
Dalam sisa perjalanannya tadi ke rumah sakit, Dul mengisinya dengan banyak diam dan berpikir. Perasaan bersalah pada ibunya semakin merayap di hatinya. Apa benar yang ia khawatirkan sama dengan yang dipikirkan ibunya? Atau ada maksud lain? Apa yang harus dikatakannya nanti selain minta maaf? Ada banyak orang di sana. Ada Pak Wirya, juga ada adik perempuan Bara.
Dul melangkah dengan pikiran kosong. Tadinya ia memastikan bahwa dirinya hanya mampu meminta maaf saja. Selebihnya seperti biasa ia hanya mampu diam. Namun, melihat ibunya terbaring dengan raut khawatir, pertahanannya runtuh. Suaranya tercekat saat memeluk lengan ibunya yang ditempeli selang infus.
Tiba-tiba Dul rindu sekali bergulung di pelukan ibunya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia tidur ditepuk-tepuk pelan. Akhir-akhir ini ia dan ibunya memang jarang berbicara dari hati ke hati. Kesibukannya mengikuti masa-masa akhir di sekolah dan ketatnya jadwal Bimbingan Belajar membuat ia pulang ke rumah dengan tubuh lelah dan perut lapar.
"Maafin Ibu, Dul .... Kamu jangan sakit hati sama Ibu. Kamu pasti tau maksud Ibu apa," ucap Dijah.
Maksud? Maksud yang mana? Apa maksud soal ngomong kalau aku bukan anak Ayah? Atau ... maksud yang lain? Yang dulu sering diomongin Ibu?
"Tau, Bu...tau. Kita harus jaga nama baik Ayah, kan? Biar Ayah enggak malu ngambil kita jadi keluarga? Maafin aku, Bu...."
Dul sesegukan. Tak tahu apa maksud ibunya. Ia memilih kalimat yang pernah didengarnya dan terasa pas diucapkan dengan situasinya saat itu. Begitu banyak yang harus diingat. Ia tak tahu lagi. Malam itu ia letih dan mengantuk. Sudah terlalu banyak air mata yang ditumpahkannya. Namun, tak menyangka kata-kata yang dituturkannya barusan mengguratkan kekecewaan di raut Bara.
Sejenak Bara hanya berdiri di dekat Pak Wirya. Sempat bertukar pandang dengan ayahnya itu. Pak Wirya menunjuk jam di pergelangan tangannya dan mengangguk pada Bara.
"Ah ... iya," gumam Bara, mengingat kalau hari sudah larut dan malam itu Pak Wirya akan membawa Dul pulang dan menginap di rumah. "Sebentar," kata Bara, berjalan mendekati Dul dan berdiri di sebelahnya.
"Jah, Ayah mau bawa Dul pulang." Tangan Bara mengusap kepala Dijah dengan lembut. "Kalau besok kamu baik-baik aja dan kontraksinya hilang, kamu bakal diperbolehkan pulang. Jadi, malam ini kamu istirahat, ya. Dul juga keliatan udah capek," ucap Bara.
Dijah menengadah. Mengangkat tangan untuk menyentuh tangan Bara di kepalanya. Lalu pandangannya berpindah ke wajah Dul. "Iya, Dul. Ibu sampai enggak merhatiin kamu keliatan secapek itu. Malam ini Ibu tidur di sini, ya. Besok Ibu pasti pulang. Nanti kalau nyampe rumah, jangan mandi. Ini udah larut malem. Cuci muka aja. Bajunya...."
"Ada Ibu, Jah. Di rumah ada Ibu. Ada Mbok Jum juga. Dul juga udah besar. Kamu jangan mikir serumit itu. Dul enggak akan ngerepotin siapa pun. Denger Mas, ya."
Nada bicara Bara penuh penekanan. Dul menegakkan tubuh dan mengusap sisa air matanya. malam itu tak ada pertanyaan lagi. Ia pasti akan benar-benar dibenci kalau sampai bertingkah lagi.
"Ayah sama Dul naik taksi aja," ujar Pak Wirya.
"Bawa mobilku aja. Enggak apa-apa." Bara merogoh kunci mobil di kantongnya.
"Enggak, ah. Udah tua, kok, males nyetir rasanya." Pak Wirya cemberut seraya menggeleng.
"Lagi manja nih. Aku anterin, deh. Ayo," ajak Sukma, menggandeng tangan Dul dan melingkarkan tangannya yang lain di lengan Pak Wirya.
"Kita bertiga pulang dulu. Istirahat yang cukup, semoga besok udah bisa makan malam bareng-bareng semuanya." Pak Wirya melambai dari pintu ruang rawat sebelum menghilang di baliknya.
Sepeninggal Pak Wirya, Sukma dan Dul, Bara dan Dijah tinggal berdua saja di ruangan itu. Keduanya saling pandang sejenak dan Bara menarik napas cukup panjang sebelum akhirnya menempati kursi yang tadi diduduki Sukma.
