
Keharusan mewujudkan apa yang pernah ia cetuskan sebagai cita-cita, semakin hari semakin dekat. Perasaan antusias dan kekhawatiran tidak bisa melalui tes dengan lancar bergulung menjadi satu. Membentuk suasana hati yang pasang surut. Dan mudah membuat cemberut.
Belakangan Dul menjadi sedikit sensitif dengan hal-hal sepele. Kalau dulu tiap bicara dengan Robin atau Putra semua hal menjadi lucu, beda situasinya dengan sekarang. Dul sedang merasa insecure meski sudah berhasil melewati tes psikologi. Ditambah dengan ganjalan baru di hatinya. Kesehatan Pak Wirya yang belakangan mulai menurun karena usia.
“Aku enggak apa-apa, kok, lari sendirian. Akung istirahat aja. Lagian cuma lari-lari keliling lapangan aja gampang. Di sekolah dulu juga udah sering.” Dul duduk di sofa ruang keluarga rumah Pak Wirya hanya berdua dengan pria tua itu.
“Tapi Akung sudah janji ke kamu.” Pak Wirya duduk bersandar dengan wajah pucat menepuk-nepuk bahu Dul.
“Aku enggak apa-apa. Besok Ayah bilang aku udah bisa mulai. Akung istirahat aja. Lagian ini baru seleksi daerah. Jadi … Akung istirahat biar bisa nemenin aku kalau lolos di pusat.”
Pak Wirya mengangguk. Walau wajahnya pucat, tapi anggukan pria tua itu terlihat mantap. Dua hari yang lalu ia harus tergeletak di tempat tidur karena kolesterolnya. Saat satu persatu keluarga anaknya datang, Bu Yanti mengomel panjang pendek mengeluhkan kebiasaan Pak Wirya yang tidak disiplin.
Semua anak dititipi pesan untuk menyampaikan pada ayahnya untuk lebih memperhatikan asupan makanan. Terutama yang berbau keju. Setelah akhir minggu kemarin keluarga Sukma yang datang menginap, minggu itu giliran Bara dan keluarganya datang.
Sejak sore keluarga Bara tiba di rumah Pak Wirya, tak ada pembicaraan soal kesehatan pria itu. Pak Wirya sepertinya berusaha mengalihkan bahan pembicaraan yang sudah puluhan kali ia dengar. Topiknya, ‘Bilang ke ayah kalian makan enaknya direm sedikit.’
Akhirnya Bara membiarkan Pak Wirya di ruang keluarga bersama Dul, berdua saja. Ia membawa seluruh sisa keluarganya ke ruang makan untuk mengobrol. Mima dan Ibrahim duduk di kanan kiri Bu Yanti menunggu wanita itu mengupas mangga yang katanya sudah ia siapkan buat cucunya. Mangga yang matang sempurna dan dijamin berdaging manis.
“Ini buat Mima, yang ini buat Dik Ibra. Pakai garpu makannya.” Bu Yanti menyodorkan piring berisi mangga yang sudah dipotong-potongnya. “Jangan lupa, Ra. Nanti kamu bilang ke Ayah kalau sakit harus mau ke dokter. Kalau cuma istirahat di rumah aja enggak akan mungkin bisa sehat total. Ayah enggak mau dengar Ibu ….” Bu Yanti memandang wajah Bara yang duduk bersebelahan dengan Dijah di seberangnya.
“Nanti aku ngomong ke Ayah. Ibu juga jangan terlalu capek. Nanti malah Ibu yang ikut sakit. Ibu-ibu, kan, enggak boleh sakit?” Bara menyenggol lengan Dijah yang sejak tadi diam di sebelahnya.
“Iya. Ibu jangan sampai sakit. Dul di depan juga pasti ngomong soal nemenin latihan fisik itu kalau dia enggak apa-apa sendirian. Ada Mas Bara juga yang bisa nemenin Dul. Tapi Ayah kayanya ngerasa enggak enak karena udah janji. Mas juga ngomong ke Ayah kalau Mas bisa nemenin Dul. Biar Ayah bisa santai,” kata Dijah, menatap Bara.
“Nanti Mas bilang,” sahut Bara.
Percakapan itu sudah lewat dua minggu. Pak Wirya benar-benar menghabiskan waktu istirahatnya di rumah. Bara berusaha mengatur waktunya dengan sangat ketat agar bisa mendampingi Dul menjalani latihan fisik sebagai persiapan tes Samapta-nya.
