Dul

Dul
041. Keputusasaan



Bara menghapus lelehan air mata di pipi Dijah dengan dua tangannya sekaligus. Menangkup pipi tembam Dijah dan mengecup dahi wanita itu. “Jangan nangis. Kita udah sama-sama sekarang. Dul anak kita, kita tanggulangi bersama. Aku ngasi tau ini ke kamu lebih dulu, biar kamunya enggak kaget. Kamu bisa mengatur ekspresi kalau akhirnya nanti kita tetep harus ngomong ke Dul. Udah … udah malem. Semua udah tidur.” Bara membawa kepala Dijah ke pelukannya.


“Jadi, kita ngomong ke Ayah lebih dulu?” tanya Dijah. Suaranya teredam pelukan Bara. Dagu Bara menggesek puncak kepalanya saat mengangguk.


Pelukan Bara menenangkan, tapi tak membuat surut kekhawatirannya. Bagaimana kalau Dul menolak mentah-mentah? Bagaimana kalau Dul menolak dan marah pada mereka. Ia bisa malu. Malu pada Bara, atau yang paling parah, ia akan malu pada Pak Wirya. Dijah merasa kalau ia dan Dul sudah terlalu banyak merepotkan keluarga Bara. Mereka sudah terlalu banyak meminta untuk dimaklumi. Hatinya sangat gundah. Bagaimana ia melepas Dul bertemu dengan Fredy?


“Malam ini … pembicaraan kita sampai di sini dulu. Mas capek banget. Kita jangan memaksakan diri membahas hal itu malam ini. Nanti ujung-ujungnya malah debat dan ribut. Besok-besok aja. Besok Mas ketemu Ayah dulu. Sebenarnya Mas juga bisa tunda ngasi tau kamu, tapi … Mas enggak tenang, Jah. Maafin, Mas.” Haruskah ia memberitahukan soal kekhawatiran yang menjadi momoknya bertahun-tahun? Walau itu memang sudah menjadi resikonya, tapi mengingat bahwa seorang Fredy masih berada di antara mereka sering membuatnya tidak nyaman. Sebegitu jahatkah ia sebagai seorang manusia?


“Besok Dul udah enggak ke Bimbingan Belajar lagi, kan?”


“Enggak. Udah tinggal nunggu pendaftaran masuk SMP. Kalau link-nya udah bisa diakses, kita langsung daftarin. Selama nunggu jadwal tes masuk, Mas mau nemenin Dul bahas soal-soal. Mas pengen Dul masuk di kelas unggulannya, Jah.” Bara merapikan rambut Dijah dan menggeser duduknya ke tengah ranjang.


“Semoga bisa, ya, Mas ….”


“Pasti bisa,” sahut Bara.


Di luar kamar, Dul mundur perlahan-lahan menjauhi pintu kamar kedua orang tuanya. Kenyataan itu membawanya langsung ke titik paling rendah. Beberapa saat yang lalu, ia duduk di café bersama pria yang dipanggilnya dengan sebutan Pakdhe. Lalu, pria lainnya yang ia panggil dengan sebutan Ayah, datang ke tempat itu. Baru beberapa jam yang lalu ia duduk tertawa-tawa bersama orang-orang yang ia sadari sebagai keluarganya. Namun, ternyata ia tetap bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang masuk ke sebuah keluarga karena ibunya dinikahi seorang pria.


Dul masuk ke kamar dan menelungkup di ranjang. Kenapa ia harus terlahir dari seorang Ayah yang narapidana? Bisa saja pria itu seorang pengemis, buruh bangunan, petani, tidak harus sekeren Bara atau Heru. Tapi kenapa harus narapidana? Terhukum mati pula. Dul menutup kepalanya dengan bantal. Malam itu bayangan seorang pria yang menamparnya berdiri di balik jeruji tahanan mengantarkannya ke alam mimpi.


Rasanya baru saja tertidur saat ia tersentak karena ketukan di pintu.


“Dul …! Dul …! Udah bangun?” Suara ibunya terdengar dari balik pintu. “Kalau udah bangun langsung mandi, ya. Ikut sarapan sama-sama.”


Tak pernah banyak bicara, ia langsung melakukan apa yang diminta ibunya. Berpakaian rapi dan ikut hadir di meja makan untuk sarapan bersama Bara yang selalu mengutamakan makan di rumah. Kebiasaan ayahnya yang sangat menonjol. Selarut apa pun pulang dari kantor, Bara akan makan masakan ibunya. Ibunya duduk diam memperhatikan Bara yang sedang makan. Seakan denting sendok-garpu Bara di piring adalah nada yang paling indah untuk didengar tengah malam.


“Link pendaftarannya udah dibuka belum?” Bara memandang Dul di sisi kirinya.


“Udah. Apa perlu aku kirim ke Ayah?”


“Enggak usah. Malam nanti kita isi sama-sama. Selagi nunggu Ayah pulang, pelajarannya dibaca-baca lagi. Enggak usah lama-lama. Sejam aja asal rutin,” pesan Bara.


