Dul

Dul
140. Perkenalan Tak Disengaja



“Halo ….” Heru memandang Dul dan Annisa bergantian. Sepasang muda-mudi itu membeku di tempatnya masing-masing. “Apa enggak ada yang mau jawab Pakdhe? Atau … enggak mau ngenalin siapa wanita cantik di rumah keluarga Bara Wirya Satyadarma ini?”


Baik itu Dul atau Annisa, keduanya tersadar dan nyaris bergerak serentak untuk mendekati Heru.


“Pakdhe, kenalin ini Annisa. Teman Dul mulai dari SMP. Annisa, kenalin ini Pakdhe. Pakdhe aku ini kakak sepupu dari Ayah.” Suara Dul datar dan kaku.


“Pak Letda jangan kaku banget. Ada yang cemberut karena disebut teman dari SMP.” Heru menaikkan sebelah alisnya pada Dul.


“Bukan teman biasa,” timpal Dul langsung.


Percakapan itu terhenti ketika anak kunci diputar dari dalam. Wajah Bara muncul. “Kenapa enggak ada yang ngetuk pintu? Tamunya udah ngobrol di luar.” Bara membuka pintu lebar-lebar. “Ayo, Nisa masuk. Ibu di dalam.”


Annisa mengangguk pada Bara dan Heru, lalu masuk ke rumah tanpa melihat Dul. Kepergiaan Annisa ke dalam, diamati tiga orang pria yang kemudian bertukar pandang.


Heru kemudian menggeleng-gelengkan kepala. “Ckckck … itu yang dinamakan wanita sedang ngambek. Ngerti enggak? Keliatan wajahnya gimana, kan? Salah sendiri, sih …. Mesti ngomong pakai kata ‘teman’.”


Bara merangkul pundak Dul dan membawajya ke dalam rumah. “Enggak usah khawatir. Ayah juga teman Ibu. Teman hidup, teman berantem, teman ngobrol, teman bercanda. Kata Akung, cinta dalam rumah tangga itu sebentar aja. Selebihnya sepanjang hidup bersama bakal diisi dengan maaf, kerja sama dan saling mengerti.”


“Udah ngomongin rumah tangga aja. Ayah Bara keliatannya udah kepengin banget menimang cucu.” Heru terkekeh-kekeh saat masuk ke rumah.


Mulai dari ruang tamu, Heru celingukan. Masuk ke ruang makan, lalu berjalan ke teras belakang, lalu kembali lagi ke ruang makan. Matanya seperti mencari-cari sesuatu. Dul yang mengekori Heru akhirnya sadar dan bertanya, “Pakdhe nyari apa?”


“Pasti nyari anak gadis.” Dijah ke meja makan meletakkan semangkuk besar semur ayam. “Anak gadis diminta nganter lauk dan sayur ke rumah Budhe Tini dari satu jam yang lalu. Sampai sekarang belum balik.”


“Satu jam? Memangnya ngapain di rumah Budhe Tini satu jam? Apa harus ditelepon?” Heru mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telepon Mima. “Ibra juga enggak ada. Baru sadar sepi banget dari tadi. Ibra ke mana?”


“Ibra kemarin enggak dikasih pulang sama Uti. Katanya hari ini, kan, makan malam di sini … biar sekalian diantar. Sebentar lagi mungkin sampai.” Bara ikut mengangkat piring-piring yang diminta Dijah untuk dibawakan ke meja makan. “Di sini sibuk nyari anak-anak. Anak sendiri dikasih izin kuliah di luar negeri. Padahal anak cuma satu-satunya.”


Heru tertawa kecil. “Kalau enggak karena beasiswa dan bujukan Fifi, aku juga enggak bakal biarin anakku kuliah ke luar negeri.” Masih sambil memegang ponselnya, Heru menarik salah satu kursi dan duduk menghadapi hidangan. Pandangannya setengah tertegun ke mangkuk yang berisi semur ayam. “Apa emang udah saatnya kita nunggu cucu aja, Ra?” Lalu pandangan Heru bertemu dengan Dul yang sedang meletakkan segelas air putih di dekat Annisa. Dul langsung berjengit dengan mengangkat kedua alisnya. Bara terkekeh.


“Budhe Fifi jam berapa ke sini?” Dul mencoba mengalihkan perhatian kedua pria dewasa di dekatnya dari bahan obrolan menikah dan anak. Bukan ia tidak suka membicarakan hal itu, tapi dengan Annisa yang berada di dekat mereka, ia khawatir bakal sulit mengontrol reaksinya.


