Dul

Dul
070. Kesenangan Bersama



"Ganteng-ganteng gini dibilang Mamang. Gimana, sih Mbak-nya," Bara berkata sambil menepuk bahu Dayat.


"Tupoksiku di rumah memang sedang berada di tahap Mamang, Mas. Mang botol susu, Mang cebok, Mang mandiin, Mang manasin mobil," jawab Dayat.


"Kalau mau enggak kerja tapi tetap dikasi makan, masuk kandang aja kayak Puput. Itu juga mesti bangun pagi buat berkokok," timpal Tini seraya menyuapi dua anaknya bergantian.


"Berhubung aku sedang buru-buru, hari ini aku take away aja boleh, Mas? Mbak?" Dayat berdiri memeluk wadah plastikware. "Kalau makan di sini bakal buru-buru. Kenikmatan racikan tangan dan bumbu dari masakan-masakan lezat ini bakal sulit diresapi," tutur Dayat, memandang Dijah dan Bara bergantian.


"Ambil, Yat. Bawa aja," Dijah membenarkan letak tutup nasi kuning yang masih mengepulkan asap.


"Jadi, udah dapet pacar di kampus? Target nikah usia berapa?" Boy bertanya pada Dayat seraya berdiri mengambil sejumput kerupuk dari toples


"Pertanyaanmu udah kayak pertanyaan momen hari raya aja. Jangan tanya Dayat soal nikahnya kapan. Tanya lulusnya kapan dan tanya kapan bisa mulai mencicil pengembalian modal kuliah di kampus mahalnya." Tini mendengkus memandang Boy.


"Aku kira setelah jadi Mamang bakal gratis," gumam Dayat mulai mengisi wadah makannya dengan nasi kuning.


"Profesi Mamang itu baru cukup bayar bunganya," jawab Tini lagi. Dayat mengerucutkan mulut memandang Tini.


Bara terkekeh melihat reaksi Dayat. "Tenang, Yat. Maksud Mbak Tini itu baik. Bukan minta ganti modalnya, tapi biar kamu fokus kuliah yang serius. Kalau udah selesai, baru nyari pendampingnya." Bara berbicara seraya melangkah kecil ke kiri dan kanan, karena Ibrahim di gendongannya mulai memejamkan mata.


"Enggak ada cewe malah susah fokus, Mas. Pria dan wanita itu sudah diciptakan memang harus saling melengkapi. Entah itu sebagai teman, kekasih atau sekedar 'aku nyaman aja sama kamu'. Bener enggak?" Dayat balik bertanya pada Bara.


"Bener...bener." Suara seorang pria tiba-tiba menimpali. Semua mata melihat ke arah datangnya suara.


"Ohmaigat, si cambang ini beneran dateng," kata Tini.


"Banyak tamu enggak diundang hari ini," ujar Bara. "Mana tamu yang enggak diundang sealiran dan sepaham pula," tambahnya lagi.


"Aku boleh ikutan makan? Nasi kuning yang masih panas di meja keliatannya enak," Heru membungkuk membuka sepatu boots-nya yang bertapak tebal.


"Boleh, Mas. Boleh," seru Tini. "Kalau mau ikut disuapin, aku masih bisa nyuapin satu orang lagi. Sini duduk di sebelah anakku." Tini menambahkan kalimatnya dengan suara pelan.


"Kok pelan cakap kau tiba-tiba? Kau suapinlah dia. Takut kau?" tanya Mak Robin dalam bisikan. Tangannya juga sedang memegang piring berisi nasi kuning, semur daging, irisan timun, tomat dan kering tempe yang benar-benar terlihat lezat.


"Aku bercanda, lho, Mak. Kamu kalau mau aku suapin juga boleh. Tapi pake sendok semen, mau?" Tini terkikik-kikik lagi. "Mas-ku yang berlesung pipi dan bisa dinikmati sendiri sebentar lagi sampai sini," tambah Tini.


"Apa rupanya kado kau buat si Dijah? Sekeluarga kelen makan di sini. Lepas uang belanja kau," kata Mak Robin.


Tini mencibir. "Silakan tanya ke seluruh penduduk bumi. Kado apa yang paling berarti di dunia ini selain doa yang tulus? Kalau kado berupa benda, Mas Bara lebih dari sanggup buat beliin Dijah," sahut Tini tak peduli. "Lagian kami itu tetangga, lho, Mak. Saling memberi saling menerima itu udah biasa."


"Banyak kali cengkunek kau," sahut Mak Robin. (cengkunek : tingkah)


"Kamu bawa kado apa memangnya?" tanya Tini.


