Dul

Dul
168. Kesan-kesan Mereka



Kalau diminta memilih salah satu hari paling sempurna dalam hidup maka Dul memilih hari pesta pernikahannya adalah salah satu hari paling sempurna.


Itu karena Dul tahu bahwa kenangan soal hari itu pasti terpatri jelas dalam ingatannya. Ia akan mengenang peristiwa itu sepanjang hidup. Wajah-wajah bahagia keluarga besar Satyadarma yang bercengkerama bak reuni.


Dari kejauhan Dul juga melihat antusiasme Bu Yanti menyambut rekan-rekan sejawatnya dari universitas. Dul menunduk dan berbisik di telinga Annisa. “Itu teman-teman Uti di kampus. Meski Uti udah lama pensiun, tapi masih rajin ngumpul bareng teman-temannya.”


Annisa ikut memandang ke tempat yang dituju oleh Dul. Wanita itu kemudian mengangguk. “Itu ngobrol apa aja? Keliatannya memang masih akrab banget.”


“Uti masih aktif ikut banyak kegiatan dari kampus. Masih sering diundang jadi pembicara di Dul menelengkan kepalanya. “Ngobrolnya asyik bener. Biasanya kalau udah gitu Akung cuma senyum dan duduk diam.” Ucapan Dul dibarengi tatapannya yang setengah menerawang.


Karena sorot mata Dul terus tertuju pada Pak Wirya dan Bu Yanti, Annisa bertanya, “Ada yang mau Mas Dul sampaikan ke Akung dan Uti?”


“Mmmm … kalau ada yang mau aku sampaikan adalah … makasih. Makasih karena udah merawat dan mendidik Ayah sampai bisa menjadi sosoknya yang aku kenal. Sebelum jadi pilot pesawat tempur, cita-citaku itu punya nama belakang Satyadarma.” Dul terkekeh seraya menyenggol Annisa dengan bahunya.


*****


Semangat Bu Yanti masih menyala-nyala di puncak resepsi itu. Seperti seekor kupu-kupu lincah, Bu Yanti tak henti-henti singgah menghampiri meja rekan-rekannya. Penjelasan wanita tua itu pada tiap tamu hampir sama. “Benar … cucu sulung saya yang laki-laki. Anaknya Bara. Pangkatnya Letnan Satu. Penerbang tempur. Lulusan Akademi Angkatan Udara. Gagah, kan? Enggak berasa memang. Bocah laki-laki yang dulu sering dibawa-bawa ke resepsi nikahan orang, sekarang bikin resepsi sendiri.” Penjelasan itu selalu diikuti dengan tawa riang Bu Yanti dan kibasan kipas kecil di tangannya.


Pak Wirya kebagian mengangguk membenarkan ucapan istrinya. Atau sesekali menambahkan, “Dari kecil Abdullah memang anak yang disiplin.” Atau menambahkan, “Kali ini kami punya keturunan selain menjadi wartawan.”


Puas bicara menyampaikan hal yang ia rasa patut diketahui karib dan kerabatnya, Bu Yanti kembali duduk di sebelah Pak Wirya. Keduanya menghadap pelaminan dan tak sengaja pandangan mereka bertemu dengan sepasang pengantin. Bu Yanti melambai dan lambaian tangannya langsung mendapat sambutan dari Dul dan Annisa.


“Ayah bersyukur kita masih bisa duduk berdampingan dan melihat salah satu pemandangan yang pastinya kita syukuri.” Pak Wirya mengambil tangan kanan Bu Yanti dan menggenggamnya di dekat lutut. Sambil setengah menimang, setengah mengayunkan tangan itu, Pak Wirya kembali melanjutkan kata-katanya. “Senja kita sudah tiba, Bu. Siang kita enggak bisa diulang lagi. Sekarang saatnya cuma duduk memandang sambil kadang-kadang ikut membereskan kekacauan yang dilakukan anak-anak.” Pak Wirya tertawa kecil.


“Ayah pasti dengar apa yang Ibu bilang ke teman-teman tadi. Dengar, kan?” Bu Yanti menelengkan kepalanya untuk memandang suaminya. Ia kembali memandang Dul dan Annisa di kejauhan ketika Pak Wirya sudah mengangguk. “Dulu kayanya Ibu jadi manusia paling keras sewaktu Bara mau menikah dengan Dijah. Hati Ibu lama banget luluhnya. Padahal waktu itu lihat Dijah kasihan … belum luluh juga. Yang bikin luluh malah anak laki-laki itu. Yang sekarang duduk di pelaminan. Dulu tiap dibawa ke mana aja enggak banyak omong. Tiap jalan megangin tangan Ibu terus. Ayah ingat enggak?”


