
Sesaat sebelum Heru menghampiri Bara, ia sudah mengitari bagian depan sekolah itu dan membaca semua isi mading. Melihat Bara masih berbicara serius bersama Dul, ia memutuskan mendatangi Putra, Robin dan ibunya. Ketiganya tengah berbincang seru.
“Jadi … memang bukan Dul yang mengawali?” tanya Heru.
“Oh, bukan, Pakdhe. Walau memang Dul yang nendang pertama kali, tapi muncung anak itu pun memang cocok kali disepakkan. Maju kali mulutnya,” jawab Robin.
“Samalah kayak kau,” kata Mak Robin memandang anaknya.
“Ih, Mamak jangan kayak gitu.” Tangannya menepuk pelan lutut Mak Robin. “Muncungku memang kayak kaleng, tapi gak pernah aku ngata-ngatain orang kayak si ripki itu. Ikut masuk ke kelas muncungku, Mak. Gak kuletakkan di luar, jadi dia ikut belajar,” balas Robin.
“Menjawab ajalah kau,” ucap Mak Robin pelan. Ekor matanya melirik Heru yang masih betah berdiri di depan mereka.
“Tapi kalau enggak dicegah terakhir kali, mungkin masalahnya bisa berakhir di kantor polisi. Anak yang namanya Rifky itu ngambil kunci T dari dalam jok buat mukul Dul. Akhirnya malah dia yang jatuh dan Dul berhasil megang kunci itu di atas badannya. Cara Dul mandang Rifky udah beda. Bisa-bisa … malah Dul yang khilaf melukai anak itu. Bisa parah kalau sampai kejadian,” jelas Putra dengan tenang.
“Makasih, ya, Put. Makasih karena udah dateng dan melerai. Udah nelfon Ayah Dul juga.” Heru yang berdiri di sebelah Putra, merangkul bahu remaja itu.
“Itu tugas sebagai sahabat, Pakdhe,” sahut Putra.
Heru mengangguk-angguk menyetujui perkataan Putra. Ia lalu mengedarkan pandangannya bergantian antara Putra dan Robin. “Jadi … sebab perkelahian Dul dan murid tadi apa?”
“Oh, itu karena si Lova, Pakdhe. Dia curhat sama si Ripki itu. Nangis-nangis si Lova karna liat Dul sama Nisa lagi…. Ah, gak taulah. Gitulah pokoknya,” kata Robin.
“Oh, oke …,” ucap Heru, menyadari kalau Robin menahan ucapannya karena kehadiran ibunya di sana.
Selesai urusan bersama pihak sekolah, Bara pulang mengendarai motor dan Heru menumpangi taksi bersama Dul. Di dalam taksi, Dul tak berani memulai obrolan apa pun. Ia sadar sekali lagi akan melalui sesi tanya-jawab bersama Heru dengan metode yang berbeda. Kalau Bara memilih bertanya langsung, biasanya Heru akan mengawali pertanyaann dengan sebuah cerita kejayaan masa lalunya.
Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan dugaan Dul.
“Berkelahi itu biasa. Kamu jangan langsung ngerasa jadi anak bandel. Sebagian remaja pasti pernah mengalaminya. Meski enggak semua adu fisik, diem-dieman atau saling olok itu dianggap lumrah. Lumrah kalau masih disertai batasan-batasan. Dulu, anak seusia kamu hari ini bisa bertengkar, besok udah baikan. Biasa. Beda dengan zaman sekarang. Entah kenapa lingkungan menuntut kompetisi yang semakin ketat. Beberapa malah jalannya enggak sehat dan membuat sebagian anak tertekan. Fenomenanya begitu, Dul.”
“Aku memang baru kali ini bertengkar, Pakdhe. Sekalinya bertengkar malah adu fisik,” ujar Dul seraya meringis mengerling Heru di sebelahnya.
“Lucunya kadang-kadang pemicu bertengkarnya itu masalah cewe.” Heru tertawa kecil. “Kalau dipikir-pikir lucu juga. Tapi ternyata masalah cewe itu pun enggak cuma dihadapi remaja. Sampai dewasa persoalan yang sama bisa aja terulang. Zaman kuliah Pakdhe masih berantem karena cewe. Jadi, kamu enggak usah kecil hati.” Heru mengangguk pelan dengan tangannya mengetuk-ngetuk lutut.
“Karena murid sekolah lain itu ngejek Annisa. Aku enggak suka,” ucap Dul.
“Mirip Ayah kamu banget, ya. Dia itu jarang pacaran. Tapi kalau pacaran lama. Kalau ngebela pacarnya … Uti aja bisa kalah. Ayah kamu juga jarang berantem. Sekalinya berantem ….” Heru mengangkat bahu. Rasanya tak mungkin memberitahu Dul kalau Bara menghajar ayah kandung remaja itu setengah mati karena laki-laki itu memukul ibunya.
