Dul

Dul
076. Putih Abu-abu



Semua orang tahu kalau usia putih abu-abu adalah usia di mana masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Masa yang kata-katanya dipenuhi jibaku pencarian jati diri. Dibumbui dengan gejolak hormon yang disertai banyak keingintahuan.


Dul melangkah dengan letupan rasa bangganya karena berhasil masuk ke SMA negeri favorit itu melalui jalur prestasi dan nilai memuaskan. Robin yang bangga karena merasa usahanya berbuah manis walau disertai kata nyaris. Serta Putra yang berada di SMA itu karena rumahnya cukup berjalan kaki saja.


Tiga orang remaja lima belas tahun mendekati papan pengumuman berisi daftar nama siswa dan letak kelasnya di depan kantor kepala sekolah.


"Kelen nunggu di sini aja. Biar aku yang nengok." Robin tak menunggu jawaban Dul dan Putra. Tubuhnya langsung menyeruak kerumunan untuk melihat di kelas mana mereka berada.


"Memangnya temen kamu mau liat nama kita satu persatu, Dul? Apa enggak sebaiknya lebih cepat kalau kita masing-masing liat sendiri? Bukannya malah jadi ngerepotin dia?" Putra menoleh pada Dul.


"Tunggu aja. Robin enggak akan lam...nah, itu udah dateng." Dul langsung mengembangkan senyuman. Dari wajah Robin ia sudah bisa menebak temannya itu membawa kabar apa. Wajah Robin tak pernah bisa menyembunyikan kabar apa pun.


"Paten pokoknya. Yoklah, langsung masuk kita," ajak Robin.


"Eh, masuk ke mana? Memangnya sekelas? Kamu udah liat nama kita bertiga, Bin?" Putra menahan lengan Robin karena tak percaya.


Robin mengangguk. "Udah. Kulebarkan mataku bulat-bulat dan kutengok nama kita dengan mata kepalaku sendiri. Pokoknya kita sekelas," tegas Robin.


"Tapi kamu ngeliatnya sebentar banget. Nama murid ratusan dan kelasnya banyak." Putra menoleh papan pengumuman dengan raut tak percaya.


"Kucari duluan namaku. Dapat namaku, baru kucari nama kelen di daftar teman sekelasku. Kutengoklah nama kelen. Berarti kita sekelas," tukas Robin.


"Kalau nama aku dan Dul enggak ketemu di kelas kamu?" Putra masih penasaran.


"Kalau enggak nampak nama kelen, barulah kelen cari sendiri di mana kelas kelen. Bah, kok, pening kali?" Robin terkekeh-kekeh.


"Hebat memang temenmu, Dul. Bahkan aku tadi belum nyebutin nama lengkapku," Putra bicara lalu berdecak-decak.


Dul tertawa seraya merangkul pundak Putra. "Robin liat nama kamu di sini, Put. Di sini...." Dul mengusap label nama Putra yang terjahit rapi di seragamnya.


"Padahal masih pagi. Kepalanya belum terpanggang matahari. Tapi dah pening kali dia," Robin mengomel. Dul yang mendengar omelan Robin ikut terkekeh-kekeh.


Ternyata hari pertama sekolah di tahun ajaran semester itu cukup gaduh. Dul mengira hanya di SMP saja semua murid berebut duduk di depan. Nyatanya di SMA saat itu pun sama. Kedatangan ia, Robin dan Putra yang cukup leyeh-leyeh sejak tadi membuat mereka tertegun sejenak saat tiba di gawang pintu.


"Satu lagi di depannya, tapi sebelahan sama cewe itu. Cemana? Siapa yang duduk sama anak perempuan? Jangan akulah. Aku pening kalau cakap sama cewek. Gak pande aku menghadapi orang mentel-mentel," jelas Robin.


(Kata mentel diakritik (è) dilafalkan (ε) seperti kata sore, Medan. Mentel berarti genit, centil, kemayu.)


"Ya jangan aku juga. Meski aku terlihat sabar, tapi jelas aku bukan orang yang tepat untuk duduk dengan anak perempuan. Mereka pasti bawel dan banyak protes. Kamu tau sendiri aku enggak bisa...."


"Dari nama kau, Putra Wicara, dah cukup paham aku cemana kau. Jadi, kau enggak ada pilihan lain, Dul. Kau duduklah di depan kami dengan cewek itu." Robin menepuk pundak Dul.


Dul tak mengatakan apa pun. Memang sudah tak ada pilihan lain. Ia harus segera duduk ke kursi di sebelah murid perempuan demi mengakhiri perdebatan Robin dan Putra. Saat tadi Dul bersyukur bisa memperkenalkan Robin dan Putra, ia melupakan soal tugasnya yang pasti harus mengalah dan menjadi penengah.


Mengetahui kalau Dul tak protes apa pun, Robin dan Putra mempercepat langkah mendahuluinya untuk perdebatan yang baru. Siapa yang duduk di sudut agar bisa bersandar ke dinding. Untuk kali itu, Putra menjadi pemenangnya dengan alasan yang logis.


"Harus aku yang bersebelahan dengan dinding. Andai aku yang di dekat lorong, kalau kamu mau ke toilet buru-buru bakal sulit minta aku cepat-cepat bangkit." Putra menjelaskan dengan wajah bijaksana.


Robin memandang putra dari atas ke bawah sebanyak dua kali. Kali ini tanpa komentar, Robin mengibaskan tangannya mempersilahkan putra masuk lebih dulu untuk menempati kursinya yang berada di sudut.


"Tumben enggak komen," Dul mengatupkan mulutnya dengan sorot jahil pada Robin.


"Kubayangkan duduk di sudut itu dan di sebelahku si Putra yang duduk menyumbatku. Kanan kiri pasti macam dinding." Robin menempati kursinya setelah putra duduk terengah-engah dan langsung mengeluarkan buku untuk mengipasi wajahnya.


Dul meringis memandang dua temannya. Lalu kembali meringis melihat melihat anak perempuan yang duduk santai tanpa merasa kalau Dul sejak tadi berdiri di sebelahnya.


"Permisi, kursi di sebelah kamu kosong, kan?" Dul menunjuk kursi kosong yang bersebelahan dengan dinding.


Murid perempuan itu berdiri dari kursinya dan langsung menyodorkan tangan. "Aku Nina. Nama kamu siapa?" tanya Nina seraya menaikkan kacamatanya.


"Aku...A...."


Robin berdiri mengusap label nama Dul di seragamnya. "Namanya Abdullah PS. Nama panjangnya tanya sendiri. Mari kubantu kawanku salaman sama tanganmu ya, Nin. Lemas dia kurasa nengok cewek manis kayak kau." Robin mengangkat tangan Dul dan meletakkannya ke tangan Nina.


To Be Continued