ibu kos lebih sering keluar masuk dari pintu yang di dalam garasi. Langsung nyambung ke ruang makannya. Kita anak-anak kos pakai tangga besi yang di belakang garasi itu. Jadi, enggak pernah masuk rumah ke rumah mereka. Lagian ... duduk di sini cuma bisa lihat bunga. Jalan di luar juga enggak keliatan. Kalau mau beli bakso langganan, harus tunggu di luar pagar biar keliatan.”
“Iya juga, sih. Cuma bisa dengar suara orang jalan di luar dan kendaraan lewat. Pohon mangga ini ... lumayan bikin gelap,” ucap Dul, mendongak untuk memastikan ucapannya benar. Soalnya ia sebenarnya tidak terlalu memperhatikan pohon mangga dan macam-macam tumbuhan di sekitar mereka.
To Be Continued