Dul

Dul
119. Sambal Perwira



Dul melangkahkan kakinya panjang-panjang menyusuri jalan dari seberang tempat seorang wanita yang mirip Annisa berjalan tergesa-gesa. Lalu lalang mobil masih cukup lancar dan semuanya melaju kencang. Mustahil untuk bisa ditembusnya menyeberangi jalan. Detik ke detik terasa sangat lama. Setelah kendaraan kembali padat, Dul menyeberangi jalan. Degup jantungnya semakin tak karuan saat kakinya menyentuh trotoar. Kepalanya terus celingukan melihat ke depan. Dul sudah setengah berlari, tapi daerah tepi jalan yang biasa dipenuhi pedagang kaki lima membuat Dul sedikit kewalahan.


Pedagang kaki lima yang baru tiba sedang membongkar meja dan kursi untuk membuat lapak mereka. Beberapa pedagang yang sudah lebih dulu tiba malah mulai diantre pembeli.


“Nisa!” seru Dul, mempercepat langkahnya. Sosok wanita yang sedang menyandang ransel berwarna krem di satu sisi bahunya menoleh ke belakang sekilas. Rambutnya yang panjang melewati bahu, terkibar seiring wanita itu melanjutkan langkahnya yang terburu-buru.


“Memang Annisa!” Dul memekik. Karena antusiasnya itu, Dul nyaris menabrak seorang pria yang sedang mengangkat setumpuk kursi plastik. “Maaf, Pak. Maaf …,” ucap Dul kemudian ikut membantu mengangkat kursi plastik yang nyaris dijatuhkannya. Setelah meletakkan kursi di dekat steling kaca, Dul kemudian buru-buru permisi melanjutkan langkahnya.


Setelah berjalan sambil menghindari tubuh pejalan kaki, Dul akhirnya tiba di ujung trotoar. Sosok yang dilihatnya sebagai Annisa tadi menghilang. “Belok ke mana?” bisik Dul sendirian. “Nisa,” gumamnya lagi dengan wajah kecewa.


Dul menghabiskan sepuluh menit untuk celingukan ke sana kemari. Dalam sepuluh menit itu pedagang kaki lima yang menggelar lapaknya semakin ramai. Namun, keberadaan sosok Annisa tak terlihat lagi. Dul kemudian meraih ponselnya untuk menelepon Bara.


“Halo? Ayah? Maaf baru nelfon sekarang. Harusnya aku udah sampai dari tadi. Tapi mendadak ada sesuatu yang harus aku pastikan. Enggak…enggak. Enggak ada apa-apa. Semua baik-baik aja. Ini cuma soal ….” Dul terdiam sebentar memikirkan alasan keterlambatannya tiba di rumah.


Namun, Bara tetaplah Bara yang peka. Dul tak perlu berbohong macam-macam untuk meminta izin pada ayahnya itu. Karena, Bara mengetahui hal apa yang membuat seorang Dul meminta izin terlambat pulang. Bara hanya mengatakan, “Hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu lama.”


Dul tersenyum lebar. “Makasih, Ayah.” Dul berjalan menyusuri trotoar yang semakin ramai selama hampir setengah jam. Ia belum menyerah. Tapi ia merasa harus membagikan pengalamannya malam itu bersama orang yang juga mengenal Annisa. “Oke … telfon Putra,” gumam Dul langsung menghubungi Putra dari trotoar tempatnya berdiri. Sambil menunggu telepon dijawab, Dul masih sibuk mengedarkan pandangannya. Sosok Annisa yang baru saja dilihatnya itu sontak membuat Dul tak tenang.


“Halo? Put? Lagi di mana? Ak—” Ucapan Dul langsung terpotong seseorang.


“Halo? Kau, Dul?”


“Ha?”


“Aku ini … Robin…Robin. Kok, bengong kali kau? Ada apa? Kayak abis nengok hantu. Lagi di mana kau? Udah sampe rumah?”


“Putra mana? Aku ada sesuatu yang—”


“Kami lagi perang di bengkel Sambal Nakal sama Putra dan Yoseph. Kau kalo mau cerita ke sini aja. Gak sempat lagi orang ini cakap. Yoseph pun udah bersimbah air mata dari tadi.”


“Memangnya kenapa?” Nada suara Dul berubah panik.


“Udahlah. Cepat ke sini kau. Kalo bisa sekarang,” pinta Robin.


Dul menyimpan ponselnya dan menyetop taksi biru yang melintas. Pikirannya malam itu sibuk sekali. Memikirkan ke mana Annisa berbelok dan menghilang. Kenapa Annisa ada di Jakarta? Apa gadis itu kembali pindah ke Jakarta? Annisa kuliah di mana? Lalu … kenapa Yoseph bersimbah air mata? Sedang terjadi perang apa di bengkel Sambal Nakal yang terletak di sebuah ruko kecil yang disewa kedua sahabatnya itu. Lalu, sedang apa Robin di sana? Apakah benar-benar perang?


“Berhenti di depan, Pak.” Dul menunjuk neon box bertuliskan ‘Sambal Nakal’ beberapa meter di depan taksi.


“Toko sambal, kok, namanya Sambal Nakal. Zaman sekarang ada-ada aja,” kata supir taksi seraya menepikan mobil.


“Mungkin biar orang-orang lebih penasaran dibanding kalau dikasih nama Sambal Kalem,” jawab Dul, tersenyum lalu menyerahkan lembaran uang. “Kembaliannya ambil aja,” ujar Dul.


Supir taksi meringis. “Iya juga, sih. Ngomong-ngomong … Mas-nya ganteng. Terima kasih,” kata supir taksi mengangkat uang di tangannya.


