Dul

Dul
129. Harus Melangkah



Pertanda liburan itu berakhir adalah Dul yang sudah mengemas semua bawaannya dengan ringkas dalam ransel dan kedua adiknya duduk di ranjang menunggui ia melakukan hal itu. Kepergiannya kali itu ada yang berbeda. Semua penghuni rumah akan ikut ke bandara dengan tentengan masing-masing. Hingga pagi itu saat langit masih gelap, semua orang sibuk ke sana kemari dan jarang bicara. Karena sibuk membereskan bawaan masing-masing.


Seperti janji Bara sebelumnya kalau Mbok Jum akan mereka antarkan hingga tiba ke rumah anaknya di Kalimantan. Beberapa tas besar sudah terlihat teronggok di teras rumah. Dul baru saja mengangkat tas terakhir berisi barang-barang Mbok Jum. Ia duduk di sofa ruang keluarga dan mengamati aktivitas yang sebentar lagi ia rindukan. Yaitu, Mbok Jum yang sibuk menyiapkan kebutuhan Mima atau Ibrahim.


Tadinya Mbok Jum mondar-mandir mengurus sesuatu yang sebenarnya sudah beres. Wanita tua itu lalu sibuk dengan sepasang sepatu dan kaus kaki Ibrahim. Mbok Jum lalu sibuk dengansisir dan ikat rambut Mima yang entah di mana.


Semua orang di rumah menyadari bahwa sebenarnya Mbok Jum hanya mengulur-ulur waktu keberangkatannya.


Sampai akhirnya Dul menangkap lengan Mbok Jum dan mengajak wanita tua itu duduk diteras.


"Kenapa dari tadi sibuk terus? Semua udah diberesin Ibu dan Ayah, Mbok. Mending Mbok duduk di sini dulu sampai Ayah keluar beresin semua tas." Dul berdiri dengan seragamnya dihadapan Mbok Jum.


Mbok Jum pagi itu mengenakan baju terusan berwarna cokelat dan penutup kepala senada yang menutup sampai ke kedua telinganya. Ia menautkan tangan di pangkuan dengan wajah yang tidak menunjukan kesenangan bakal bertemu anaknya beberapa jam ke depan.


"Mbok sedih ninggalin Ibu, apalagi Ibra. Sebenarnya berat ... tapi Mbok enggak mau, kalau Mbok sakit malah nyusahin keluarga di sini."


"Sebenarnya bukan ngerepotin, Mbok. Yang namanya keluarga sakit, siapa pun itu pasti dirawat. Harusnya Mbok jangan mikir kaya gitu. Ibu udah sayang banget sama Mbok."


"Mbok tau, Mas Dul. Keluarga Mas Dul sayang sama Mbok. Tapi ... kalau Mbok udah diminta anak-anak Mbok menghabiskan masa tua bersama mereka ... itu artinya mereka berniat menunaikan baktinya sebagai anak ke Mbok. Sekarang Mbok satu-satunya orang tua mereka yang tersisa."


Dul tak menjawab. Ia mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Mbok Jum. Dalam hati ia juga bisa memastikan kalau ia yang menjadi anak Mbok Jum, ia pasti sudah menjemput ibunya lebih awal dan memaksa ibunya untuk ikut. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup jauh dari seorang ibu.


Lalu ... sepasang langkah kaki berat yang menginjak lantai dengan sepatu bersol tebal datang dari dalam rumah menghampiri mereka.


"Gimana? Udah siap berangkat, Mbok?"


Mbok jum terhenyak. Menyadari kalau seorang pria gagah yang membawanya ke rumah itu belasan tahun yang lalu berdiri di hadapannya. Pria itu sudah tak muda lagi. Walau sorot matanya yang ramah dan bersahabat masih sama, sort itu tidak dapat menutupi gurat usianya.


Bagi Mbok Jum, sikap Bara tetap sama kepadanya meski belasan tahun sudah berlalu. Bara tetap ramah seperti saat menjemputnya dari panti sosial demi seorang wanita yang ia cintai.


Bagi Mbok Jum, Bara adalah pria paling peka yang pernah ia kenal. Malah bukan suaminya sendiri tidak pernah berlaku sepeka Bara. Dan didikan itu ... ia lihat telah tumbuh pada seorang pria muda berseragam yang sejak tadi berdiri memijat mijat pelan bahunya.


"Mbok udah siap," ucap Mbok Jum.


Suara langkah kaki terburu-buru kemudian menyusul keluar rumah. Ibra muncul dan menubrukkan dirinya di pangkuan Mbok Jum.