Dul adalah saksi bagaimana Bara pergi pagi saat langit masih gelap dan pulang lebih awal dari kantor untuk bertemu dengannya di sebuah taman kota tak jauh dari rumah mereka. Suatu kali Heru juga menyarankan untuk mengajak Dul ke pusat kebugaran pria untuk latihan fisik ringan dengan menggunakan jasa personal trainer.
“Kamu harusnya jangan ngomong gitu. Kita, kan, sekarang lagi sama-sama usaha. Apa pun hasilnya kita bakal terima sama-sama. Enggak akan ada yang marah. Memangnya kenapa harus marah? Semua tau kalau kamu udah usaha maksimal. Jangan pikirin soal itu. Ayo, lari dua putaran lagi. Abis itu kita langsung pulang. Ayah udah laper,” kata Bara, menepuk pundak Dul.
Dul langsung mengangguk. Melihat wajah lelah Bara yang kurang istirahat membuat perasaan bersalah menyusup usai bertanya hal itu. Semua sudah mendukungnya dengan sikap dan kata-kata. Harusnya ia bisa lebih optimis.
Dul mengakui kalau dirinya sendiri memang bukan anak yang terlalu percaya diri. Untuk menyanggupi menjadi Ketua Osis di masa SMA saja, dia perlu mendengar dukungan dari orang-orang sekelilingnya. Terutama dari Bara dan Pak Wirya.
Dan hari tes yang sudah dinantikan dengan segala persiapan itu pun tiba. Dul akan berangkat ditemani Bara. Sejak langit masih gelap, Dijah sudah bangun dan memasak sarapan paling lengkap untuk anak dan suaminya. Dijah menyiapkan dua kotak bekal untuk Dul dan Bara sekaligus. Paham kalau bisa saja Bara menunggu lama, Dijah menjejali tentengan kedua laki-laki itu dengan makanan pembuka, sampai makanan penutup.
“Yang ini punya Ayah, yang ini punya kamu. Jangan ketuker, ya. Isinya beda karena sesuai kebutuhan. Isi bekal Ayah banyak buah dan sayur. Ibu kasi daging tapi dikit aja. Enggak boleh makan yang berminyak. Di tempat bekal Dul ada susu. Jangan sampai enggak diminum, ya, Dul.” Dijah menyerahkan dua bungkusan pada Dul. Bara hanya melirik dua kemasan bekal yang sudah berpindah tangan dengan sedikit menyipitkan mata. Dijah menyadari pandangan Bara dan mengusap perut suaminya seraya berkata, “Inget, Mas. Udah empat puluh satu. Mas juga harus jaga makan,” sambung Dijah.
“Iya. Mas inget, kok,” sahut Bara, membalas usapan Dijah di perutnya dengan memeluk wanita itu. Dijah yang rambutnya digelung dengan jepitan dan selembar daster batik yang semakin lama sudah menjadi ciri khasnya di rumah. “Doain Dul, ya,” kata Bara.
“Pasti didoain,” sahut Dijah.
Dijah berdiri mengantar sampai ke pagar. Melihat mobil Bara mengecil dan menghilang di belokan jalan.
Hari itu adalah salah satu hari berat yang memang harus dijalani Dul. Bukan hanya berat karena ia harus membuktikan hasil, tapi juga salah satu gerbang tempat ia menuju masa depannya. Sebuah pemahaman yang sudah ditanamkan ayah sambungnya bertahun-tahun. Bahwa masa depannya, dia sendirilah yang menentukan.
Setibanya di tempat melakukan tes, semua hal yang sudah tersusun di kepala Dul buyar seketika. Nyalinya sedikit ciut karena melihat setiap orang yang hari itu semuanya adalah pesaing. Saling bersaing untuk menunjukkan siapa yang lebih pantas.
Dengan tinggi tubuh 180 sentimeter di usianya yang menginjak delapan belas tahun, Dul terlihat jangkung. Wajah oval, kulit kecokelatan, juga sorot mata dan raut wajah datar membuat Dul semakin mirip dengan ibunya. Ia sudah bersiap dengan celana pendek dan menunggu giliran.
“Abdullah Putra Satyadarma,” seru seorang pria dengan sebuah daftar di tangannya.
Napas Dul tertahan sedetik. Ia lalu bangkit menuju pria yang sedang menunggunya di tepi lapangan.
To Be Continued