Dul

Dul
107. Menjelang Dewasa



Perasaan lega dengan cepat menjalar dalam diri Dul usai melakukan tes Samapta. Ia merasa sedikit rileks. Soal hasilnya ia sudah memasrahkan diri. Sepanjang perjalanan kembali ke rumah kemarin, Bara sudah memberinya tambahan wejangan.


“Kalau lulus dari daerah, kamu lanjut ke tes di pusat. Tetap semangat, ya.” Bara bicara dari balik kemudi.


“Akung…Akung sehat? Waktu ngobrol sama aku kemarin Akung keliatan lebih pucat.” Dul menjawab perkataan Bara dengan hal lain yang dikhawatirkannya.


“Akung pasti baik-baik aja. Cuma perlu istirahat dan jaga makan,” sahut Bara. Lalu, beberapa saat lamanya mereka terdiam tanpa membicarakan apa pun.


Pikiran Bara pun sebenarnya sedang tak tenang karena kesehatan Pak Wirya. Tak tenang karena ayahnya itu belum mau berobat dengan benar ke dokter. Hanya mengkonsumsi obatnya terdahulu dan meminum obat-obatan herbal yang disiapkan Bu Yanti. Padahal Pak Wirya adalah praktisi profesional, tapi sikapnya yang ingin mengingkari fakta soal kesehatan membuat seluruh anggota keluarga cemas.


“Aku mau Akung selalu sehat,” ucap Dul dengan pandangan ke depan. Ia hanya bisa mengatakan hal itu untuk menggantikan kalimat bahwa ia berdoa semoga Pak Wirya memiliki umur yang panjang untuk terus ada di antara mereka.


“Ayah juga berharap yang sama. Kamu juga … jangan karena Akung lagi enggak bisa mendampingi semangatnya malah menurun keberhasilan kamu mungkin bisa jadi obat buat Akung.”


“Iya, Yah …,” sahut Dul.


“Inget, kan … hal yang sering dibilang Akung? Enggak ada yang mendorong diri kita selain diri kita sendiri. Percaya kalau sesuatu yang indah pasti akan terjadi, terus … enggak ada yang permanen di dunia ini termasuk masalah kita. Jadi, pasti bakal selesai. Terus masih ingat lagi apa yang dibilang Akung?” Bara sedang ingin mengingat hal-hal baik yang sering dikatakan ayahnya.


“Melepas itu enggak mudah, tapi terkadang memang perlu.” Beberapa detik Dul diam setelah mengatakan itu. Teringat akan pesan-pesannya untuk Annisa yang belakangan tidak berbalas lagi. Napasnya tertahan, lalu melanjutkan dengan senyum tipis, “Jangan kehilangan harapan karena kita enggak tahu dengan apa yang terjadi besok.”


“Terus? Apa lagi?” Bara menoleh Dul. “Berhenti takut sama kesalahan yang mungkin bisa kita lakukan. Pikirkan tentang apa yang bisa benar,” lanjut Bara.


“Yang terakhir yang paling aku ingat … tetap kerja keras dalam diam. Cukup kesuksesannya aja yang bicara,” sambung Dul melengkapi nasehat panjang yang sering diucapkan Pak Wirya untuk anak cucunya.


Dul tak perlu bertanya lagi soal apa yang ia dan Bara rasakan saat itu. Mereka berdua sama sedihnya. Walau nada bicara dan sorot mata Pak Wirya masih sama optimisnya, tapi tubuh pria itu terlihat sangat letih.


Selama menunggu hasil pengumuman itu Dul tetap menghabiskan waktu di rumah. Ajakan Robin dan Putra untuk bertemu di luar pun banyak ditolaknya. Rasanya tak tenang kalau harus tertawa dan bercanda sementara keluarganya sedang muram. Juga hasil tes terakhir yang menentukan masa depannya belum keluar. Sehari lagi. Hanya tinggal menunggu sehari lagi. Ia masih harus bersabar. Jadi, ketika Robin dan Putra menyerah mengajaknya keluar, Dul mengabulkan permintaan dua sahabatnya untuk main ke rumah.


Saat itu hari kerja. Dijah pergi membawa Ibra dan Mima ke rumah Pak Wirya. Bara akan menjemput anak istrinya sepulang kerja. Jadi, bisa dipastikan Dul akan sendirian di rumah hingga selepas magrib.


