Dul

Dul
120. Annisa



“Jadi, cemana jumpanya tadi? Masih cantik si Nisa?” Tangan Robin menambahkan cabai ke ulekan.


“Aku masih di taksi. Awalnya ngeliat cara cewe itu jalan enggak asing. Terus cara dia benerin rambut … aku masih inget. Aku buru-buru nyeberang jalan. Aku sempat panggil dan dia noleh ke belakang. Tapi karena banyak orang, dia enggak lihat aku. Langsung jalan lagi. Selalu buru-buru,” kata Dul, terus menggerakkan tangannya di atas ulekan. Dua tahun berada di asrama militer membuat gerakan Dul lebih sigap dan efisien.


Robin sudah selesai memetik cabai dan duduk tersenyum-senyum dengan baskom di tangannya. Ia memandang Dul yang duduk di dingklik masih dengan seragam dan sepasang sepatu kulit hitam. Dahi kawannya itu bertitik keringat karena meski AC menderu di atas, namun kompor gas terus menyala di dekat mereka. Rambut Dul tergunting rapi khas seorang angkatan. Robin lalu mengubah senyumnya menjadi cengengesan.


“Lihat apa, sih?” tanya Dul tiba-tiba sadar.


“Ganteng kali kau. Kalau aku perempuan, pasti udah jatuh cinta aku sama kau.” Senyum Robin semakin lebar.


Dul mengangkat ulekan ke hadapan Robin. “Jangan ngomong gitu lagi. Geli.” Dul lanjut mengulek cabai.


Robin meringis. “Main-main aku, Dul. Seram kali si Dul sekarang, bah. Hampir ditutupnya mulut aku pake gilingan cabe.”


“Sayangnya enggak jadi,” gumam Putra.


Robin menepuk punggung Putra, lalu kembali memandang Dul. Capek kau? Enggak, kan? Kau giling cabe ini pake semangat mau jumpa Nisa. Eh, Dul … kalo yang tadi memang si Nisa, terus … ada pula cowoknya. Cemana?”


Dul yang tadi tidak berpikir soal itu seketika menghentikan gerakan tangannya.


“Mulutmu itu memang racun berbisa, Bin. Cabai yang mau diulek belum selesai. Sebentar lagi jam sepuluh, Dul harus pergi.” Putra mendengkus dari depan kompor.


“Aku, kan, cuma nanya. Biar kawan kita siap-siap reaksinya. Jangan pula tiba-tiba penyakit gagunya kumat lagi karena jumpa si Nisa lagi sama cowonya.”


“Kalau Dul berhenti ngulek, pesanan ini bisa lama selesainya. Aku harus mengembalikan modal beli cabai yang belakangan mahal. Kamu pedagang gas enggak tau harga cabai.”


“Bising kali pun. Kalo mahal tanam aja sendiri di polybag.” Robin ikut mendengkus.


“Apa sudah selesai berdebatnya? Yoseph cuma mau mengingatkan apa yang sering dikatakan Ibu Yoseph di rumah. Kerja itu memang susah. Tapi lebih susah cari kerja. Jadi … kalau sudah ada pekerjaan seperti yang kita lakukan sekarang, ya dijalani aja. Kita harus mensyukuri. Tuhan selalu melihat usaha-usaha yang sudah kita lakukan. Tuhan tidak akan tinggal diam. Kita pasti akan diberi lebih.”


“Amin ….” Robin, Putra dan Dul mengatakan itu serentak. Mereka bertiga lalu diam dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tersisa malam itu.


“Sudah, Dul. Sana cuci tangan. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak. Besok kami beli penggiling yang baru. Soalnya kalau pakai blender rasanya jadi beda. Apalagi kalau blender yang sudah lama,” jelas Putra.


“Karena blender itu bukan Dul yang rasanya ke Nisa masih sama walau udah lama. Ya, kan, Dul?” Robin menyenggol lengan Dul saat sahabatnya itu baru kembali dari mencuci tangan.


“Apa, sih, Bin? Cemburu? Atau perlu aku ingetin lagi pakai ulekan?” Dul menahan tawa.


“Makanya kamu cari calon tulang rusukmu sendiri, Bin. Jangan mau tau kisah orang, tapi kisahmu sendiri amburadul,” sambung Putra.


“Enggak ada lagi tulang rusuk-tulang rusuk itu. Udah kuganti semua pake pipa rucika. Mau apa kau?” tantang Robin memandang Putra.


“Ya sudah, Dul. Sana pesan taksi. Robin agak stres karena sudah dua minggu tetangganya renovasi rumah. Kelamaan dengar orang motong keramik. Jadinya begini.” Putra menepuk-nepuk pundak Robin. Mereka bertiga sedang mengiringi Dul ke rolling door.


“Eh, aku sekalian mau balik. Apa kuantar aja? Tapi naik mobil pickup. Isinya gas. Mau kau?” tanya Robin, menunjuk mobil yang terparkir di sisi kiri halaman ruko.


"Ayo, boleh," jawab Dul.


"Kalau ada yang macam-macam, bisa langsung kita ledakkan," tambah Robin.


“Semua sudah saya hitung. Pesanan kita sepertinya akan tiba tepat waktu. Semua karena kerja sama dengan Dul dan Robin. Terima kasih.” Yoseph menutup buku catatannya untuk mengangguk pada Robin dan Dul.


“Sama-sama, Yoseph,” Dul tersenyum seraya menepuk lengan Yoseph.


“Sepertinya di antara kalian bertiga, hanya Dul yang tubuhnya tumbuh dengan benar. Sebagai pria dewasa, lengannya sudah terbentuk sempurna. Perutnya rata. Saya yakin Dul punya otot perut yang bisa dibanggakannya.” Yoseph memandang Dul dari atas ke bawah dengan wajah serius.


