
Karena rasa penasaran dengan hal apa yang akan dikatakan Fredy selanjutnya, Dul memandangi wajah pria itu.
"Untuk yang lalu-lalu, Bapak enggak bisa bilang Bapak menyesal. Karena penyesalan enggak akan mengubah apa pun." Fredy tersenyum kecut. "Semua sudah terlambat, Dul," sambungnya.
Dul menunduk.
Harus ngomong apa?
Ia sedang bimbang. Keheningan di ruangan itu menjadi kentara. Dul merasa Fredy terus memandanginya. Hal yang membuat kepalanya semakin tertunduk. Ada kegelisahan akan ucapan yang akan dikeluarkan Fredy . Pasti akan didengar semua orang di sana. Dul merasa akan sedikit malu kalau Fredy mengucapkan hal tidak terduga.
"Dul ...," panggil Fredy.
"Ya?" Dul mendongak.
"Bagaimana juga ... Bapak seneng ngeliat kamu pakai baju bagus ... rapi. Kamu makin ganteng." Fredy melihat sekilas pada Pak Wirya. Pria tua itu tersenyum dan mengangguk pada Fredy. Entah kenapa Fredy spontan ikut mengangguk. Seakan ia turut senang karena pria tua di sebelah Dul terlihat menyetujui apa yang dikatakannya barusan.
"Ibu kamu sehat?" tanya Fredy akhirnya. Kali ini, bukan Dul yang menunduk. Tapi dirinya. Sulit sekali menahan diri untuk bertanya hal itu. Harusnya ia malu, tapi untuk kepuasan dirinya yang terakhir kali tampaknya ia harus menyingkirkan rasa malu itu.
"Ibu sehat. Di rumah sama Mima. Biasanya jam segini Ibu baring di sofa sambil ngemil. Enggak lama lagi bakal operasi buat ngelahirin adik. Ayah bilang adikku nanti laki-laki. Aku seneng punya adik laki-laki. Aku bakal punya temen sekamar."
Penuturan panjang Dul soal ibunya keluar begitu saja. Lancar dan tak terbendung. Hal yang membuat Fredy terhenyak, tapi tetap menyimak.
"Mau punya adik lagi, ya?" tanya Fredy.
Dul mengangguk. "Kata Ayah namanya udah ada. Tapi enggak dikasi tau sekarang," sambung Dul tersenyum. Saat membicarakan soal keluarga, hati Dul selalu merasa hangat.
"Bapak udah memastikan semuanya." Fredy langsung berdiri dari kursinya. Semua orang terperanjat. Termasuk Bara yang langsung melangkah ke depan dan Heru ikut maju menahan lengan adik sepupunya.
"Lepasin," bisik Bara, memegang lengan Heru.
"Fredy enggak ngapa-ngapain. Cuma berdiri," sahut Heru.
"Udah, Dy?" tanya kakak laki-laki Fredy yang sudah ikut berdiri.
"Sudah, Kang," jawab Fredy, berbalik tanpa mengatakan apa pun pada Dul. Dengan langkah cepat Fredy menuju pintu. Saat melewati Bara, Fredy menoleh, "Titip salam sama dia," ucap Fredy, melanjutkan langkahnya menuju luar. Kakak laki-lakinya menyusul tergopoh-gopoh.
Pak Wirya menepuk pelan bahu Dul yang seketika membuat bocah itu menoleh. "Dul, enggak apa-apa. Sana," pinta Pak Wirya.
Dul mengangguk mantap dan berlari keluar ruangan.
"Bapak ...!" panggil Dul. Suaranya menggema di lorong. Fredy menghentikan langkahnya dan berbalik. Wajahnya penasaran dengan apa yang akan disampaikan Dul.
"Ada apa?" tanya Fredy. "Kamu sudah bisa pulang. Enggak baik lama-lama di sini," kata Fredy. Kali ini ia sedikit leluasa karena tak banyak pasang mata yang mengawasinya.
"Aku dan Ibu baik-baik aja, Pak. Aku seneng tinggal sama Ayah. Akung dan Uti juga baik banget sama aku. Pakdhe juga ngemong dan peduli. Mima ... adikku yang perempuan memang cerewet. Tapi dia juga baik sama aku. Kalau ada jajanan enggak pernah pelit. Sekarang aku lagi rajin belajar buat masuk SMP favorit yang dipilihkan Ayah."
Fredy terlihat menelan ludah susah payah. "Bagus. Kamu harus bisa jadi apa yang kamu mau," kata Fredy.
"Bapak mau ke mana?" tanya Dul.
"Mau jalan-jalan yang jauh. Bapak bosen di dalam ruangan terus. Bilang ke ibumu, Bapak enggak akan ganggu lagi."
Dul mengangguk-angguk. Meraih tangan kanan Fredy dan meletakkannya di dahi. "Hati-hati di jalan, Pak."
Mata Fredy terlihat memerah. "Ah ... kamu ini." Ia lalu berbalik dan meninggalkan Dul. Dari belakang terlihat ia mengusap wajahnya berkali-kali.
Bapak cuma jalan-jalan. Kalau ada yang nanya Bapak. Aku bakal bilang kalau Bapak cuma jalan-jalan.
To Be Continued