"Aku menukar kadonya dengan jasa informan percakapan Robin dan Dul. Cemana? Mantap kau rasa?" Gantian Mak Robin yang terkikik-kikik.


"Nanti aku bilang ke Robin biar hapenya dikasi password. Mamaknya usil," cetus Tini.


"Si Robin kelamaan tinggal di kandang ayam kayanya. Apa cita-cita Robin?" Tini mulai penasaran dengan perkembangan Robin yang dikenalnya sejak balita.


"Mau jadi peternak katanya," jawab Mak Robin.


"Ternak apa?"


"Babilah." Mak Robin tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan di wajah Tini.


"Selamat ulang tahun Mbak Dijah. Semoga selalu dilimpahi cinta yang tak berkesudahan dari keluarga harmonis ini. Diberikan rezeki bertubi-tubi biar menu-menu begini bisa sering kita nikmati sama-sama. Aku permisi dulu, ya." Dayat tersenyum manis memandang Dijah dan Bara bergantian. Suami istri yang dipandangnya terkekeh-kekeh mendengar ucapan selamat ulang tahun paling serius dari tamu tak diundang itu.


Keriuhan itu berlangsung sampai menjelang malam. Dul yang hari itu menyanggupi bahwa Dijah akan berbincang santai dengan teman-temannya, hari itu bertugas untuk mengemong dua bocah laki-laki dengan bantuan Robin. Sedangkan Mima, mengajak putri Asti bermain ke kamarnya. Dan Bara sendiri, sore itu mengukir sejarah baru dengan menidurkan Ibrahim tanpa harus menyusu pada ibunya. Bara meletakkan Ibrahim di box-nya dan menyalakan interkom bayi dengan senyum sumringah.


Acara kumpul-kumpul kawan itu berpindah ke ruang keluarga. Heru duduk di sofa tunggal dengan tangannya yang masih memegang piring yang berisi nasi kuning untuk kedua kalinya. Pria itu sangat menikmati menjadi pendengar setiap percakapan dan ikut tertawa tiap ada hal-hal yang dirasanya lucu.


"Pak Heru memang gitu. Di kantor juga doyannya gabung sama karyawan lain cuma untuk dengerin cerita dan ketawa." Asti berbisik pada Boy.


"Hidupmu udah jauh lebih baik dibanding waktu tiba di kandang ayam pertama kali. Gaya hidupmu jangan kembali ke yang dulu, Boy. Nanti hasil jerih payahmu enggak keliatan. Jangan dugem-dugem lagi," kata Tini.


"Aku enggak pernah dugem lagi, Tin. Ngapain aku dugem?" Boy balik bertanya.


"Ya siapa tau kangen mau denger musik sangkakala. Sayang duit kerja keras kalau dipake buat begituan."


Mendengar sepotong obrolan itu, Heru tergelak. "Musik sangkakala. Perbendaharaan kata Mbak Tini memang selalu kaya warna," ujar Heru.


"Mbak Fifi mana?" tanya Bara.


"Selesai breaking news jam sembilan malam baru bisa pulang. Dia baru jadi produser program berita itu. Jadi, penyakit perfeksionisnya enggak bakal bisa tenang kalau yang terakhir untuk hari ini belum tayang."


"Itu sebabnya jadi dua piring? Jatah Mbak Fifi dirapel di satu perut," kata Bara.


"Kalau ini karena laper dan enak," Heru menjawab santai. "Ngomong-ngomong...cabang roti bakar Boy sekarang udah berapa?" tanya Heru pada Boy.


Boy yang tadi sedang berbisik-bisik dengan Asti, spontan menegakkan tubuh. Nada suara Heru mirip seorang atasan yang sedang bertanya progress penjualan pada karyawannya.


"Yang dua kemarin dan sekarang lagi nyari-nyari tempat bagus buat buka cabang ketiga, Mas."


"Wah...keren. Selamat, Boy. Semoga dilancarkan sampai cabang yang ketiga berhasil buka."


"Tapi ... ya gitu, Mas. Masalah juga datang dan pergi sesuka hati. Hal-hal kecil yang kadang bikin kepikiran. Karyawan yang tiba-tiba mengundurkan diri sebelum ada penggantinya. Itu sebabnya aku juga mesti stand by terus ke mana-mana. Ujian hidup ada terus, Mas." Boy tertawa canggung menatap Heru.


"Semua orang ada ujian hidup, Boy. Tapi soalnya beda-beda. Makanya enggak bisa saling nyontek. Ya, kan, Mas?" Dijah mengerling Bara. Suami istri itu bertukar pandang dan tertawa terkekeh-kekeh.


To Be Continued