Hari itu Dijah mengantarkan Mima ke sekolahnya berjalan kaki dan membekali dirinya sebuah payung. Saat kembali dari TK Mima, Dijah banyak melamun. Ketakutannya masih sama. Dul akan mengamuk dan menolak dengan keras. Atau bisa saja bocah laki-laki itu akan merasa dipaksa. Dul adalah putranya. Membesarkan Dul berarti memahami kalau bocah laki-laki itu memiliki sifat keras kepala yang sama dengan dirinya. Mereka sama-sama memendam dalam diam. Keterpojokan akan membuat mereka menyemburkan kata-kata yang tidak enak didengar. Dijah menggigit bibirnya.


Dul melakukan tugas rutin yang biasa dilakukannya di akhir minggu. Ia sudah bebas dari jam masuk sekolah dasar. Kini waktu pagi dihabiskannya dengan menyiram bunga, memberi makan ikan, menyapu sedikit dedaunan di halaman, juga membuang sampah sisa memasak yang diletakkannya di luar pagar.


Sedangkan ibunya, hari itu banyak tenggelam dalam lamunan. Ke sana kemari di dalam rumah dan berbaring di sofa yang menjadi favoritnya tiap mengandung dengan tatapan menerawang. Mima yang biasa banyak berceloteh pun hari itu terlihat sedikit merasa kalau ibu mereka tidak terlalu meladeni obrolannya.


“Dul …,” panggil Dijah, seraya menoleh ke gawang pintu tengah untuk melihat apakah di tempat itu mereka hanya berdua. Mima sejak tadi memang berada di teras belakang bersama Mbok Jum yang sedang memarut singkong untuk membuat kue.


“Ya, Bu?” Dul memutar letak duduknya sedikit. Ia sudah mempersiapkan hati dan telinganya untuk mendengar apa yang akan ibunya katakan. Ia bertekad akan … menolak apa pun itu yang berkaitan dengan bapaknya. Tak ada tempat di hatinya untuk pria itu.


“Kamu tau kalau bapakmu selama ini di penjara?” tanya Dijah, memandang lurus ke mata Dul.


“Bapak yang mana? Aku cuma punya Ayah,” tegas Dul.


Dijah mengangguk. “Bener. Kamu punya Ayah sekarang. Tapi kamu itu anak kandung bapakmu. Ibu juga enggak suka. Tapi kita berdua harus mengakui itu, Dul. Kamu kira gimana perasaan Ibu ngomong ini?” Dijah lagi-lagi melirik ke arah pintu.


“Aku enggak mau …,” lirih Dul, menundukkan kepalanya dalam-dalam.


“Ibu akan cerita sedikit ke kamu. Lebih baik kamu denger dari Ibu ketimbang kamu denger dari orang,” ucap Dijah. “Bapakmu kaki tangan pemilik pabrik narkoba. Kamu tau narkoba, kan? Kita semua sering sama-sama nonton berita. Bapakmu udah ketangkep dan dipenjara. Tapi dari dalam penjara bapakmu masih menggerakkan transaksi. Masih dagang itu benda haram—”


“Aku enggak mau dengar ….” Dul menutup telinganya. Nada suara ibunya sangat tegas, tapi air mata wanita yang melahirkannya itu sudah meleleh sejak tadi. Ibunya sama lemah dengannya. Namun, dalam hal aib dan luka masa lalu, ibunya lebih babak belur.


“Kamu harus dengar. Ibu enggak mau kamu dengar dari orang lain. Sebelumnya kita hanya berdua. Kamu inget, kan, gimana kita berdua bertahan dari laki-laki itu? Sekarang laki-laki yang katanya bapakmu itu minta ketemu. Dia mau ketemu sebelum dieksekusi. Hukumannya udah dijatuhi, tinggal nunggu pelaksanaan.”


“Aku enggak mau punya Bapak yang itu …,” lirih Dul lagi masih dengan menutup telinganya. “Aku mau Ayah aja.”


“Kalau kamu enggak mau, nanti Pakdhe-mu yang di sana bakal dateng ke sini. Bawa orang Lembaga Bantuan Hukum. Kamu enggak kasian sama Ibu? Ibu enggak mau ketemu mereka, Dul …. Ibu enggak mau.” Dijah sudah menangis lebih keras sekarang.


“Aku enggak mau … aku enggak mau!” Suara Dul meninggi. Kedua tangannya masih menutup telinga.


Dijah menarik tangan Dul dari telinganya. “Dengerin Ibu—”


“Aku mau Ayah aja—”


“Tapi Bapak kandung kamu memang yang di sana! Bukan Ayah yang di sini!" kesal Dijah. Tangis Dul pecah.


“Dijah!!”


Seruan Bara dari ambang pintu mengejutkan Dul dan Dijah yang berurai air mata. Yang berusaha sama keras menampik masa lalu mereka.


To Be Continued