Setelah mengatakan kalau Robin dan Putra akan datang ke rumah, Dijah meninggalkan pergi dengan meninggalkan segudang pesan-pesan pada Dul.


“Isss … masih kayak gini aja muka kau. Senyum sikitlah. Udah jauh-jauh kami datang,” kata Robin sejak ia tiba di pintu pagar.


“Mbok, ya, dibuka lebih lebar biar aku bisa masuk,” ucap Putra, mendorong pagar agar ia bisa masuk ke dalam.


“Makin besar aja pula kau kutengok. Kukira berapa bulan sejak jadi pengangguran, kau tertekan batin dan kurus.” Robin berdiri menunggu Putra masuk dan menutup pagar saat mereka semua telah berada di carport.


“Enggak semua orang yang tertekan batin itu bisa kurus,” jawab Putra, berjalan menuju teras.


“Cemana kabar Akung, Dul? Udah sehat?” tanya Robin.


“Tiap ditanya Akung selalu ngomong udah sehat. Tapi Uti bilang sebenarnya belum. Akung cuma mengingkari kalau beliau perlu berobat lebih serius. Kalau ngomong masih semangat. Tapi Akung banyak duduk di sofa. Baca buku juga enggak. Biasa … selesu apa pun Akung masih bisa baca buku,” jelas Dul, mendahului dua sahabatnya masuk ke rumah.


“Biasalah kayak gitu, Dul. Mamakku pun kayak gitu. Kalo ngeluh sakitnya, gak cukup waktu setengah hari. Semuanya sakit. Tiap sudut tiap tempat badannya sakit. Tapi kalo diajak bapakku berobat, katanya enggak apa-apa. Aman semua. Kalo kata mamakku, dia takut dengar apa kata dokter. Dibilang dokter pula sakitnya parah, aturannya masih lama dia monding, jadi makin cepat karena kepikiran. Gitu katanya,” jelas Robin.


(Monding : meninggal)


“Udah pada makan?” tanya Dul. “Ayo, ke ruang makan aja. Ngobrol di meja makan," ajak Dul, menarik dua kursi untuk Putra dan Robin agar duduk berdampingan sementara ia menarik kursi yang biasa ditempati Bara.


“Annisa apa kabar, Dul? Masih saling kirim pesan?” tanya Putra.


Dul terkekeh seraya mengangkat bahu. “Enggak tahu, Put. Pesanku terakhir cuma dibaca aja. Mungkin Nisa memang lagi sibuk dan fokus persiapan masuk kedokteran. Itu terakhir yang dia bilang ke aku. Selebihnya enggak ada,” jelas Dul.


Putra mengangguk-angguk dengan tangan membuka tudung saji di meja. “Kayanya enak,” kata Putra, melihat isi tudung saji.


“Semua yang dibawah sangi pasti kau bilang enak,” sahut Robin, ikut mengintip. “Kayaknya memang udah pasti enak, tapi nanti ajalah kita makan. Aku masih mau cakap-cakap.” Ia menepuk tangan Putra agar menurunkan tudung saji.


(Sangi : tudung saji)


“Mau makan sekarang juga enggak apa-apa,” kata Dul.


“Ah, nanti aja. Kalau makan sekarang, nanti dia lapar lagi. Selama di sini bisa tiga kali makan. Nanti aja. Daripada makan, mending kau ceritakan sama Dul soal kemarin. Yang kau bilang dimarahi nenek-nenek.” Robin menepuk pundak Putra.


“Dimarahi nenek-nenek kenapa?” Dul menatap Putra.


“Karena aku menyeberangkan seorang nenek di jalan. Nenek itu marah-marah,” ujar Putra.


“Lah, kenapa? Aneh ….” Dul memandang Putra dengan raut simpati.


“Karena nenek itu enggak niat nyeberang jalan. Memang berdiri nunggu angkutan,” jelas Putra.


Dul mendengkus dan melempar Putra dengan serbet di dekatnya. “Pantes dimarahi. Nambah kerjaan orang,” sungut Dul seraya


Robin terbahak-bahak. “Haduh … entahlah. Sekolah pening, tamat sekolah lebih pening. Pening mau jadi apa. Kalo udah kek gini aku kepingin jadi anak Elon Musk aja.” Robin menumpukan satu tangannya di dagu sambil mengetuk meja.


To Be Continued