
“Enggak usah kejauhan mimpinya. Rencanamu kemarin gimana?” tanya Putra, menyenggol lengan Robin.
“Sebelum ngomong soal rencanaku, aku mau tanya sama kelen. Apa cuma mamakku aja yang kayak gitu di rumah. Kenapa mamak-mamak itu payah kali dikritik? Mau dia aja yang betol. Apa pun yang aku bilang selalu salah. Pokoknya apa yang dibilang mamakku harus betol. Apa itu salah satu syarat jadi mamak-mamak?” Robin memandang Putra dan Dul bergantian.
“Ibuku juga gitu. Tapi penjabarannya enggak terlalu seperti yang kamu bilang itu, Bin. Namanya juga ibu-ibu. Kekhawatirannya itu banyak. Apalagi biasa lihat kita pergi sekolah tiap hari, sekarang pagi-pagi udah lihat kamu buka penanak nasi, siang buka penanak nasi lagi, ya, pasti bikin emosi.” Putra bicara sambil mendekatkan toples kerupuk ke dekatnya. Satu tangannya yang lain meletakkan gelas dua gelas dan mengisinya dengan air dari ceret di meja.
“Kau pun selalu pande cakap yang bikin aku emosi,” kata Robin. “Entah kenapa aku rindu jadi anak sekolah lagi. Waktu masih sekolah, hari Sabtu-Minggu kalau tidur siang pasti dibiarkan aja sama mamakku. Sekarang kalau tidur siang terus, mamakku bawaannya mau bakar kamarku aja. Liat muka aku kayaknya mau marah aja. Padahal aku enggak cakap apa-apa.” Robin semakin lesu.
“Yakin rindu sekolah? Udah lupa perasaan kalau guru ngomong, ‘baiklah kalau enggak ada yang nanya, giliran saya yang tanya ke kalian’. Gimana? Kangen juga?” Kali ini Dul ikut tertawa karena kenangan masa-masa mereka sekelas dulunya. Perkataan keramat dari guru itu selalu berhasil membuat semua murid kembali menunduk membaca buku catatan.
Kedatangan Robin dan Putra itu sedikit banyak menyenangkan hati Dul. Bukannya merasa senang dengan kegalauan yang sedang dirasakan dua sahabatnya, tapi ia merasa masalahnya belum apa-apa. Semua punya masalah dan semua orang punya cara berbeda menyikapinya. Robin yang menutupi segala kegundahannya dengan candaan, juga Putra yang membungkus kekhawatirannya dengan kata-kata positif yang lebih sering sebenarnya ditujukan buat diri sendiri.
“Jadi, pengumumannya besok ya, Dul?” tanya Putra.
Dul mengangguk. “Besok, Put.”
“Itu hasil tes Samapta aja?” Robin ikut menimpali.
“Tes Samapta dan tes postur,” jawab Dul.
“Ih, udah dipastikan aku gak akan lulus kalo itu. Apalagi belakangan ini postur yang makin ahli kubuat cuma postur rebahan,” cetus Robin, bangkit menuju lemari piring. “Kalo gitu, dah bisalah kita makan, kan? Aku suka kali kalo Mamak Dul masak soto.”
“Alasan,” gumam Putra.
“Heh! Bukan alasan. Masakan Mamak Dul ini udah sering kumakan dari aku kecil. Mamak Dul ini sikit banyak mendukung masa pertumbuhanku,” jelas Robin, terkekeh-kekeh membuka penanak nasi.
“Kalau lulus gimana, Dul? Aku kepengin merayakan sama-sama. Aku berharap banget kamu lulus. Setidaknya … satu dari kita harus ada yang jadi orang besar,” kata Putra.
“Sekarang pun kau udah jadi orang besar, Put. Masa gak sadar,” timpal Robin.
Dul tergelak. “Kalau aku lulus, aku traktir kalian.”
“Oke, mantap,” sambut Robin.
“Kalau lulus, kamu juga bakal jarang bisa ketemu kita-kita, kan, Dul?”
“Udahlah. Kalo Dul lulus, abis makan-makan kita gak usah jumpa sementara waktu. Aku juga mau masukkan proposal sama bapakku. Doakan aku, aku doakan kelen. Yang penting kita saling mendoakan. Itu yang penting,” tambah Robin. Ia sudah berdiri dengan piring berisi nasi dan membuka tudung saji.
Malam harinya Dul harus menyambut kepulangan Bara sendirian ke rumah. Dijah, Mima dan Ibra tidak ikut bersamanya.
“Ibu mana, Yah?” tanya Dul di ambang pintu.
“Besok libur, Uti enggak kasi pulang. Enggak ada temen katanya. Ayah pulang buat nemenin kamu,” jawab Bara.
“Mbok Jum ikut nginap juga?”
“Ikut. Ibra enggak ngasi Mbok Jum pulang. Katanya harus ikut juga. Uti sampai protes. Katanya Ibra lebih sayang Mbok Jum ketimbang Uti.” Bara melepaskan sepatunya di depan pintu.
“Kenapa enggak bilang biar aku nyusul ke rumah Akung? Akung sehat, kan?” tanya Dul penasaran.
“Akung masih gitu. Ya … sehat. Enggak apa-apa Ibu di sana. Mima juga masih mau main sama Uti. Lagian … besok pengumuman, kan? Jam berapa?” tanya Bara.
“Online, lewat email juga. Enggak tau jam berapa. Nanti aku sering-sering cek,” jawab Dul, mengiringi langkah Bara ke dapur. “Ayah udah makan?” tanya Dul.
