
Ayah, anak dan keponakan berkumpul bercerita dan saling melontarkan canda. Bara yang akan berusia tiga puluh empat tahun, Heru yang akan menjelang usia empat puluhnya, serta Pak Wirya yang baru saja memasuki usia enam puluh dua. Semuanya sudah menyepakati bahwa memberikan nama panjang pada Dul adalah hal tepat. Heru yang pernah mendengar Bara menyiratkan soal itu pun sudah tak terkejut lagi.
Dan di situlah mereka akhirnya. Berkumpul di rumah sakit dan menyaksikan bagaimana mata Dul berbinar-binar hanya karena dua suku kata. Putra Satyadarma. Semua orang melihat bagaimana bahagianya seorang Dul. Mereka membiarkan Dul menikmati gemuruh di hati melalui sorot matanya.
Sesaat setelah mendengar soal penambahan nama itu, Dul menunduk lama di box Ibrahim. Memandang bayi itu seakan tak ada puas-puasnya. Apalagi mendengar semua orang mengatakan kalau Ibrahim amat mirip dengannya. Senyum Dul merekah seharian.
Seminggu kelahiran Ibrahim, Bara beberapa kali maju mundur menyampaikan surat Fredy pada Dijah. Sebenarnya ia bisa saja menunda dari nanti ke nanti. Tapi, ia sendiri juga tak sabar untuk mengetahui apa isi surat itu. Ia juga menebak apakah Dijah memperkenankannya ikut membaca atau tidak. Bagaimana Dijah memintanya untuk langsung membuang surat itu. Segala kebimbangan dan pertimbangan Bara itu menjadikannya sedikit uring-uringan. Seperti biasa.
Dan akhirnya di suatu sore yang santai di kala Dijah duduk teras belakang menikmati cemilan sambil memangku Ibrahim yang baru tertidur kenyang menyusu, Bara mendekati dan duduk di kursi sebelahnya.
Bara memajukan letak kursi dan mencondongkan tubuhnya buat mengusap pipi Ibrahim. "Udah tidur?"
"Nyusunya lebih lahap ketimbang Mima dulu. Paling lama sejam pasti udah bangun lagi," sahut Dijah, memandang wajah bayi laki-laki yang tertidur pulas di pelukannya.
"Kalau udah tidur, Ibra biar Mas gendong. Kamu baca ini dulu. Ada titipan dari...bapaknya Dul." Bara merendahkan suaranya di kalimat terakhir. Satu tangannya terulur menyodorkan amplop putih polos yang masih tertutup rapat.
"Oh, apa ini? Surat?" tanya Dijah dengan nada suara biasa saja. Tak ada keterkejutan, dan tak ada keengganan.
"Iya. Surat. Memangnya selain surat apa lagi?" Bara balik bertanya.
Dijah malah terkekeh. "Ya siapa tau ngasi duit."
"Kalau duit dari Mas aja," jawab Bara, mencubit pelan pipi Dijah. Ia lalu mengangkat Ibrahim dari pelukan Dijah dan mencium pipi bayi itu sebelum kembali mendekapnya.
Dijah menyobek amplop putih dengan santai. Rautnya kini menyiratkan sedikit penasaran. "Panjang suratnya," gumam Dijah sebelum membaca.
Bara bersandar di kursi dan memeluk Ibrahim. Bibirnya merinai lirih lagu nina bobo untuk mengisyaratkan pada Dijah bahwa ia sedang memberikan waktu leluasa untuk membaca surat itu.
Jeda kesunyian saat itu benar-benar terasa. Sore hari di akhir minggu, Mbok Jum membawa Mima main sepeda ke taman komplek. Dul mengikuti adiknya dengan sepeda yang lebih besar. Sedang tak ada siapa-siapa di rumah. Hanya mereka bertiga bersama seorang bayi mungil yang tertidur nyenyak. Dijah akhirnya melipat surat dan menyodorkannya pada Bara.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Mas enggak mau baca? Nanti penasaran ...," ujar Dijah.
"Mmmm?" Bara sedikit gengsi menunjukkan keingintahuannya. "Memangnya Mas boleh baca?" Pertanyaan yang dinilainya sedikit kekanakan, tapi keluar begitu saja.
"Kalau aku ngomong enggak boleh, Mas pasti tetap mau baca. Mustahil enggak penasaran. Ya udah, baca. Sini Ibra biar aku gendong. Aku udah lama enggak punya bayi gini. Terakhir enam tahun yang lalu gendong bayi perempuan yang enggak mau diletakkan tiap abis nyusu. Dapet yang ini malah terlalu anteng." Dijah meletakkan surat Fredy di meja sebelahnya dan mengambil Ibrahim dengan raut gemas seorang ibu melihat bayinya.
Gantian Bara mengambil surat Fredy dan membuka lipatannya. Hal pertama yang dilakukannya adalah menghitung lembaran surat itu. Benar-benar panjang, pikirnya.
Sebelum mulai membaca surat, Bara melirik sekilas pada Dijah. Tak ada yang aneh dan Dijah tidak memperhatikan dirinya. Bara mulai membaca surat.
Buat Khadijah.
