Dul

Dul
174. Pelukan Tiga Generasi



“Nisa hari ini berangkat jam berapa?” Dul baru selesai mandi dan menemukan Annisa duduk di tepi ranjang dengan sebuntalan kecil yang bergerak gaduh sejak subuh tadi.


“Gimana mau berangkat? Liat ini. Badannya masih anget,” kata Annisa, berdiri memeluk buntalan kecil yang langsung diam saat mendengar suara Dul.


“Halo gadis cantik … kok, langsung diam gitu dengar suara ayahnya? Sabar sebentar, ya. Ayah pakai seragam dulu.” Dul menempelkan ujung hidungnya yang dingin ke dahi bayi perempuan mereka. Membuat bayi itu sontak menggeliat dalam pelukan ibunya.


“Sebenarnya aku bisa enggak masuk hari ini. Harusnya Mas juga enggak perlu minta Ayah-Ibu buat langsung dateng. Belum apa-apa kita udah ngerepotin orang tua. Lagian bayi demam paska imunisasi itu wajar. Enggak ada yang harus dikhawatirkan. Salwa cuma mau digendong begini.” Annisa menempelkan pipi di dahi bayi perempuannya. “Anak Ibu cuma mau ditimang-timang begini, kan?”


“Enggak kalau kamu enggak masuk terus. Apalagi statusnya masih dokter pengganti,” ujar Dul, merentangkan bahunya yang lebar ketika mengenakan seragam biru.


“Sedih, ya. Ibunya dokter tapi anaknya sakit malah enggak bisa ngerawat.” Annisa kembali meletakkan pipi di dahi bayinya. “Sini panas badannya buat Ibu aja.” Annisa memejamkan mata.


“Yang penting Salwa dapet ASI eksklusif dari ibunya.” Dul merapikan seragamnya kemudian berputar memandang wajah Annisa yang kurang tidur. “Salwa udah disusui? Kalau udah kenyang biar Mas bantu gendong sampai tidur.”


Annisa menggeleng kemudian melepaskan kancing dasternya satu persatu. Ia menyusui bayi perempuannya yang sedang rewel paska imunisasi kemarin. “Aku cuma enggak mau ngerepotin Ayah Ibu. Mas ngadu ke Ibu, otomatis Ayah pasti ikut datang. Ayah enggak pernah ngasih izin Ibu pergi sendirian.” Jari telunjuknya mengusap pipi Salwa.


“Enggak apa-apa. Ibu memang udah ngebet mau ke sini. Setiap hari nyari alasan biar bisa dateng.” Dul mendekati Annisa dan duduk di hadapannya.


Pemandangan itu mulai akrab untuk penglihatan Dul. Annisa tetap cantik meski dengan daster sederhana disertai wajah kurang tidur karena harus terbangun tengah malam menyusui bayi mereka. Rambut Annisa masih panjang walau belakangan rambut itu lebih sering tergulung dengan jepitan di belakang tengkuknya.


Di perumahan Angkatan Udara itu Dul dan Annisa dibantu oleh seorang wanita paruh baya untuk masak dan bersih-bersih sekedarnya. Annisa lebih memfokuskan tenaga bantuan itu untuk menjaga putrinya sebentar sementara ia pergi bekerja sebagai dokter pengganti di sebuah rumah sakit ibu dan anak. Ia berada di rumah sakit hanya empat hari dalam seminggu. Selebihnya Annisa kadang menerima pasien di rumah yang kebanyakan adalah penghuni perumahan.


“Udah tidur, nih,” Annisa membenarkan letak pakaiannya. Dul terkesiap dari lamunan lalu tangannya terulur menyambut buntalan kebahagiaan itu. “Aku perah ASI dulu, ya. Mas harus berdiri. Kalau kelamaan duduk Salwa bisa bangun.”


Dengan sigap Dul berdiri untuk menimang anaknya. Memiliki seorang bayi membuat kehidupan awal pernikahan mereka penuh warna, heboh dan meriah. Wajah-wajah yang belum cukup satu sama lain harus rela berbagi dengan kehadiran seorang makhluk kecil lain yang menuntut diperhatikan.


“Padahal cuma pakai daster, tapi tetap cantik.” Dul tersenyum ketika melihat Annisa merangkai pompa ASI dengan cekatan.


“Hmmm … itu pujian tulus?” tanya Annisa tanpa memandang.


“Udah pasti tulus. Kalau ibunya senang, air susunya pasti lancar.” Dul mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Annisa. “Makasih air susunya ya, ibu cantik,” ucap Dul, menirukan suara anak kecil.


Annisa menengadah dan tersenyum. “Gendong Salwa bisa di ruang tamu atau di teras.” Annisa menunjuk pintu kamar dengan dagunya.


Dul menggeleng. “Belakangan pemandangan memerah ASI menjadi favorit Mas,” jawab Dul.