“Sore tadi udah aku hangatkan. Sebenarnya enggak sisa banyak. Tadi Robin dan Putra ikut makan.”
“Bagus kalau enggak sisa banyak. Ibu suka cemberut kalau masakannya sisa.” Bara menarik kursi yang biasa ditempatinya.
Selanjutnya kebisuan menguasai ruang makan itu. Bara yang lelah bekerja dan terbebani pikiran soal kesehatan Pak Wirya, banyak menenggelamkan diri dalam pikirannya. Dul yang mengerti bahwa Bara butuh waktu dengan isi pikirannya, duduk menikmati kebisuan itu. Sampai akhirnya dua lelaki itu berpisah masuk ke kamar masing-masing.
Agenda keesokan harinya tak ada yang penting selain menunggu pengumuman Dul. Namun, pukul sembilan pagi Bara bersiap-siap seperti hendak ke kantor di hari kerja. Dul yang sedang menyiram tanaman di halaman, seketika mematikan keran air.
“Kan, hari Sabtu … katanya enggak kerja,” tukas Dul. Kalau kemarin ada Putra dan Robin yang menemaninya, berbeda dengan hari itu. Ia belum memiliki janji.
“Pakdhe ngajak Ayah ketemu rekanan bisnis. Katanya enggak lama. Nanti kalau urusan Ayah beres, kamu Ayah jemput. Malam ini kita nginap di rumah Akung.” Bara menyalakan mesin mobil dan meletakkan ranselnya ke jok tengah.
Dul mengangguk, tapi kemudian teringat sesuatu. “ Nanti aku boleh pergi nggak, sama Robin dan Putra? Tapi nggak sekarang, sih … janjinya nanti kalau aku lulus. Jadi … memang belum pasti,” ucap Dul sedikit ragu.
“Boleh. Enggak apa-apa. Kalau kamu pergi artinya, kan, kamu lulus. Ayah nggak apa apa. Pulangnya langsung ke rumah Akung, ya. Kita nginap di sana. Jangan lupa bawa pakaian ganti,” pesan Bara.
Dul dan Bara sudah menyepakati janji mereka. Dul menyelesaikan pekerjaan rumah yang biasa ia kerjakan dengan hati yang lebih ringan. Entah kenapa setelah mendengar Bara mengatakan itu, kepercayaan dirinya sedikit lebih baik.
Menjelang siang rasa optimisnya kembali diuji. Dul melihat notifikasi email di ponselnya. Jantungnya berdebar tak keruan. Tak mau berlama-lama, Dul langsung menggulir ponselnya. Beberapa detik kemudian, jantungnya terasa akan meledak karena kebahagiaan. Debaran itu tidak cukup lama membuatnya penasaran.
“Yah! Ayah udah buka email? Iya … email aku,” seru Dul. Emailnya memang tersambung ke ponsel Bara. Harusnya Bara juga sudah tahu kalau langsung melihat notifikasi yang sama. “Iya, itu! Aku lulus! Ayo, aku kasih tau ibu sekarang. Ayah sampaikan ke Akung!”
“Jangan—jangan sekarang. Sebentar lagi ayah selesai. Kamu jadi pergi bareng teman-teman kamu? Kalau mau pergi sama Robin dan Putra, enggak apa-apa. Pulangnya Ayah jemput. Kita kasih kejutan buat Akung dan Uti. Buat Ibu juga,” tambah Bara dari seberang telepon. Suaranya terdengar sangat antusias.
Dul menyetujuinya. Ia bergegas menyiapkan ransel dan memasukkan dua pasang pakaian ganti. Selesai dengan ransel ia ke teras belakang dan menaburkan sedikit makanan ikan koi ke kolam. Langkahnya semakin tegap percaya diri. Ia merasa istimewa karena masuk diantara puluhan dari ribuan pelajar yang mencoba seleksi daerah Akademi Angkatan Udara.
Dul baru saja menarik handuk dan menyampirkannya ke bahu saat ponselnya kembali berbunyi. Dari bara lagi.
“Dul, kamu belum pergi, kan? Masih di rumah, kan? Ayah jemput sekarang. Cepat siap-siap.” Nada suara Bara sudah berbeda dari sesaat yang lalu.
“Masih mau mandi. Kenapa? Ada apa? Ayah kenapa?” Pertanyaan itu berhamburan begitu saja dari mulut Dul.
“Akung dalam perjalanan ke rumah sakit. Akung enggak sadarkan diri. Kamu Ayah jemput sekarang,” pesan Bara.
Dul meremaas ponselnya. Jantungnya pun terasa seperti ditusuk. Baru saja ia tersenyum lebar dan memekik kegirangan karena berita bahagia. Sekarang … sosok yang ingin diberinya kejutan malah tidak sadarkan diri.
“Akung … aku lulus. Akung jangan kenapa-kenapa,” ucap Dul, bergerak panik masuk ke kamar mandi.
To Be Continued
Pesan :
Terima kasih sudah menunggu Dul. Terima kasih buat semangat dan motivasinya. Ada hal-hal lain yang harus juskelapa prioritaskan sampai harus merehatkan DUL sejenak.
Yang kemarin-kemarin masih ada DM juskelapa menyarankan agar cerita Dul jangan ada adegan 21+, coba kembali ke Part 1 dan baca yang sudah ditulis. Setiap novel juskelapa dibubuhi keterangan lengkap soal genre dan rating di awal-awal bab.
Novel DUL memiliki rating 13+
Terima kasih atas perhatiannya.