“Ingat…ingat. Sampai ada yang nanya ke Ibu apa cucunya dimarahi terus karena lihat Dul lebih banyak diam dan nurut. Terus Ibu minta Dul buat pecicilan.” Pak Wirya terkekeh-kekeh. “Di mana-mana orang mintanya cucu yang mau diem kalau dibawa ke mana-mana. Ibu malah minta Dul lebih aktif dan pecicilan. Sampai Dul kita bawa ke restoran setiap akhir minggu buat diajarin supaya lebih ceria. Kita harus diam-diam biar enggak ketauan Bara dan istrinya. Dan lucunya lagi … Dul tetap nurutin kita. Enggak ngelapor ke ayah ibunya. Sekarang Ayah berpikir kalau sebenarnya Dul melihat kita ini seperti orang tua menyedihkan ya, Bu? Dia sebenarnya memahami apa yang kita lakukan, tapi dia tetap diam untuk menghargai kita sebagai tetua.


“Benar. Ibu setuju dengan apa yang Ayah bilang. Sebenarnya anak-anak paham apa yang kita lakukan. Tapi mereka memilih diam karena tidak mau berurusan panjang dengan kita. Tapi Ibu yakin di hati kecil setiap anak terselip keinginan untuk kita mengerti.”


Pak Wirya mengangguk-angguk membenarkan. “Ah … Abdullah Putra Satyadarma …. Bocah laki-laki itu berhasil tumbuh besar dan sukses di tangan Bara. Dan Bara itu adalah anak yang kamu besarkan, Bu. Yang paling berhasil di sini itu … ya, Ibu.” Kali ini tangan Pak Wirya berpindah dari pangkuan Bu Yanti menjadi ke bahu istrinya itu.


“Ayah malah sedang berpikir soal Dul dan Annisa yang pastinya pasti jarang pulang. Tugasnya di Magetan. Kita pasti jarang ketemu.”


“Ibu juga ngebayangin Bara dipanggil Akung. Akung atau Opa? Atau malah Kakek?” Bu Yanti berpikir serius demi nama panggilan itu.


“Atau Mbah? Dulu Dul manggil Mbah ke orang tuanya Dijah. Bisa jadi Mbah Lanang dan Mbah Wedok. Ayah langsung membayangkan gimana Bara dipanggil Mbah.”


Sepasang sepuh itu berbisik-bisik dan tertawa-tawa dengan asyiknya. Menceritakan hal-hal kecil yang belum luput dari ingatan senja mereka. Kadang tawa mereka sampai berupa gelakan. Kadang keduanya terdiam usai menuturkan atau mendengar sepenggal kisah yang meluruhkan air mata mereka.


“Sesudah Dul … Ibu enggak sabar melihat Mima berkeluarga. Semoga kita masih sempat ya, Yah. Penasaran dengan pria seperti apa Mima menikah.”


“Ibu penasaran?”


Bu Yanti menelengkan kepala memandang suaminya. “Memangnya Ayah enggak penasaran?”


Pak Wirya menggeleng. “Enggak. Ayah enggak penasaran.” Kemudian mengedipkan mata.


Bu Yanti seketika mencengkeram lengan Pak Wirya. “Mima pasti pernah ngenalin pacarnya ke Ayah. Iya, kan? Siapa?”


Pak Wirya tergelak. “Belum pernah, tapi Ayah enggak penasaran. Boleh, kan?” Masih tertawa-tawa. “Ibu jangan cemberut. Ketimbang penasaran siapa pacar Mima, mending Ibu penasaran ada tamu spesial hari ini. Semoga Dul bisa melengkapi kebahagiaannya hari ini.”


“Siapa?”


“Ibu tunggu aja. Itu kenapa Heru duduknya jauh banget dari kita?” Pak Wirya menunjuk keluarga kecil Heru yang sedang berkumpul dan juga sedang berbisik-bisik.


*****


“Itu bukan siapa-siapa. Cuma teman kampus yang ketemu lagi di seminar pers se-Indonesia minggu lalu. Masa gitu aja kamu enggak percaya?” Bibir Heru nyaris menempel ke telinga Fifi saat menjelaskan hal yang membuat mulut istrinya itu mengerucut.


To be continued