Dul

Dul
115. Kunjungan Kawan



“Budhe Tini!” pekik Ibrahim dari sebelah Dijah.


Dijah langsung menutup mulut Ibra. “Jangan teriak-teriak. Ayah baru tidur. Kasian …,” bisik Dijah pada Ibrahim, lalu mencium pipi bocah laki-laki yang sangat mirip dengannya itu. Bedanya, rambut Ibra sama seperti Mima. Ikal. “Enggak kerja?” tanya Dijah pada Tini yang sedang berjalan ke dekatnya.


“Pagi tadi kerja, Jah. Aku permisi tengah hari karena mau jengukin Mas-mu. Kalau nunggu Mas Wibi kelamaan. Masih di Surabaya,” jelas Tini, meletakkan bungkusan di meja kecil kemudian duduk di sebelah Dul menggantikan Mima.


“Makan, Budhe …,” sapa Dul sembari meletakkan sendok dan meraih tangan Tini untuk bersalaman.


“Makan Dul, makanlah, Nak. Kamu tau sendiri Budhe-mu ini enggak perlu basa-basi itu.” Tini memandang Dul dari atas ke bawah. “Ckckck … makin tinggi, makin ganteng, makin kharismatik, makin mempesona anak mbarepnya Bu Dijah. Jadi penasaran calonnya kaya apa,” kata Tini.


“Jadi ke calon ngomongnya,” sahut Dul dengan suara amat pelan.


“Ya, iya. Pasti banyak yang penasaran. Bukan cuma Budhe aja.” Tini menepuk lengan pelan lengan Dul. Tatapannya lalu beralih ke Dijah. “Mas-mu, kok, bisa kecelakaan, Jah? Padahal pakai motor besarnya udah bertahun-tahun,” ucap Tini, melirik sekilas ke ranjang Bara.


“Ada angkot ngebut di depan Mas Bara, Tin. Karena udah malem mungkin juga agak ngelamun. Ngantuk. Angkotnya ngerem tiba-tiba, Mas Bara ngerem juga, tapi tergelincir. Untungnya enggak ada nabrak orang,” jelas Dijah.


“Pasti Mas Bara rasanya kaya mimpi. Kejadiannya cepat banget dan tiba-tiba dia udah di aspal aja. Jadi keinget zaman di kampung pernah jatuh waktu naik motor. Untungnya aku pakai helm. Waktu itu jalanan memang agak basah. Tiba-tiba aku udah tergeletak di pinggir jalan. Aku buka mata, tapi semuanya gelap. Aku udah nangis-nangis, Jah. Aku kira udah mati. Rupanya helmku terbalik. Sejak saat itu aku trauma enggak mau naik motor lagi." Tini menghela napas dengan wajah prihatin.


Dul yang sudah selesai makan dan menyimak cerita Tini dengan serius ikut menghela napas. Sejak dulu, akhir cerita Tini selalu di luar dugaannya.


“Kapan berangkat lagi, Dul?” tanya Tini.


“Bulan depan, Budhe,” jawab Dul.


“Udah ketemu sama teman-temanmu? Robin…eh, ngomongin Robin aku jadi ingat, Jah. Mamaknya Robin minta divideo call kalau aku di sini. Sebentar kita telfon dia. Katanya kalau nelfon langsung ke kamu dia suka bingung mau ngomong apa. Aneh-aneh aja Mamak si Robin ini,” kata Tini, mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Mak Robin dengan sambungan video. Setelah menunggu beberapa saat, panggilan video itu tersambung.


“Halo? Halo? Kaunya itu Tini?” tanya Mak Robin dari seberang.


“Bukan. Ini jin qorin-nya Tini, Mak,” jawab Tini.


Dul dan Mima saling pandang terkekeh-kekeh.


“Ah, yang betullah kau,” kata Mak Robin lagi.


“Ini Tini, Mak. Jadi, siapa lagi? Mukamu, kok, burem, Mak? Pakai hape apa ini?”


“Ah, burem cemana? Udah yang paling paten hapeku ini. Apa pula burem,” sergah Mak Robin.


“Berarti bukan hapenya,” sahut Tini, terkikik. “Ini Dijah, Mak. Dijah sehat-sehat. Itu Mas Bara lagi tidur. Ini Ibra, ini yang paling bawel Mima. Yang terakhir calon perwira Angkatan Udara.” Tini mengarahkan ponselnya ke masing-masing nama orang yang ia sebutkan.


Saat ponsel tiba di depan Dul, tiba-tiba suara orang lain selain Mak Robin terdengar.


“Woi! Kedan! Apa kabar? Aih, makjang … rindu kalilah aku sama kau. Cemana situasi? Aman?" Robin berhasil membajak ponsel ibunya tepat waktu.


(Kedan : Kawan dekat/sohib)


Dul tersentak dan tertawa terbahak-bahak.


