
“Jadi … rencanaku….”
“Jadi, rencanaku itu….”
Robin dan Putra bicara nyaris bersamaan. Keduanya bertukar pandang dan tertawa.
“Jadi, siapa yang duluan cakap soal rencana? Kau apa aku, Put? Soalnya cuma kita berdua yang belum jelas. Kalo Dul udah tertata rapi.” Robin meninju pelan lengan Dul.
“Oke, kalau gitu aku duluan, ya.” Putra meneguk sedikit air putih sebelum melanjutkan. “Aku dan Yoseph mau buat usaha sambal. Nama mereknya ‘Sambal Nakal’. Sampai sekarang kita berdua masih menyusun lima menu. Sambal cumi, teri, tuna, cakalang, dan ayam suwir. Yang racik aku sendiri dibawah pengawasan ibuku. Resepnya hasil persilangan antara selera aku dan Yoseph. Bisa buat bekal lauk kamu, Dul. Gimana menurut kalian?” Putra memandang Dul dan Robin bergantian.
“Aku jadi laper dengernya. Itu dikemas botolan, kan, Put? Harus disegerakan, ya. Aku mau bawa banyak buat stok lauk.” Dul menyenggol lengan Putra.
Putra terlihat senang mendengar perkataan Dul. Langsung mengangguk mantap dan menepuk lengan Dul. “Pasti. Nanti aku bawain sampelnya sebelum kamu berangkat. Makasih, Dul. Aku jadi merasa usahaku berguna.”
“Pasti berguna, dong. Semoga berhasil, Put. Semoga usaha kamu dan Yoseph bisa besar.” Dul mengulas senyum terbaiknya untuk mendukung Putra.
Putra mengangguk dengan raut serius. “Amin. Semoga, ya, Dul. Aku khawatir bakal hidup susah. Mau melanjutkan kuliah juga enggak sanggup duit, otak apalagi. Doain juga supaya modal aku dan Yoseph bisa balik dengan cepat. Yoseph bongkar celengan. Aku juga bongkar celengan dan jual barang bekas,” jelas Putra.
“Kau jangan takut melarat, Put. Kita sedang mengalaminya sekarang. Mau datang ke sini pun, aku harus mengecat rambut mamakku sampai hitam semua. Gak mau lagi dia cabut uban. Bisa botaklah katanya karena ubannya udah penuh satu kepala. Kudoakan usaha kelen berhasil, Put. Nah, sekarang giliran aku yang cerita.” Robin meletakkan sendok dan garpunya, lalu meneguk air putih.
“Nah, sekarang kamu, Bin. Ayo, apa rencana kamu.” Dul sudah selesai makan. Ia melipat tangannya dan menatap Robin dengan serius. Salah satu sahabat yang dikenalnya paling lama dalam beberapa fase kehidupan yang ia jalani.
“Kalo ceritaku gini …. Bapakku punya sikit tabungan buat aku. Jadi, dia tanya aku mau buat usaha apa. Kupikirkan satu malam usaha apa yang gampang dan paling dibutuhkan di dekat tempat tinggal kami. Jawabannya adalah … agen gas elpiji. Bisa bantu kau mau meledakkan rumah siapa aja Dul. Kalo angkatan kelen kekurangan amunisi, aku bisa jadi pemasok. Cemana menurut kau, Dul?” Robin terkekeh-kekeh.
“Bagus. Nanti bisa aku usulkan,” canda Dul.
“Makasih, Dul. Aku jadi merasa usahaku berguna,” ulang Robin meniru Putra.
Ketiganya kemudian tertawa terbahak-bahak. Lalu mereka lanjut dengan memesan hidangan penutup di café itu. Pembicaraan serius terkadang diselingi candaan. Juga sesekali komentar kecil soal gadis yang menarik perhatian mereka. Hingga akhirnya perpisahan itu kembali datang dan waktu tak bisa diminta menunggu.
Dul kembali berada di depan gate keberangkatan. Kali itu Mima dan Ibrahim ikut mengantarnya. Termasuk Bara yang sudah keluar dari rumah sakit dengan penampilan rambutnya yang harus dikikis habis untuk menyamakan pertumbuhan rambut bekas operasi. Heru ikut bersama mereka menggantikan Bara menyetir. Sementara ini Bara akan bekerja dari rumah menunggu masa penyembuhannya.
“Mas kali ini perginya lama, ya?” tanya Mima dalam isakannya.
“Tiap libur semester Mas pulang, kok. Perginya cuma kurang lebih enam bulan, pulang, terus pergi lagi. Tapi tetap bisa ketemu Mima,” kata Dul, membungkuk memeluk Mima yang baru masuk tahun pertamanya di SMP.
“Hati-hati, Mas,” ucap Mima saat melepas pelukannya.