“Budhe Fifi sebentar lagi datang. Tadi keluar bareng teman-temannya. Temannya ada yang resign karena ikut suami tugas ke luar negeri. Ngomong-ngomong kamu ngapain duduk di sini? Sengaja menghalangi pandangan Pakdhe ke Annisa? Ternyata kamu posesif juga, ya.” Heru tertawa kecil memandang sepasang muda-mudi di dekatnya. Ia baru menyadari kalau tubuh Dul yang tinggi menghalangi pandangannya dari Annisa yang sedang menunduk melipat tisu.


Dul dan Annisa seakan kompak tak menjawab. Hanya tersenyum menyentuh tiap benda yang berada di permukaan meja.


“Jadi Mima belum boleh dipanggil, nih? Aku punya cokelat buat dia.” Heru yang memang sedang dilanda bosan, terlihat uring-uringan.


“Mima terus ….” Dul bergumam tanpa melirik Heru.


“Masnya, kan, udah bisa beli sendiri. Lagian … sekarang udah giliran Mas Dul yang jajanin cokelat buat adiknya, buat temannya ini juga.”


Jawaban Heru yang menyebutkan soal teman membuat Dul kelabakan. Wajah Annisa kembali cemberut. Dan sebelum Dul menyipitkan mata memandang Heru, pria itu sudah terkekeh-kekeh berlalu ke belakang. Sudah bisa dipastikan kalau Heru kini akan mengganggu Dijah dan Bara yang sedang sibuk di dapur.


“Pakdhe kalau mau telepon Mima, telepon sekarang aja. Udah lebih satu jam nganter makanan tempat Tini. Tiap ke sana lupa pulang. Malah betah.” Dijah mengangkat empat potong ayam yang baru selesai digorengnya.


Heru kembali mengeluarkan ponsel sambil menunjuk ayam goreng. “Paha ada yang punya?” tanya Heru.


“Paha punya Ibra. Jangan diambil. Mas sayap aja,” jawab Bara. “Ini masih panas banget, lho. Mas bisa tunggu di meja aja? Enggak perlu ngikutin kita berdua di sini. Macet ini,” kata Bara.


Mendengar omelan ayahnya, Dul menarik kursi yang tadi ditempati Heru. Ia lalu menepuk-nepuk sandarannya. “Pakdhe duduk aja. Sebentar lagi Budhe Fifi pasti datang. Akung, Uti dan Ibra juga bakal sampai. Tinggal Mima. Kalau mau telfon Mima sekarang, silakan.”


Bagai meminta seorang anak kecil mematuhi ucapannya, Dul menahan senyum karena Heru langsung manut. Heru duduk manis di sebelah Dul yang kemudian didatangi Bara dengan piring kecil berisi sayap ayam goreng yang asapnya masih mengepul.


“Nih, bisa dicemilin sekarang. Hati-hati masih panas. Ini tisunya, ini garpunya kalau enggak mau makan pakai tangan. Biar anteng dan enggak ganggu orang di dapur.” Bara menyodorkan tempat sendok ke depan Heru.


“Pakdhe nelfon Mima dulu, ah. Penasaran kenapa lama banget di rumah Budhe Tini. Memangnya Mima sering ke sana, ya?” Heru mulai mencari-cari nama Mima di daftar kontak.


Tok Tok Tok


“Budhe … ini Mima bawa lauk dari Ibu!” Mima berteriak nyaring di depan pagar. Siswi kelas satu SMA itu memakai jins dan kaus putih yang pas di tubuhnya. Rambut ikal kecokelatan dan pipi yang memerah karena panas membuat Mima terlihat sangat cantik dan juga … cerewet. Bibirnya mengerucut karena pintu yang terlampau lama dibukakan.


“Budhe!” teriak Mima lagi. “Budh—” Ucapan Mima terhenti. Tangan seseorang mengambil alih nampan yang sedang dipegangnya.


“Biar saya aja yang pegang. Kamu mau teriak lagi? Atau mau mencet bel di dalam sini?”


Seorang pria tampan dengan wajah angkuh menunjuk bagian bel yang biasa berada di balik tembok pagar bagian tengah.


“Pencet aja,” pinta Mima acuh tak acuh.


“Bisa geser?” Pria itu menggoyang dagunya. Jelas meminta Mima menyingkir.


Mima mundur dengan raut mencibir. “Silakan.” Mima mempersilakan dengan kedua telapak tangannya menengadah. Ia mengamati pria muda yang bersetelan jas di akhir minggu sore. Titik keringat di dahi pria itu tidak membuat sisiran rambutnya bergeser. Mima sempat mundur dua langkah untuk melihat pria itu datang dengan kendaraan apa. “Oh, naik sedan hitam,” gumam Mima pelan.


