Dul

Dul
080. Sebuah Saran



Dul sedang menunggu apa yang akan dikatakan Heru selanjutnya. Dirinya sedikit malu dengan perkataan Heru yang terlalu gamblang. Tapi ternyata pria itu terlihat santai saja. Beberapa menit berlalu, Heru masih diam menikmati menyetir di jalanan yang perlahan padat. Dul memperbaiki posisi duduknya dengan gerakan kecil. Berharap kalau Heru segera menyadari kalau ia sedang menantikan kelanjutan ucapan pria itu.


"Udah mulai macet," gumam Heru.


Dul mengangguk membenarkan. Entah Heru melihatnya atau tidak.


"Yang Pakdhe mau bilang tadi ... soal naksir-naksiran cewe," Heru menoleh Dul sekilas lalu kembali memandang ke depan, "enggak apa-apa, kok. Kamu enggak perlu malu. Bukannya normal?"


"Ha?" Dul menatap raut wajah Heru dari samping.


"Soal naksir cewe, enggak apa-apa. Pakdhe tau kamu selama ini berusaha jadi anak baik dan Mas yang baik buat Mima dan Ibra. Kalau kenal cewe, terus Deket, itu bukan berarti kamu langsung jadi anak enggak baik. Pakdhe bukan membenarkan soal pacaran di masa-masa sekolah, tapi kenal dekat dengan teman perempuan itu enggak apa-apa. Normal. Pakdhe malah resah kalau kamu enggak tertarik dengan perempuan."


"Tertarik, kok," potong Dul cepat. Menyadari suaranya sedikit keras, Dul langsung merendahkan suaranya, "Aku tertarik. Mana mungkin enggak tertarik. Apalagi Kak Lova tadi manis," ungkap Dul jujur.


"Lova pasti enggak suka dipanggil kakak," koreksi Heru meringis. "Namanya juga masa remaja. Dinikmati sewajarnya itu enggak masalah. Jangan sampai terlambat. Karena ada waktunya nanti kamu harus serius dengan untuk mencapai cita-cita kamu."


"Pakdhe dulu pacaran? Mmm, sewaktu SMA."


"Enggak pacaran. Kayanya waktu itu cuma deket aja. Pakdhe sedikit kurang suka kalau terlalu sering dicari-cari. Jadi, dulu Pakdhe sukanya aktif di kegiatan OSIS. Pakdhe ini tenar, Dul. Itu cewe-cewe pada rebutan mau bawain tasnya Pakdhe kalau Pakdhe lagi ikut demo. Mungkin terkesan Pakdhe seperti jagoan. Jagoan itu harus misterius dan susah dijangkau." Heru tersenyum lebar memperlihatkan seluruh giginya pada Dul.


Tak sadar Dul tergelak melihat ekspresi wajah Heru. "Kalau Ayah?"


"Mmmm, Ayah kamu itu tipe seriusan. Dilihat dari gayanya kaya enggak mau pacaran. Tapi, kalau udah suka sama satu cewe, ya itu terus diuber sampai dapet. Kalau udah dapet, ya itu terus sampai Uti uring-uringan. Akung, sih, santai. Malah zaman SMP, Akung itu udah nemenin Ayah kamu jemput murid perempuan yang disukainya untuk berangkat sekolah bareng. Akung hebat, kan?" Heru kembali menoleh pada Dul.


"Akung memang hebat," ucap Dul membenarkan.


"Jadi ... ilmu yang mau Pakdhe sampaikan itu sederhana aja. Jadilah versi terbaik diri kamu sendiri. Menahan diri itu sangat baik, tapi menikmati masa muda juga hal yang wajar."


Percakapan dalam perjalanan pulang itu menjadikan pemikiran tersendiri buat Dul. Apa yang dikatakan Heru ada benarnya. Ia memang kerap terlalu berhati-hati bersikap. Penuh pertimbangan. Sedikit khawatir dengan label anak baik dan penurut yang sudah sejak lama disandangnya.


Dul tak berkeinginan masuk ke berbagai organisasi di sekolah karena ingin pulang sekolah tepat waktu. Tak mau kalau ibunya sampai mengirimkan pesan dan bertanya ia sedang ada di mana. Atau juga, ia tak ingin Bara yang mencari dan menjemputnya. Baginya, menjadi kakak laki-laki yang baik bagi Mima dan Ibra memang sangat penting.


Ada pertaruhan atas kepercayaan yang diberikan Bara dan Pak Wirya dalam semua keputusannya untuk bersikap.


Usai percakapan itu, muncul keinginan Dul untuk masuk ke salah satu organisasi ekstrakurikuler dan memiliki kesibukan seusai jam pelajaran. Muncul juga keinginannya untuk menyapa Lova lebih dulu yang dua hari terakhir semakin sering terlihat melintas di depan kelasnya.


Dan untuk pertama kali dalam masa kehidupannya sebagai seorang pelajar, Dul terlambat masuk sekolah. Suatu pengalaman mendebarkan sekaligus keseruan yang konyol baginya.


Hari itu, Dul yang biasa menaiki angkot dan berjalan kira-kira seratus meter untuk tiba di gerbang sekolahnya, memutuskan untuk menunggu Robin dan Putra di warung ketoprak keluarga sahabatnya itu. Ia ingin sesekali nongkrong dulu sebelum masuk sekolah. Ingin berjalan beriringan sambil bersenda gurau sepanjang jalan bersama Robin dan Putra.