Aku tidak ada maksud apa-apa. Surat ini pun entah bakal sampai, entah tidak. Aku cuma lagi kepengin nulis. Rasanya sudah bertahun-tahun tidak pegang pena. Aku bukan orang kantoran seperti suamimu.
Membaca kalimat pembukaan Fredy, entah kenapa penyebutan nama lengkap Dijah membuat Bara sedikit berdesir. Sedikit rasa iba menyusup, sampai Bara membaca kalimat terakhir 'Aku bukan orang kantoran seperti suamimu.' Bibirnya seketika mendengkus.
Bara melanjutkan membaca surat itu dengan berbagai ekspresi di wajah. Kesal di awal, lalu berubah datar, kemudian berubah muram. Menjelang akhir surat Bara terlihat menarik napas panjang dan menghelanya. Ia tenggelam dalam kalimat di lembaran kertas dan beberapa saat melupakan kehadiran Dijah di sebelahnya. Rasa yang sangat campur aduk.
Terakhir, sampaikan terima kasihku buat suamimu.
Terima kasih karena sudah menerima Dul dan ikut merawatnya, membiayainya sedemikian rupa. Aku berhutang yang takkan mungkin bisa kubayar.
Semoga Dul bisa melupakan soal bapaknya. Tidak akan ada cerita-cerita lagi sesudah ini.
Fredy.
Bara membaca ulang beberapa penggal kalimat terakhir. Fredy mengucapkan terima kasih padanya. Berhutang yang takkan mungkin bisa dibayar? Bara merenungkan kata-kata itu. Ia tak merasa Fredy, Dul atau siapa pun berhutang padanya. Ia hanya melakukan apa yang ingin dilakukannya. Bukan karena orang lain. Semua karena ia mencintai Dijah dan menyayangi Dul. Ibu dan anak itu memang pantas mendapatkan apa yang mereka dapatkan sekarang.
Bara melipat surat dan meletakkannya di meja. Menyadari kalau Dijah telah kembali menyusui Ibrahim yang baru terbangun. Sedetik melihat wajah Dijah, Bara teringat akan isi surat yang dibacanya. Kenapa Dijah santai sekali? Apa yang dirasakan istrinya itu?
"Jah ...," panggil Bara.
"Mmm?" Dijah mendongak sebentar lalu kembali menatap Ibrahim. "Pelan-pelan, Nak ... enggak ada yang minta," ucap Dijah pada Ibrahim.
"Perasaan kamu gimana? Baca surat itu ...."
"Perasaan? Ya biasa aja. Memangnya perasaan gimana, Mas?"
"Pendapat kamu? Atau ada sesuatu yang mau kamu sampaikan ke Mas?" tanya Bara.
"Pendapatku? Mmmm...ternyata Fredy bisa nulis juga. Aku kira selama ini dia enggak bisa baca-tulis." Dijah meringis memandang Bara.
"Itu aja?" tanya Bara tak yakin.
"Soal maaf, Mas? Aku juga enggak tau. Mungkin bagi yang membaca surat itu akan mudah memaafkan karena iba. Karena kasian. Tapi buatku rasa-rasanya semua baru terjadi kemarin. Masih jelas di ingatan. Rasa sakitnya masih sama. Jadi, aku belum bisa ngomong sekarang aku maafin atau enggak. Karena aku juga enggak tau apa yang aku rasain. Buat Dul, sejelek apa pun itu tetap bapaknya. Meski aku enggak mau mengakui itu, tapi begitulah kenyataannya. Kalau enggak sekarang, mungkin nanti-nanti aku bisa maafin walau bukan berarti aku lupa. Mungkin perlu kerja sama dengan waktu," ucap Dijah.
"Jadi, kalau gitu setuju kita tutup obrolan soal bapak Dul? Bapak Dul minta kamu melakukan itu. Minta dilupakan. Bisa?" tanya Bara.
"Aku udah lama melakukan itu tapi kenapa baru diminta sekarang?" Dijah terkekeh.
"Jah ...," panggil Bara.
"Aku enggak apa-apa, Mas. Aku biasa aja. Aku memang enggak mau inget-inget soal itu lagi. Anak-anak udah besar. Aku rasa memang udah saatnya kita lanjut melangkah. Aku minta izin sama Mas untuk enggak membawa kabar apa pun lagi soal dia. Seandainya ada, Mas simpan sendiri aja. Maaf kalau aku minta ini."
Bara tersenyum. "Iya. Kabar apa pun, Mas akan simpan sendiri aja." Ia lalu kembali memajukan letak kursinya. Mereka berhadapan dengan sangat dekat. Bara menunduk beberapa saat melihat sesapan Ibrahim di dada Dijah.
Lalu ia memijat pelan lengan Dijah, mengusap lengan itu dengan sangat lembut. Tangannya naik mengusap pundak, membenarkan letak kerah daster yang sedikit melorot. Kemudian tangannya tiba di belakang leher.
"Mas sayang kamu," bisik Bara, menempelkan dahinya dan dahi Dijah. Mata mereka bersamaan terpejam saat bibir mereka bertemu untuk saling melumaat. Ibrahim tertidur nyenyak di antara kungkungan kedua orang tua yang ciumannya semakin tergesa.
To Be Continued