Pria di depannya terus meraba-raba bagian dalam tembok. “Mana belnya?” tanya pria itu dengan suara mengandung kekesalan.


“Belnya rusak. Udah lama. Makanya Om jangan sok tau! Om siapa, sih? Minggir, biar aku aja yang panggil Budhe Tini.”


“Berisik. Diem. Biar saya aja yang ketuk pagar. Kamu berdiri di situ aja. Kamu adiknya Dul, kan? Enggak inget dengan saya?” tanya pria itu.


Mima menggeleng. “Memangnya harus ingat?” Mima bertanya balik.


Pria itu tak mendengkus dan mulai mengguncang pagar. “Mbak Tini! Mbaaaak!”


“Berenti! Berenti! Baru pulang ke sini, dateng-dateng, kok, malah ngerusak pagar. Sebentar!” Teriakan Tini dari dalam rumah enggak kalah kerasnya. Tak sampai lima menit, pintu pagar terbuka dan sosok Tini muncul di depannya. Wanita itu langsung memeluk pria muda di depan pagar. Membuat Mima terperangah dan buru-buru mengambil kembali nampannya dari tangan pria itu. “Mbak kangen! Kamu—"


“Pssst! Budhe! Budhe!” Mima mengangkat alisnya. Memberi kode soal keberadaannya berada di sana. “Ehem! Budhe, itu siapa?” Mima memandang pria yang buru-buru merapikan dasinya.


“Ini Paklik Dayat. Apa enggak inget? Sini nampannya. Pasti berat. Ayo, semua masuk dulu.” Tini mengambil nampan dari tangan Mima dan melenggang ke dalam rumah. “Tutup pagarnya, Yat!” Teriakan Tini kembali terdengar.


“Paklik tutup pagarnya, ya ….” Mima nyengir pada Dayat.


“Sorry? Paklik?” ulang Dayat.


“Aku kira om-om, ternyata paklik-paklik,” cibir Mima. Gadis itu kemudian masuk mengikuti Tini.


Suara pintu pagar yang berdentang terdengar nyaris bersamaan dengan ketukan sepatu di teras. Mima kembali menoleh belakang. Dahinya mengernyit. Ingatan tentang sapaan ‘Paklik’ itu hanya singgah sedikit saja di kepalanya. Ia pernah merasa memanggil seseorang Paklik, tapi tidak terlalu ingat wajahnya. Apa pria itu adalah adik kandung Tini yang sudah lama sekali pindah dari rumah itu?


“Kapan sampai dari California? Dateng enggak ngasi kabar. Aku enggak ada masak. Untung Mima nganterin lauk.” Tini dan Dayat memandang Mima bersamaan. “Jadwal belajar dandan hari ini dibatalkan. Budhe mau ngobrol sama Paklik Dayat ini.” Tini berjinjit hendak menyentuh telinga adiknya, tapi Dayat mengelak.


“Enggak perlu dibatalkan jadwal dandannya. Aku enggak apa-apa. Aku langsung makan aja.” Dayat menunjuk nampan yang baru diletakkan Tini di meja makan. Ia menyempatkan diri menoleh Mima yang menghempaskan tubuh di sofa depan televisi. Dayat mendekati Tini yang sedang memindahkan lauk. “Mbak … itu Mima anak Mas Bara, kan? Kok, udah gede banget. So pretty. Udah punya pacar?” Dayat menunduk berbisik di telinga Tini.


“Pwiti…pwiti…. Your eyes! (Matamu!) Umurnya masih enam belas tahun. Umurmu dua kali lipat umur dia. Jangan macem-macem sama anak gadis satu-satunya keluarga Satyadarma. Kasiani aku. Dia punya Pakdhe yang sejak dulu aku kagumi, ayahnya pujaan wanita di kantor, masnya TNI AU, adiknya juga laki-laki. Kamu jangan nambah-nambah pikiranku. Memangnya Asih mana? Jauh-jauh kuliah magister ke California enggak dapat bulek? Malah ngelirik ABG. Jangan macem-macem pokoknya. Ayo, makan!” Tini mendorong Dayat agar menjauhinya.


“Mima … ayo makan bareng-bareng sama Paklik,” seru Dayat.


“Yat!” Tini merapatkan giginya.


“So pretty, Mbak ….”


“Ndasmu!” Meski memaki, Tini tak bisa mencegah langkah Mima memasuki ruang makan.


To be continued