Dul

Dul
104. Di Bawah Sebatang Pohon



"Dul!" Robin mempercepat langkahnya menyusul Dul yang berada di depan. Melompati genangan-genangan air sisa hujan malam tadi.


Dul menghentikan langkahnya dan menunggu Robin. Sudah pagi yang baru lagi. Meski hari berjalan lambat saat melahap semua pelajaran dari kursi di kelas dan tembok yang dihias dengan tampilan sama dari tahun ke tahun, namun mereka selalu mengatakan 'tidak terasa'.


Tidak terasa kalau mereka sudah tiba di penghujung waktu menghabiskan sisa hari dalam balutan seragam SMA. Dul menunggu dengan sabar sampai Robin tiba di sebelahnya.


"Enggak bisa kau senyum sikit nengok aku datang?" Robin meninju pelan lengan Dul.


Dul tergelak. "Udah belajar?" tanya Dul, merangkul bahu Robin.


"Udahlah, Dul. Kau juga jangan ikut-ikutan nanya kayak gitu sama aku. Cukup mamakku aja. Putra mana? Udah nampak?" Robin melihat ke depan dan menoleh ke belakang mencari Putra.


"Belum," jawab Dul.


"Ayolah kita masuk. Ujian semester terakhir ... abis ujian ini gita cinta masa remaja kita pun berakhir. Entah mau jadi apa, pun aku nanti. Bingung juga." Langkah kaki mereka nyaris tiba di gerbang sekolah.


"Enggak ada cita-cita?" tanya Dul.


"Banyaklah kalo cita-cita .... Tapi enggak ada yang sesuai kriteria mamakku." Robin beriringan dengan Dul melewati selasar. Sebentar lagi ia tiba di kelasnya.


"Memangnya cita-cita kamu apa?" Dul menghentikan langkahnya lagi untuk menunggu Robin. Kali ini ia menunggu jawaban sahabatnya soal cita-cita yang selama ini memang tidak pernah mereka bicarakan.


"Cita-citaku keliling dunia," jawab Robin santai.


Dul mendengkus. "Langsung mau keliling dunia? Gimana caranya?" Dul menggeleng tak sabar dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Robin terkekeh-kekeh di belakang Dul. "Woi, Dul! Jangan kau tanya gimana caranya keliling dunia. Yang penting kaya dulu!" Robin semakin terbahak karena melihat Dul menunduk mencari sesuatu untuk menimpuknya.


Saat Robin tengah tertawa, Putra kemudian tiba di pintu kelas. "Suara ketawamu kedengaran sampai ujung lorong. Udah belajar belum? Kalau kau kaya setidaknya harus belajar dulu," kata Putra.


Robin langsung terdiam. "Kau merusak suasana pagiku aja," kesal Robin masih berdiri di depan kelas.


"Jadwal tes pertama kita mata pelajaran matematika. Sekalian aku rusak semua suasana pagimu," kata Putra, memegang kedua sisi lengan Robin dan menyingkirkan temannya itu dari depan pintu kelas.


Mau tak mau, suka tak suka, tes penutupan semester genap tetap berlangsung. Berbagai tipe murid keluar ruang kelas dengan macam-macam ekspresi. Ada yang keluar dengan wajah ceria dan tak bosan membahas soal mana yang dianggapnya paling sulit. Seakan terkurung selama satu setengah jam dengan puluhan soal masih kurang baginya. Ada juga yang keluar dengan raut biasa-biasa saja seperti Dul. Tipe murid begini tidak akan membahas soal sesudah tes, tapi juga tidak menolak jika ada yang membahas di dekatnya. Ada juga yang seperti Putra. Menunduk lesu, tapi tidak marah ketika ada yang bertanya. Sedangkan Robin, menggabungkan dua tipe terakhir menjadi satu. Robin menunduk lesu, juga menolak dan marah ketika ada yang membahas soal tes di dekatnya.


"Jangan ada lagi yang cakap-cakap soal ujian tadi, ya. Selangkah kelen keluar dari ruang ujian, langsung kelen tutup muncung kelen. Kalo mau bahas, jangan duduk-duduk dekat aku," ancam Robin seraya memandang Dul dan Putra yang menyipitkan mata memandangnya.


"Enggak dibahas. Ayo, pulang. Siang ini panas banget," ajak Dul, merangkul bahu dua sahabatnya untuk meninggalkan sekolah.


Pergantian hari membawa mereka hingga ke hari terakhir tes semester genap itu. Semua murid terlihat lega terlepas dari hasil yang akan mereka dapat nantinya. Sebagian murid bertanding sepak bola, ada yang bermain basket, ada yang sekedar duduk bergerombol di tepi lapangan untuk menonton dan bercanda. Wajah penuh beban, siang itu telah luruh.


Dul, Robin dan Putra, duduk di bawah sebuah pohon di belakang gawang sepak bola. Dul bersandar memangku ranselnya. Robin ikut memakan pentol yang berada di tangan Putra.


"Udah selesai. Sisa kita sekolah cuma sebulan lagi," ucap Dul, menerawang.