Gantian Dul yang meringis. Dul berbalik menatap pintu ruko yang tertutup. “Katanya ada perang …,” gumam Dul, memandang suasana ruko yang terlihat biasa-biasa saja.


Mendekati rolling door mulai terdengar percakapan dari dalam.


“Udahlah, Yoseph. Berentilah kau menangis. Lap dulu air mata kau. Udah kubilang sama kelen … lantai dua ruko ini jadikan kos-kosan aja. Buat yang tambahan.” Suara Robin terdengar paling keras.


“Bilang sama yang nanya, bebas! Bebas dia mau tidur di luar atau di dalam.” Robin kembali bersuara.


Tok Tok Tok


Dul mengetuk rolling door.


“Masuk aja, Dul! Sorong! Sorong aja pintunya! Cepat kau masuk. Bantu dulu kawan-kawan kau ini!” jerit Robin.


Dul mengikuti instruksi Robin untuk langsung mendorong pintu rolling door itu. Setelah pintu terbuka, Dul terperangah. Itukah perang yang dimaksud Robin? Baskom-baskom berisi cabai dan bawang terhampar di lantai. Blender, ulekan raksasa selebar nampan, pisau, serta kompor gas dan alat masak campur aduk di tempat itu.


“Kok, bisa gini?” tanya Dul berdiri di ambang pintu dengan seragam lengkap dengan topinya.


Semuanya berhenti bekerja dan menoleh menatap Dul. Putra berhenti mengaduk kuali berisi penuh sambal, Yoseph berhenti mengupas bawang dan Robin berhenti memetik tangkai cabai.


“Ini karena kawan kau si Putra yang pandai dan bijaksana ngasi cuti sama tiga karyawannya di waktu bersamaan. Sok-sokan dia. Gak ditengoknya ada pesanan 120 kaleng sambal cumi pesanan Uncle Mutu dari Malaysia. Alhasil kayak ginilah. Malam-malam aku disuruhnya ke sini ngantar gas. Rupanya aku dimanfaatkannya. Disuruhnya aku metik cabe. Si Yoseph udah banjir air mata ngupas bawang. Mana cabe satu baskom itu belum digiling. Alat penggilingnya rusak pula. Ih … gak pening kau dengarnya?” Robin mengomel sambil menatap tajam Putra yang lanjut mengaduk sambal berpura-pura tidak dengar.


“Put! Aku mau cerita sesuatu. Mmm … ke kalian semua maksudnya. Biar cepat selesai dan efisien, sekalian aku bantu,” ujar Dul, meletakkan ransel dan topinya di sudut ruangan. Ia lalu menyeret sebuah dingklik kecil ke depan ulekan raksasa. “Ulekan ini keluar karena penggiling cabenya rusak, kan? Mana yang mau diulek?” Dul duduk menghadapi ulekan. Ia sedang sangat ingin membagi cerita soal Annisa dan meminta pendapat para sahabatnya saat itu. Kalau mengulek cabai bisa dilakukan sambil bercerita, kenapa tidak? Hari belum terlalu malam.


“Abdullah … saya tidak tahu kalau ternyata sifat dan sikap yang sudah tertanam sejak kecil memang sulit diubah. Ini terbukti pada kamu. Kamu tetap baik hati. Abdullah juga semakin gagah dengan seragamnya. Apa jadinya kalau ada yang lihat seorang calon perwira mengulek sambal di sini?” Yoseph memandang Dul yang sudah bersiap dengan ulekan di tangannya.


“Apa jadinya? Jadinya pasti makin laris. Pesanan Uncle Mutu semakin spesial karena diulek oleh seorang Perwira. Besok-besok kelen buat varian Sambal Perwira.” Robin menyodorkan baskom berisi cabai pada Dul.


“Oke, aku langsung ulek. Kalian yang tambahkan apa yang mau ditambah ke ulekan. Langsung bilang stop kalau dirasa udah cukup,” ujar Dul, mulai mengulek cabai. “Put … aku tadi—”


“Bin! Kenapa apinya kecil? Padahal gasnya baru diganti,” cetus Putra, menunjuk kompor di depannya.


“Kecil kayak mana, Putra? Udah standarlah itu apinya …. Mau semana lagi besar api masak sambal itu? Biar kubawakan obor olimpiade sekalian,” omel Robin.


“Mungkin aku gugup, Bin. Khawatir enggak selesai besok pagi. Dul … kamu mau ngomong apa?” tanya Putra.


“Tadi aku ketemu Annisa. Itu pasti Annisa. Di daerah yang banyak pedagang kaki lima itu. Tempat kita makan nasi goreng kambing? Inget?” Dul mengedarkan pandangannya dengan antusias. Tiga orang pria muda mengangguk. “Nah, kira-kira di daerah sana. Tapi aku kehilangan jejak. Itu pasti Annisa. Aku enggak akan salah lihat. Pasti Nisa,” ucap Dul, menunduk dan memandang tangannya yang dengan gesit mengulek cabai menjadi pecahan-pecahan kecil.


“Sekarang jam berapa?” tanya Putra.


“Jam delapan…kenapa?” tanya Dul.


“Jam sepuluh semua pedagang sudah buka semua. Nanti jam sepuluh malam kamu ke sana lagi. Jalan dan lihat-lihat lagi di sepanjang trotoar itu.” Putra memandang Dul dengan sorot mata serius.


Dul mengangguk. “Oke,” jawab Dul.


“Sebentar Abdullah. Kita angkat semua cabai yang kamu ulek ini. Cepat sekali. Luar biasa,” ujar Yoseph, memindahkan cabai dari ulekan ke dalam baskom kosong.


“Lanjut, Dul. Sambil nunggu jam sepuluh,” kata Robin, meraup cabai yang sudah dipetik dan meletakkannya ke ulekan besar.


To Be Continued