Annisa mencibir. “Maunya ….”


Seperti hari-hari kemarin. Mereka menghabiskan pagi hanya bertiga saja. Sebelum berangkat kerja Dul bermesraan dengan Annisa dan bayi mereka. Sapuan dan pijatan lembut di punggung Annisa mampu membuat dua botol susu penuh dalam waktu singkat.


“Terapi pujian dari Mas Dul memang selalu luar biasa hasilnya.” Annisa tersenyum-senyum sambil menutup botol-botol susu hasil perahannya.


“Ayo ke sini. Sebentar lagi Ayah dan Ibu pasti sampai.” Dul masih berdiri di ambang pintu kamar yang tertutup. Salwa tertidur tenang dalam dekapannya. “Sebelum ada tamu … Mas mau cium ibunya Salwa yang cantik. Yang udah mau ninggalin ibukota buat ikut suaminya di Magetan. Yang udah rajin masak dan ngerawat Salwa dan ayahnya. Yang udah jadi dokter berdedikasi dan siap membantu tetangga jam berapa pun. Mas bangga jadi suami seorang Annisa.” Dul melingkarkan tangan di pinggang Annisa. Membawa wanita itu erat ke dalam dekapannya.


Kemesraan itu sudah menjadi rutinitas mereka di pagi hari. Annisa menikmati ketika Dul menyesap aroma kepala ia dan bayi mereka berganti-gantian. Ia bergelayut manja di lengan Dul yang semakin hari semakin padat berisi. Melingkarkan tangan di pinggang ramping dan kokoh suaminya. Letnan satu penerbang itu memang terlihat semakin tampan dan menggoda baginya. Tak menyangka pria pendiam tak banyak bicara itu mampu berlalu romantis, manis dan begitu peka saat menjadi suami.


“Ayah-Ibu udah hampir sampai.” Dul menangkap tubuh Annisa dan mencium bibir wanita itu cukup lama. Tak lupa memberi ruang buat Salwa yang lelap dalam kungkungan tubuh orang tuanya. Dul melepaskan ciumannya ketika Salwa menggeliat. “Masih cukup waktu, kan?” bisik Dul di telinga Annisa.


“Salwa …. Uti dateng, nih.” Teriakan dari halaman membuat Dul dan Annisa tersadar bahwa mereka tidak punya cukup waktu pagi pagi itu.


“Mas kasih Salwa ke Ibu, ya. Kita bisa….”


“Enak aja. Enggak boleh. Sini,” kata Annisa meraup Salwa dari gendongan Dul.


Di luar, Dijah dan Bara sudah tiba. Lagi-lagi Mima dan Ibra ditinggalkan bersama Uti dan Akung demi Dijah bersua dengan cucunya. Dalam tiga bulan terakhir, Dijah sudah tiga kali pulang-pergi ke Magetan demi melihat sang cucu.


“Ini Salwa, Uti ….” Annisa menghambur ke teras menyongsong bala bantuan untuknya. Walau hari itu bayinya rewel, ia bisa berangkat ke rumah sakit dengan hati tenang. Bayinya sudah berada di tangan yang tepat. “Bu, Nisa mandi dulu, ya. Mas Dul juga udah siap-siap mau berangkat. Salwa anak Ibu sama Uti dulu ya ….. Ibu mandi.” Annisa menggesek ujung hidungnya di dahi Salwa.


“Mas, pegang tasku,” pinta Dijah, menunjuk tas tangan yang tersangkut di bahunya. “Aku mau gendong anak cantik ini. Utinya udah kangen ….”


Menuruti permintaan Dijah, Bara mengambil tas dan membawa koper kecil mereka masuk ke rumah. “Berangkat jam berapa?” tanya Bara ketika berpapasan dengan Dul di ruang tamu.


Di sanalah kehangatan itu berasal. Dari jiwa-jiwa penuh kasih yang ingin saling membahagiakan satu sama lain. Dalam sepetak ruang makan sederhana, empat orang dewasa dan seorang bayi yang tertidur lelap dalam gendongan mengelilingi meja makan.


Percakapan yang mengalir sebenarnya biasa saja. Hanya soal keseharian yang sudah mereka lakukan puluhan kali, atau bahkan ratusan kali. Nyatanya keseharian itu tetap istimewa di telinga orang-orang terkasih. Berangkat dan pulang bekerja, membuat sarapan, atau hanya kegiatan sejenis mengganti popok bayi. Semuanya istimewa untuk didengar.


“Mas Dul banyak bantu Nisa, Bu. Awal-awal pindah ke sini cuma ada satu kompor sumbu dan wajan. Itu juga peninggalan penghuni sebelumnya. Sekarang dapurnya udah lumayan berisi.” Annisa bercerita sambil menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


“Nasi gorengnya enak, kan, Bu? Yang masak Nisa,” lapor Dul.


