
Mungkin jika ada yang menanyakan pada Dul soal kapan pertama kali ia merasakan gugup, jawabannya adalah malam itu. Malam saat ia memandang pantulan bayangannya dari cermin persegi yang menyatu dengan pintu lemari pakaian. Beberapa saat yang lalu Bara masuk ke kamarnya. Pria itu mengatakan, "Kamu enggak perlu gugup. Ayo, lekas tidur. Besok kita sama-sama melewati semuanya."
Perasaan itu dikatakan Bara sebagai gugup. Benar. Ia memang gugup. Tapi jika boleh dirincikan lagi, perasaan gugup itu sebenarnya menutup rapat-rapat rasa takutnya.
Dul berdiri tegak di depan cermin. Memperhatikan dengan teliti rupanya di usia menjelang tiga belas tahun. Tubuhnya tinggi jangkung dengan tungkai yang panjang. Rambutnya lurus dengan warna kulit menyerupai ibunya. Bentuk wajah dan cara mereka menatap orang pun sangat mirip. Hal itu Bara yang mengatakannya. Sejak kecil banyak yang mengatakan bahwa wajahnya manis. Padahal ia laki-laki. Kenapa tidak disebut ganteng?
Ternyata belakangan ia menyadari asal kata manis itu karena ia sangat mirip dengan ibunya. Ibunya memang manis. Dul tersenyum menatap pantulannya.
"Aku memang anak Ibu," gumam Dul, menarik senyuman. Satu hal lain yang ia sadari sebagai kemiripan dengan ibunya. Yaitu, cara mereka tersenyum. Ia dan ibunya sama-sama suka menarik senyum tipis di satu sisi. Banyak orang mengatakan kalau ia terlalu pelit tersenyum. Padahal orang-orang tak tahu kalau senyuman tipis itu berarti ia memang sedang tersenyum. Beda hal kalau ia tak suka atau biasa-biasa saja. Ia malah hanya diam tanpa ekspresi.
"Tidur sekarang. Besok pasti lancar. Ada Ayah, Akung dan ada Pakdhe. Ibu enggak harus didatengin banyak orang. Cukup aku yang ke sana. Semua pasti beres."
Begitulah cara Dul mensugesti diri seterusnya. Menatap cermin dan mengatakan pada dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Dul menyemangati dirinya dengan memandang wajah di pantulan cermin yang ia tahu sudah berbuat sebaik-baiknya.
Ternyata malam itu Dul tidur nyenyak tanpa mimpi. Paginya, ia berdandan serapi-rapinya dengan pakaian terbaik yang dipilihkan Bara.
"Kamu harus ganteng dan rapi. Lengan kemejanya Ayah gulung sedikit biar makin keren. Nanti pakai sepatu yang paling terbaru, ya." Bara menunduk menggulung lengan kemeja Dul di depan cermin.
"Harus pakai yang bagus semua? Katanya cuma...."
"Rumah tahanan?" Bara selesai menggulung lengan kemeja Dul dan berdiri mematut tubuh Dul di depan kaca. Dul diam saja dengan pertanyaan barusan. "Ke mana pun kita pergi mendatangi orang lain. Siapa pun itu, di mana pun, berpakaian rapi menunjukkan bahwa kita menghargai orang tersebut. Siapa pun itu." Bara menghela napas dan menepuk pundak Dul.
"Udah boleh sarapan sekarang?" tanya Dul, meringis.
"Boleh. Sebentar lagi kita bakal dijemput Pakdhe Heru. Jangan sampai Pakdhe turun buat ikut sarapan. Nanti bakal lama. Jadi, kita harus buru-buru," ucap Bara, terkekeh-kekeh.
"Kasian Pakdhe," ucap Dul saat keluar kamar.
"Jangan...jangan. Jangan kasian sama Pakdhe. Dia pasti udah sarapan. Tapi kalau kita tanya, jawabannya akan memelas. Jadi, mending enggak usah ditanya."
Dul tersenyum, tapi kurang mengerti dengan maksud perkataan Bara. Yang diingatnya sekilas adalah soal Heru yang senang menggoda Bara dan Bara yang suka mencibir tiap Heru menggodanya.