Hati Dul sedikit mengembang karena ucapan Heru. Ia mirip Bara? “Masalah di sekolah tadi … Pakdhe yang tanda tangan?” tanya Dul. Ia baru menyadari kalau Bara bahkan belum sempat masuk ke ruang BK dan masalah mereka sudah selesai begitu saja.
“Iya, Pakdhe yang tanda tangan. Pakdhe kenal kamu, jadi tanda tangan perjanjian damai itu enggak sulit. Lagian kalau langsung disuruh salaman langsung minta maaf … Pakdhe enggak yakin masalahnya langsung selesai. Bisa-bisa dilanjut lagi. Mending pakai materai dan perjanjian. Biar orang tuanya yang ngingetin mereka setiap hari.”
“Repotnya, sih, enggak. Tapi tetap aja … semoga lain kali enggak terulang. Pakdhe enggak mau kamu terlibat masalah besar. Enggak sampai dua tahun lagi … kamu harus mulai latihan buat mempersiapkan diri untuk ikut tes Akademi Angkatan Udara. Gitu, kan? Soalnya Ayah kamu udah ngobrol banyak. Eyang dan Uti juga udah tau. Semua percaya kalau Abdullah pasti bisa.”
Dul mengangguk membenarkan perkataan Heru. Harusnya ia tidak terlibat masalah besar. Keluarga besarnya berharap kalau ia bisa menjalani semua tahap ujian masuk AAU tanpa masalah. Harusnya ia juga mengingatkan perkataan Pak Wirya padanya. “Akung dukung kamu. Latihan fisik nanti, Akung temani. Biar Dul makin semangat.”
Tiba di rumah, sepeda motor ayahnya sudah terparkir dengan rapi. Dul tak tahu seberapa cepat Bara yang berusia empat puluh tahun mengendarai motor legendarisnya yang tidak boleh dikendarainya keluar dari komplek.
Sore itu, Dul mengetahui kalau alasan Bara ternyata lebih dari sekedar larangan orang tua yang khawatir anaknya terluka. Ternyata semua itu untuk mimpi-mimpinya juga. Demi dia. Seorang anak laki-laki yang suatu hari mengatakan ingin menjadi penerbang karena ingin membawa ibunya pergi jauh agar tidak disakiti.
Rasanya ia ingin cepat-cepat masuk dan memeluk Bara.
“Ibu … ini Mas udah pulang!” Suara Mima yang melengking saat melihat kedatanga kakak laki-lakinya, segera menyadarkan Dul bahwa ia tidak bisa langsung memeluk ayahnya. Ia harus melalui satu pengadilan tertinggi di rumah itu. Ibunya.
Dijah muncul ke ruang tamu dan langsung menyongsong Dul di ambang pintu. Dijah belum menyapa putranya. Tangannya sibuk meraba tubuh Dul, memutar anak laki-lakinya depan dan belakang dan mengamatinya dari atas ke bawah.
“Selain ini, apa lagi yang luka?” Dijah mengusap dagu Dul yang lecet.
Dul menggeleng. “Enggak ada. Ini aja,” sahutnya pelan.
“Sana mandi dulu. Terus makan. Udah sore,” kata Dijah.
“Bu … maaf,” ucap Dul. Ibunya memang belum mengatakan apa pun, tapi ia tetap harus mengucapkan itu.
“Ayah udah cerita semua. Katanya Ibu enggak boleh ngomel lagi karena di sekolah Ayah udah marah-marah ke kamu. Di taksi tadi Pakdhe Heru juga pasti udah ngomong panjang lebar. Jadi, Ibu enggak akan nambah-nambahin. Nanti lukanya Ibu obati,” kata Dijah.
“Makasih Ibu,” ucap Dul, melingkarkan tangan di bahu Dijah, lalu meletakkan dahi sejenak di belakang kepala ibunya sebelum melanjutkan langkah menuju kamar. “Di sekolah tadi Ayah udah marah-marah?” gumam Dul. Ia tersenyum saat tiba di kamar. Pasti itu sebabnya pria ganteng yang dipanggilnya Ayah itu harus tiba di rumah lebih dulu untuk menjelaskan asal luka di dagunya.
Dul meletakkan ransel di meja dan duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan ponsel dan mencari nama Lova melalui daftar pesan. Dul lalu mengetikkan sebaris kalimat.
Lova
Besok aku ga jadi ke rumah kamu. Aku dihukum karena berkelahi tadi.
Beberapa menit tertegun memandangi ponsel, Dul langsung mendapat balasan dari Lova.
Kita putus
To Be Continued