"Enggak pakai bedak lagi?" tanya Mbok Jum, mengusap wajah Ibra dengan tangan keriputnya.


Ibra menggeleng. "Aku udah gede, enggak mau pakai bedak putih putih lagi. Nanti kayak anak perempuan."


Perdebatan Dijah dan Ibra soal kepulangan Mbok Jum sudah berlangsung berhari-hari. Sehari Ibra terlihat menerima, hari berikutnya bocah laki-laki itu menolak dan kembali menangis memeluk Mbok Jum. Hari-hari itu sangat berat. Semakin berat, karena Mbok Jum memeluk dan menghibur Ibra yang mana malah semakin berat melepasnya.


Setelah hampir seminggu, Ibra terlihat sudah menerima meski wajahnya selalu sedih dan bocah itu sering berlari dan memeluk Mbok Jum tiba-tiba.


Bara tertawa. "Ibu mana?" tanya Bara pada Ibrahim. Anak laki laki itu masih bergelayut di pangkuan Mbok Jum.


"Ibu udah selesai, sebentar lagi keluar," jawab Ibrahim.


Benarlah apa yg dikatakan Ibrahim. Tak lama kemudian Dijah dan Mima keluar rumah bersamaan.


"Ayo berangkat," ajak Mima.


"Jangan sentuh-sentuh kulit muka cewe yang baru selesai dandan," kata Mima cepat.


"Gaya banget. Kayanya enggak gitu, deh," gerutu Dul.


"Mbak Nisa enggak marah mukanya disentuh, karena memang udah jadian. Ya, kan ...? Mas Dul udah jadian, kan ...?"


Demi menghemat waktu, Bara lagi-lagi harus menangkap Mima dan mengunci gadis itu dalam lingkaran tangannya. "Ayo, Mas Dul angkat tas-tasnya duluan," pinta Bara.


"Lepas, yah," kata Mima, memberontak.


"Suara Mima dengar sampai ke rumah Budhe Tini. Nanti Budhe Tini senang karena berhasil punya murid."


Ibrahim tertawa senang karena melihat Mima yang biasa berseteru dengannya kini terkunci tak berdaya dalam pelukan ayah mereka. Jika ayah mereka tidak melakukan itu, Mima pasti sudah terbang dan menusuk-nusuk punggung Dul.


Jika biasanya Dul yang meninggalkan keluarganya, kali itu pesawat yang ia tumpangi berangkat belakangan.


Hari itu, entah mana yang ingin dipeluk Dul lebih lama. Mbok Jum yang tak melepaskan tangannya atau Dijah yang menggelayuti lengannya.


Akhirnya, di depan pintu keberangkatan, Dul memeluk Dijah dan Mbok Jum bersamaan dengan Ibrahim di antaranya. Sedangkan Bara dan Mima berdiri tak jauh dari mereka.


"Pokoknya Mas Dul kalau sudah selesai sekolahnya harus jengukin Mbok Jum. Mbok kepengin lihat Mas Dul pakai seragam tentara yang warnanya biru." Mbok Jum terisak di antara pelukan.


Seperti biasa, Dijah memilih diam jika hatinya terlalu sedih untuk mengatakan sesuatu.


"Iya ... aku pasti jengukin Mbok Jum." Dul mengusap bahu kurus Mbok Jum.


"Jangan lupa bawa Neng Nisa," timpal Mbok Jum lagi.


Dul tergelak, menepuk-nepuk nepuk pelan punggung Mbok Jum. "Nanti aku ajak Nisa," janji Dul.


Bara mendekati mereka. "Yuk, Mbok. Udah dipanggil ke ruang tunggu."


Dul melepaskan pelukannya pada Dijah dan Mbok Jum.


"Dul, Ayah dan Ibu berangkat lebih dulu. Kamu baik-baik, jaga kesehatan dan taati aturan kampus. Apalagi sekarang...."


"Udah punya pacar," potong Mima.


"Apalagi sekarang udah tahun ketiga. Itu lanjutannya," kata Bara, mencubit pipi Mima.


Dul terkekeh melihat Mima mengusap pipinya yang tadi tak boleh disentuh. "Iya, Yah. Ayah juga hati-hati. Salam buat keluarga Mbok Jum."


Sebelum melangkahkan kakinya menjauh, Mbok Jum menyempatkan diri memeluk Dul sekali lagi.


Perpisahan hari itu menjadi sebuah ingatan yg mereka kenang dua tahun berikutnya.


To Be Continued