Dul

Dul
153. Entah Itu Perpisahan



"Tapi aku mau kamu hadir di sana. Aku nunggu kamu. Aku sangat berharap kamu ada di sana." Annisa menunduk dan mulai terisak. Tangan Dul menyentuh bahunya, namun dengan cepat ia beringsut.


"Kita harus pelan-pelan. Aku mau Papa kamu kenal lebih dekat denganku. Bicara seperti aku dan Ayah bicara. Seperti aku dan Pakdhe bicara. Seperti pria dewasa. Aku mau dianggap, Nisa ...."


Annisa menyeka air matanya dan mengangkat wajahnya memandang Dul.


"Aku adalah anak yang sejak kecil terbiasa melihat keharmonisan keluarga teman-temanku. Sejak kecil aku enggak kenal seorang pria yang bisa dengan mudah kupanggil Bapak. Sosok bapak yang kukenal; yang di tubuhnya mengalir darahku adalah laki-laki ringan tangan yang sering melukai ibu." Dul menelan ludah susah payah. Tenggorokannya tercekat. "Setiap hari aku berdoa dan tak pernah berhenti berharap sedetik pun agar Ibu dipertemukan dengan pria yang baik dan mau menerima aku dan Ibu sebagai keluarganya. Kami butuh pelindung, Nisa."


Tangis Annisa terhenti dan semua perhatiannya kini tercurah pada Dul.


"Ayah mengambil kami sebagai keluarganya. Untungnya ... Ayah tidak memiliki anak dari wanita sebelum Ibu. Ayah belum pernah menikah dan aku enggak punya rekan bersaing perhatian dan kasih sayang Ayah. Dan beruntungnya aku, bahwa Ayah enggak pernah membeda-bedakan kami. Aku yang bukan darah dagingnya mendapat perhatian sama dengan dua adik-adikku. Bahkan terkadang aku merasa Ayah malah lebih memperhatikanku." Dul tertawa kecil seraya mengusap air mata di sudut matanya.


"Aku membayangkan kalau wanita yang kamu tolak mati-matian hadir sebagai orang baru dalam kehidupan Papa kamu adalah seorang wanita yang nasibnya sama seperti ibuku." Dul tersenyum muram. "Maafkan aku, Nisa. Keberadaan sebuah keluarga buatku sangat penting sampai aku merasa enggak tega mengorbankan keutuhan keluarga kamu demi hubungan kita. Aku pernah berada di posisi sangat menginginkan kehadiran seorang Ayah. Aku ditolak di dalam pergaulan, aku dikucilkan, aku pernah merasa tak dianggap, sampai seorang pria gagah itu membawaku di boncengan motor besarnya. Ia bahkan memberiku nama belakangnya. Bisa jadi ... saudara tiri yang sedang diusahakan Papa kamu untuk lebih dekat dengan kamu, bisa jadi merasakan hal yang sama." Dul merah tangan Annisa yang tergeletak di pangkuan wanita itu.


"Tapi aku mau kamu ada di sana. Dengan alasan sebegitu panjang itu enggak membenarkan kamu untuk enggak datang, enggak ada kabar. Lalu nelfon cuma bilang maaf," sergah Annisa.


"Karena aku menghargai Papa kamu. Aku turuti kemauan Papa kamu karena aku mau hubungan kamu; hubungan kalian semua baik-baik aja. Aku udah minta maat, Nisa. Aku masih sayang kamu. Aku selalu sayang kamu."


"Kamu enggak ada usaha, Abdullah. Hampir dua tahun kamu cuma kirim pesan buat nanya kabar.” Annisa melepaskan tangan Dul.


“Aku di Jogja. Di asrama. Kalau kamu enggak balas pesanku, aku harus gimana? Aku tau kamu baik-baik aja. Kamu cuma menghindari aku.”


“Kamu bisa minta Mima buat nyari aku, menghubungi aku atau siapalah. Kamu punya banyak teman yang bisa….”


“Aku enggak mau orang tau kalau kita lagi enggak baik-baik aja. Aku enggak mau, Nisa. Jangan kamu kira aku enggak ada usaha. Aku cari kamu ke kos-kosan, katanya kamu udah pindah. Aku hubungi nomor kamu pakai nomor siapa pun, tetap enggak dijawab. Lalu aku harus apa?”


