
Malam itu Dul tidak mendapat kabar lagi dari Mima. Dijah juga sulit dihubungi. Beberapa kali ditelepon tapi belum menjawab. Akhirnya Dul menelepon Heru. Heru mengatakan bahwa ia sedang menuju rumah sakit tempat di mana Bara dibawa. Belum mengetahui seberapa parah dan apa yang penyebab Bara bisa kecelakaan.
“Apanya Ayah yang sakit, Pakdhe? Kenapa Ayah bisa jatuh? Ayah dari mana? Kenapa enggak bawa mobil? Kenapa naik motor?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan Dul saat Heru menjawab teleponnya. Meski sudah mendengar sebait penjelasan dari Mima, Dul belum bisa mempercayainya begitu saja. Terlebih Mima mengatakannya sambil menangis.
“Pakdhe lagi menuju ke rumah sakit, Dul. Nanti kalau sampai di sana, Pakdhe urus Ayah dulu, ya. Nanti Pakdhe hubungi kamu lagi. Tetap konsentrasi untuk sidang besok. Ayah bakal baik baik aja. Percaya Pakdhe. Konsentrasi, ya, Dul. Jangan terlalu dipikirkan untuk saat ini. Ayah pasti baik-baik aja.”
Tak puas dengan penjelasan Heru yang terkesan buru-buru. Dul kembali melontarkan pertanyaan. Untungnya Leo terlihat tidak terganggu dengan suaranya. “Akung…Akung gimana, Pakdhe? Apa Akung tau kalau Ayah kecelakaan? Akung jangan sampai tau, Pakdhe. Nanti Akung malah lebih lama sembuhnya,” pesan Dul pada Heru. Ia menyadari suaranya yang bergetar.
“Ayah mungkin sedang capek aja, Dul. Selebihnya nggak apa-apa. Enggak ada masalah apa-apa di rumah. Kamu pokoknya kasih yang terbaik buat Ayah dan Akung. Tunggu kabar dari Pakdhe besok. Kamu harus semangat untuk sidang pantukhir. Setelah tutup telepon langsung tidur, ya. Percayakan semua sama Pakdhe. Semua bakal baik-baik aja.”
Dul merasa dirinya sedang mengalami dejavu. Dialog yang sama dengan orang yang berbeda belasan tahun yang lalu. Bara juga pernah mengatakan hal serupa padanya. “Kamu percaya Om, kan?” Hal itu dikatakan Bara saat ia bertanya di mana ibunya.
Keluarga Satyadarma selalu memintanya untuk percaya. Meski dengan berat hati Dul mengakhiri pembicaraan telepon dan membaringkan tubuhnya. Pikiran Dul terbang ke mana-mana. Membayangkan bagaimana Dijah yang syok dan kebingungan. Dijah yang selama ini selalu bertumpu hampir semua hal pada Bara. Semua hal di rumah mereka berjalan lancar karena Bara memanjakan mereka semua. Dul juga membayangkan suara Mima yang menangis tadi. Mengatakan bahwa sudah lama tidak bertemu Bara dikarenakan Bara yang sibuk bekerja dan menjaga Pak Wirya di rumah sakit. Belum lagi Ibrahim yang pasti Minda dipeluk tiap menangis. Keadaan keluarga mereka pasti sedang kacau sekali.
Andai saja Dul berada di antara keluarganya, Dijah atau adik-adiknya mungkin tidak akan sebingung itu. Dul membayangkan ibunya pasti akan terus menangis.
Matanya Dul mulai terpejam, tapi air matanya menetes. Apa yang terluka di tubuh ayahnya? Apakah parah atau hanya luka ringan? Apa ayahnya bisa kembali sehat seperti sedia kala dengan dengan cepat? Dul memikirkan semua hal itu sebelum ia mulai jatuh tertidur. Sampai keesokan paginya sirine pertanda mereka harus berkumpul di aula utama terdengar mengisi lorong.
Sebelum berkumpul, Dul sudah mengecek ponselnya. Ada pesan dari Heru.
‘Ayah baik-baik saja. Saat ini sedang dirawat. Kamu konsentrasi untuk sidang. Beri kami semua kabar terbaik.’
Saat membaca itu, Dul tertegun sejenak. Apa mungkin keluarganya melakukan hal itu agar ia tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan Bara? Rasanya saat itu sulit sekali berpikiran positif kalau ia belum mendengar langsung suara Bara. Pikirannya malah menjalar ke mana-mana. Membayangkan kalau Bara terbaring dan belum bisa bicara langsung padanya. Kenapa bukan Bara langsung yang meneleponnya. Karena tidak punya waktu lagi, Dul cepat-cepat menyimpan ponselnya dan berlari keluar pergi bergabung bersama teman-temannya.
Di aula utama, semua taruna mengenakan celana pendek berwarna putih tanpa atasan yang menutup tubuh mereka. Dul merasa kedua tangannya dingin bagai tak dialiri darah dan jantungnya berdebar lebih cepat. Saat itulah penentuan apakah mereka akan melanjutkan atau berhenti.