“Kabar baik, Bin. Minggu depan kita ketemuan sama Putra, ya. Janji mau traktir kemarin batal terus,” sahut Dul. Tangannya meraih ponsel yang disodorkan Tini padanya.


“Iya. Ayolah…ayolah. Dah bosan kali aku di rumah—”


“Lebih bosan lagi aku liat kau di rumah. Kau pula yang bosan. Udah, sana! Kau betelepon sama Dul pake hape kau aja. Jangan potong percakapan mamak-mamak.”


Dul berdiri dari sofa karena melihat Bara terbangun dan tangannya meraih meja yang di atasnya ada gelas berisi air putih.


“Biar aku ambilin,” kata Dul, menyetel tempat tidur ke posisi sedikit tegak dan menyodorkan air putih pada Bara.


Usai meneguk air putihnya, Bara baru menyadari ada sosok lain di ruangan itu. “Ya, ampun … ada Budhe Tini,” katanya.


“Iya, Mas. Budhe Tini dateng. Pakdhe Wibi belum bisa jenguk karena masih di Surabaya. Beliau titip salam aja. Semoga ayahnya Mima cepat sembuh, ya,” kata Tini.


“Makasih, Tin. Salam sama Mas Wibi,” jawab Bara.


“Oh, iya. Dari tadi aku lupa mau ngomong. Selamat juga buat Dul udah berhasil melewati semua tahapan seleksinya. Sebentar lagi udah pakai seragam. Ya, kan, Dul? Budhe jadi ingat nasehat Mbah kami dulu sewaktu pesta paman di kampung,” kata Tini, memandang Dul yang sangat serius menatapnya.


“Apa itu, Budhe?” tanya Dul.


“Budhe enggak dengar nasehatnya karena duduk dekat speaker,” jawab Tini, terkikik-kikik.


“Astaga … Budhe …. Kenapa jadi bikin emosi …,” sahut Bara. Ia lalu ikut tertawa.


“Habisnya Dul ini terlalu serius. Gemes aku. Nanti pasti banyak cewe-cewe yang penasaran dengan Mas Dul.”


“Jangan gitu, Budhe. Jangan cewe dulu,” sahut Dul dengan wajah memerah.


Bara dan Dijah bertukar pandang dengan senyum terkulum. Dul mengerling kedua orang tuanya dan kembali tersipu saat Mima memainkan kedua alis sambil memandangnya.


“Mana rantang isi lauk yang mau dibawain buat Uti? Aku ke sana sekarang,” ucap Dul akhirnya.


Dijah berdiri dan meraih rantang yang teronggok di meja sejak tadi. “Bilang sama Uti pokoknya yang ada di dalam sini semuanya menu sehat. Minta Uti banyak makan, ya Dul. Kalau perlu kamu tungguin sampai Uti makan. Akhir-akhir ini Uti makannya sedikit … banget. Katanya kenyang terus bawaannya.” Dijah menyerahkan rantang berisi plastik berisi buah pada Dul.


“Ada pesan lain?” tanya Dul.


Dijah mendekati Dul untuk merapikan kaus oblong putranya. Melihat Dul yang tinggi menjulang dari atas ke bawah. “Udah ganteng. Jangan lupa senyum dan jangan sampai keceplosan ngomong kalau Ayah di sini. Bilang kamu datang sendirian naik taksi. Banyak ngobrol sama Akung, ya.” Dijah lalu mengangguk puas.


“Aku pergi dulu. Lantai tiga, kan, Bu?” tanya Dul memastikan. Dijah mengangguk. “Yah, aku tinggal dulu … Budhe, titip salam sama Banyu dan Bumi, ya. Nanti aku main ke rumah,” seru Dul di depan pintu.


“Ajak Robin sekalian kalau main ke rumah, Dul!” sahut Tini.


Dul mengangguk. Ia menyembunyikan senyumannya karena mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat Robin terkejut dengan kehadiran Tini dari balik tembok rumah. Robin mengatakan masih trauma bertemu Tini.


Tak sampai sepuluh menit, Dul sudah tiba di depan ruang rawat Pak Wirya. Tiga kali mengetuk pintu, ia disambut dengan seorang wanita dengan kacamata bertengger di hidungnya. Mata wanita itu langsung berkaca-kaca.


“Kenapa baru datang sekarang? Apa enggak kangen sama Akung?” tanya Bu Yanti, langsung menubruk Dul dan menangis.


“Bu … calon perwira itu tamu Ayah. Harusnya disuruh masuk dulu. Kalau belum apa-apa sudah ditangisi, nanti mau ngobrol juga enggak enak,” seru Pak Wirya dari ranjangnya.


Bu Yanti melepaskan pelukannya dan menyeka air mata. “Sekarang sudah banyak ngomong lagi, Dul,” menoleh ke arah Pak Wirya. “Ayah sehat?” bisik Bu Yanti.


Dul mengangguk. “Sehat,” sahut Dul.


To Be Continued