
"Aku sebenarnya enggak pernah mikirin laki-laki itu lagi. Andai semua kenangan masa lalu aku dan Dul bisa dihapus, aku mau, Mas. Aku enggak mau inget-inget lagi." Air mata Dijah mengalir keluar.
"Tapi enggak mikirin itu bukan berarti kamu udah memaafkan," lirih Bara. Sorot matanya mengiba. Perkataan yang di telinganya sendiri pun terasa menyakitkan. Memaafkan? Apa ia sendiri sudah memaafkan Fredy atas yang diperbuat laki-laki itu pada Dijah?
Sampai detik itu, Bara belum memaafkan satu pukulan atau satu cercaan Fredy pada Dijah dan Dul. Belum. Itu terlalu berat. Ia memang golongan pria yang mudah meneteskan air mata. Namun, ia juga tipe orang yang sedikit sulit memaafkan orang lain.
Bayangan Fredy yang memukuli dan memaki Dijah dengan sebutan pelacur masih tergambar jelas. Wajah Fredy yang penuh cemooh bahkan hingga laki-laki itu sudah dipenjara, mungkin akan diingatnya sampai mati.
"Aku? Maafin Fredy?" Dijah tercenung. Mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Masih menggenggam tangan Bara yang terhenti mengusap perutnya.
Mereka berdua terdiam beberapa saat. Larut dalam pikiran masing-masing yang menyoalkan kata 'maaf'. Bahkan Bara sendiri sejujurnya belum bisa merealisasikan maaf itu untuk Fredy. Tapi ini soal Dijah dan masa depan mereka. Kemarahan Dijah akan masa lalunya turut berpengaruh ke dalam tiap masalah nantinya.
"Jah ...," panggil Bara lagi. Dijah menatapnya. "Ayah pernah bilang ke aku kalau memaafkan itu bukan persoalan diri kita ke orang lain. Bukan untuk orang lain. Tapi untuk kita. Diri kita sendiri, Jah. Kayanya ... udah saatnya kita memaafkan yang sudah lewat. Biar kita semua bisa lepas dari perasaan ini."
"Maafin?" Lagi-lagi Dijah mengulangi perkataan itu dengan setengah melamun.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Dul duduk di belakang Pak Wirya dan Sukma yang sedang menyetir. Diam dan setengah terkantuk-kantuk. Dul sempat mendengar kalau Pak Wirya datang ke rumah sakit dengan menumpangi taksi. Pria tua itu juga sempat mengatakan kalau matanya tak lagi terlalu awas jika menyetir di malam hari.
Sejatinya itu ucapan yang tidak mengandung maksud apa-apa. Namun, sedikit hati Dul masih merasa kalau ia sudah membuat keributan di tengah-tengah keluarga yang tenteram itu. Dalam hatinya berharap kalau Bu Yanti sudah tidur lelap bersama Mima dan tak perlu bertemu dengannya malam itu. Ia sudah mengantuk dan tak siap kalau ditanyai banyak pertanyaan. Dan walaupun tak ditanyai macam-macam, tak mungkin Bu Yanti tak menatapnya.
Lampu teras sudah dimatikan, Dul sedikit lega mengetahui rumah sudah begitu sepi. Ternyata, bayangan cepat-cepat membersihkan diri dan masuk ke kamar untuk beristirahat, harus terjeda dengan pertanyaan Bu Yanti di ambang pintu. Ternyata, wanita tua itu belum tidur.
"Pakai celana pendek kayak gini. Udah malem. Bisa masuk angin. Harusnya kalau mau bepergian ganti pakaian dulu," ucap Bu Yanti dengan nada biasa saja.
Perkataan Bu Yanti seakan mengomentari Dul yang baru pulang berjalan-jalan. Dul diam saja. Sedikit bingung bagaimana caranya kabur dari rumah dengan pakaian yang begitu terencana. Mengingat kejadian sore tadi, Dul jadi membayangkan bagaimana kalau ia sempat berganti pakaian lebih dulu? Bisa-bisa saat menghabiskan waktu beberapa menit memilih pakaian, pikirannya sudah tidak senekad itu.
"Udah makan?" tanya Bu Yanti. "Kalau belum, makan dulu sebelum tidur."
