Dul

Dul
066. Hidup Tetap Berjalan



Dul sudah rapi dengan seragam SMP-nya dan menyandang tas keluar kamar. Sedangkan Mima, sedang memainkan drama pagi dengan meminta rambutnya 'dikepang dua tapi nanti tetap disatukan di tengah'.


Dijah dengan sabar duduk di tepi ranjang mendengar arahan demi arahan yang diminta putrinya. Mencoba mengerti bahwa apa yang diminta Mima berarti tren yang sedang berlangsung di kalangan teman-teman sekelasnya.


"Udah? Begini, kan?" tanya Dijah, memegang kepala Mima dan mengukur apa tinggi kepangannya sudah sama rata.


"Sebentar aku ngaca dulu," kata Mima, berdiri ke depan cermin yang menyatu dengan pintu lemari. "Iya. Begini. Tuh, kan ... Ibu bisa. Tadi katanya mumet. Mumet karena belum dicoba. Kata Ayah gitu," cerocos Mima mematut-matut dirinya di depan kaca.


"Ya udah, sini. Pakai bedaknya dulu."


"Bedaknya jangan banyak-banyak, Bu. Aku bukan anak TK lagi. Nanti diledekin temenku," tambah Mima.


"Anak sekarang banyak maunya, ya. Dulu Ibu taunya ke sekolah cuma buat belajar aja. Enggak sempet mikirin kepangan rambut harus ganti model tiap hari."


Mima memutar tubuhnya menghadap Dijah. "Kata Ayah aku makin cantik kalau dikepang."


"Iya...iya. Ayah bener semua pokoknya," sahut Dijah, bangkit dari tepi ranjang. "Kalau udah siap ngaca, ambil tasnya terus sarapan. Ibu mau nyuapin adik. Ayah juga udah siap dari tadi." Dijah keluar kamar Mima dan menyongsong Ibrahim yang baru bangun dan dipangku Bara.


"Ibra hari ini maunya makan apa? Sini sama Mas dulu." Dul menyeret kursi mendekati Ibrahim.


"Kok, Ibra? Manggilnya Ibi aja, lucu." Mima datang meletakkan tasnya di kursi dan ikut mendekati Ibrahim.


"Ibi kayak panggilan anak perempuan. Ibra lebih gagah," kata Dul.


"Aku mau Ibi. Ibi ... ini Mbak Mima cantik. Jangan denger kalau dipanggil Ibra, ya ...." Mima mencium pipi Ibrahim yang kedua tangannya sedang menyentuh wajah Dul. "Cium lagi...cium lagi." Mima terus menekan pipi Ibrahim dengan hidungnya berkali-kali. Ibrahim mulai berontak dan membuat raut akan menangis.


"Mima, udah sarapan?" seru Dijah yang baru kembali menjemurkan handuk Mima ke belakang.


Dul langsung menggeser kursinya menghadapi roti panggang yang sudah sejak tadi dibiarkan begitu saja. Mima menempati kursinya dan tak menoleh lagi pada Dijah.


Bara santai saja melihat Dijah berkacak pinggang memandang dua pelajar yang tak pernah khawatir terlambat masuk.


"Padahal setiap hari dibangunkan lebih cepat, tapi berangkatnya selalu buru-buru." Dijah mendekati Bara dan mengambil Ibrahim dari gendongannya. "Nah, ini kenapa udah bangun? Biasanya bisa tidur satu jam lagi kalau udah nyusu. Pasti di kamar digangguin juga." Dijah menyipitkan mata memandang Bara.


Bara hanya mengerling Dijah sedikit dan mulai mengolesinya rotinya. Suasana pagi yang gaduh, namun penuh keakraban itu selalu mengawali hari mereka. Ibrahim yang sudah memasuki masa-masa mengkonsumsi makanan pendamping ASI, tubuhnya semakin padat berisi. Bayi yang dinobatkan keluarga sebagai bayi yang paling jarang menangis itu sekarang menjadi rebutan. Terlebih dalam keluarga besar Ibrahim adalah satu-satunya bayi.


Sekolah Mima tak jauh dari rumah. Setiap hari Bara menurunkannya lebih dulu baru kemudian mengantarkan Dul ke SMP-nya. Untuk pulang sekolah, biasanya Mima dijemput Dijah atau Mbok Jum yang berjalan keluar komplek dan menyeberangi jalan. Sedangkan untuk Dul pulang sekolah, Bara mengupahi penambal ban di dekat Bimbingan Belajar yang menawarkan diri menjemput Dul dengan motor bebeknya.


"Aku turun di sini aja, Yah," kata Dul beberapa meter sebelum tiba di depan gerbang sekolahnya.


"Belum nyampe. Nanti kamu kejauhan jalan kaki," sahut Bara.


"Mobil yang nganter antri. Apalagi ada mobil itu. Biasanya lama. Padahal tinggal turun aja." Dul melongokkan kepalanya ke depan.


"Mobil yang mana? Yang paling depan? Mungkin banyak bawaannya," jawab Bara.