"Nisa apa kabar, Dul?" tanya Putra. "Udah lama enggak ngomongin Nisa," lanjutnya, memandang Dul.


"Nisa kabarnya baik. Kayanya dia lagi sibuk banget selama persiapan ujian akhir. Kalau dikirimi pesan, balasnya bisa berjam-jam. Terus berhari-hari. Aku jadi sungkan mau ganggu dia." Tatapan Dul masih kosong menatap ke sekumpulan murid yang berlarian memperebutkan bola.


"Kayanya Nisa bukan tipe kaya di dalam pikiran kamu, Bin." Putra memandang Robin yang masih melongok ke plastik pentolnya.


"Kayak mana rupanya dalam pikiran aku? Sok tau kau," kesal Robin.


Putra menjauhkan plastik pentolnya. "Jelas tau. Aku temanmu hampir tiga tahun," kata Putra.


"Iyalah...iyalah, kaulah yang paling tau. Dekatkan lagi plastik itu ke sini. Jangan pelit. Besok-besok kau bisa rindu berbagi makanan gini sama aku." Robin kembali menusuk pentol dari tangan Putra.


"Lova kuliah di mana, Dul?" tanya Robin. "Apa kabar dia?"


"Lova sekarang kuliah arsitektur. Aku tau dari anak-anak OSIS yang masih bertukar kabar dengannya. Kuliahnya di Yogyakarta."


"Kalo anak orang kaya enak aja, kan? Suka-suka orang itu mau masuk mana. Tinggal kayak aku ini yang bingung. Aku malaslah kuliah. Pening kepalaku. Mau jadi pengusaha aja," ujar Robin. Kali ini ia yang menerawang memandang siswa bermain bola. "Aku juga mau stoplah nembak-nembak cewek." Wajah Robin sangat serius.


"Tiur bikin trauma?" Putra menahan senyum memandang wajah galau Robin.


"Iyalah. Baru pertama dan satu-satunya aku nembak cewek, tau-tau malah ditolak. Masa mudaku ternodai," gumam Robin.


"Aku malah enggak pernah nembak cewe," timpal Dul.


"Kau memang enggak nembak cewe, tapi aku bergumul di pasir-pasir karena kau nyium cewe. Dahlah, Dul ... setidaknya ada yang bisa kau kenang. Aku merasa makin enggak diinginkan," ungkap Robin, menggeleng putus asa.


"Ternyata Robin sedang masuk ke tahap insecure-nya sebagai remaja. Ini normal, kok." Dul berbalik dan meletakkan tangannya di pundak Robin. "Kata Akungku, semua orang itu pasti berharga buat seseorang yang lainnya. Setidaknya kamu pasti berharga buat ibu dan bapakmu." Dul mengulas senyum manis untuk Robin.


"Udah mulai sok bijak kau sekarang, ya." Robin melingkarkan tangannya ke leher Dul dan menjatuhkan tubuhnya ke rumput. Untuk kali terakhir, mereka mengotori pakaian di rerumputan dengan saling pukul dan bergumul.


Bulan berikutnya, hari terakhir mereka di sekolah ternyata tidak lagi berada di kelas. Semua murid hanya duduk termangu-mangu di berbagai sudut untuk menantikan orang tua mereka mengambil pengumuman kelulusan.


Tidak ada wajah ketegangan hari itu. Semua murid terlihat santai. Mungkin karena beberapa hari sebelumnya sudah tersebar kabar kalau seluruh murid tingkay akhir dinyatakan lulus.


Bara baru keluar dari kelas Dul dengan sepucuk amplop putih. Ia langsung menghampiri Dul dan menepuk-nepuk bahu putranya dengan lembut. "Ayah udah tua ternyata," ucap Bara, mengangkat amplop putih dan menyerahkannya pada Dul.


Dul menerimanya dengan mulut terkatup. Sudah lulus. Dia genap berusia delapan belas tahun. Beberapa bulan lagi dia akan mengikuti seleksi di Akademi Angkatan Udara. Seperti cita-citanya, seperti janji pada ibu dan ayahnya.


"Mau foto dulu sebelum pulang?" Bara mengeluarkan ponselnya. "Kayanya di depan nama sekolah itu bagus, deh. Buat kenang-kenangan," ujar Bara.


"Boleh, ayo. Aku juga mau foto pakai hapeku," sahut Dul. Ia ikut mengeluarkan ponsel dari sakunya. Sebelum memanggil Robin dan memintai tolong temannya itu untuk mengambil beberapa foto, Dul menyempatkan diri membuka aplikasi pesannya. Sorot kekecewaannya tak bisa ia sembunyikan.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Udah nanya dari kemarin, tapi belum dibalas." Dul tersenyum kecut memandang ayahnya. Matanya kembali membaca pesan teks yang ia kirimkan pada Annisa. 'Besok pengumuman kelulusan di sekolah kami. Sekolah kamu di sana kapan?'


"Mungkin Nisa sibuk," ucap Bara, mengawasi ekspresi Dul.


Dul mengangguk tak bersemangat. "Iya. Mungkin Nisa sibuk. Semakin hari Nisa semakin sibuk."


To Be Continued