Sebelum memimpin sidang Pantukhir, KSAU terlebih dahulu menemui para calon taruna (Catar) yang sudah berbaris di depan Balai Prawiratama. Sebelum memberikan arahan singkat, para Catar membuat yel-yel yang membuat KSAU kagum.
“Pagi ini akan dimulai Pantukhir yang akan saya pimpin sendiri. Karena keterbatasan tempat, tidak semua kalian akan diterima. Untuk itu saya mohon maaf. Namun ketahuilah bahwa kalian semua rata-rata sudah baik,” ungkap KSAU.
“Kepada yang terpilih saya mengucapkan selamat, dan bersiap melaksanakan pendidikan di Magelang. Apabila kalian tidak diterima, saya minta kalian untuk ikhlas. Masih ada kesempatan untuk mencoba kembali dan memperbaiki yang kurang-kurang. Tetap semangat karena kalian adalah generasi yang penuh harapan,” kata KSAU memberikan semangat.
Dul memejamkan matanya beberapa detik. Semua sudah dilaluinya dengan usaha terbaik yang ia miliki. Materi seleksi tingkat pusat yang terdiri dari administrasi, screening oleh POM, Litpers (Penelitian Personel), Psikologi, Kesamaptaan Jasmani, juga AKA dan TPA. Semuanya.
Hari itu, ia merasa beruntung sekali bahwa Bara dan Pak Wirya mengusahakan yang terbaik untuk masa depannya. Pemberian nama belakang dan perbaikan atas semua identitas yang disandangnya melalui sidang pengadilan.
Dulu, dulu sekali ia tidak mengerti kenapa Bara bolak-balik ke pengadilan bersama pengacara yang dipilihkan Heru untuk mengurus hal sepele hanya sekedar penambahan nama.
Namun, ternyata hal itu sangat besar artinya sekarang. Ia adalah anak seorang redaktur harian berita digital. Ia juga cucu tertua dari seorang praktisi pendidikan yang cukup terpandang dengan sederet panjang gelar di belakang namanya. Dr. Wirya Satyadarma S.Psi, MS/AT, MFCC, DCH. Psikolog bersertifikasi Art Theraphy yang juga memiliki gelar Marriage Family and Child Counselor. Dan pria tua bijaksana itu sedang terbaring sakit.
Dul hampir menangis saat menceritakan soal keluarganya di sesi wawancara. Semoga tidak cengeng bukan menjadi salah satu syarat, pikir Dul.
Setelah melalui tahapan itu semua, di suatu pagi mereka semua berdiri dengan pakaian yang sama dengan kedatangan mereka di tempat itu. Pagi yang cukup ricuh karena mereka kemudian terbagi-bagi ke dalam kelompok berbeda. Sebagian diminta berkumpul di tempat lain dan sebagian lagi berbaris di depan aula. Dul sampai kehilangan Leonardo Yepa. Ia menyeret kopernya dan berdiri seraya celingukan ke tiap baris di sebelahnya.
Lalu, di tengah keriuhan itu, terdengarlah suara pria gagah di depan mereka yang mengatakan bahwa seluruh taruna yang berdiri dalam kelompok itu dinyatakan lulus. Mereka semua ambruk dalam euphoria kebahagiaan. Semua taruna mencari ponselnya untuk menghubungi anggota keluarga.
Dengan pandangannya yang mengabur karena air mata, Dul menggulir ponselnya. Mencari nama Bara. Orang pertama yang ingin ia beritahu kabar bahagia itu. “Halo…halo? Ibu? Mana Ayah? Kenapa hape Ayah, Ibu yang jawab? Aku lulus, aku lulus. Ayah mana?” tanya Dul.
Jawaban dari Dijah tak terdengar. Hanya suara tangis.
“Bu! Ayah mana?” tanya Dul lagi.
“Ayah baru keluar ruang operasi. Keadaannya udah stabil. Ada pendarahan sedikit di kepalanya. Tapi Ayah udah enggak apa-apa…. Kamu lulus, Dul .... Ayah pasti senang. Nanti kalau Ayah udah bangun, Ibu langsung bilang ke Ayah.” Lalu Dijah kembali menangis. Ia pun ikut menangis terisak-isak. Ia tidak malu. Semua taruna yang lulus sedang menangis bahagia dan larut dalam keharuan.
Di antara riuhnya suara orang-orang yang bicara dengan keluarganya, Dul mendapat tepukan di bahunya. Ia berbalik.
“Abdullah Putra Satyadarma! Kita lulus menjadi Prajurit Karbol tingkat satu!” seru Leonardo Yepa sambil memberi hormat.
Dul membalas hormat Leonardo dengan air matanya yang belum surut. Keduanya lalu berpelukan dan menangis bersama.
To Be Continued