Dan kalau bicara soal kemiripan pun, Dul merasa sikapnya di bagian-bagian tertentu mirip dengan Bara. Misalnya, di keramaian kumpul keluarga atau bersama teman-teman, Bara lebih sering menjadi pendengar. Pria itu lebih banyak tertawa, atau berkomentar sedikit saja. Sama dengan dirinya yang lebih suka memperhatikan dan mendengarkan. Untuk sifat itu, ia dan Bara bertolak belakang dengan Heru yang lebih senang menjadi pusat keramaian.
Dul mengulum senyumnya saat mengunyah nasi goreng. Ia merasa bangga bisa memiliki kesamaan dengan para pria keluarga Satyadarma. Membuatnya merasa istimewa.
"Dul, jangan jauh-jauh dari Ayah, dengerin Akung dan ikuti instruksi Pakdhe." Sekali lagi Dijah mengulangi pesannya di dekat pintu pagar. Mobil Heru yang sudah berisi Pak Wirya di dalamnya baru saja tiba dan memutuskan untuk langsung berangkat.
"Ayo, kita semua turun. Ini enggak akan lama. Nanti sepulang dari sini, kita makan siang sama-sama. Yang jelas Akung enggak mau bakso lagi. Terlalu murah untuk traktiran seorang Presdir The Term." Pak Wirya turun lebih dulu dan berdiri di sisi mobil menunggu Dul. Tangan keriputnya langsung memegang bahu Dul dan berjalan santai sambil menepuk-nepuknya.
"Setelah dari sini, dia bakal dipindahkan, kan? Pelaksanaannya pasti enggak di sini," bisik Bara pada Heru. Ia sedikit melambatkan langkah saat mengutarakan hal itu.
"Bener. Enggak di sini. Di pulau yang jauh itu. Ini demi kepentingan memenuhi permintaannya aja," jawab Heru.
Sebelum mencapai pintu masuk, Heru dan Bara mempercepat langkah untuk mendahului Pak Wirya dan Dul. Mereka disambut dua orang pria yang langsung berdiri dan menjabat tangan mereka bergantian.
"Oh, ini Dul. Kalau Bapak ini...."
"Saya tenaga profesional yang akan mendampingi Dul," potong Pak Wirya saat menyambut uluran tangan pria yang tak lain adalah pengacara sekaligus kakak laki-laki Fredy.
Perjumpaan pria yang dipanggil Dul dengan sebutan Pakdhe itu ternyata tak menimbulkan kesan sentimentil apa pun. Pria itu hanya mengeluarkan sapaan, "Enggak terasa kamu udah besar, ya," sambil menepuk-nepuk pelan bahu Dul.
"Sudah bisa masuk. Waktunya tidak lebih dari satu jam. Kalau bisa jangan terlalu banyak orang," ujar seseorang yang baru keluar dari lorong.
"Enggak apa-apa, kita masuk semua. Itu kakak laki-laki Fredy juga pasti masuk. Ayo," ajak Heru.
Bara sedikit ragu. Kemudian ia merangkul Dul dan berjalan menuju ruangan yang ditunjuk petugas. "Dul ... kamu boleh menolak atau menyudahi kunjungan ini kapan aja. Begitu juga dengan Ayah. Kalau Ayah enggak nyaman, Ayah minta izin untuk mengalihkan sebentar tugas ini ke Pakdhe atau Akung. Ayah enggak ke mana-mana. Mungkin bakal berdiri di luar pintu. Di saat-saat tertentu kadang Ayah merasa...."
"Aku enggak apa-apa," potong Dul. Ia memandang Bara yang sekarang malah terlihat lebih gugup darinya.
Mereka tiba di sebuah ruangan yang letaknya sedikit jauh di belakang gedung. Belum ada siapa pun di sana selain mereka. Dul duduk di sebelah Pak Wirya, seraya mengamati ruangan itu dengan seksama. Hanya berbentuk kotak dan dua warna yang mendominasi. Putih dan abu-abu.
Apa penjara itu kayak gini?
Ketika isi kepala Dul sedang memikirkan bentuk fisik sebuah penjara, tiba-tiba seorang pria mendorong pintu dan masuk bersama pria lainnya yang memakai seragam. Bara dan Heru yang mengobrol di dekat pintu, langsung terdiam.
"Dul ... apa kabar?" sapa Fredy mulai dari ambang pintu.
Dul menegakkan tubuh. "Kabar baik," jawab Dul nyaris tak bersuara.
"Mana? Dia enggak ikut? " Fredy mengedarkan tatapannya menyelimuti ruangan.
To Be Continued