
“Ayo, cepat, Seph! Rekanan gas kita orangnya emosian, enggak sabaran. Sudah kirim pesan tujuh belas kali,” kata Putra di dalam mobil.
Yoseph yang sedang mengemudi mengangguk santai. “Kamu sudah bilang kalau sabar itu sebagian dari iman?” tanya Yoseph.
“Semua potongan ayat-ayat kitab suci dari semua agama sudah aku kirim, Seph. Enggak berpengaruh.”
“Ckckck, tapi sekarang memang sedang macet. Memangnya rekanan kita itu ada keperluan apa?” tanya Yoseph lagi.
“Itulah masalahnya. Rekanan kita itu enggak ada keperluan yang jelas. Biasanya memang begini, sih. Kalau enggak sibuk, rekanan kita itu malah mengganggu kita.”
Tiga puluh menit melata di kemacetan jalan raya dengan pick up inventaris milik bersama, Putra menyadari kalau Robin yang sejak tadi menerornya dengan pesan-pesan pendek tidak penting mulai senyap.
“Rekanan kita ada mengirimi pesan lagi?” Yoseph akhirnya menyadari kalau Putra duduk di sebelahnya dengan wajah sedikit santai.
“Enggak ada lagi. Apa mungkin dia akhirnya pergi karena enggak sabar?” Putra melirik ponselnya yang diam.
Yoseph berpikir-pikir. “Sepertinya tidak mungkin. Rekanan kita sepertinya sedang disibukkan oleh hal lain. Apa mungkin karena karyawan baru?”
Perkataan Yoseph membuat Putra menoleh. Keduanya bertukar pandang dengan raut menyetujui gagasan yang dilontarkan Yoseph barusan. Bagi Yoseph, hanya itulah kemungkinan yang bisa ia pikirkan. Apa lagi yang dapat menenangkan Robin jika bukan gadis yang menarik perhatiannya.
Apalagi dua tahun terakhir Robin selalu disibukkan dengan target memiliki kekasih. Melihat Yoseph yang rutin beribadah dan menemukan seorang tambatan hati di komunitasnya, membuat Robin menggelepar karena iri. Kemudian ditambah lagi Putra yang sudah sebulan lebih berhasil mengencani sepupu tetangganya yang datang dari Jawa. Robin semakin uring-uringan.
Robin menjadi sinis pada Putra dan Yoseph yang menemukan tambatan hatinya. Kedua sahabat yang biasa sering menghabiskan waktu bersama kini hanya menyisakan sedikit waktu untuknya.
Dugaan Yoseph dan Putra di perjalanan tadi ternyata tidak meleset. Robin bahkan tidak sadar mobil pickup yang biasa mereka gunakan sudah tiba di depan ruko. Dari luar, pandangan keduanya sudah bertumbuk pada sosok Robin yang berdiri di dekat steling kaca dengan dua tangan bersedekap di depan dada. Robin tengah bicara pada karyawan baru ‘Sambal Nakal’.
“Jadi … cemana kalau Abang jemput malam minggu nanti? Nonton pilem, makan popcorn, minum boba-boba itu. Terus … Abang ajak Dek Duma ke Monas. Karena baru tinggal di Jakarta, Dek Duma pasti belum pernah ke Monas.”
“Lihat atasnya, sih, udah pernah, Bang. Tapi kalau sampai ke halaman Monas, belum pernah.”
“Nah … cobalah Dek Duma pikir-pikir lagi. Apa mungkin ini maksud Tuhan mempertemukan kita pagi ini? Biasa Bang Robin ini sibuk kali, Dek. Banyak kali kerjaan Abang. Entah kenapa pula langkah kaki Abang kayak ditarik ke sini. Macam ada kena magnet. Abang magnet kutub Utara, Dek Duma magnet kutub Selatan. Kita Ssling tarik-menarik sebenarnya.”
Dua pasang langkah kaki telah tiba di samping steling kaca. Berdiri sebentar mendengar potongan terakhir percakapan Robin yang berisi rayuan gencar terhadap Duma; karyawan baru Sambal Nakal yang sepertinya mulai suka dengan candaan-candaan Robin yang garing.
“Ternyata yang meneror kita tadi magnet kutub Utara, Seph,” tukas Putra tiba-tiba.
Robin tersentak dan menoleh dua temannya yang sedang menyipitkan mata.
