
Sesaat, Dul merasa dirinya bodoh. Berdiri lama di pagar sekolah hanya untuk melihat bagian belakang mobil yang membawa Annisa benar-benar mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangan. Ke mana saja ia selama ini? Sibuk dengan OSIS dan meladeni Lova yang ceria namun sering merajuk? Atau ia terlalu sibuk duduk bersenda gurau di warung ketoprak?
Selama ini Dul selalu mengira bahwa kebersamaannya bersama Annisa masih lama. Ia mengira kalau mereka akan bersama-sama meninggalkan sekolah itu dengan saling memberi tanda tangan warna-warni di seragam mereka. Nyatanya Dul keliru. Lengah. Annisa kini pergi dengan segala misteri dan keyakinannya soal kata ‘suatu hari’.
“Kami cari ke mana-mana, ternyata kau di sini. Kelas kelen lagi tanding itu. Kau gak ikut?” tanya Robin.
“Aku enggak boleh main sepak bola sama ayahku,” jawab Dul lesu.
“Kenapa pula?”
“Entahlah, Bin …. Putra mana? Kalian pulang bareng? Kalau masih lama di sekolah, aku duluan aja. Lagi kepengin duduk di warung ibunya Putra.” Dul bersandar ke tembok gerbang sekolah.
“Putra nyari diskon ke kantin. Katanya lapar, tapi mau pulang udah tanggung. Kau kenapa? Kok, pucat kali? Abis nengok apa kau? Apa nengok sesuatu yang belum pernah kau tengok?” Robin melangkah keluar pagar dan celingak-celinguk ke jalan.
“Aku baru nganter Nisa. Mulai Senin dia enggak satu kelas denganku lagi. Pindah lagi, Bin.” Dul mengusap wajahnya.
“Ah, seriuslah kau. Asik pindah aja dia kutengok. Apa gak capek beres-beres terus?”
Dul menggeleng, “Aku enggak tau. Aku mau makan ketoprak. Bilang sama Putra….”
“Mau ngomong apa ke aku?” Putra baru muncul dengan plastik di tangannya.
“Aku mau ke warung ibumu. Mau pulang, tapi masih belum enak hati. Kalian kalau masih mau lama lanjut aja,” kata Dul, menegakkan tubuh seraya menaikkan tali ranselnya.
“Dul sakit?” tanya Putra, serius memandangi wajah Dul yang lesu dan sedikit pucat. “Perlu obat? Ini ada kue dan pentol.” Putra mengangkat plastiknya.
Robin memegang perut Dul. “Bukan di sini yang sakit, tapi di sini.” Tangan Robin lalu berpindah ke dada Dul.
“Kenapa? Siapa yang menyakiti? Jangan-jangan ….” Putra merasa pernah melihat kekecewaan yang sama di wajah Dul.
Robin mengangguk pada Putra. “Betol apa yang kau pikirkan itu. Hari ini dia ditinggal Annisa lagi. Pindah sekolah,” jelas Robin. “Aku paham kau pasti paham, Put. Kalo ikut kuis komunikata, pasti bisa menang kita.”
Putra mengabaikan perkataan Robin. “Serius, Dul? Nisa pindah lagi? Ke mana?” Ternyata memang benar dugaannya. Wajah kecewa Dul masih sama. Bahkan, sekarang jauh terlihat lebih kecewa.
“Balikpapan. Tinggal sama kakak sulungnya.” Dul menunduk dan meluruskan kemejanya yang telah keluar dari selipan celana.
“Kasian Nisa. Harus terus ke sana kemari mengikuti keluarga yang bisa jadi penjaganya. Kamu sesedih ini, Dul. Kamu enggak lupa minta nomor hapenya Nisa, kan? Ada nyimpen? Jangan bilang kamu lupa,” cecar Putra.
“Itu pula kau tanya, Put. Nomor hape musuh kita aja, pasti kita simpan untuk kita kasi nama ‘bodat (monyet)’ di hape. Apalagi nomor hape cewe yang kita beter-beter.” Robin mendengkus pada Putra.
[Beter-beter : awasi, pandang. Pengucapan é seperti kata ‘Medan’ (é taling)]
“Iya juga, ya. Lagian Nisa udah lumayan lama sekelas sama Dul. Mungkin nanti-nanti kita bisa ketemu Nisa lagi, Dul. Kita bisa kumpul lagi di saat kita semua udah lebih mandiri.” Putra maju untuk menepuk-nepuk pelan bahu Dul.
“Teringat aku, kan … gak ada salam perpisahan kelen? Dia cakap apa? Kau cakap apa? Gak kau cium dia? Dia gak nyium kau? Atau kelen salaman cium tangan aja kayak hari raya?” Robin maju merangkul bahu Dul.