“Cari pacar baru yang enggak problematik kaya aku,” cetus Annisa.


“Aku mau mewujudkan janji kita. Aku mau nunggu sampai Papa kamu bisa terima aku.”


“Kalau papaku belum bisa terima kamu gimana? Kamu tunggu? Sampai kapan?” Suara Annisa mulai turun.


“Sampai tahun depan. Setahun lagi. Aku pasti ke rumah. Aku bakal ngomong serius ke Papa….”


“Jadi, ini semua tentang kamu aja? Kamu enggak tau atau pura-pura enggak tau? Aku lagi ambil spesialis, Abdullah. Kalau kamu mau bersikap terlalu sopan dan khawatir nama kamu tercoreng sebagai anak baik, kamu harus menyenangkan hati papaku dengan nunggu aku sampai selesai spesialis. Dua atau tiga tahun lagi. Itu juga kalau perasaan kita belum berubah.”


Annisa berdiri dari kursi. “Semuanya … terlambat." Annisa menunduk. Rasa kecewa, sedih, marah, kesal, semua tumpah ruah menjadi satu.


"Kalau kamu menilai aku enggak ada usaha, lambat, atau terlalu perlahan-lahan itu karena aku belum bisa membawa janjiku ke titik nyata. Bahkan sampai hari ini pun belum bisa. Ikatan dinas ini selesainya setahun lagi dari sekarang. Bisa jadi lebih lama sedikit. Bukan enggak mau datang ke Papa kamu, tapi aku enggak mau datang dengan tangan kosong. Mohon izin, Annisa Inayah Abbas...."


"Ternyata ini cobaannya," ucap Dul, ikut berdiri dari kursi. Kini mereka berdiri saling menatap.


"Cobaan apa?" Wajah kesal Annisa berubah menjadi penasaran.


"Dulu ... sewaktu kecil, semasa masih tinggal di rumah almarhum Mbah Lanang, aku selalu merasa setiap hari hidupku adalah cobaan. Setelah bertemu Ayah, cobaan itu berganti dengan macam-macam kesenangan. Semuanya berjalan lancar. Pendidikanku, obsesiku mau membahagiakan orang tua, menjadi anak kebanggaan, semuanya berjalan sangat lancar. Kalau bisa dibilang masa-masa sulitku sebagai seorang anak cuma kurasakan sebentar aja. Cuma sampai kelas satu SD. Selebihnya aku bisa terus sama-sama Ibu. Hidupku terasa mudah. Saking mudahnya aku sering bertanya-tanya." Dul tertawa kecil.


"Bertanya apa-apa?"


Dul mengakhiri tawanya. "Kalau hidupku lancar-lancar aja ... aku sering bertanya-tanya cobaannya mana?"


"Jadi ...."


"Jadi ... setahun lagi itu?" Dul memandang penuh harap.


"Nyaris mustahil, Abdullah. Sewaktu kamu enggak datang wisudaku, aku udah memutuskan untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Mematuhi apa yang Papa mau. Apa pun itu. Kamu mau aku jadi anak berbakti, kan?"


Dul menarik napas panjang. Mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya. "Apa pun itu?" ulang Dul.


"Iya. Apa pun yang Papa mau aku bakal kerjakan. Aku langsung ambil spesialis sesuai kemauan Papa."


"Dua tahun ini ada pacar?" tanya Dul.


"Enggak sempat. Aku sibuk," sahut Annisa.


"Sibuk atau nunggu aku?" tanya Dul.


"Belum kepikiran," jawab Annisa. "Aku mau beres-beres pakaian. Besok harus langsung pulang. Sekali lagi … selamat karena lulus jadi penerbang tempur terbaik di angkatan. Mas Dul memang selalu bikin bangga.”


“Boleh memastikan sesuatu?” Dul maju selangkah. Tangan kirinya meraih tangan Annisa dan menggenggamnya.


“Apa? Memastikan apa?” Annisa mulai tahu arah pertanyaan Dul. “Ta-tahun depan … maksudnya … setahun lagi aku enggak bisa. Itu mustahil. Enggak ada yang harus dipastik—”


Annisa tak sempat menyelesaikan ucapannya. Dul sudah menangkup wajahnya dan menyatukan bibir mereka.


To be continued