“Di mana rumah kau, Yoseph? Jauh enggak?” tanya Robin.


“Cuma mau bilang, kalo jauh, pindah ajalah dekat-dekat sini.”


Putra melengos, tapi Yoseph mengangguk serius. “Terima kasih sarannya. Doakan kalau Tuhan akan segera menambah pesanan Sambal Nakal. Kalau kita berusaha, Tuhan akan—”


“Amin. Put, aku dan Dul duluan, ya. Gak bisa aku ngantar Yoseph. Jauh kali rumahnya. Belum dijangkau Google maps. Aku nganter Dul sekalian mau lewat suatu tempat. Ada rumah yang sedang kupantau,” kata Robin.


“Saya menginap di sini malam ini,” seru Yoseph dari dalam ruko. Ia kembali membereskan peralatan masak yang sebagian besar belum dicuci.


“Rumah siapa yang sedang kamu pantau? Ngapain?” tanya Putra penasaran.


Robin berjalan menuju mobil dengan tangan terangkat. “Motifku gak bisa disebutkan demi menjaga perasaan. Ayo, Dul!” seru Robin.


“Aku pamit, Put. Besok-besok ketemu lagi,” ucap Dul, menyandang ranselnya di satu bahu, kemudian meletakkan topi kembali bertengger di kepalanya.


“Bin! Nanti kamu jangan ikut turun. Biar Dul aja! Kamu cari pipa rucikamu sendiri!” teriak Putra, terkekeh-kekeh.


Hampir dua puluh menit duduk diam berdampingan, akhirnya Robin bersuara.


“Kau nyari Nisa karena penasaran aja, kan? Jangan pula abis jumpa dia kau kecewa terus sedih. Soalnya kelen udah lama kali enggak jumpa. Jadi kurasa pasti ada bedanya. Taulah kau maksud aku, kan? Taulah ... masa enggak ….” Robin tergelak karena ucapannya sendiri.


“Amanlah. Cuma penasaran gimana kabarnya sekarang. Sejak pesan-pesanku enggak pernah dibalas lagi … aku juga enggak mikir hubungan sama Nisa bakal … aman pokoknya. Cuma mau memastikan Nisa baik-baik aja.” Dul mengangguk seakan memastikan pada dirinya sendiri bahwa hanya itulah yang ingin ia pastikan malam itu.


“Nanti kau pulang sama siapa? Jangan malam-malam kali, Dul. Bahaya. Kabarilah Ayah Bara. Jangan sampe ‘astaga’ dan ‘ya ampun’ keluar malam ini.” Robin menghentikan pickup di tepi jalan, beberapa meter dari pusat dagangan kaki lima malam hari yang tertutup oleh spanduk-spanduk bertuliskan jajaran menu.


“Nanti aku chat ayahku. Mmmm … Bin,” panggil Dul sedikit ragu.


“Ha? Apa?”


“Putra kenapa langsung minta aku ke sini? Apa Putra … udah pernah ketemu Nisa?” tanya Dul sedikit ragu.


“Ketemu ngobrol enggak pernah. Tapi dia pernah pernah bilang kayanya liat cewe mirip Nisa waktu kami malam-malam lewat sini. Kurasa dia teringat lagi pas kau bilang liat cewe tadi mirip Nisa. Apalagi di tempat yang sama. Jadi kurasa dia hampir yakin itu memang Nisa,” jelas Robin.


“Aku turun sekarang.” Dul turun dari mobil dengan ponsel di tangannya. Ia mengetikkan pesan untuk Bara.


‘Yah, aku share location. Aku lagi ada di tempat yang barusan aku kirim. Aku mau ketemu seseorang dulu sebelum pulang. Jangan marah, ya. Aku usahakan enggak lama. Aku penasaran. Nanti di rumah aku jelasin.’


Dul melambaikan tangan pada Robin yang pamit pergi dengan membunyikan klaksonnya dua kali. Tak sampai lima menit, Bara sudah membalas pesannya. Ia tersenyum. Tahu kalau Bara tak akan jauh dari ponsel sebelum anak-anaknya tiba di rumah.


‘Ayah tunggu. Atau kalau mau dijemput bilang aja.’


Mendapat jawaban seperti itu, membuat Dul semakin ringan melangkahkan kakinya menaiki trotoar dan berjalan pelan-pelan mengamati kanan kirinya. Terlalu banyak orang. Ia harus mengamati semua orang di sana dengan teliti. Apa Nisa sering nongkrong di sana bersama teman-temannya?


Langkah Dul tiba di pedagang nasi goreng kambing tempat ia bersama sahabatnya beberapa kali makan. Salah satu pedagang yang semakin malam semakin ramai. Gerobaknya paling besar dan jajaran mejanya paling banyak.


Dul menyibak spanduk dan melangkahkan kakinya ke dalam.


“Nisa! Meja nomor enam pesan tiga nasi goreng, tiga es teh!” seru seorang pria dari sudut meja.


Dul memindahkan pandangannya pada seorang gadis yang malam itu rambutnya diikat tinggi dan pakaiannya sudah berbeda dari yang tadi ia lihat. Gadis itu mencatatkan sesuatu di kertas, lalu merobeknya dan menyerahkannya pada pria yang berdiri di gerobak.


“Tiga nasi goreng, tiga es teh, kan?” teriak Nisa dengan tangan masih mencatat dengan cepat. “Bang?!” seru Nisa pada pria yang tadi memanggilnya. Ia mendongak dengan niat memandang pria rekan kerjanya, tapi pandangannya malah bertumbuk dengan seorang pria muda berseragam cokelat sekolah kedinasan. Tiba-tiba ... hatinya diliputi kesedihan.


To Be Continued