"Kayanya enggak," timpal Dul. Ia mengetahui kalau sedan mewah di depan mereka berisi murid perempuan pindahan yang baru seminggu masuk di kelasnya.


"Mungkin dianter ibunya. Banyak nasehat dan pesan-pesan." Bara nyengir memandang Dul.


"Kurang tau kalau itu," ucap Dul pelan.


Seorang anak perempuan keluar dari sedan mewah yang baru saja diceritakan oleh Dul.


Mobil perlahan maju dan Dul turun di depan gerbang sekolahnya. "Aku turun, Yah." Dul langsung meraih tangan Bara yang terulur padanya.


"Kalau pulang sekolah jangan keluar gerbang sampai yang jemput datang ya, Dul. Jangan jajan sembarangan. Jangan...."


"Jangan lupa periksa laci meja sebelum keluar kelas siapa tau ada yang ketinggalan. Gitu, kan?" Dul sudah keluar mobil dan mengitari bagian depan sampai tiba di sisi kanan Bara.


Bara tergelak. "Iya, begitu."


"Ayah lama-lama makin mirip Ibu."


"Namanya juga kami berdua suami istri. Lama-lama pasti mirip," jawab Bara, tertawa kecil.


"Nanti sore jadi?" tanya Dul.


"Jadi. Ayah udah ngomong ke Mbok Jum dan semua temen-temen Ibu. Sore sebelum pulang Ayah beli cake-nya."


"Aku enggak sabar liat Ibu kaget," ucap Dul.


"Ayah juga penasaran Ibu bakal sekaget apa. Atau kita yang kaget karena Ibu enggak kaget?" Bara tersenyum lebar.


Dul meringis menyadari ibunya yang memang jarang sekali terkejut atas hal-hal apa pun. Yang membuat raut ibunya berubah terkejut dengan sangat jelas baru-baru ini adalah karena Ibrahim yang merangkak dan tiba di dapur saat ia sedang memasak.


"Ya udah, masuk sana. Sampai ketemu sore nanti," kata Bara.


Dul mengangguk dan memutar tubuhnya berlari menuju kelas. Dalam perjalanan menuju kelasnya ia melemparkan pandangan ke lapangan basket. Masih pagi dan beberapa siswa sudah bermandi peluh di lapangan. Lagi-lagi Dul meringis membayangkan berada di kelas dan bermandi keringat bahkan sebelum pelajaran dimulai.


Langkah kaki Dul baru tiba di ambang pintu kelas saat seorang temannya menghampiri. "Hari ini kamu duduknya bakal pindah. Tadi Bu Guru sudah masuk dan bilang kamu tukeran tempat duduk sama si anak baru."


Dul melongok ke kursinya yang sudah diduduki oleh murid perempuan yang akhir-akhir ini menimbulkan keluhan di antara sesama temannya di kelas.


"Ada masalah baru?" tanya Dul.


Teman laki-laki Dul mengangguk. "Katanya kalau duduk di belakang, dia enggak bisa liat tulisan di papan tulis dengan jelas. Padahal anak orang kaya. Masa enggak bisa beli kacamata. Kan, tinggal minta ke bapaknya. Anak orang kaya," bisik teman Dul.


Tak ingin berlama-lama di depan pintu, Dul langsung masuk ke kelas dan duduk di kursi yang sebelumnya ditempati anak baru. Sudah seminggu sejak murid pindahan masuk ke kelasnya, berbagai komplain berdatangan dari teman-temannya di kelas. Mulai dari anak baru yang sombong, tidak mau berbaur, jarang mau ikut ngobrol, sampai dengan cardigan yang selalu dikenakannya di kelas pun menjadi permasalahan bagi teman-temannya. Pagi tadi Dul malah sudah ikut komplain soal murid baru yang terlalu lama keluar dari mobilnya saat di depan pagar.


Dul tak mengatakan apa pun. Masih pagi dan kursi yang ditempatinya sekarang tidak ada masalah. Ia bisa mentertawakan dirinya sendiri kalau protes hanya karena hal sekecil ini, pikirnya.


"Abdullah," panggil seseorang.


Suara itu nyaris tak terdengar saking pelannya. Dul mendongak dan menoleh ke kanan kiri. Tak berpikir kalau si anak barulah yang memanggilnya.


"Manggil aku?" tanya Dul, memandang anak baru yang rambut sebahunya tertutup cardigan berwarna pink.


Anak perempuan itu mengangguk. "Iya, kamu. Makasih karena mau tukeran tempat duduk." Murid perempuan itu harus menoleh ke kiri dan sedikit ke belakang untuk bisa melihat Dul dari tempatnya.


"Oooh, ini ... enggak masalah," sahut Dul, menarik senyum tipis sekilas dengan satu sudut mulutnya. Ia lalu lanjut membuka isi tasnya dan mengeluarkan buku pelajaran pertama hari itu.


"Makasih," ucap anak perempuan itu nyaris tak bersuara. Cukup baik karena tak mempermasalahkan perpindahan tempat duduk. Tapi ucapan terima kasihnya disambut sangat dingin. Tak ada tanda-tanda persahabatan sama sekali, pikir anak perempuan itu.


To Be Continued