“Ternyata benar rekanan kita ini sedang enggak ada kerj—”
Belum lagi selesai Yoseph berbicara, Robin cepat-cepat menyeret sahabatnya itu ke meja yang ia tempat sejak tadi. “Demi Tuhan, Yoseph … jangan kacaukan apa yang sudah saya bangun sejak beberapa menit yang lalu. Duma sudah memberi angin segar soal kegiatan akhir minggu yang saya tawarkan padanya.”
“Oh,” ucap Robin. “Seph, mesti kali kau cakap di depan Duma kayak gitu? Jangan mentang-mentang kau udah bergandengan dengan cewek ke sana kemari terus kau lupa nasib kawanmu ini?”
“Tapi saya tidak bilang apa-apa, Bin.”
Robin melirik Duma yang sedang menata isi steling, lalu ia menyentuh bahu Yoseph dan membawanya sedikit merunduk. “Tapi kau bilang aku lagi enggak ada kerjaan … sedangkan dari tadi aku udah gencar pencitraan kalo aku ini orang sibuk.” Robin berbisik di telinga Yoseph.
“Kamu itu pengusaha, sama kaya kita berdua. Yang namanya pengusaha enggak mungkin setiap hari sibuk dan padat. Ada waktu untuk santai juga, Bin. Lagian siapa suruh pencitraan habis-habisan. Kamu jangan ngaku-ngaku kaya …. Kalau wanita suka, dia tetap akan menerima kamu. Contohnya Wahyuni,” balas Putra dalam bisikan.
“Resep hubungan langgeng itu cukup sederhana. Jangan dimulai dengan kebohongan. Begitulah hubungan saya dan Nathalia bermula, Bin.”
Robin menegakkan tubuh dengan wajah kesal. “Wahyuni … Nathalia … bisalah muncung kelen cakap lancar kali. Sekarang ini soal Duma, Duma, Duma. Aku suka sama dia. Dia pun kayaknya sor sama aku. Jadi … karena dia pegawai kelen, tolong jangan biarkan dia capek-capek kali. Tolonglah, ya.” Robin menepuk-nepuk pundak Putra dan Yoseph bergantian.
“Baru hitungan menit dia udah berani ngasih perintah buat kita. Padahal kita berdua yang gaji.” Putra meletakkan tasnya dan menarik kursi.
“Prospek ke depannya juga belum jelas. Belum tentu Duma benar-benar menaruh hati.” Yoseph ikut duduk di sebelah Putra. Dan Robin ikut duduk di hadapan temannya dengan wajah kesal.
“Maksudku pencitraan itu bukannya mau bohong-bohong tak jelas. Tapi kelen tau sendiri hati perempuan itu mirip rekening bank. Tak akan berbunga kalo gak ada saldonya. Jadi, harus gitulah. Setidaknya dia merasa aman secara finansial kalo mau dekat denganku.” Robin masih bicara dalam bisikan agar tidak terdengar oleh Duma yang kini sudah duduk di balik meja kecil. Wanita itu sekarang sedang belajar pembukuan sederhana bersama pegawai wanita yang lebih senior.
“Kenapa kesannya harus buru-buru? Semua bakal datang tepat pada waktunya, Bin.” Giliran Yoseph ikut menasehati.
“Aku udah lama kali menjomblo. Gak pernah punya pacar resmi. Rasa kosong hatiku ini, lebih parah dari perasaan sakit diputusin.” Robin kembali menundukkan kepalanya saat bicara.
“Memangnya pernah diputusin?” Putra mengernyit.
“Belum, Put, belum. Puas kau? Sok kalilah kau sementang udah punya cewek. Baru satu bulan status kita beda. Sebelumnya masih sama. Sama-sama pria muda belum laku,” cetus Robin.
“Kalau kamu punya pacar, artinya kamu ninggalin Dul. Aku rasa Dul menjomblo selama ini karena enggak mau kalau kita ngerasa sendirian.” Tiba-tiba Putra tercenung mengingat Dul.
“Benar. Itu benar. Saya setuju dengan Putra. Dul sangat good looking. Mustahil tidak ada wanita yang mendekatinya. Saya rasa Dul memang punya keinginan untuk menemani sahabat-sahabatnya yang belum memiliki tambatan hati.”
“Bilang aja belum laku. Gak marah aku,” potong Robin.
“Bin … memangnya soal Duma … kamu serius?” tanya Putra.
Robin mengangguk mantap. “Seriuslah. Kugaskan langsung si Duma ini. Ngapain aku lama-lama nembak cewek. Kau kira aku si Dul yang penuh pertimbangan itu?”
“Jangan sampai dengar Dul. Dia udah cukup baik menemani kita menjomblo selama ini,” kesal Putra, menyentil tangan Robin.
To Be Continued