Dul lalu setengah berjongkok memeluk Ibrahim. “Adik Mas paling ganteng … doain Mas, ya. Selama Mas pergi, Ibra yang gantiin Mas buat jaga Ayah dan Ibu—”
“Jaga Mbok Jum juga,” potong Ibra.
Dul menyadari kalau siklus perpisahan itu akan berulang beberapa waktu ke depan. Ia sudah pernah dihantarkan ke gerbang itu dengan doa, harapan dan air mata kedua orang tuanya. Kali itu pun meski ia sudah berhasil menjadi salah seorang taruna, kedua orang tuanya masih melepas dengan wajah yang sama sedihnya.
“Dul … mulai saat ini rasanya mustahil buat memiliki Dul seutuhnya sebagai sosok anak. Waktu kamu udah pasti terbagi untuk kewajiban di almamater. Ayah selalu doakan agar Dul mendapat nilai terbaik dan bisa sampai di titik yang diinginkan.” Bara mengusap-usap punggung Dul sebelum akhirnya mereka berpelukan.
“Sehat-sehat, Yah. Jaga kesehatan untuk kami,” bisik Dul dalam pelukan. Bara menjawabnya dengan tepukan kecil di punggung Dul.
Dul lalu menjabat tangan Heru dengan mantap. Usai jabatan tangan, Heru memandang Dul dengan mundur dua langkah. Ia mengamati Dul dari atas ke bawah. Sekarang mereka sudah sama tingginya. Heru lalu berdecak-decak. “Kalau pulang liburan semester wajib pakai seragam, kan? Pakdhe pasti udah kalah gagahnya.”
Dijah tersenyum, tapi air matanya sudah mengambang. Dul kembali memeluk ibunya dengan erat. Tanpa bicara dan tanpa pesan-pesan. Hanya pelukan erat yang lama. Dul lalu melambai pada keluarganya sambil tetap menggandeng Dijah tepat sesaat sebelum masuk.
Tiga orang dewasa itu akhirnya saling berpandangan dan perlahan berjalan menuju parkir mobil.
“Setahun di Magelang, ya, Ra? Terus tiga tahunnya di AAU Yogyakarta?” tanya Heru.
“Iya, Mas. Setahun di Magelang menjalani program pendidikan integratif di Resimen Chandradimuka sama Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Belajar militer umum,” jelas Bara.
“Target Dul apa? Pilot pesawat tempur, kan?” tanya Heru lagi. Dijah yang selama ini tidak begitu mengerti dengan tahapan pendidikan yang harus ditempuh Dul, siang itu ikut menyimak.
“Iya, Mas. Selesai empat tahun di AAU, Dul lanjut lagi tujuh belas bulan di Sekolah Penerbangan (SekBang) TNI AU. Dia berharap kemampuannya bisa nembus penerbangan fighter. Untuk pesawat tempur. Targetnya itu perlu nilai yang paling tinggi.” Bara menggandeng tangan Mima melewati lorong panjang di lantai dua bandara.
“Jadi, bukan belajar terbangnya di AAU ini, Mas?” tanya Dijah.
“Bukan. Di AAU ini jurusannya ada tiga. Aeronautika, elektronika dan teknik industri. Empat tahun kuliah nanti, Dul akan jadi perwira dengan pangkat Letda dan gelar sarjana terapan pertahanan.” Bara tersenyum memandang Dijah.
“Dan kalau Mas Dul lulus dari SekBang nanti, bakal nambah nama depannya. Letda Penerbang Abdullah. Keren, enggak? Mas Dul itu beda dengan pilot pesawat yang ditumpangi Mas Dul tadi. Itu namanya pilot pesawat komersil,” jelas Heru, menambahkan informasi karena sejak tadi Ibrahim mendongak menatapnya.
“Jadi, Mas Dul enggak bisa jadi pilot pesawat komersil?” tanya Mima.
“Ya, bisa. Tapi Mas Dul punya ikatan dinas wajib sebagai pilot TNI AU selama sepuluh tahun. Sesudahnya … Mas Dul bebas menentukan pilihan. Mau meninggalkan angkatan dan menjadi pilot komersil, atau tetap melanjutkan karier kepangkatannya di TNI AU. Jadi … Mas Dul itu spesial. Karena dia perwira. Yang jadi pilot pesawat komersil, belum tentu perwira. Ngerti, kan?” Heru memandang Mima. Gadis kecil itu mengangguk.
“Mas Dul spesial,” gumam Mima.
“Doakan Mas Dul-nya, ya …,” ucap Dijah sesaat sebelum masuk ke mobil.
“Semoga Dul bisa menyandang pangkat perwiranya di pundak, dan brevet penerbangnya tersemat di dada.” Ucapan Bara sangat pelan menyerupai doa.
To Be Continued