Alasan lainnya apalagi kalau bukan karena ingin bertemu Lova lebih awal. Biasanya Lova diantar mobil keluarganya sampai ke depan gerbang. Namun kemarin Dul melihat gadis itu turun di simpang jalan karena bertemu dengan temannya. Siapa tahu hari itu ia dan Lova bisa jalan bersama saat udara pagi masih sejuk dan aroma segar cologne masih menyeruak di hidung mereka. Tak ada salahnya kalau ia mencoba, pikir Dul.


Dan tentu saja untuk alasan itu, Dul tak menyampaikan pada dua sahabatnya. Namun, bukan Robin namanya kalau tidak mengungkapkan isi pikirannya terang-terangan.


"Aku curiga kalau tiba-tiba orang berubah kebiasannya. Pasti bakal kejadian yang enggak-enggak. Kau jangan macam-macam," kata Robin, menyenggol lengan Dul dengan sikunya.


"Enggak akan ada yang berani macem-macem kalau temenan sama kamu," sahut Dul santai.


"Ayo, masuk. Aku udah selesai dari tadi. Enggak ada nunggu siapa-siapa, kan?" Putra mengedarkan pandangan pada dua temannya.


"Enggak ada. Ayolah," kata Robin.


"Kau jangan main-main, Dul. Kalau dikunci gerbang itu, payah kita masuk nanti," tukas Robin.


"Iya, sebentar lagi," sahut Dul, menyentil-nyentil debu dari lututnya.


Walau terlihat santai, Dul sudah mulai gelisah di bangkunya. Kepalanya merunduk berkali-kali ke jendela rumah putra untuk melongok jam dinding.


"Jadi, kapan kita bisa pergi mancing? Rumah paklik-ku ada kolam ikan. Duduk di gubuk dan mancing seharian pasti asyik," kata Putra.


"Mancing pulalah katanya. Gak ada usahanya mau langsing sikit pun," gerutu Robin.


"Mancing itu berguna untuk melatih kesabaran," jawab Putra.


"Kau yang sabar. Orang gak sabar nengok kau," sambar Robin.


Saat mereka sedang sibuk melontarkan candaan, dari kejauhan seorang teman yang mereka kenali menyeberangi jalan dengan tergopoh-gopoh.


"Itu si Yoseph!" seru Robin.


"Iya, itu Yoseph," kata Putra. "Memangnya kenapa?"


Dul berdiri dari duduknya. "Waduh, apa kita enggak denger bel?"


"Memangnya kenapa?" tanya Putra lagi. Bingung kenapa dua sahabatnya panik saat melihat Yoseph si putra Flores muncul.


"Kalo jumpa si Yoseph pagi-pagi itu artinya pertanda buruk. Kita terlambat. Si Yoseph ini terlambat setiap hari. Masak gak ko perhatikan. Matilah kita," sungut Robin.


"Iya, tha? Waduh." Putra menyandang ranselnya buru-buru.


"Ya Tuhan ... kenapa kalian masih di sini? Apa kalian bertiga mau merebut predikat saya?" Yoseph berjalan santai dengan dua bungkusan besar di tangannya.


"Gak ada yang selera sama predikat terlambatmu itu. Pintu gerbang pasti udah dikunci. Ayo, kau bawa kami lewat jalan rahasiamu selama ini." Robin mengambil satu bungkusan Yoseph dari tangannya.


"Hati-hati, Bin. Keripik dagangan saya jangan sampai hancur. Kasian Mama saya bangun tiap pagi untuk siapin itu."


"Sini aku bawa satu bungkusan kamu. Pagi ini cukup tunjukkan jalan masuk ke sekolah," Dul mengulurkan tangannya meminta satu bungkusan Yoseph.


"Demi Tuhan ... mimpi apa saya semalam. Dul yang cool ini akhirnya bicara juga dengan saya. Tidak usah, yang ini saya pegang sendiri saja. Ayo, ikut saya." Yoseph masuk ke jalan menuju sekolah, kemudian langsung berbelok ke kiri masuk ke sebuah gang kecil.


Dul meringis memandang Robin dan Putra. Beruntung karena kedua sahabatnya itu tidak menyemprotnya di depan Yoseph. Bisa-bisa sebutan cool yang dilontarkan Yoseph menguap seketika.


"Lewat mana ini, Seph? Makin tak enak perasaanku." Robin menatap curiga dengan jalanan yang semakin semak di depannya.


"Dari ladang warga, terus sedikit melewati rawa," Yoseph berhenti untuk menoleh ke belakang. "Ya Tuhan ... lindungi kami anak-anakmu. Yoseph sebenarnya tidak ingin terlambat ya Tuhan .... Hari ini bantu Yoseph bawa teman-teman untuk masuk lewat belakang tanpa terlihat penjaga sekolah. Tuhan ...." Yoseph berdiri menatap Dul, Robin dan Putra dengan tatapan iba.


"Seph!" panggil Robin dengan wajah putus asa. "Gak bisa nanti aja kau berdoanya? Ke semak-semak mana kau bawa kami?"


To Be Continued