"Baru nyadar kalau Mas-nya belum ganti baju? Belum mandi, belom makan? Terus kalau Mas ngomong gitu pasti kamu mewek lagi. Trus nanti ngomong kalau semua salah kamu. Karena kamu Mas belom sempat mandi, karena kamu Mas belom makan. Gitu, kan?"
"Kok Mas jadi ngomelin aku," kata Dijah. "Aku cuma ngomong gitu aja. Jawabannya ternyata panjang," sungut Dijah.
Walau mengerucutkan mulutnya, Dijah memandang wajah lelah Bara. Meneliti tampilan pria penunggang motor besar berwarna merah yang dulu gigih meluluhkan hatinya. Ternyata, pilihannya dulu membuka hati pada sosok seorang Bara tidak salah. Pria itu melebihi ekspektasinya sendiri.
Bara duduk menumpukan kedua sikunya di paha. Pakaiannya hari itu sama seperti sebelum-sebelumnya. Ia masih nyaman dengan jeans, kemeja berbahan flanel dengan kaos di dalamnya. Sepasang sneakers dengan logo tiga garis yang menjadi favorit sejak dulu, ikut menyelaraskan tampilannya.
Bara meraup wajahnya dengan telapak tangan. Matanya sudah terasa perih karena mengantuk dan lelah. Kelelahan yang ia tahu tak ada hubungannya dengan menjemput Dul. Ini soal yang lain.
"Mas enggak apa-apa, Jah. Ini bukan kali pertama Mas keluar untuk urusan darurat. Mas ini pers, wartawan, jangan khawatir soal itu. Soal Dul ... kayanya Mas harus negasin lagi ke kamu. Kalau kita pulang ke rumah, jangan bicarakan apa pun dengan Dul. Biar Mas aja. Kamu cukup percaya Mas aja, Dijah .... Kamu itu istri Mas, Dul anak Mas. Jangan ngomongin soal malu, enggak pantes, dan lain-lainnya itu. Mas yang memutuskan membawa kamu, Dul, kalian berdua masuk ke hidup Mas. Jadi bagian diri Mas. Apa pun yang terjadi dengan kalian sekarang, itu tanggung jawab Mas."
"Aku cuma takut Dul berontak di depan Mas, di depan Ayah. Aku takut, Mas. Lebih baik Dul marah dan berteriak ke aku ketimbang teriak ke Ayah...."
"Dul enggak akan melakukan itu ke Mas dan Ayah. Mas tahu pasti kalau Dul enggak akan bertingkah kaya gitu. Mas percaya sama Dul, Jah. Kamu juga harus percaya ke Dul." Nada bicara Bara sangat lembut penuh bujukan.
"Mas yakin?" Dijah menatap Bara menunggu jawaban.
"Mas yakin Dul enggak akan sekasar itu. Andai Dul jahatin orang, itu jelas salahnya Mas yang kurang pandai mengajarinya. Mas kepala rumah tangga, kepala keluarga. Jangan ambil apa yang udah jadi tanggung jawab Mas, Dijah .... Percaya Mas," lirih Bara, mencondongkan tubuh dan meraih tangan Dijah. Ia melingkupi tangan yang ditusuk jarum infus itu dengan genggaman dua tangannya.
"Maafin aku, Mas. Perasaanku amburadul karena Mas ngomong laki-laki itu mau ketemu Dul. Sejak kapan dia peduli dengan Dul? Aku tau pasti sikapnya itu cuma untuk mempersulit aku," ujar Dijah.
"Kita, Dijah. Kita. Bukan mempersulit kamu, tapi kita," ralat Bara. "Sayang Mas, kan? Cinta sama Mas?" tanya Bara, merentangkan tangan Dijah dan mempertemukan telapak tangan mereka.
Dijah mengerucutkan mulut dan bersiap menumpahkan tangisnya lagi. Bara segera mencubit pelan pipinya.
"Ya cinta," jawab Dijah.
"Kalau gitu jangan nangis lagi, kasian ini. Kasian ini si bungsu kita." Bara mengusap-usap perut Dijah berkali-kali.
"Iya," Dijah menyusut air matanya lagi dengan kerah daster. Sekarang tepian leher dasternya sudah dipenuhi macam-macam hal.
Tangan Bara masih berada di perut Dijah. Tatapannya terarah pada tiap usapan yang dilakukannya. Bayi laki-laki dalam perut itu menggeliat seakan menyadari kehadirannya. "Jah ... apa pun yang kamu inginkan dari orang lain, lakukan untuk diri kamu lebih dulu. Jangan khawatirkan Mas. Khawatirkan diri kamu. Karena apa pun yang Mas lakukan bakal sia-sia selama kamu belum selesai dengan diri kamu sendiri."
To Be Continued