“Aku, kan, cuma mau memastikan aja biar si Dul enggak menyesal di kemudian hari. Penasaran itu gak enak. Dia pun bisa tau isi hatinya dengan kontak-kontak sikit sama si Nisa. Cemananya kau ini.” Robin ikut mendengkus memandang Putra.
“Ngomongin apa, sih? Aku udah laper. Aku ke warung ibunya Putra duluan kalau kalian masih lama.” Dul berbalik menuju pagar.
“Eh, itu si Lova!” pekik Robin. “Ayo, Dul. Berondok kau. Kau pasti lagi malas jumpa dia.” Robin menarik tubuh Putra agar merapat dan menutupi Dul dari Lova yang sedang celingak-celinguk di kejauhan.
(Berondok : sembunyi)
“Besok aku ada janji mau ke rumah Lova. Aku duluan. Kalau dia nanya, bilang aja aku enggak enak badan. Besok juga bisa ketemu sama dia.”
Dul meninggalkan sekolahnya saat sekolah itu sedang riuh karena pertandingan persahabatan sepak bola. Bahunya turun dan kepalanya menunduk memandangi sepasang kakinya. Mulai Senin, ia akan kembali ke sekolah seperti biasa. Bahunya akan kembali lurus menghadap papan tulis. Tak terlalu sibuk menoleh ke belakang untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan Annisa.
Cepat sekali. Padahal ia hanya perlu melihat gadis itu duduk di kursinya. Ia tak pernah menganggu Annisa. Gadis itu hanya perlu duduk saja di sana. Hadir setiap hari dan berbicara seperlunya pada murid lain. Kelas itu tak akan kembali sama, pikirnya.
Dul meminta sepiring ketoprak pada Ibu Putra. Karena sering berada di sana, ibu Putra tak terlalu banyak bertanya saat mendengar bahwa Putra dan Robin masih berada di sekolah menonton sepak bola.
Perutnya tadi lapar sekali, tapi menghabiskan sepiring ketoprak dengan porsi normal saja, Dul membutuhkan waktu cukup lama. Tangannya terlalu sering diam mengaduk dan memindahkan sayuran di piring. Ia lalu merasa ponsel di saku celananya bergetar. Dul cepat-cepat melihat ponselnya. Berharap itu Annisa yang kembali mengatakan sesuatu. Ternyata, Dul melihat nama Lova dari notifikasi. Ia kembali mengantongi ponselnya. Tidak terlalu mendesak. Dul sekilas melihat Lova bertanya soal besok.
“Dul! Kami datang ….” Robin melambai-lambai dari jalan. “Udah kenyang kau? Cemana suasana hatimu?” Robin duduk di sebelah Dul menepuk-nepuk pundaknya.
“Udah kenyang. Kalian udah selesai, kan? Mau langsung pulang? Yuk,” ajak Dul pada Robin.
“Ayolah pulang. Eh, tapi tadi kau dicari si Lova. Kubilang kau udah pulang karena gak enak badan. Merepet-merepet dia. Gak ada rupanya dia chat kau? Tengoklah dulu,” kata Robin, menyenggol kaki Dul.
“Ada. Aku liat sedikit pesannya. Cuma nanya soal besok. Bisa dijawab nanti-nanti. Besok aku ke rumahnya,” jawab Dul.
“Pas kubilang kau udah pulang, si Lova kayak gondok gitu. Udah tarik napas mau merepet dia, langsung kutinggalkan. Peninglah. Repetan mamakku udah cukup buat bekalku seumur hidup. Jangan ada lagi yang nambah-nambahin.”
“Iya, Dul. Sepertinya Kak Lova memang ngambek. Kalau memang sulit, kamu ngomong aja yang bener.” Putra sedikit paham kalau Dul lebih sering menunjukkan rasa tidak enaknya pada Lova selama ini.
“Iya … kau bilang ajalah. Jangan sampe kau merasa ada utang budi karena jabatan Ketua Osis itu. Soalnya kau pun gak digaji. Kau terpilih karena kau ganteng dan pande. Kalo modal pande aja, masih berat. Ayolah, jalan kita.” Robin merangkul bahu Dul dan mengangkat tangannya pada Putra.
“Hati-hati di jalan,” pesan Putra membalas lambaian dua sahabatnya.
Siang menjelang sore itu, ternyata pesan Putra yang lain dari biasanya merupakan pertanda akan sesuatu. Dul dan Robin tengah berjalan bersisian di trotoar tanpa bercakap-cakap. Pohon di tepi jalan yang rimbun dan teduh, membuat mereka berjalan sedikit lebih santai menuju halte.
Keduanya kenyang, lelah, dan mengantuk. Keduanya juga terbayang akan bisa langsung merebahkan diri setibanya di rumah. Namun, hari mereka masih panjang. Dua sepeda motor mendekat ke trotoar dengan suara mesin memekakkan telinga.
“Hei, Abdullah!” panggil seorang pria.
To Be Continued