“Tapi enggak boleh keseringan, Mas. Ini minyak gorengnya aku bikin dikit banget. Enggak boleh makan minyak-minyak terus.”


Dijah berdiri dari kursi dengan Salwa dalam dekapannya. “Ibu bawa Salwa keliling halaman belakang, ya.”


“Udah tidur, kan? Kenapa enggak ditaruh ke kamar? Kasian digendong terus.” Bara mengusap buntalan selimut dalam dekapan Dijah.


“Aku masih kepengin gendong, Mas. Wangi minyak telonnya ngangenin.” Dijah kembali mencium puncak kepala cucu perempuannya.


Sementara Bara membongkar koper kecil di ruang tamu, Annisa menyusun bekalnya ke dalam tas. Dengan seragam dinas hariannya, Dul bersandar di bingkai pintu belakang menatap ibunya tengah sibuk mendendang untuk seorang bayi perempuan berusia tiga bulan. Namanya Salwa Atira Satyadarma. Bayi perempuan yang menjadi pelengkap setelah setahun usia pernikahan mereka.


Dul akan selalu mengingat bagaimana momen kehamilan Annisa usai sebulan menikah membuat mereka berdua larut dalam tangis haru dan pelukan erat penuh rasa syukur. Ia dan Annisa saling memeluk, berciuman dan bergumulan sepanjang malam dengan sebuah test pack dengan dua garis yang sebentar-sebentar mereka pandang sebagai pengingat ada makhluk kecil yang sedang tumbuh dalam rahim Annisa.


Dul takjub. Betapa cepat kebahagiaan mereka dilengkapi. Ia mengulum senyum sarat arti. Ia lalu pergi menghampiri Dijah yang berjalan pelan di bawah pohon jambu air sambil bersenandung.


“Memangnya enggak terlambat?” tanya Dijah ketika Dul tiba di dekatnya. Ia menunduk dan sandalnya menyapu bunga jambu air yang berguguran ke tanah. Tanpa menunggu Dul menjawab, Dijah kembali melanjutkan, “Masih ingat soal pohon jambu air?”


“Ingat. Satu pohon disudut halaman kos-kosan kandang ayam. Aku dengar katanya kos-kosan itu udah enggak ada lagi ya, Bu? Tanahnya dibeli untuk dibikin cluster perumahan.”


Dijah mengangguk. “Iya. Bangunannya sudah enggak ada. Tapi kenangan-kenangan kami masih utuh enggak ada yang hilang secuil pun.” Dijah masih belum memandang Dul. Setelah sibuk dengan bunga jambu air, ia kini sibuk mengamati wajah Salwa. “Salwa lama-lama mirip Ibu ya, Dul?”


“Aku dengar Bapak masih terus nanyain Ibu. Bapak juga terus cerita soal aku yang sekarang jadi pilot pesawat tempur.” Dul memang tak menjawab perkataan soal kemiripan wajah antara ibu dan putrinya, namun ia melongok untuk mengamati bayi itu dari dekat.


“Kenangan bapakmu memang sudah berhenti di seputaran itu aja. Soal kamu….”


“Dan soal Ibu,” sambung Dul. “Soal dua orang yang sebenarnya paling Bapak sayangi….”


“Sekaligus dua orang yang paling menderita dibuatnya,” lanjut Dijah kemudian memandang Dul lekat-lekat.


“Aku enggak akan maksa Ibu kalau Ibu enggak mau ketemu Bapak. Aku ngerti,” ucap Dul.


“Nanti pasti ada waktunya. Kami semua hanya tinggal menunggu. Dijenguk atau menjenguk.” Dijah menghela napas panjang. “Dul … kita sudah pernah diam-diam dan tenang menghadapi kesulitan yang mencekik kita. Kita cukup melakukan semua usaha yang membawa kita dekat dengan impian itu. Enggak semuanya harus kita jelaskan. Yang paling penting kita bisa membuktikan bahwa kita bisa sampai di tujuan. Bukan begitu, Nak?”


Dul melingkarkan tangan memeluk ibu yang sedang menggendong putrinya. “Aku sayang Ibu,” ucap Dul.


...DUL...


...TAMAT...


...Dengan ini juskelapa menjamin bahwa tiap adegan serta plot adalah murni hasil pemikiran sendiri. Jika ada kesamaan dengan karya tulis lain dan ingin memberi informasi bisa hubungi juskelapa lewat private chat atau akun instagram @juskelapa_...


...Mauliate Godang...


...George Town, Penang...


...Senin, 03 April 2023...


...© copyright juskelapa...



Yang meributkan masalah adegan malam pertaama dimohon lebih bijak berkomentar ya. Silakan kembali baca pemberitahuan di part 1. Tidak semua novel harus dibubuhi adegan begitu. Mohon komentar disesuaikan dengan rating dan tema cerita.