"Udah, Uti. Tadi makan bakso sama Robin," jawab Dul, masih berdiri di ambang pintu.
"Ya udah, masuk dan bersih-bersih, ya. Terus langsung tidur. Itu mukanya udah capek banget," ujar Bu Yanti.
"Iya, Uti," jawab Dul, berjalan mempercepat langkahnya menuju ke belakang. Menyambar handuknya yang berada di jemuran kecil di dekat taman belakang dan masuk ke kamar mandi.
Seusai mandi, tak ada yang mengatakan hal apa pun lagi pada Dul. Pak Wirya duduk di sofa depan televisi dan Bu Yanti santai menonton. Keduanya tidak terlibat pembicaraan apa pun saat Dul melintas untuk masuk ke kamarnya.
Malam itu Dul tidur dengan memimpikan banyak hal. Berpindah-pindah dengan cepat antara satu mimpi dengan yang lain. Di dalam mimpi itu pun, ia merasa lelah sekali.
Pagi harinya, semua terlihat normal dan baik-baik saja. Entah apa yang dikatakan Bu Yanti pada Mima hingga gadis kecil itu tak menanyakan hal apa pun pada Dul. Tidak menyinggung sama sekali soal kepergiannya kemarin sore. Dul menyadari hal baru saat itu. Walau orang-orang sekelilingnya memaklumi apa yang ia perbuat, sisipan rasa malu tetap membuatnya risi.
Harusnya aku enggak kayak gitu kemarin sore ....
Sepiring besar nasi goreng tersaji di depannya. Setelah mencicipi dua sendok, Dul menyadari kalau nasi goreng itu bukan buatan Mbok Jum. Rasanya berbeda. Pasti Bu Yanti yang masak, pikirnya. Dan benar saja tebakannya, Pak Wirya menyinggung hal itu.
"Nasi gorengnya enak, Bu. Rasanya udah lama enggak makan nasi goreng buatan Ibu." Pak Wirya mengusap lengan Bu Yanti yang berdiri di sebelahnya.
Bu Yanti terlihat senang dengan pujian itu. Senyumnya merekah. "Denger apa kata Akung? Nasi goreng buatan Uti enak. Jadi, kamu harus habiskan. Makan bakso sama teman kemarin pasti enggak bikin kenyang," ucap Bu Yanti.
"Iya, ini mau diabisin. Masakan Uti memang selalu enak," tukas Dul dengan harapan kalau Mbok Jum tak mendengar ucapannya.
Dul menekan rasa malunya dengan berpura-pura melupakan kejadian sore lalu. Ia mengerjakan tugas rutinnya seperti biasa. Menyiram bunga, menyapu halaman dan membuang sampah sisa memasak. Pagi itu ia tidak meletakkan sampah di depan rumah. Sengaja berjalan ke pembuangan di ujung jalan untuk berlama-lama berjalan kaki dan meresapi pikirannya sendirian. Masalahnya belum selesai. Ia masih harus berhadapan dengan seorang pria dalam penjara yang ingin bertemu dengannya.
Isi pikiran Dul itu seakan terbaca oleh Pak Wirya. Seusai mandi dan bersantai, Mima baru saja membawa buku 'Gunting dan Menempel' ke ruang keluarga, tapi Bu Yanti menggandeng gadis kecil itu untuk berbelok menuju teras belakang.
"Mima main sama Uti aja di belakang. Itu mau digunting, kan? Terus ditempel? Gunting dan lemnya mana?"
Suara Bu Yanti semakin menghilang ke belakang. Dul mengamati punggung Bu Yanti yang menghilang di dapur. Ia lalu beralih pada Pak Wirya yang duduk santai di sebelahnya. Saat itu Dul merasa kalau Bu Yanti dan Pak Wirya memang benar-benar kompak. Keduanya seakan berkomplot untuk menahannya di ruang keluarga bersama Pak Wirya.
"Jadi, gimana? Masih kecewa dengan Ibu?" tanya Pak Wirya.
Kecewa?
Mata Dul membulat. Benar kata Pak Wirya. Yang dirasakannya pada sang ibu bukan kemarahan. Tapi kekecewaan.
To Be Continued